
Chaca memilih untuk tidak menunggu mama Kalandra sadar. Bahkan dengan cara apapun Kalandra membujuk, tetap tidak direspon oleh Chaca. Sebelum pulang, Chaca meminta Julian menjemputnya. Jika dia meminta Dzaky menjemput akan memperumit keadaan. Sepanjang jalan tak ada pembicaraan antara Chaca dan Julian. Julian tahu bagaimana sifat Chaca. Dia fokus mengendarai mobilnya saja.
"Makasih Jul". Chaca keluar dari mobil Julian dan segera masuk rumah. Julian hanya menatap Chaca hingga masuk kedalam rumah.
Julian segera melajukan mobilnya kembali ke rumah. Julian sedang mempersiapkan semua keperluan untuk melanjutkan sekolah diluar negeri mengikuti kakak satu-satunya.
Chaca merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Dia lelah ingin beristirahat. Namun pikirannya masih tertuju pada mama Adina. Dia pergi benar-benar tanpa pamit. Tapi jika dia harus berpamitan, pasti Chaca tidak akan tega dan akan melanjutkan sandiwara mereka.
"Sepertinya ini sudah waktunya gue ngomong sama mama dan papa. Gue gak mau kalau mereka tahu dari Dzaky ataupun mama Adina". Chaca mengambil ponselnya dan segera menghubungi nomor mamanya.
Setelah beberapa kali mencoba menghubungi sang mama, akhirnya Chaca bisa bercerita. Chaca menceritakan semua yang dialaminya hari ini. Bahkan mengenai keadaan mama Adina saat ini. Chaca sudah siap menanggung semua resikonya.
"Maafkan Chaca mah. Apapun hukuman yang mana berikan Chaca akan terima".
"Mama akan bicarakan dulu sama papa. Mama kecewa sama Chaca. Tapi mama juga bangga karena Chaca berani jujur dan Chaca mau bertanggung jawab. Nanti mama telpon lagi ya sayang. Papa masih meeting. Nanti kalau mama sudah bicara dengan papa, mama kabari. Chaca jangan lupa makan. Mama sayang Chaca".
Chaca menangis saat mamanya menutup panggilan telepon darinya. Hatinya begitu lega setelah mengatakan kejujuran itu. Dia hanya tinggal menunggu seperti apa nanti keputusan papanya. Chaca merasa gerah dan memutuskan untuk mandi.
Dirumah sakit, Kalandra masih menunggu mamanya sadar. Ada rasa sakit dihati Kalandra melihat kondisi mamanya saat ini. Dan ini bukan karena oranglain melainkan karena ulahnya sendiri. Rudi segera datang menemui Kalandra dirumah sakit setelah mendapatkan kabar dari Kalandra.
"Ndra gimana kondisi Tante Adina". Rudi sedikit berbisik karena takut mama Kalandra terbangun.
"Masih belum sadar. Kata dokter jantung mama terlalu lemah". Kalandra duduk disofa dan diikuti Rudi.
"Kenapa bisa seperti ini. Apa yang membuat Tante Adina terkena serangan jantung". Kalandra menunduk memainkan jari-jarinya.
"Karena gue. Gue yang bikin mama sakit". Rudi menatap tajam Kalandra.
"Apa maksud loe. Ngomong yang jelas". Rudi sedikit menaikkan nada bicaranya namun dengan suara yang pelan.
"Mama tau rencana yang gue dan Chaca jalankan. Chaca sudah jujur dengan mama tentang status palsu kami". Rudi mengepalkan tangannya karena kesal dengan Kalandra.
__ADS_1
"Ceritakan semua ke gue. Dasar anak sialan". Rudi memang sudah dianggap anak kandung eh orangtua Kalandra. Bahkan Rudi sedari kecil sering mengikuti kemanapun mama Kalandra pergi.
Kalandra menceritakan semuanya ke Rudi. Rudi tau mengenai status palsu Kalandra, namun Rudi tak tau rencana lain Kalandra.
"Dasar sialan loe Ndra. Awas aja kalau Tante sampai kenapa-napa". Kalandra masih saja diam. Kini Kalandra menatap lurus ranjang mamanya. Dia terus berdoa agar mamanya segera sadar.
Rudi melihat kondisi Kalandra sedikit berantakan, dia pun merasa iba. Rudi sempat membawakan makanan untuk Kalandra. Dia tahu sepupunya itu belum makan sejak kepulangannya dari luar kota.
"Makanlah. Jangan sampai loe juga ikut sakit. Apa Om Gerald sudah loe kasih tau". Kalandra menggeleng. Makanan yang diberikan Rudi pun hanya ditatapnya.
"Huh. Nanti gue yang akan kabari om Gerald. Dan silahkan menikmati hukumannya". Rudi melihat Kalandra hanya menatap makanannya saja. Rudi merasa kesal dan langsung menyuapi Kalandra.
