Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 5


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak terakhir kali Cacha menjadi joki. Hari ini Cacha menemani Julian bermain skateboard. Cacha juga bisa memainkannya. Hanya saja tidak semahir Julian. Cacha bermain basket sambil menunggu Julian selesai dengan skateboardnya.


"Cha. Ayo balik". Julian mendekati lapangan basket tak jauh dari arena skateboard.


"Loe udah selesai Jul". Julian mengangguk. Cacha segera menepi dan mengambil barang yang dia bawa. Karena motor Cacha belum selesai dicat ulang, Cacha menumpang dengan Julian.


"Jul makan dulu yuk. Ditempat mang Ujang". Julian hanya mengangguk menyetujui permintaan Cacha. Mereka segera pergi menuju warung penjual mie ayam favorit keduanya.


Keseharian Cacha berjalan seperti biasa. Pagi sebelum sekolah pasti ada saja perdebatan dengan Dzaky. Kedua orangtua mereka belum kembali. Dan Dzaky mengurangi jam kerjanya selama kedua orangtua mereka berada diluar negeri.


"Zak. Gue udah lama gak ketemu adik loe. Apa kabarnya". Damar memang sedang menjalin kerjasama dengan perusahaan Dzaky. Oleh karena itu mereka sering bertemu.


"Masih sama resek. Oya kita ke lokasi nunggu orangtua gue balik ya. Gue gak bisa ninggalin si merica dirumah sendirian". Dzaky memegang perusahaan sang papa dibidang properti. Dan Damar pun sama. Mereka akan berkolaborasi membangun sebuah hunian mewah tapi ringan dikantong.


"Oke gak masalah. Zak, si Kalandra udah kasih tau ke loe belum kalau dia mau join sama kita. Masih bisa gak". Dzaky masih sibuk memeriksa beberapa berkas yang dibawa Damar untuk dia tanda tangani.


"Gak, dia gak ngabarin apa-apa ke gue. Ya gapapa mumpung belum terlalu jauh kita kerjanya. Kapan dia balik". Setelah selesai ditanda tangani oleh Dzaky, gini giliran Damar yang menyusun.


"Minggu depan kata dia". Dzaky hanya mengangguk saja. Damar mendapatkan pesan dari seseorang dan Dzaky tau itu dari seorang perempuan.


"Siapa lagi mangsa loe. Gak mau tobat loe". Damar hanya tertawa mendengar ocehan Dzaky. Damar memang sering berganti pasangan tanpa status yang pasti.


"Nantilah kalau gue udah ketemu yang srek dihati. Sekarang mah nikmatin aja". Dzaky hanya berdecak pelan mendengar jawaban sahabatnya itu.

__ADS_1


"Awas kalau loe gak main rapi, tiba-tiba loe ninggal anak dimana-mana". Damar tertawa mendengar perkataan Dzaky.


"Santai aja. Gue gak semudah itu ngenalin Jack ke semua perempuan. Hanya istri gue yang boleh meraba, melihat dan merasakan". Damar menampakkan wajah tengilnya.


"Lah oon yang benar. Diraba, dilihat, ditebas". Damar langsung menutup aset masa depannya dengan kedua telapak tangan mendengar perkataan Dzaky.


"Ih si Abang tega deh. Kan Jack belum unjuk kebolehan. Masa langsung ditebas aja". Dzaky hanya diam dan meminum jus orange didepannya.


"Dam, beneran Leo mau tunangan". Damar yang sedang minum tersedak mendengar pertanyaan Dzaky.


"Gosip darimana loe. Kok gue gak tau". Dzaky menyodorkan ponselnya. Disana terdapat pesan dari Leo beserta undangan pertunangan miliknya.


"Kok mendadak gini. Setau gue Leo punya pacar kan. Dan bukan ini nama pancarnya". Dzaky mengangguk menjawab damar. Memang baru Leo dan Kalandra yang memiliki kekasih. Sayangnya Kalandra sudah putus dengan sang mantan. Sedangkan Leo masih berjalan dengan normal.


"Ada yang tidak beres ini. Leo juga gak cerita apa-apa pas kita liburan kemarin". Damar kembali mengingat kejadian saat mereka liburan Minggu lalu.


"Coba loe chat. Kita ajakin ketemuan aja. Biar gue gak mati penasaran". Seloroh Damar membuat Dzaky tersenyum disudut bibirnya.


"Kalau loe mau mati, kabarin dulu. Nanti gue siapin liang lahat sama karangan bunga". Damar hanya mencebik mendengar olokan Dzaky.


