Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 57


__ADS_3

Maaf atas keterlambatan saya...saya baru mendapatkan musibah, saudara kecelakaan dan meninggal ditempat. Dan masih belum fokus untuk melanjutkan.. Terimakasih sudah menunggu...


_______


"Bukannya itu suami Chaca". Joan yang sedang berjalan menuju HRD melihat Kalandra dan Mela. Joan dan Chaca sedang menjalani tugas magang diperusahaan milik Mela.


Karena arah ruang HRD melewati lorong yang sama dengan Kalandra. Kalandra terkejut saat berpapasan dengan Joan. Kalandra menghentikan langkahnya dan menyapa Joan.


"Jo. Kamu magang disini". Joan berhenti dan menjawab pertanyaan Kalandra.


"Iya om. Om apa kabar. Lama tidak bertemu". Mela hanya diam mendengarkan percakapan mereka.


"Baik. Chaca". Kalandra hanya tau jika Chaca sedang magang diperusahaan ternama, namun belum mengetahui nama perusahaan tersebut.


"Iya, Chaca juga disini. Maaf om, Jo mau ke HRD dulu. Permisi". Belum selesai Kalandra bertanya mengenai Chaca, Joan segera pamit karena mendapat tatapan tajam dari Mela.


Joan kembali melangkahkan kakinya menuju ruang HRD. Sedangkan Kalandra masih menatap kepergian Joan. Rasa ingin tau Mela pun muncul. Apalagi Mela sempat mendengar nama seorang wanita keluar dari mulut Kalandra.


"Kamu mengenal pemuda itu". Kalandra segera mengalihkan pandangannya.


"Iya, aku mengenalnya. Dibagian apa mereka magang". Mela masih diam memperhatikan setiap ucapan Kalandra.


"Ada apa. Kenapa kamu ingin tahu". Kalandra menyadari jika Mela mencurigai pertanyaannya.


"Karena aku ingin melihat seseorang. Bisa kamu antarkan saya ke ruangan mereka". Kalandra memang sangat ingin melihat Chaca.


Mela mengangguk dan mengantarkan Kalandra menuju ruangan Chaca berada. Mela juga tak melepaskan tautan tangannya dilengan Kalandra. Karyawan yang mengira mereka memiliki hubungan spesial. Mela segera masuk kedalam ruangan manajemen dimana Chaca sedang bekerja disana. Berbeda dengan Joan yang berada di bagian keuangan.


"Ini salah satu bagian tempat mereka magang. Aku tidak tau siapa yang kamu cari. Jika orang itu tidak ada disini, aku akan mengantar kebagian lain". Kalandra mengendarkan pandangannya. Dan matanya terkunci pada sosok yang sedang fokus mengerjakan pekerjaannya.


Kalandra berjalan menuju meja Chaca. Mela tetap setia mengikutinya dari belakang. Semua mata memandang pasangan Mela dan Kalandra.

__ADS_1


"Chaca". Mendengar Kalandra menyebut nama yang sama dengan yang Mela dengar tadi, membuat Mela menatap Kalandra dan Chaca bergantian.


"Om". Lirih suara Chaca yang hanya dapat didengar Chaca sendiri.


"Bisa bicara sebentar saja". Chaca mengangguk dan berdiri. Kalandra segera melepaskan tautan dan segera menarik tangan Chaca.


"Maaf Mel, saya ingin berbicara berdua saja dengan Chaca". Mela diam. Bahkan belum sempat menolak, Chaca dan Kalandra sudah menghilang.


"Siapa gadis itu. Apa dia istri Kalandra". Mela bergumam pelan. Mela duduk menunggu mereka dimeja Chaca. Tak satupun karyawan berani melihat kearah Mela yang tampak menekuk wajahnya.


Kalandra membawa Chaca menjauh dari ruangan Chaca. Mereka berhenti di balkon didekat toilet umum. Chaca masih diam tak bersuara. Dan Kalandralah yang memulai percakapan mereka.


"Apa kabar". Kalandra berbasa-basi membuka percakapan mereka.


"Seperti yang om lihat. Chaca baik-baik saja". Bahkan Chaca tak berniat menanyakan kabar Kalandra.


"Cha. Kenapa tidak pernah pulang. Apa kamu mulai nyaman hidup diapartemen". Chaca masih memalingkan pandangannya. Chaca tau jika saat ini Kalandra menatapnya.


"Cha, lusa saya akan pulang ke Indonesia. Apa kamu mau ikut". Chaca menoleh kearah Kalandra dan menatapnya.


"Tidak om. Chaca belum mendapatkan libur". Chaca menolak secara halus ajakan Kalandra.


"Aku bisa memintakan ijin kepada Mela jika kamu mau ikut". Chaca tersenyum tipis. Kalandra masih memandang Chaca dengan tatapan penuh arti.


"Tidak om. Chaca tidak mau diistimewakan. Chaca akan menjalani sesuai prosedur". Lagi-lagi Chaca menolak. Ada rasa kecewa dalam hati Kalandra.


