Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 65


__ADS_3

"Sudah enam bulan sejak perceraian kalian Alan, dan sampai saat ini apakah masih belum bisa kamu menerimaku. Atau setidaknya berusaha membuka hatimu untukku". Mela sudah tidak bisa lagi membendung emosinya. Usahanya selalu mendapat penolakan dari Kalandra. Dengan berbagai macam alasan, Kalandra selalu menolaknya.


"Maaf Mel. Saya masih belum mau untuk menjalin hubungan serius kembali. Jadi tolong jangan menunggu saya. Carilah proa lain yang menyayangi kamu Mel". Mela berjalan menuju meja kerja Kalandra. Dengan penuh amarah, Mela meraih bingkai foto kecil diatas meja kerja Kalandra. Dan itu adalah foto Chaca.


...Prang...


"Lupakan dia. Bahkan mungkin saat ini dia saat ini sudah bersama oranglain. Move on Alan. Move on". Kalandra mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya melihat Mela dengan seenaknya membanting bingkai foto Chaca.


"Itu bukan urusan anda. Silahkan keluar dari ruangan saya. Dan jangan lagi ganggu hidup saya. Kita hanya sebatas rekan kerja. Jadi jangan melampaui batas anda Nona Mela". Kalandra membuka pintu ruangannya dan meminta Mela meninggalkan ruangannya.


"Alan. Kapan kamu akan sadar. Jangan sampai orang lelah menunggumu lama lalu pergi". Kalandra hanya menatap lurus kedepan saat Mela berdiri dihadapannya dan mengatakan hal itu.


Setelah kepergian Mela, Kalandra memungut satu-persatu pecahan kaca dari bingkai itu. Beruntung foto Chaca tidak disobek oleh Mela. Kalandra mengemas pecahan kaca kedalam kertas dan dibungkus menggunakan plastik sebelum dia membuangnya kedalam tempat sampah agar aman.


"Cha. Apa kabar. Maaf aku tidak bisa melupakan kamu Cha. Apa kamu sudah melupakan aku Cha". Duduk bersandar menatap lekat foto Chaca yang sengaja dulu dia foto diam-diam saat Chaca berkunjung ke kantornya.


Kalandra tidak lagi fokus dengan pekerjaannya setelah apa yang dilakukan oleh Mela. Kalandra hanya duduk sambil terus menatap foto Chaca tanpa bersuara. Suara ketukan pintu sang sekretaris menyadarkan lamunan Kalandra.


"Maaf pak. Sudah ditunggu diruang meeting". Kalandra hanya mengangguk. Menaruh foto Chaca didalam laci meja dan segera keluar menuju ruang meeting.


Sedangkan Chaca, sedang menyelesaikan administrasi di kampus. Perjuangannya sudah terbayar dengan undangan kelulusan yang sudah Chaca kirim kepada kedua orangtuanya. Bulan depan Chaca akan wisuda. Yang Chaca fikirkan saat ini adalah cara mengatakan kepada keluarganya jika dirinya dan Kalandra sudah berpisah. Sepandai itu Chaca dan Kalandra menyembunyikan semuanya.


"Cha, loe udah dapat gaun belum buat wisuda". Saat ini Chaca sedang bersama Sandra di kafe dekat kampus mereka.


"Gue lagi gak mikirin gaun San. Gaun itu masalah gampang. Yang gue pikirin orangtua gue San. Loe tau kan kalau gue belum jujur sama orangtua gue". Sandra merangkul pundak Chaca. Dia paham apa yang sedang Chaca rasakan saat ini.


"Apa tidak sebaiknya loe minta tolong om Kalandra untuk hadir diacara wisuda loe. Dan setelah acara usai kalian bisa berkata jujur". Chaca menunduk memainkan jari-jarinya.

__ADS_1


"Jika semudah itu gue bisa berkata, sudah gue lakukan dari kemarin San. Seminggu yang lalu gue telpon dokter pribadi papa. Setidaknya gue bisa memperkirakan jika gue jujur, papa akan baik-baik saja atau malah semakin memburuk". Sandra mengusap pelan pundak Chaca memberikan dukungan.


"Bukan hal baik yang gue dengar San. Bahkan kemarin karena kelelahan bekerja, papa terkena serangan jantung". Chaca mulai terisak pelan. Usapan Sandra semakin kencang.


"Bagaimana mungkin gue bisa jujur San. Sedangkan saat ini papa gue sedang berjuang sembuh". Chaca menangis dan Sandra segera memeluknya.


"Hust. Sudah jangan menangis. Gue gak tau kalau papa loe sakit lagi. Sebaiknya loe tetap bertemu dengan om Kalandra. Loe bisa minta tolong". Sandra memeluk sambil memberikan saran terbaik untuk Chaca.


"Hmmm. Sepertinya memang itu jalan satu-satunya. Semoga Om Alan mau membantu gue". Chaca berkata pelan dalam pelukan Sandra.


