
Hari ini kedua orangtua Kalandra akan tiba. Kalandra masih disibukkan dengan pekerjaannya. Semenjak kedatangan Chaca waktu itu di studio, tak membuat Gwen menyerah. Selalu saja mencari kesempatan. Kalandra tetap bersikap profesional bahkan cenderung tak mengenal Gwen sebelumnya.
"Jek, gue ijin bawa Chaca nanti malam". Hati ini Dzaky datang ke studio untuk melihat proses pengambilan gambar hari terakhir.
"Mau kemana. Besok Chaca masih final". Dzaky selalu menyempatkan waktu untuk melihat Chaca saat olimpiade sains. Kedua orangtua Dzaky mengundur kepulangannya. Mereka hanya menyaksikan Chaca bertanding melalui video yang dikirim Dzaky.
"Mama, papa gue datang nanti malam. Mama minta Chaca ikut jemput ke bandara". Kalandra menjelaskan kepada Dzaky kemana akan membawa Chaca.
"Oke. Tapi jangan diajak main lagi. Besok Chaca berangkat pagi". Kalandra mengacungkan jari jempolnya tanda setuju.
Gwen sedih karena akan susah bertemu Kalandra. Walaupun selalu tak dianggap oleh Kalandra, Gwen tidak menyerah.
"Andra, bisa kita makan siang bareng. Plis jangan tolak lagi. Ini hari terakhir kita ketemu". Dzaky masih memperhatikan gerak-gerik Gwen. Gwen tidak mengenali Dzaky sebagai kakak Chaca.
"Maaf saya ada acara nona". Kalandra berjalan menjauh dan mendekati Dzaky. Mereka masih ada pembahasan dengan photografer untuk menentukan gambar yang tepat.
"Kenapa lagi tuh nenek sihir". Dzaky bertanya kepada Kalandra dengan sedikit berbisik.
"Biasa masih usaha". Mereka kembali fokus memilih beberapa foto setelah Kalandra menjawab pertanyaan Dzaky.
Kalandra dan Dzaky sudah selesai dengan pekerjaannya, mereka segera meninggalkan studio. Karena hari ini masih ada pertandingan Chaca, Kalandra berniat ingin menonton bersama Dzaky. Betapa terkejutnya Kalandra, ketika melihat Gwen berdiri disamping mobilnya dan disana sudah banyak pemburu berita sedang bertanya kepada Gwen.
"Sejak kapan ada wartawan disini". Tanya Dzaky kepada kru studio.
"Sepertinya ada yang memberitahu jika model ternama sedang berada disini". akru studio menjelaskan apa yang dia dengar saat berusaha mengusir para wartawan.
"Ck. Menyusahkan". Kalandra dan Dzaky tetap berjalan menuju mobil Kalandra. Karena memang mereka berangkat bersama.
"Gwen saat ini sedang menjalin kasih dengan siapa". tanya salah satu wartawan.
__ADS_1
"Saat ini saya sedang tidak memiliki hubungan dengan siapapun. Tapi saya sedang ingin kembali kepada seseorang yang pernah saya sia-siakan dulu". Kalandra tak peduli dengan banyaknya wartawan dan terus menerobos masuk.
Gwen tersenyum bahagia menyapa kedatangan Kalandra. Kalandra hanya memasang wajah datarnya tak peduli.
"Permisi saya lewat dulu sebentar". Dzaky meminta jalan menuju mobil dengan bantuan security.
"Kalandra Geraldin Aditya. Hai mantan". Gwen tiba-tiba menyapa Kalandra dengan sebutan mantan. Kalandra mengacuhkannya dan tetap masuk kedalam mobil. Namun tertahan oleh pertanyaan wartawan.
"Benarkah anda mantan kekasih dari model Gwen Anastasya". Kalandra tak mau berkomentar apapun dan tetap mencoba masuk kedalam mobil. Namun suara Gwen membuat Kalandra kembali menciptakan kebohongan.
"Kalian lihatkan, Kalandra tidak menjawab apapun. Jadi secara otomatis dia membenarkan kalau kita pernah ada hubungan dan akan kembali memperbaiki hubungan itu". Dengan penuh percaya diri Gwen memberikan komentar.
”Benarkah seperti itu pak Kalandra". Kalandra menatap seluruh awak media disana sebelum berkomentar.
"Tolong dengarkan saya baik-baik. Saya hanya akan satu kali mengatakan ini. Dan saya tidak menerima pertanyaan lainnya". Kalandra diam sejenak, begitu juga dengan para wartawan yang masih menunggu Kalandra melanjutkan perkataannya.
"Saya tidak pernah mengenal Gwen Anastasya sebelum adanya proyek ini. Dan Saya sudah memiliki tunangan sejak lama. Dan itu bukan Nona Gwen, melainkan Marrisa Al-Rasyid. Terimakasih". Kalandra berhasil masuk kedalam mobil bersama Dzaky.