"Oh ya om. Jangan lupa segera urus surat perpisahan kita. Dua bulan lagi kontrak kita sudah usai. Dan Chaca harap semua urusan kita juga sudah selesai tepat waktu". Kalandra diam membeku. Ingin sekali membantah. Tapi mulutnya seakan terkunci.


"Andra". Suara Mela mengejutkan keduanya. Chaca melepaskan tangan Kalandra yang masih memegang lengannya.


"Saya permisi pak, bu". Chaca segera pergi meninggalkan tempat tersebut dan kembali menuju ruangannya. Mela masih menatap kepergian Chaca.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa. Siapa dia. Sepertinya kalian cukup dekat". Kalandra hanya diam tak menjawab setiap pertanyaan Mela.


"Kita jadi makan diluar". Kalandra mengalihkan pembicaraan. Mela mengangguk dan kembali merangkul lengan Kalandra.


Diruangannya, Chaca mendapat tatapan yang penuh dengan pertanyaan. Ada juga yang mengatakan sesuatu yang tak menyenangkan kepada Chaca mengenai Chaca dan Kalandra.


"Sadar diri, loe gak pantas bersanding dengan bos seperti pak Kalandra. Jangan coba-coba mendekati kekasih bos". Chaca hanya diam saja tak menanggapi perkataan rekannya yang memang tidak menyukai Chaca.


Jam kantor telah usai. Waktunya Chaca akan pulang. Hari ini mereka tidak ada lembur. Joan sudah menunggu Chaca didepan ruangan Chaca.


"Yuk Jo". Chaca menghampiri Joan dan mereka berjalan berdampingan. Masih banyak yang memandang Chaca sinis. Tapi Chaca tidak memperdulikan itu semua. Joan pun juga sudah mendengar apa yang terjadi dengan Chaca dan Kalandra.


"Chaca". Chaca berhenti saat ada yang memanggil namanya. Joan dan Chaca menoleh kearah suara yang memanggil namanya.


"Bu Mela". Yang memanggil Chaca adalah Mela. Rasa penasaran Mela belum juga mendapatkan jawaban. Bahkan Kalandra sendiri tidak mau menjelaskan.


"Bisa ikut saya. Ada yang mau saya bicarakan". Chaca mengangguk dan mengikuti langkah Mela. Sedangkan Joan, menunggu Chaca didepan ruangan Mela.


Mela duduk disofa dan meminta Chaca untuk duduk dihadapannya. Chaca masih belum mengerti mengapa Mela memanggilnya. Sekalipun Chaca berbuat salah, bukan Mela yang akan menegurnya.


"Kamu pasti bingung mengapa saya memanggilmu". Chaca hanya mengangguk saja. Dan Mela mulai mengatakan apa yang ingin dia ungkapkan.


"Langsung saja. Ada hubungan apa kamu dengan Kalandra. Saya tau kamu bukan adiknya. Karena Kalandra anak tunggal. Apa kamu istri Kalandra. Setau saya, Kalandra tidak memiliki kekasih tapi memiliki istri. Melihat interaksi Kalandra tadi, saya yakin kamu adalah istrinya". Chaca tersenyum mendengar semua dugaan Mela kepada dirinya.


"Maaf Bu. Saya punya hak untuk tidak menjelaskan kehidupan pribadi saya". Mela cukup terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh Chaca.


"Hmm, ya kamu memang punya hak untuk tidak menjelaskan. Dan saya juga punya hak untuk mengutarakan maksud saya". Mela menjeda sesaat perkataannya. Chaca hanya diam mendengarkan.


"Tolong dengarkan ini baik-baik. Saya tau kamu adalah istri Kalandra. Walaupun kamu tidak mau mengatakan yang sejujurnya. Jujur saya katakan jika saya menyukai suami kamu. Sudah sejak lama saya menyukainya. Bahkan saya sudah mengatakan kepada Kalandra, walaupun dia tidak mau menerimanya untuk saat ini. Karena status kalian. Tapi, saya perhatikan hubungan kalian tidak berjalan mulus. Dan saya ingin mengatakan jika saya akan terus mengejar cinta suami kamu. Saya berharap kamu menyetujuinya. Bahkan saya rela berbagi kasih dengan kamu. Bagiamana". Chaca cukup terkejut dengan perkataan Mela yang berterus terang menginginkan Kalandra. Bahkan Mela sadar jika Chaca adalah istri Kalandra.


"Saya tidak akan menyalahkan perasaan ibu. Dan kita memang tidak bisa melarang perasaan yang tiba-tiba tumbuh begitu saja. Itu hak ibu. Jika memang sudah tidak ada yang dibahas, saya permisi Bu". Jawaban Chaca tak begitu menjelaskan. Mela hanya mengangguk dan terbengong saat Chaca berpamitan untuk pergi.

__ADS_1


"Gadis yang cukup menarik. Saya suka dengan tantangan ini"..


__ADS_2