Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 61


__ADS_3

Chaca


Om Chaca tunggu dirumah


Pagi ini mood Kalandra tidak begitu baik. Bahkan saat meeting, sangat tampak wajah Kalandra yang tidak bersahabat. Saat menerima pesan dari Chaca, Kalandra sedang meeting dengan karyawannya. Mood Kalandra berubah drastis setelah membaca pesan dari Chaca.


Semangat Kalandra bagaikan baterai ponsel yang sudah terisi penuh. Bahkan senyum tak memudar dari wajahnya. Beberapa meeting segera Kalandra selesaikan dan semua berkas juga sudah selesai Kalandra kerjakan.


Tok tok


"Masuk". Sekretaris Kalandra segera masuk setelah mendapatkan instruksi dari Kalandra.


"Maaf pak. Bu Mela ingin bertemu pak". Kalandra berfikir sejenak. Sebenarnya Kalandra ingin menolak bertemu karena dia segera ingin pulang. Kalandra mencoba mencari alasan yang tepat untuk mengusir Mela.


"Bisa saya meminta bantuan kamu". Kalandra meminta sekretarisnya untuk membantu mengusir Mela dengan halus. Sekretaris Kalandra pun menyetujui permintaan tuannya.


"Baik pak. Akan saya bantu". Sekretaris Kalandra mengijinkan Mela untuk masuk kedalam ruangan Kalandra.


"Hai Ndra. Sepertinya sibuk sekali. Apa aku mengganggu waktu kamu". Mela duduk disofa dan menunggu Kalandra.


"Hmmm lumayan. Ada apa kamu tumben mampir kesini". Kalandra masih saja diam dikursi kebesarannya sepertinya enggan beranjak mendekati Mela.


"Bosan. Temani nonton yuk. Sekalian dinner. Kita kencan". Mela menggoda dengan gaya genitnya.


Sekretaris Kalandra kembali masuk keruangan Kalandra seperti kesepakatan mereka tadi. Mela melihat sekretaris Kalandra kembali masuk membawa berkas-berkas.


"Maaf pak sepuluh menit lagi kita akan ada meeting. Dan ini berkas yang perlu bapak tanda tangani". Kalandra mengangguk dan meminta sekretarisnya meletakkan berkas diatas meja.


"Maaf ya Mel. Saya harus meeting. Jadi saya tidak bisa menemani kamu nonton". Mela tampak kecewa dengan jawaban Kalandra.


"Ah yasudahlah. Aku pamit dulu. Mungkin lain waktu kita bisa kencan". Mela beranjak dari sofa dan mendekati Kalandra hendak memeluknya. Kalandra sedikit menjauh dan hanya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Kalandra berterimakasih kepada sekretarisnya. Lima belas menit kemudian Kalandra memutuskan untuk pulang ke rumah. Hati Kalandra sangat bahagia hari ini. Entah mengapa dia benar-benar ingin segera pulang dan bertemu Chaca. Dalam perjalanan, Kalandra mampir ke toko bunga dan membelikan bunga mawar putih kesukaan Chaca.


Jalanan macet membuat Kalandra sedikit kesal. Dia sangat ingin segera tiba dirumah. Kalandra sudah sangat lama memikirkan hal ini. Mempertimbangkan hubungan diantara mereka. Kalandra yakin akan hal ini. Walaupun sebenarnya dirinyalah yang meminta status pernikahan kontrak mereka.

__ADS_1


"Semoga kamu mau memberikan kesempatan untuk hubungan kita. Hubungan yang sesungguhnya bukan diatas kertas". Kalandra bergumam sendiri. Dia berdoa agar Chaca bisa memberikan kesempatan untuknya.


Kalandra sudah sampai dirumah. Lampu sudah menyala. Halaman sudah tampak bersih dan rapi. Tidak seperti saat Kalandra pergi pagi tadi meninggalkan rumah. Kalandra tersenyum bahagia. Tak lupa dia mengambil karangan bunga yang dibelinya khusus untuk Chaca. Kalandra memegang handle pintu dan segera membukanya. Hatinya menghangat melihat rumahnya yang sangat rapi dan bersih.


