Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 19


__ADS_3

Hari yang tidak diinginkan oleh Chaca akhirnya tiba juga. Jika mereka adalah sepasang kekasih, mungkin akan menjadi hari bahagia yang selalu mereka tunggu-tunggu. Chaca tak bersemangat sejak pagi hari. Keluarga Chaca memesan makanan? dari restoran ternama. Dzaky mengosongkan jadwal hari ini untuk acara Chaca. Dia juga mengundang para sahabatnya. Damar orang paling heboh dan paling merasa dikhianati oleh Kalandra.


Acara pertunangan Chaca akan digelar dikediaman orangtua Chaca dan dirahasiakan dari umum. Mengingat usia Chaca yang masih terbilang muda. Setelah mendapat telepon dari Dzaky, awalnya Kalandra ingin membuat alasan jika orangtua Chaca tidak bisa menemui mereka. Tapi dia urungkan kembali niat itu. Kalandra memikirkan perkataan Dzaky, yang tetap meminta Kalandra menemui orangtuanya.


Kalandra semakin tak bisa menghentikan kekacauan ini setelah melihat reaksi mamanya yang benar-benar semangat mempersiapkan semuanya. Bahkan mama Kalandra menghubungi mama Chaca untuk memakai pakaian berwarna senada. Beruntung walaupun sudah berumur bentuk tubuh mereka tetap langsing. Itu mempermudah mereka mencari pakaian dadakan.


Disinilah Kalandra dan keluarganya saat ini. Sultan dan Rudi menjadi pengiring dari pihak Kalandra. Sedangkan Damar dan Leo menemani Dzaky. Sepanjang perjalanan Kalandra berharap jika ini hanya mimpi. Dia tak pernah membayangkan akan kembali menjalin hubungan dengan wanita. Hingga saat ini rasa bencinya terhadap wanita masih sama.


Chaca bersiap dibantu oleh Fani dan Dita. Sahabatnya sudah kembali dari berlibur. Dia hari lagi mereka sudah kembali masuk ke sekolah. Julian dan Dito juga turut hadir. Mereka sangat terkejut saat mendengar cerita Chaca. Julian tak berekspresi apapun. Dia hanya berpesan jika itu membuat Chaca sakit, maka harus segera diakhiri.


"Selamat malam, selamat datang. Silahkan masuk pak Gerald dan Bu Adina". Ramah mama Chaca menyambut calon besan.


"Terimakasih bu Manda. Selamat malam pak Arsyad". Orangtua Kalandra melangkah masuk kedalam rumah Chaca.


Mereka semua sudah duduk diruang tamu. Pembawa hantaran segera meletakan hantaran dimeja hadapan mereka. Setelah berbasa-basi sebentar, mereka segera memulai acara inti.


"Sebelumnya saya ucapkan terimakasih kepada keluarga pak Arsyad yang sudah menerima kehadiran keluarga kami". Papa Kalandra mulai berbicara menyampaikan terimakasih atas sambutannya. Papa Kalandra menjeda sebentar perkataannya.


"Kami datang sekeluarga kekediaman pak Arsyad membawa niat baik. Kami datang ingin meminang putri dari keluarga Arsyad untuk putra tunggal kami Kalandra Geraldin Aditya". Pak Gerald langsung menyampaikan maksud kedatangannya bersama keluarganya.

__ADS_1


"Saya sampaikan terimakasih atas niat baik dari Pak Gerald sekeluarga. Saya tidak bisa memberikan jawaban atas pinangan bapak. Saya akan menanyakan dahulu kepada putri saya". Papa Arsyad menanggapi pinangan keluarga Kalandra.


"Bang, tolong jemput adik". Papa Chaca meminta Dzaky memanggil Chaca. Dzaky mengangguk dan segera menghampiri Chaca yang masih berada didalam kamar.


Tak berselang lama Dzaky datang bersama Chaca dan kedua sahabatnya. Chaca begitu menawan walaupun hanya dengan polesan tipis diwajahnya. Chaca mengapit lengan Dzaky dan diikuti kedua sahabatnya dibelakang mereka. Chaca menyalami kedua orangtua Kalandra lalu dia duduk diantara kedua orangtuanya.


"Chaca. Om Gerald dan Tante Adina datang kemari bermaksud untuk meminang kamu yang akan disandingkan kepada putra semata wayangnya Kalandra Geraldin Aditya. Bagaimana nak". Pak Rasyid menyampaikan maksud keluarga Kalandra kepada Chaca secara perlahan dan beliau juga menanyakan tanggapan Chaca.