"Jangan putus asa. Gue yakin om Alan akan bantu loe. Karena dia sebenarnya cinta sama loe". Wajah Chaca nampak terkejut setelah mendengar perkataan Sandra. Mereka sudah melepaskan pelukan.


"Apa maksud loe San". Sandra berfikir sejenak. Chaca menatap Sandra intens.


"Jujur Cha. Beberapa kali gue mergoki om Alan berdiri didepan unit apartemen loe. Bahkan makanan yang sering gue bawa buat loe, itu dari om Alan". Chaca menatap tajam Sandra. Memang beberapa kali Sandra membawakan makanan yang lezat.


"Lantas, darimana loe bisa tau kalau om Alan ada rasa sama gue". Sandra menunduk. Jarinya saling meremas.


"Jangan bercanda. Katakan yang jelas Sandra". Sandra menatap Chaca dan kembali mengatakan apa yang pernah dia dengar waktu itu.


"Huh. Loe ingat saat gue ajak loe cari hadiah buat Joan, tapi loe gak bisa karena sahabat kecil loe datang". Chaca mencoba mengingat. Dan memang beberapa bulan yang lalu Julian datang mengunjungi Chaca. Chaca mengangguk setelah mengingat.


"Gue jalan ke mall sama tetangga apartemen gue. Waktu pulang gue gak sengaja lihat ada orang sedang bertengkar diarea parkir basemen. Awalnya gue cuek, tapi setelah gue lihat lagi. Ternyata itu om Alan dan seorang wanita yang gue gak tau siapa". Chaca masih diam mendengarkan cerita Sandra.


"Gue berdiri tak jauh dari tempat mereka bertengkar. Wanita itu nyebut-nyebut nama loe Cha. Dan om Alan dengan lantang ngomong kalau sebenarnya dia menyesal pisah sama loe dan dia cinta sama loe Cha". Chaca diam. Dadanya seperti sesak saat mendengar perkataan Sandra.


"Dan setelah pertengkaran mereka, om Alan melihat gue. Om Alan jadi sering minta tolong ke gue buat antar makanan buat loe". Chaca menunduk. Dia tak bisa berkata apapun. Sandra masih melanjutkan perkataannya yang terjeda.

__ADS_1


"Jika loe juga ada rasa, apa tidak sebaiknya kalian mencoba kembali. Setau gue loe masih bisa rujuk kok". Belum juga Chaca menjawab perkataan Sandra, Joan dan Mike datang menghampiri mereka.


"Kalian udah lama disini. Kok gak ajak-ajak kalau mau main". Mike mencecar mereka karena tidak diajak untuk hang out.


"Ya maaf. Kita sengaja mau jalan berdua. Kalian kok tau kita disini". Chaca hanya diam. Joan terus menatap Chaca yang duduk didepannya.


"Gak sengaja aja. Kita mau kesini pengen ngopi. Eh gak taunya ketemu kalian berdua". Mike memanggil pelayan dan mulai memesan begitu juga dengan Joan.


"Cha. Lusa ikut gue ya. Mama papa gue mau kenalan sama loe". Sandra tersedak minumannya sendiri. Sedangkan Mike dan Chaca melotot karena terkejut.


"Kok bisa". Hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulut Chaca.


"Ya bisa dong. Kan loe calon istri gue". Mike, Sandra bahkan Chaca semakin terkejut mendengar perkataan Joan.


"Sejak kapan kalian ada hubungan. Kok kita gak tau". Mike bertanya kepada Joan dan Chaca mengenai hubungan mereka.


"Lah gue sendiri aja merasa tidak memiliki hubungan apapun sama Joan. Loe gak usah aneh-aneh deh Jo". Chaca melemparkan sendok kearah Joan.


"Gue serius. Karena loe gak pernah jawab ungkapan hati gue, jadi sekalian aja loe gue bawa kehadapan orangtua gue. Dan nanti setelah kita lulus, gue mau ketemu orangtua loe. Biar kita bisa lanjut ke jenjang yang serius". Bukan hanya Chaca, Mike dan Sandra sama-sama terkejut.


"Gak usah ngaco loe Jo. Bercanda loe gak asyik". Joan berusaha meraih tangan Chaca untuk digenggam. Namun selalu Chaca tepis.


"Gue serius Cha. Apa perlu gue langsung minta orangtua gue lamar loe setelah lulus nanti". Chaca semakin kesal dengan perkataan Joan. Dia beranjak pergi meninggalkan kafe tersebut.


"Gue gak suka sama omongan loe Jo. Gue balik dulu". Sandra berlari mengejar Chaca yang kesal.


"Loe sih bercandanya kelewatan. Chaca marah tuh". Mike memukul lengan Joan pelan.

__ADS_1


"Gue serius Mike. Gue mau lamar Chaca". Joan terus meyakinkan sahabatnya itu.


"Sesukamulah Jo. Gue gak ikutan".


__ADS_2