Kalandra berjalan menuju ruang keluarga dan dapur. Pemandangan yang telah lama hilang, kini bisa Kalandra saksikan kembali. Chaca sedang sibuk menyiapkan makan malam. Posisi Chaca membelakangi Kalandra. Dan Kalandra sengaja memperlahan langkah kakinya dan membuat Chaca tidak menyadari kehadiran Kalandra.


"Om. Kapan sampai. Kok Chaca gak dengar om datang". Chaca terkejut melihat Kalandra sudah duduk dimeja makan dengan menatapnya.


"Belum lama kok. Kamu terlalu fokus dengan penggorengan hingga tidak sadar saya pulang". Kalandra tersenyum manis menjawab pertanyaan Chaca.


"Udah kayak setan aja tiba-tiba muncul". Chaca masih sibuk menyiapkan makanan diatas meja makan.


"Setan kok tampan seperti saya". Chaca hanya mencibir perkataan Kalandra.


"Om. Mandi saja dulu, terus kita makan bareng". Kalandra beranjak dan membawa karangan bunga yang dia sembunyikan mendekati Chaca. Kalandra sengaja berdiri dibelakang Chaca dan mengulurkan buket bunga untuk Chaca.


"Untuk kamu". Chaca menghentikan sejenak mengaduk sayur didalam penggorengan. Menatap buket bunga pemberian Kalandra.


"Makasih om". Kalandra segera masuk kedalam kamar untuk mandi. Setelah Chaca menerima buket pemberiannya.


"Ada apa denganmu om. Apa yang terjadi". Chaca bergumam pelan melihat perubahan sikap Kalandra. Sambil menunggu Kalandra selesai mandi, Chaca membereskan ruang tamu yang masih sedikit berantakan.


Didalam kamar, Kalandra sibuk menyiapkan diri sebaik mungkin. Bahkan dia berkali-kali mencocokan pakaian yang akan dikenakan saat ini. Menatap ke kaca berulang kali memastikan penampilannya.


"Ah perfect. Semoga Chaca bisa luluh". Kalandra mengatur nafasnya berkali-kali sebelum menemui Chaca.


Kalandra menemui Chaca yang sudah menunggunya dimeja makan. Kalandra tersenyum melihat senyum Chaca menyambutnya.


"Ayo kita makan". Chaca sudah bersiap untuk menghidangkan makanan untuk Kalandra.


"Wah aku merindukan ini semua". Semua makanan yang dihidangkan Chaca adalah makanan kesukaan Kalandra.


"Makanlah yang banyak om". Kalandra dengan penuh semangat menghabiskan semua makanan yang dihidangkan Chaca. Chaca yang melihat lahapnya Kalandra menyantap makanannya, tersenyum bahagia.


Kalandra terus menerus menambahkan lauk kedalam piringnya. Membuat Chaca tertawa melihat tingkah Kalandra itu.

__ADS_1


"Berapa tahun gak makan om". Candaan Chaca membuat Kalandra tertawa.


"Ini adalah makanan ternikmat yang pernah saya rasakan". Tanpa terasa makanan sudah tandas tak tersisa oleh Kalandra. Bahkan saat ini Kalandra duduk bersandar karena perutnya yang terlalu kenyang.


"Om, Chaca bereskan ini dulu. Dan nanti Chaca mau ngomong penting sama om". Kalandra hanya mengangguk karena terlalu kenyang.


Chaca membereskan semua piring diatas meja makan. Kalandra masih duduk dimeja makan menunggu Chaca menyelesaikan pekerjaannya. Mata Kalandra tertokus pada amplop coklat dibawah buket bunga. Karena penasaran Kalandra mengambil amplop itu.


"Pengadilan Agama xxxx". Gumam Kalandra pelan. Jantungnya berdetak kencang membaca tulisan amplop itu. Tangan Kalandra bergetar saat akan membuka amplop itu. Chaca yang sudah selesai mencuci piring segera berbalik dan akan duduk dihadapan Kalandra. Chaca diam menatap Kalandra yang sudah memegang amplop coklat itu.