"Om, bolehkan Kalandra menyampaikan sendiri niat Kalandra datang kemari". Belum sempat Chaca menjawab, Kalandra sudah menyahutnya.


"Boleh. Silahkan nak". Pak Rasyid memberikan kesempatan untuk Kalandra menyatakan perasaannya kepada Chaca secara langsung.


"Aku tau usia kita sungguh sangat berbeda jauh. Dan itu tak menjadikan suatu masalah. Karena aku yakin kamulah yang terbaik yang menjadi pilihanku". Ini kali kedua Kalandra menjeda perkataannya. Dia sedikit gugup.


"Marissa Putri Al-Rasyid, mau kah kamu menerima lamaranku dan menjadi calon pendampingku kelak". Kalandra yang tadinya berdiri, tiba-tiba berjongkok sambil mengulurkan salah satu tangannya dihadapan Chaca.


Chaca mendongak melihat kearah Kalandra sesaat. Chaca juga menoleh kearah kedua orangtuanya dan abangnya. Dzaky paham apa yang Chaca rasakan saat ini. Dia hanya tersenyum dan mengangguk seperti yang dilakukan kedua orangtuanya.


"Chaca terima kak". Kata-kata yang sangat berat Chaca ucapakan. Bahkan berkali-kali dia mencoba mengatur nafas secara perlahan. Bahkan Kalandra bisa merasakan dinginnya telapak tangan Chaca digenggamnya.

__ADS_1


"Syukurlah. Ayo kalian segera memasang cincin pertunangan kalian". Mama Kalandra begitu bahagia melihat apa yang selama ini diimpikan bisa terwujud.


Usai bertukar cincin, mereka melanjutkan dengan makan malam bersama serta membahas rencana kedepannya akan seperti apa. Papa Rasyid sengaja mengulur waktu dengan menunda pernikahan yang diinginkan keluarga Pak Gerald. Dan alasan paling tepat adalah usia Chaca. Juga peraturan perundang-undangan negara yang tidak memperbolehkan pernikahan dengan usia dibawah sembilan belas tahun untuk wanita.


"Saya tidak setuju jika putri saya dinikahi secara siri. Walaupun itu sah dimata agama, tapi akan sangat membenaninya. Biarkan Chaca menyelesaikan sekolahnya dulu. Baru nanti kita pikirkan rencana pernikahan mereka". Hanya ada suara para orangtua diruang makan tersebut. Para anak muda dan sepasang kekasih dadakan itu hanya diam menikmati makanan.


"Baiklah. Saya setuju dengan perkataan pak Rasyid. Setidaknya mereka punya ikatan resmi saat ini. Itu sudah cukup membuat lega hati kami". Papa dan mama Kalandra begitu bahagia malam ini.


Karena waktu belum terlalu malam, Kalandra ijin membawa Chaca keluar sebentar. Papa Rasyid mengijinkan dan Kalandra harus pulang dijam yang sudah ditentukan. Kalandra mengajak Chaca ketaman tak jauh dari rumah Chaca tinggal. Kalandra ingin membuat rencana bersama Chaca. Kini mereka duduk berdua dibangku taman sambil meminum segelas sekoteng.


"Cha, maaf mengikat kamu sejauh ini. Saya tau kamu tak nyaman. Ini diluar kendali saya Cha". Kalandra mulai membuka percakapan setelah lama mereka hening.


"Om, kalau bukan karena mama om. Gue gak akan ikuti permainan sampai sejauh ini. Gila aja gue tiba-tiba tunangan dengan orang yang sebelumnya gue gak pernah kenal. Kartu tanda penduduk aja gue belum punya loh om. Udah main lamar aja". Chaca mengomel tanpa henti. Dia sudah memendam kekesalan itu sejak beberapa hari yang lalu.


"Iya sorry. Dan makasih udah perhatian sama mama saya Cha. Sekarang mau kamu gimana Cha" Chaca menatap Kalandra tajam. Otaknya mulai berfikir apa yang harus dia lakukan lagi.


"Akhiri ini secepat mungki. Gue gak mau nikah muda. Gue masih ingin menghabiskan masa muda gue. Gue minta jangan ada pernikahan diantara kita om". Kalandra mendongak dan menatap wajah Chaca. Pemikiran Chaca, sama seperti apa yang dia pikirkan.


"Oke. Kita tunggu waktu yang tepat untuk mengakhiri ini". Kalandra pun setuju. Mereka akhirnya bertukar nomor ponsel dan tak lama Kalandra mengantarkan Chaca pulang kerumahnya.

__ADS_1


__ADS_2