Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 9


__ADS_3

"Jul, temani gue nyari kado buat papa". Chaca berjalan mendekati meja Julian dan meminta untuk ditemani ke mall sepulang sekolah.


"Sorry Cha. Sore nanti Abang gue datang. Gue disuruh jemput dibandara". Julian memiliki seorang kakak yang tinggal diluar negeri dan setiap enam bulan sekali akan pulang ke rumah.


"Yah. Gue sama siapa dong. Tega loe semua pada gak ada yang mau nemenin gue". Sahabat Chaca tertawa mendengar keluhan Chaca.


Sepulang sekolah Chaca segera menuju mall. Saat mengambil motor di parkiran sekolah, beberapa kakak kelas mendekati Chaca. Mereka memberikan Chaca beberapa hadiah. Bahkan Chaca sering mendapat pernyataan cinta dadakan dari kakak kelas. Jika ada Julian selalu dihalangi oleh Julian.


Chaca melenggang masuk kedalam mall dengan santainya. Tak jarang mata lelaki tertuju pada Chaca. Namun Chaca tidak peduli. Sambil berjalan Chaca menoleh kekanan dan kekiri mencari hadiah yang cocok untuk papanya.


"Apa ya. Tahun lalu arloji. Tahun ini apa lagi". Gumam Chaca pelan sambil melihat jajaran toko dikanan dan kirinya.


"Tadi lupa minta saran di Panjul. Sekarang ponselnya mati. Huh". Chaca sudah mencoba menghubungi sahabatnya untuk meminta saran. Namun Julian tidak bisa dihubungi.


Mata Chaca tertuju pada satu toko yang menjual semua pakaian formal untuk pria. Chaca melangkah kedalam toko itu. Dan mengambil apa yang dia lihat dari depan toko.


"Kak. Ini ada warna lain tidak". Tanya Chaca kepada pegawai toko tersebut.


"Tinggal yang ada didisplay toko saja kak. Karena itu hanya ada dua barang. Salah satunya sudah terjual". Jelas penjaga toko itu.


"Ya sudah saya ambil yang ini. Minta tolong dibungkus yang rapi untuk hadiah". Pegawai itu segera mengambil barang yang diinginkan Chaca.


"Ada lagi kak". Tanya pegawai itu lagi. Chaca sedikit berfikir sambil melihat ke sekeliling isi toko.


"Tidak kak. Ini saja. Saya langsung bayar di kasir ya kak". Chaca berjalan menuju kasir dibelakang pegawai tadi. Chaca menunggu belanjaan miliknya disiapkan sambil melihat-lihat koleksi toko tersebut.


Saat asyik melihat-lihat barang, Chaca tanpa sengaja berdiri berdampingan dengan seorang pria yang sedang bingung memilih kemeja untuknya. Berkali-kali dia mencoba menempelkan beberapa kemeja dibadanya namun tetap tidak merasa puas.


"Bagus yang mana sih. Ck. Ini sebenarnya bagus tapi kok warnanya gak banget". Gumam pria itu. Chaca melirik pria tersebut dari atas hingga bawah. Entah mengapa tangan Chaca mengambil satu kemeja yang menurut Chaca itu sangat cocok untuk pria itu.


"Om. Om bagus pake kemeja ini. Sesuai dengan kulit om". Chaca mengulurkan kemeja itu kepada pria tersebut. Dan pria itu mengambilnya.


"Sama-sama Om". Ucap Chaca sambil melangkah pergi menuju kasir, karena pria tadi sibuk menempelkan kemeja dari Chaca ditubuhnya hingga lupa berucap terimakasih.


"Eh. Iya makasih ya". Pria itu berkata sedikit berteriak karena Chaca sudah menjauh.


"Wah benar ini pas banget. Warnanya juga bagus. Wah selera dia bagus juga ya". Saking senangnya, pria itu lupa mengingat sesuatu.