"Om". Kalandra masih diam menatap amplop dalam genggamannya yang belum juga dia buka. Chaca berjalan dan duduk disamping Kalandra.


"Apa ini Cha". Mungkin bagi Chaca itu adalah pertanyaan bodoh. Tapi hanya kalimat itu yang bisa Kalandra keluarkan.


"Huh. Chaca hanya menjalankan apa yang telah kita sepakati om. Bulan depan tepat satu tahun pernikahan kita. Dan kontrak kita sudah berakhir". Kalandra mendongak menatap Chaca yang mengatakan perihal kontrak pernikahan mereka.


"Chaca tidak mau om terbebani terlalu lama lagi dengan kontrak kita. Dan Chaca tahu om masih belum mengurus semua ini. Chaca hanya meringankan beban om saja. Om tinggal tanda tangan dan menunggu hasil persidangan kita". Kalandra terus menatap Chaca nanar. Lidahnya kelu. Hatinya terasa sakit. Bahkan saat ini Chaca menyodorkan pena kehadapannya, Kalandra seakan berat menerima pena itu.


"Baiklah jika itu memang sudah menjadi keputusan kamu Cha". Berat. Sangat berat kata itu harus Kalandra ucapkan. Hatinya menjadi semakin sakit melihat alasan perpisahan mereka. Dengan tangan bergetar, Kalandra membubuhkan tanda tangan disurat perpisahan mereka.


"Maafkan Chaca om jika Chaca selama menjadi istri tidak pernah melayani dengan baik. Semoga om bisa bahagia dengan wanita yang nanti menjadi pasangan om". Bahkan Chaca tak mau menatap Kalandra saat mengatakan hal itu.


"Bolehkah malam ini kita tidur bersama". Chaca terkejut dengan permintaan Kalandra. Pikiran Chaca menerawang jauh.


"Kamu jangan takut. Saya hanya ingin tidur memeluk kamu untuk pertama dan terakhir kalinya. Seperti saat makan tadi. Mungkin itu masakan terakhir yang saya rasakan dari tangan kamu". Kalandra menggegam tangan Chaca penuh harap.


"Baiklah om. Chaca akan menginap malam ini". Karena waktu sudah larut malam, Kalandra mengajak Chaca untuk beristirahat. Kalandra menggandeng tangan Chaca membawanya masuk kedalam kamar mereka dulu.


Canggung. Itu yang Chaca dan Kalandra rasakan saat ini. Perlahan Kalandra naik keatas ranjang dan meminta Chaca berbaring disampingnya. Chaca pun mulai berbaring disamping Kalandra. Kalandra meletakkan lengannya sebagia bantalan kepala Chaca. Dan Chaca bersandar didada bidang Kalandra. Mereka baru pertama kali melakukan sentuhan semacam ini.


Malam mereka diisi dengan cerita saat mereka bersama. Tanpa terasa mereka pun tertawa bersama. Hingga tanpa terasa mata Chaca terasa berat dan terpejam.


"Cha. Chaca". Kalandra melihat kearahnya Chaca yang ternyata sudah lelap dalam tidurnya. Kalandra tidak memindahkan posisi Chaca dan dia terus menatap Chaca.


"Sejujurnya malam ini saya ingin bilang jika saya akan membatalkan perjanjian kita dan kita mencoba menjalani bersama. Tapi kamu memilih melanjutkan kontrak ini. Say tidak tau kapan rasa ini datang. Saya tidak mau jauh dari kamu Cha. Saya mencintai kamu Cha". Kalandra mengecup dalam kening Chaca. Tak terasa air matanya menetes.

__ADS_1


"Semoga malam berjalan lebih lama. Saya tidak mau ini cepat berlalu. Karena pagi datang untuk menjemputmu pulang. Meninggalkan saya sendiri disini". Kalandra ikut lelap bersama Chaca setelah dia lelah mengoceh sendiri karena Chaca sudah hanyut dalam mimpi indahnya.


__ADS_2