
Chaca sudah mulai jenuh dua minggu sudah dia terkurung didalam rumah orangtua Kalandra. Dzaky dan orangtuanya datang tidak setiap hari. Mereka masih berhati-hati, Agnes masih memantau pergerakan rumah orangtua Chaca. Terkadang Chaca akan keluar sekedar pergi membeli cemilan di mini market terdekat dengan penampilan serba tertutup.
Kemungkinan Agnes mengetahui keberadaan Chaca itu sangat kecil. Namun mereka tetap berjaga. Tidak mudah untuk mengelabuhi Agnes. Chaca tetap akan melanjutkan rencana untuk keluar negeri melanjutkan pendidikannya. Dan bulan depan Chaca sudah harus siap diasrama. Chaca menggunakan fasilitas yang ditawarkan dari kampusnya.
"Cha". Chaca yang sedang membaca buku dihalaman belakang terkejut dengan kedatangan Dzaky serta papa Gerald.
"Abang. Papa". Papa Gerald jarang pulang karena menjaga mama Adina. Chaca juga jarang bertemu dengan papa Gerald meskipun papa Gerald pulang. Karena papa Gerald tiba dirumah saat Chaca sudah terlelap.
"Apa kabar sayang. Maaf sayang papa jarang menyapa kamu dan membuatmu kesepian disini". Chaca segera memeluk tubuh papa Gerald.
"Tidak apa pah. Chaca disini baik-baik saja. Ada Bi Siti yang menemani Chaca. Mama bagaimana kabarnya pah". Papa Gerald melepaskan pelukannya dan mengajak Chaca untuk kembali duduk disofa.
"Sebenarnya mama Adina sudah sadar sejak kemarin. Namun kami masih merahasiakannya. Kamu tau kan sayang bagaimana kondisi saat ini". Chaca mengangguk paham. Dia merasa bahagia mama Adina sudah sadar.
"Syukurlah pah. Chaca ingin sekali menjenguk. Apa masih belum bisa pah". Papa Gerald dan Dzaky saling bertatapan. Dzaky merangkul pundak Chaca dan mencoba untuk menjelaskan.
"Maaf Cha. Mama Adina juga ingin bertemu kamu. Tapi tolong tunggu sebentar lagi. Ini semua akan berakhir". Chaca memang belum tahu ada apa sebenarnya. Yang dia tahu hanya diminta untuk bersembunyi sementara karena dia dalam bahaya.
"Sebenarnya ada apa bang. Kenapa kalian tidak menjelaskan kepada Chaca". Dzaky nampak menghela nafasnya. Dzaky memilih untuk menjelaskan kepada Chaca. Chaca cukup terkejut dengan cerita Dzaky.
"Jadi tunggu dulu sebentar lagi ya. Abang janji akan segera menyelesaikan ini semua". Chaca mengangguk. Chaca teringat jika dia harus segera berangkat karena menyelesaikan administrasi terakhir sebelum dia memulai kelasnya nanti.
__ADS_1
"Pah, bang. Kemarin Chaca dapat email, Chaca harus berangkat Minggu depan. Chaca harus menyelesaikan administrasi terakhir dan tidak bisa online". Dzaky dan papa Gerald kembali bertatapan. Pendidikan sangat penting untuk Chaca, tapi keselamatan Chaca juga penting.
"Cha, Abang akan usahakan masalah ini selesai sebelum kamu terbang. Abang janji. Kamu sabar ya". Chaca kembali mengangguk. Dia hanya bisa pasrah dan patuh saja kepada abangnya.
"Papa istirahat sebentar ya. Nanti papa akan kembali ke rumah sakit menggantikan Alan". Dzaky dan Chaca duduk santai dihalaman belakang setelah papa Gerald masuk kedalam kamar.
"Papa dan mama hari ini tidak bisa datang. Kemarin mama sempat dikuntit. Untung mama sadar dan segera mengubah tujuan. Mama nitipin makanan ini buat loe". Dzaky menaruh bungkusan yang dibawanya untuk Chaca. Chaca menerima dan membukanya.
"Tapi mama dan papa aman kan bang". Dzaky mengangguk. Chaca khawatir terjadi sesuatu kepada orangtuanya walaupun sudah ada pengawalan ketat.
"Mereka baik-baik saja. Dek, boleh Abang tanya". Chaca yang sedang menikmati kue buatan mamanya, mengacungkan jempolnya kepada Dzaky.
