Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 59


__ADS_3

POV Chaca


"Cha, untuk kesekian kalinya aku mengatakan ini". Chaca menghela nafasnya mendengar ucapan Joan. Chaca sudah paham kemana arah pembicaraan itu.


"Dan untuk kesekian kalinya, gue juga jawab. Maaf Jo. Tolong jangan berharap ke gue. Status gueasih istri orang. Walaupun loe tau seperti apa rumah tangga gue". Sudah berkali-kali Joan mengungkapkan perasaannya kepada Chaca. Dan Chacapun selalu menolaknya.


"Iya aku tau. Dan aku mau menunggu. Tapi setidaknya kamu memberikan status untuk hubungan kita. Aku ingin lebih dari teman Cha". Chaca sudah terlalu jengah dengan sikap Joan. Joan memang selalu memaksa agar Chaca menerimanya.


"Maaf. Status kita tidak akan berubah Jo. Baik sekarang ataupun nanti. Loe tetap teman gue". Chaca selalu menolak Joan dengan tegas.


"Cha. Kamu sudah mencintainya kan". Chaca menghentikan gerak tangannya yang sedang merapikan lembar berkas untuk mereka serahkan diperusahaan tempat mereka akan magang.


"Tolong jangan membahasnya lagi. Loe sudah tau jawabannya. Jadi janganlah bersikap bodoh untuk terus bertanya". Joan tersenyum tipis disudut bibirnya. Menghindar dan menghindar itulah jawaban Chaca.


"Aku akan terus menunggu. Aku akan menerima apapun jawaban darimu". Chaca segera beranjak agar Joan menghentikan omong kosongnya.


"Jo, ayo berangkat. Ini hari pertama kita. Jangan sampai kita mendapatkan citra buruk karena terlambat". Joan segera meraih tas Chaca untuk dia bawakan. Berkali-kali menolak, akan tetap sama saja. Itulah yang membuat Chaca mengalah. Berdebat pun akan percuma.


Chaca menjalani rutinitas harinya seperti biasa. Hari-harinya hanya sebatas kantor, kampus dan apartemen. Bahkan saat teman-temannya mengajak hang out, Chaca selalu menghindar. Saat Chaca sedang berada di apartemen, bayangan Kalandra akan terlintas.


"Hujan. Hmmmm". Chaca berdiri dibalkon kamarnya. Dia menengadahkan tangannya. Merasakan tetesan air hujan yang mengenai telapak tangannya.


"Langit seakan tahu apa yang aku rasakan saat ini". Chaca menatap langit yang seakan menumpahkan semua isinya.


Chaca menarik tangannya. Dia menyenderkan separuh tubuhnya di pembatas balkon. Tak peduli jika percikan air mengenai wajahnya. Chaca menunduk melihat kendaraan yang berlalu lalang dibawah tempat tinggalnya.

__ADS_1


"Apakah aku salah memilih jalan ini". Chaca bermonolog sambil menatap laju kendaraan dibawah sana.


"Bahkan sampai detik ini aku tak tau dengan apa yang aku rasakan". Chaca merasa goyah dengan perasaannya. Setelah menjalani hidup bersama selama tujuh bulan lamanya, ada sedikit rasa nyaman. Chaca masih belun bisa mengartikan apa rasa itu.


Satu bulan Chaca tinggal sendiri, Chaca masih bisa menjalani dengan enjoy. Dan dibulan-bulan selanjutnya, rasa sepi datang menghampirinya. Tidak ada teman yang selalu mengajaknya berdebat. Tak ada orang yang selalu ribut menunggu masakan matang. Tak ada lagi yang melemparkan kaos kaki kearah wajah Chaca setelah pulang kerja. Perlahan semua kenangan itu terlintas dalam benak Chaca saat dia termenung sendiri.


"Libur hari ini. Kemana enaknya". Hari ini Chaca libur dan malam sebelumnya Joan mengajak Chaca untuk hang out. Namun Chaca menolak. Chaca ingin beristirahat karena tubuhnya sedang kurang fit. Joan pun menawarkan diri untuk menjaga dan menemani Chaca. Lagi dan lagi Chaca menolak.


Chaca membersihan tubuhnya. Dan segera bersiap. Dia hanya ingin berjalan keluar mencari udara segar. Tanpa arah dan tujuan. Chaca benar-benar hanya ingin sendiri. Jika dulu Julian selalu akan mengawasi Chaca, saat ini Chaca juga merindukan sahabatnya itu.