Dua jam berlalu, mama Adina pun mulai sadar. Perlahan mama Adina membuka matanya. Kalandra segera mendekati ranjang mama Adina begitu melihat mamanya tersadar.
"Mah. Mama sudah bangun". Mama Adina segera memalingkan wajahnya saat mendengar suara Kalandra.
"Sebentar Alan panggilkan dokter". Kalandra keluar ruangan untuk memanggilkan dokter. Dokter tiba bersama seorang perawat dan Kalandra berjalan mengikuti. Dokter mulai memeriksa kondisi mama Adina.
"Baik dok terimakasih". Dokter pergi meninggalkan ruang rawat mama Adina. Kalandra kembali mendekati mamanya.
"Mah. Mama marah dengan Alan". Kalandra masih berusaha menarik perhatian mamanya. Namun mama Adina masih saja acuh.
"Maafkan Alan mah. Tolong jangan seperti ini. Alan tau Alan salah. Alan siap menerima hukuman apapun dari mama". Mama Adina tersenyum tipis menanggapi perkataan Kalandra.
"Kenapa kamu bisa seperti itu Alan". Tiba-tiba terdengar suara mama Adina mengejutkan Kalandra.
"Maafkan Alan mah. Jangan hukum Alan dengan mendiami Alan mah. Lebih baik mama pukul Alan". Kalandra akan bercerita. Namun lidahnya terasa kelu.
"Ngomong yang jelas. Sebelum papamu tau". Kalandra mengatur nafasnya dan menceritakan semua kejadian antara dirinya dan Chaca.
Ekspresi wajah mama Adina berubah. Kalandra menceritakan hampir semua. Karena masih ada beberapa kejadian tidak harus diceritakan.
__ADS_1
"Kenapa harus berbohong. Harusnya langsung kamu nikahi saja kemarin Alan jadi gak seribet ini". Reaksi mama Kalandra sangat mengejutkan.
"Besok kita ketemu orangtua Chaca. Kita bicarakan dengan baik. Siapa tahu setelah para orangtua berbicara, kalian masih bisa memperbaiki hubungan". Rudi yang mendengar perkataan mama Adina terkejut begitu juga dengan Kalandra.
"Mah tolong jangan berharap lebih. Kasian Chaca mah. Dia masih sangat muda". Mama Adina menatap tajam Kalandra. Dia tak suka jika kalandra berkata demikian.
"Kenapa memangnya. Ada yang salah. Mama sangat menyayangi Chaca. Mama yakin Chaca akan mau menuruti permintaan mama. Kita lihat saja besok". Mama Adina berkata dengan penuh percaya diri.
"Tapi mah...". Mama Adina segera memotong perkataan Kalandra.
"Gak usah bantah. Apa kamu mau lihat mama terus terusan sakit". Ancaman mamanya membuat kamadta hanya mengangguk setuju.
Dengan telaten Kalandra menyuapi mama Adina. Kalandra sangat menyayangi mamanya. Kalandra tak peduli dengan tatapan mamanya yang sangat mengitimidasi.
"Pokoknya mama mau punya mantu Chaca". Mama Adina tak hentinya menyebut nama Chaca. Kalandra hanya diam saja tak menanggapi.
"Apa lagi ini. Sudah jujur saja mama seperti ini. Chaca akan semakin marah. Akhhh nikah. Apansih nikah. Tanpa nikah pun kebutuhanku sudah terpenuhi". Kalandra berbicara dalam hatinya.
"Kamu jangan lupa kabari papa. Minta papa cepat pulang. Mama mau kamu nikahi Chaca secepatnya". Ingin rasanya Kalandra berteriak, tapi dia tak bisa berkata kasar kepada wanita yang paling dia cintai.
"Mah. Tolong pikirkan lagi. Alan gak mau memaksakan Chaca. Chaca juga mau lanjutin sekolahnya di luar negeri. Jadi gak mungkin dia akan mau menikah cepat". Kalandra masih membujuk sang mama agar tidak memaksakan Chaca.
Nafas mama Adina mulai kembali tersengal. Kalandra memanggil perawat untuk membantu. Oksigen yang sudah terlepas, harus kembali terpasang.
"Mama istirahat ya. Gak usah mikirin masalah ini dulu. Yang penting nama sehat sekarang". Mama Adina nampak masam. Dia memalingkan wajahnya. Kalandra hanya bisa menghel nafas dalam agar tidak tersulut emosi.
Rudi yang sedari tadi diam memperhatikan, mulai kasian dengan sepupunya. Mama Adina memiliki sifat keras. Apa yang dia mau harus dia dapatkan. Rudi pun paham bagaimana posisi Kalandra saat ini.
"Sabar bro. Nanti gue coba bantu ngomong ke Tante". Kalandra hanya diam dan menatap mamanya yang kembali terlelap.
"Jangan sampai ada pernikahan diantara kita". Ucapan Kalandra sudah sering Rudi dengar. Rudi tau seperti apa trauma Kalandra.
__ADS_1