"Apa loe gak ada gitu sedikit saja perasaan ke Andra". Chaca menatap Dzaky dengan dahi berkerut.
"Oh. Kirain ada sedikit saja rasa. Kalian kan cukup dekat". Chaca hanya mengangkat kedua bahunya dan kembali menikmati kue.
"Gue gak bisa lama-lama disini Cha. Gue masih ada pekerjaan". Chaca mengangguk. Dzaky beranjak dan mencium kening adiknya sebelum pergi.
"Jaga diri loe. Gue akan kesini tiga hari lagi. Jangan sembarangan keluar rumah". Dzaky selalu berpesan banyak hal kepada Chaca.
"Iya. Abang juga hati-hati. Salam buat mama papa". Dzaky meninggal rumah Kalandra. Dia segera menuju kantor. Para sahabatnya sudah menunggu disana kecuali Kalandra dan Rudi.
__ADS_1
Sejak mengajak Agnes pergi berkencan walaupun terpaksa, Agnes selalu saja berada disisi Kalandra. Sifat posessifnya sangat mengerikan menurut Kalandra. Bahkan Kalandra bertemu dengan klien saja, Agnes akan mengikuti. Beruntung saat mama Adina sadar, hanya ada Rudi dan papa Gerald. Mereka segera menyusun rencana agar Agnes tidak mengetahui jika mama Adina sudah sadar. Hari ini Dzaky dan teman-temannya akan membantu papa Agnes membebaskan saudara dan juga mama Agnes yang menjadi tawanan Agnes.
"Yakin kita bisa masuk rumah itu bebas". Leo sedikit ragu bisa menembus penjagaan rumah Agnes.
"Bisa, kita manfaatkan saja hacker kita". Damar berdecak mendengar penuturan Sultan.
"Huh. Oke deh. Akan gue coba. Semoga tuh cewek edan gak sadar ponselya gue otak-atik". Damar memang memiliki kemampuan dalam bidang informatika. Dan karena Damarlah mereka bisa mengecoh anak buah Agnes saat Sultan dan Leo bertemu papa Agnes.
Damar dan anak buah Dzaky sudah menunggu Kalandra dilantai tempat Kalandra membawa Agnes pergi. Kalandra sengaja meninggalkan ponselnya agar Agnes percaya dan melakukan hal yang sama. Saat Kalandra keluar dari mobil dan mengajak Agnes menuju pantai, Kalandra sengaja menjatuhkan kunci mobilnya agar Damar mudah masuk kedalam mobil. Damarlah yang mengirim pesan kepada anak buah Agnes agar meninggalkan papanya. Damar juga sudah menyalin semua isi data ponsel Agnes.
"Gimana bisa gak Dam". Sultan melihat wajah Damar yang tampak begitu serius.
"Bentar. Ini agak susah. Sepertinya dia mulai sadar jika ponselnya gue otak-atik. Gue harus segera hapus jejak gue sebelum ketahuan". Damar segera menghentikan rencananya. Sebelum semua gagal.
"Ternyata dia sangat cerdik. Kita harus lebih hati-hati". Mereka mulai menyusun rencana lain. Leo ingat jika kekasihnya seorang dokter. Dan menurut cerita papa Agnes, akan ada dokter yang memeriksa mamanya setiap dua Minggu.
"Bentar deh gue hubungi nyonya dulu, siapa tau dokternya dari rumah sakit yang sama, atau setidaknya kenal". Mereka menunggu Leo selesai berbincang dengan kekasihnya. Harapan mereka saat ini adalah itu.
"Gees keberuntungan dipihak kita. Dokter pribadi mereka teman cewek gue. Gue udah minta tolong agar kita bisa kerjasama. Kita tunggu kabar sebentar lagi". Mereka masih menunggu kabar. Rudi juga sedang bertukar kabar dengan Kalandra.
Ponsel Leo berdenting, dia segera membuka pesan dari kekasihnya. Mereka lega dokter itu mau diajak kerjasama. Sultan dan Damar akan ikut dalam misi ini. Leo dan Rudi akan menunggu diluar dengan mobilnya. Sedangkan Dzaky akan ikut memantau dari jauh dengan anak buahnya. Mereka juga sudah menyiapkan obat tidur untuk diberikan kepada para pengawal Agnes.
__ADS_1
"Kalian siap. Ayo bergerak sekarang. Kalandra memberikan kita waktu satu jam. Dia tidak bisa menahan Agnes lebih lama". Rudi memberikan instruksi. Dan segera berada diposisi masing-masing.