"Leo ngajak ketemuan dikafe biasanya besok habis pulang kerja". Dzaky membacakan apa pesan dari sahabatnya itu. Mereka melanjutkan pekerjaannya hingga selesai.


"Neng Cacha. Lama gak main kesini. Kemana saja neng". Istri mang Ujang mendapatkan pelukan dari Cacha.

__ADS_1


"Iya bi, Cacha lagi sibuk. Memang sama bibi apa kabar". Julian tersenyum melihat ketulusan Cacha yang tak pernah membedakan siapapun.


"Baik neng cantik. Aa apa kabar. Kalau Eneng gak kesini, si Aa juga gak mau kesini". Julian pun memeluk istri mang Ujang. Mang Ujang memang tidak memiliki anak. Cacha dan Julian adalah pelanggan mereka sejak lama. Bahkan Cacha dan Julian sering membantu mang Ujang untuk mempromosikan dagangan mereka. Cacha dan Julian sudah mereka anggap sebagai anak sendiri.


Mereka menikmati mie ayam yang dibuat oleh mang Ujang. Mereka juga sambil berbincang dengan istri mang Ujang. Karena hari sudah mulai sore, Julian memberi kode kepada Cacha agar segera berpamitan sebelum Dzaky menelpon mereka.


"Bi, Cacha sama Julian pulang dulu ya. Kapan-kapan kami main kesini lagi. Dan ini hadiah dari kami untuk bibi dan memang". Cacha menyerahkan amplop kepada istri mang Ujang.


"Kenapa harus seperti ini neng. Bibi sama mamang sudah senang kalian datang. Jangan seperti ini". Istri mang ujang menangis sambil memeluk Cacha.


"Gunakan untuk berobat bibi. Cacha ingin melihat bibi tetap sehat". Istri mang ujang memang sedang mengidap kanker payudara. Dan beruntung masih bisa ditangani. Stadium kanker itu masih terbilang rendah.


"Terimakasih neng. Terimakasih". Cacha segera melepaskan pelukannya dan menyalami sepasang suami istri itu bergantian. Dan segera meninggalkan warung mang Ujang.


Uang hasil menjadi joki, memang digunakan Cacha untuk disumbangkan kepada siapa yang membutuhkan. Termasuk kepada istri mang Ujang.


Cacha kembali kerumah diantar Julian. Rumah Julian berbeda kompleks dengan Cacha. Namun tak begitu jauh. Keluarga mereka saling mengenal. Bahkan papa Julian sering bekerjasama dengan papa Cacha. Dan kedua keluarga tidak pernah memaksakan keinginan mereka mengenai Julian dan Cacha. Mereka membiarkan seperti apa nanti akhirnya.


Prinsip Julian yang tidak pernah dia ingkari hingga kini. Chaca adalah sahabatnya dan selamanya akan seperti itu. Dia tidak ingin persahabatan mereka usia hanya karena sebuah perasaan. Dengan memjadi sahabat, Julian tetap bisa menjaga Chaca. Keluarga Julian sudah menganggap Chaca seperti putrinya sendiri. Memang banyak yang meragukan persahabatan mereka. Karena tak mungkin seorang pria bersahabat dengan perempuan tanpa melibatkan perasaan. Untungnya Julian bisa mengendalikan diri. Julian bukannya tak mau memiliki pasangan. Dia akan mencari kekasih nanti setelah Chaca memiliki kekasih. Dia ingin memastikan sahabat tersayangnya itu mendapat jodoh yang cocok.


Dzaky juga sudah menganggap Julian seperti adiknya. Dan hanya bisa percaya dengan Julian jika itu mengenai Chaca. Bahkan jika kedua orangtua mereka dan juga Dzaky harus keluar kota untuk pekerjaan, Chaca akan diminta untuk menginap dirumah Julian.


Setiba dirumah, ternyata Dzaky juga baru sampai dari kantor. Dzaky berdiri disamping mobilnya menunggu Chaca berjalan masuk kedalam halaman rumah setelah diantar Julian.

__ADS_1


"Adik Abang yang slemedot. Darling si dadar guling abang. Ngelayap melulu loe". Dzaky sudah biasa menyambut sang adik dengan cara seperti itu.


"Berisik amat loe Marjuki". Chaca berjalan masuk kedalam rumah diikuti oleh Dzaky. Dzaky merangkul pundak Chaca dan sesekali mereka saling tertawa.


__ADS_2