Chaca terus berjalan. Bahkan tak ada niatan untuknya menggunakan transportasi umum. Chaca sangat menikmati setiap langkah kakinya. Persaanya begitu bahagia dan tenang. Dia terus menyusuri trotoar jalan itu yang entah akan membawanya kemana.


"Ini kan...". Tiba-tiba Chaca menghentikan langkahnya. Tepat dihadapannya rumah yang sangat sepi tanpa ada penghuni. Rumah yang membuatnya saat ini bimbang. Tanpa Chaca sadari kakinya membawa langkah memasuki rumah itu.


Halaman yang dulu selalu tampak rapi dan bunga-bunga yang bermekaran indah, kini menjadi lautan rumput yang sudah meninggi. Bahkan bunga-bunga indah sudah tak nampak bermekaran seperti dulu lagi. Tangan Chaca meraih sapu yang tergelatak dan mulai membersihkan halaman. Senyumnya tak luntur. Hatinya menghangat bahagia.


"Apa om tidak mau menyapu. Seperti rumah hantu saja". Chaca berdecak kesal. Dia mulai menyapu teras rumah. Saat Chaca memindahkan pot kecil, dia termenung karena menemukan kunci rumah itu.


"Masih saja sama". Chaca mengambil kunci itu. Chaca membuka kunci dan masuk kedalam rumah. Lagi-lagi tampak seperti rumah hantu. Chaca berdecak pelan dan mulai membersihkan dalam rumah.


Chaca naik kekamar tempat mereka sering beradu mulut dan saling mengolok. Dengan posisi yang masih sama. Dan tetap masih kotor. Chaca membersihkan kamar mandi didalam kamar tersebut dan juga seisi kamar tidur itu. Satu hari ini Chaca benar-benar menghabiskan waktunya untuk membersihkan rumah yang pernah dia tinggali. Bahkan jika dia masih ingin kembali kerimah itu, Chaca masih bisa tinggal disana.


Chaca mulai lelah. Dia beristirahat sejenak mengambil air dari dalam lemari pendingin. Chaca menggelengkan kepalanya melihat isi dalam lemari pendingin itu.


"Apa yang om makan. Kenapa masih sama isinya. Bahkan sudah ada yang hampir kadaluarsa. Ck". Chaca memilah isi dalam isi lemari pendingin. Membersihkan dan merapikan.

__ADS_1


Chaca memutuskan mengolah bahan-bahan yang hampir kadaluarsa itu menjadi makanan. Memasak adalah hal yang membuat Chaca bahagia. Chaca yang keasyikan memasak hampir lupa waktu.


"Ah, akhirnya selesai semua. Tinggal mencuci semuanya". Chaca membersihkan semua peralatan yang sudah dia pakai untuk memasak.


"Waduh, gue harus segera keluar dari rumah ini. Om biasanya pulang sebentar lagi". Sebelum pulang, Chaca menulis pesan dikertas kecil dan dia letakkan diatas meja makan. Chaca juga membawa sedikit makanannya tadi untuk dirinya.


Chaca bergegas keluar dan kembali mengunci pintu. Meletakkan kembali kunci ditempat semula. Chaca melangkah keluar dari pagar. Sebelum dia pergi menjauh, Chaca kembali berbalik dan menatap rumah itu. Senyum tipis penuh arti tersungging dibibirnya.


"Aku pulang dulu om. Semoga om segera menemukan penggantiku". Chaca pergi meninggalkan rumah itu. Beruntung taksi melintas dan Chaca menghentikan taksi itu segera pergi meninggalkan perumahan tempat Kalandra tinggal.


Disepanjang jalan Chaca hanya diam merenung. Entah mengapa hatinya merasa sakit. Dia kembali merasa hampa. Pikirannya menerawang jauh. Hanya lampu jalan dan pepohonan yang Chaca tatap saat ini. Ponsel Chaca berdenting, membuat lamunannya ikut menghilang.


*Om Alan


Terimakasih. Mengapa tidak menungguku pulang. Apa kamu sangat membenciku hingga kamu tak mau menemuiku.


Om Alan


Rasa yang selalu aku rindukan kini bisa aku rasakan kembali. Tidakkah kamu ingin kembali tinggal disini. Aku tidak melarang kamu untuk kembali Cha. Aku juga tidak akan memaksakan apapun keputusan mu nantinya.


Om Alan


Datanglah lagi. Dan kurahap saat kamu datang nanti kita bisa bertemu*.


Chaca hanya diam menatap pesan dari Kalandra. Dan mungkin saat ini Kalandra sedang menyantap makanannya.

__ADS_1


"Berbahagialah om. Ini adalah jalan kita. Inilah yang kamu mau"


__ADS_2