__ADS_1


"Eh tunggu deh. Kok gue gak asing sama tuh cewek". Pria itu berjalan menuju kasir. Dan masih melihat Chaca berada disana menunggu giliran.


"Nah kan benar firasat gue. Gue gak asing sama suara itu. Dasar gadis tengil". Gumam Kalandra pelan sambil berjalan menuju kasir. Pria itu adalah Kalandra. Dia sedang mencari kemeja untuk jamuan makan malam.


"Kak Chaca". Panggilan dari kasir untuk Chaca karena harus membayar.


"Iya kak. Apa sudah siap". Kasir itu tersenyum dan meletakkan paperbag berisi belanjaan Chaca.


"Kakak mau menulis pesan untuk orang yang menerima hadiah ini". Tanya kasir kembali.


"Ah iya kak. Apa ada kartu ucapan disini". Kasir menunjukkan tempat kartu ucapan untuk Chaca pilih. Dan Chaca mulai menulis. Tanpa Chaca sadari ada orang yang sedang mengawasi Chaca dari belakang.


Hai my Hero. Selamat berkurang jatahnya. hehe. Sehat selalu. Sayang Chaca terus. You are my everything. Love u so much


Itulah isi kartu ucapan Chaca. Kalandra sengaja mengintip dari belakang dan dia sedikit mencibir. Membaca tulisan Chaca itu.


"Oh udah punya cowok ternyata". Kalandra berbicara dalam hati setelah mengintip kartu ucapan Chaca.


"Kak ini sudah". Chaca menyerahkan kartu ucapan tersebut dan kasir memasukan kedalam paperbag Chaca.


Transaksi Chaca sudah selesai dan kini giliran Kalandra untuk membayar. Chaca sama sekali tidak peduli dengan orang yang berada dibelakangnya. Seolah mereka tak pernah bertemu sebelumnya. Chaca berjalan keluar dari toko tersebut dan Kalandra terus memperhatikan.


"Akh pengen yang berkuah aja deh". Chaca melangkah masuk kedalam resto yang menyediakan masakan nusantara. Dan pilihannya jatuh pada sop buntut.


Cacha duduk didekat jendela. Sambil menunggu pesanan, Chaca memainkan ponselnya melihat sosial media miliknya. Kalandra pun juga sedang berjalan mencari makan. Senyum tipis dibibirnya tampak jelas. Kalandra masuk ke kafe dimana dia melihat si gadis tengil sedang menunggu pesanan.


"Wah sepertinya kita jodoh". Chaca terkejut karena tiba-tiba ada seseorang yang tidak dikenal duduk dihadapannya.


"Om siapa. Siapa yang ngijinin duduk sini om". Chaca menatap Kalandra tajam. Namun Kalandra tak memusingkan hal itu dia tetap duduk dengan santainya.


"Sebenarnya kamu itu lupa beneran atau pura-pura lupa dengan saya". Tanya Kalandra langsung pada poinnya.


"Lah emang om siapa. Apa kita pernah kenal". Bukannya menjawab, Chaca malah balik bertanya.


"Ck masih muda kok pikun". Cibir Kalandra kepada Chaca. Namun Chaca tak memperdulikannya.


"Om. Kenapa duduk sini. Itu masih banyak kursi kosong". Chaca menunjuk beberapa kursi kosong dikafe tersebut menggunakan jari telunjuknya.

__ADS_1


"Saya pengennya duduk disini. Kenapa memangnya". Kalandra semakin tertantang dengan sikap Chaca yang tanpa basa-basi.


"Gak kenapa-kenapa. Lagian ini tempat umum. Cuma yang ada pengunjung sini ngira kalau om sugar Daddy saya. Lihat aja tuh". Kalandra sedikit menengok kearah dimana Cacha melihat. Dan memang beberapa gadis sedang memperhatikan mereka.