"Gila loe Ndra. Gak takut loe kena ulti adek gue. Bikin statement tanpa persetujuan dia". Didalam mobil Dzaky mengomel karena ulah Kalandra.
"Gapapa Chaca ngamuk. Yang penting tuh nenek sihir gak bikin ulah". Baru saja mulut Dzaky diam mengoceh karena mendengarkan jawaban Kalandra. Berita pengakuan Kalandra sudah tersebar melalui sosial media.
"Gila, belum ada satu jam berita loe udah keluar. Wah siap-siap aja diamuk Chaca". Dzaky yang asyik membuka sosial media miliknya, terkejut melihat berita Kalandra menjadi trending topik.
"Ah..makin sulit aja ini". Kalandra berbicara dalam hatinya. Dan mencoba untuk mengatur nafas agar tetap tenang.
Setibanya di gedung tempat olimpiade Chaca berlangsung, sudah dipenuhi orang yang ingin memberikan semangat atau hanya sekedar menonton dan berwisata kuliner serta membeli beberapa pernak-pernik unik. Kalandra masuk bersama Dzaky. Sebelumnya Dzaky bertanya kepada Julian diruangan mana Chaca bertanding.
Tiba diruangan tempat Chaca bertanding, sudah banyak yang menonton. Dan mereka tiba saat babak pertengahan. Satu babak lagi akan menentukan Chaca akan lolos final atau tidak.
__ADS_1
"Sepertinya kita melewatkan satu babak". Dzaky dan Kalandra beruntung mendapatkan kursi untuk duduk.
Mereka fokus melihat Chaca bertanding. Setiap Chaca menjawab dengan cepat dan tepat membuat Dzaky dan Kalandra bersorak gembira. Permainan berakhir, Chaca lolos menuju final. Semua penonton mulai meninggalkan ruangan karena pertandingan usai. Kalandra dan Dzaky mendekati Chaca yang masih berbincang bersama guru dan kawannya.
"Chaca". Panggil Dzaky saat sudah dekat dengan Chaca. Chaca berjalan mendekati Dzaky dan memeluknya.
"Adik Abang ganteng ini memang top markotop. Gak sia-sia Abang ganteng selalu ngajarin kamu tiap hari". Dzaky membanggakan dirinya sendiri. Chaca melepaskan pelukan Dzaky dan mulai mencibir kakaknya itu.
"Eh Abang genteng. Pede amat yak. Abang genteng banget kalau dilihat pake sedotan dari pucuk gunung kerinci". Kalandra terkikik mendengar perdebatan mereka.
Chaca dan Dzaky menjadi pusat perhatian teman-temannya karena tidak pernah ada yang tau jika Chaca memiliki kakak. Apalagi melihat wajah Dzaky. Termasuk sahabat Chaca yang mengetahui nama Dzaky tidak dengan wajahnya.
"Siapa dia. Pacarnya Chaca apa. Keren banget". Puji salah satu teman Chaca.
"Itu abangnya". Jawaban Julian membuat semua teman Chaca melongo.
Kini giliran Kalandra mengucapkan selamat karena Chaca bisa masuk dalam final. Lagi-lagi Teman-teman Chaca bertanya kepada Julian.
"Kalau Abang ganteng satu lagi itu siapanya Chaca Jul. Jangan bilang abangnya juga". Julian hanya mengamati kedua bahunya dan berjalan menyapa Dzaky. Julian hanya ingin Chaca sendiri yang menjawab siapa Kalandra. Seperti apa permintaan Chaca.
"Selamat gadis tengil kesayanganku. Hebat banget. Kakak yakin kamu akan mendapatkan juara". Kalandra hendak memeluk Chaca, namun ditahan oleh Chaca.
"Makasih om. Gak usah peluk-peluk. Gak enak banyak yang lihatin". Dzaky sontak tertawa mendengar Chaca memanggil Kalandra dengan sebutan 'om' dan menolak Kalandra secara halus.
"Kok om lagi sih Cha. Ayolah beib". Chaca hanya menyeringai dan kembali kepada teman-teman dan gurunya. Sebelumnya dia berpamitan kepada Dzaky dan Kalandra.
"Bang, om. Chaca balik ke sekolah dulu. Ada latihan persiapan final besok. Mungkin Chaca pulang telat". Dzaky mengangguk dan tersenyum.
"Nanti kakak jemput kalau kamu sudah selesai Cha. Dan jangan membantah. Oke beib". Dzaky hanya mencibir perkataan Kalandra. Chaca hanya memutar matanya saja dan berlalu menyusul teman-teman serta gurunya.
__ADS_1
Teman-teman Chaca tak hentinya bertanya siapa pria yang bersama kakaknya. Ada juga yang bertanya, apakah Dzaky memiliki kekasih atau belum. Dan berbagai macam pertanyaan lainnya. Chaca tak menjawab apapun. Dia memilih memejamkan matanya karena lelah. Chaca menyandarkan kepalanya dipundak Julian.