"Biarkan saja. Lagian saya belum setua itu untuk jadi sugar Daddy. Saya dan Abang kamu seusia". Mendengar kata Abang dari mulut pria yang tidak dikenalnya, Chaca sempat kaget.


"Darimana om tau Abang saya". Percakapan mereka terpotong, karena pesanan Chaca sudah datang. Dan tak lama pesanan Kalandra pun datang. Setelah mengucapkan terimakasih, mereka kembali berbicara.


"Dzaky Al-Rasyid. Iya kan". Chaca hanya mengangguk sambil asyik makan tanpa melihat Kalandra.


"Kok tau. Apa seterkenal itu si Marjuki". Kalandra mengerutkan keningnya mendengar Chaca menyebut Dzaky dengan sebutan Marjuki.


"Kamu benar-benar lupa dengan saya. Kita pernah bertemu sebelumnya. Bahkan sebelum saya tau kamu adik Dzaky". Kalandra semakin terkejut saat Chaca hanya menjawab dengan gelengan kepala.


Kalandra menghela nafasnya. Dia memperhatikan Chaca makan dengan santainya. Bahkan makanan Kalandra belum sempat dia sentuh.


"Apa kamu ingat, dua bulan yang lalu pernah hampir bertabrakan dengan mobil di jalan Simanjuntak". Chaca mengangkat wajahnya sambil sedikit mengingat.


"Sudah ingat belum". Kalandra kembali bertanya kepada Chaca yang masih berfikir.


"Ah. Ya gue ingat. Loe om-om tuli yang hampir bikin gue celaka karena gak bisa bawa mobil". Tiba-tiba suara Chaca menjadi keras. Dan membuat Kalandra terkejut.


"Enaknya bilang saya tuli. Kamu saja yang asal nylonong saja. Gak lihat-lihat jalan. Untung saya bisa ngerem. Kalau gak mungkin kamu sudah masuk rumah sakit". Kalandra menyilangkan kedua tangannya didepan dada sambil menyandarkan tubuhnya disandaran kursi. Dia juga menatap tajam Chaca.


"Heh om. Loe tinggal disini berapa lama. Sampai loe gak tau kalau jalan itu dari jam enam pagi sampai jam empat sore adalah jalan satu arah. Dan anda melawan arah. Udah salah. Nyolot lagi. Untung gak gue laporin polisi". Chaca tak kalah tajam menatap Kalandra. Kalandra diam membisu saat Chaca menjelaskan dimana letak kesalahannya.


"Pantes aja pagi itu cuma mobil gue yang lawan arah. Hadeh jangan sampai nih gadis tengil ngetawain gue". Kalandra berbicara sendiri dalam hatinya.


Karena merasa salah dan malu dengan jawaban Chaca, Kalandra memilih diam dan mengalihkan pembicaraan. Chaca melanjutkan acara makannya. Dia selalu ingat pesan sang mama jangan pernah menyisakan makanan apapun dan dimanapun. Jadi Cacha selalu menghabiskan makanan yang dia makan. Tiba-tiba Kalandra mengulurkan tangan dihadapan Chaca.


"Kita belum kenalan. Saya sahabat Abang kamu, jadi setidaknya kita bisa berteman". Chaca memincingkan matanya menatap uluran tangan Kalandra. Dan akhirnya Chaca pun mau membalas uluran tangan itu.


"Chaca". Jawab Chaca singkat dan kembali menarik tangannya bahkan sebelum Kalandra menyebut nama.


"Kalandra". Chaca kembali menatap Kalandra dengan menunjukkan mata bulatnya karena terkejut.


"Apa. Kalender. Gak salah tuh nama". Kalandra gemas melihat mata bulat Chaca itu. Hingga lamunannya buyar saat mendengar tawa Chaca yang mengubah namanya.

__ADS_1


"Haish dasar gadis tengil". Ucap Kalandra pelan sambil terus melihat Chaca yang masih tertawa.


__ADS_2