Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 53


__ADS_3

"Ini istri anda tuan Kalandra". Kalandra disambut hangat oleh rekan bisnisnya. Chaca setia memeluk erat lengan Kalandra.


"Benar tuan. Perkenalkan ini istri saya Marissa Geraldin Aditya". Chaca sempat terkejut mendengar Kalandra mengganti nama belakangnya.


"Masih sangat muda sekali. Salam kenal nyonya Aditya. Saya Stevan dan ini istri saya Caroline". Chaca menyambut uluran tangan dari istri tekan bisnis Kalandra.


"Salam kenal nyonya". Chaca sedikit membukukan badan sebagai rasa hormat.


"Jangan panggil nyonya. Panggil kakak saja. Kita pastinya akan sering bertemu". Caroline memeluk Chaca menyambutnya selayak seorang adik.


"Terimakasih kak. Chaca senang punya kakak baru". Kalandra dan Stevan tersenyum melihat keakraban kedua istri mereka.


"Wah saya harus mengingatkan anda pak Kalandra agar hati-hati jika istri anda mengenal istri saya. Karena dia bisa lupa waktu jika sedang hang out". Caroline memukul manja lengan sang suami. Chaca dan Kalandra hanya tertawa melihat interaksi mereka.


Kalandra juga berinteraksi dengan rekan bisnis yang lainnya. Ada yang membawa pasangan ada juga yang tidak. Karena lelah, Chaca memilih untuk duduk bersama Caroline.


"Cha, sudah berapa lama kalian menikah. Terakhir kali saya ikut jamuan makan malam, pak Kalandra masih datang sendiri". Caroline mencoba lebih dekat dengan Chaca.


"Sudah enam bulan kak. Kapan kakak bertemu dengan Kak Alan". Chaca pun menyambut hangat sikap Caroline kepadanya.


"Belum lama. Empat bulan yang lalu. Ah mungkin karena kami juga tidak menanyakan apakah pak Kalandra sudah menikah atau belu, dan kebetulan dia datang sendiri maka kami berfikir dia masih sendiri". Chaca tertawa mendengar penjelasan Caroline.


"Empat bulan yang lalu, Chaca sedang ada tugas kunjungan diluar kota. Jadi Chaca gak bisa ikut". Caroline mengangguk mendengar penjelasan Chaca. Dan memang empat bulan yang lalu Chaca mendapat tugas untuk kunjungan ke kampus lain diluar kota selama beberapa hari dan Kalandra juga sudah mengajaknya untuk ikut jamuan makan malam, tapi Chaca tidak bisa ikut.


Mereka asyik bertukar cerita. Saling bercanda tawa. Stevan dan Kalandra memperhatikan mereka dari meja yang lain.


"Baru kali ini istri saya nyaman dengan orang baru. Dia biasanya tidak seperti ini". Kalandra tersenyum menanggapi perkataan Stevan.


"Mungkin karena Chaca mudah beradaptasi, itu yang membuat istri pak Stevan nyaman". Stevan mengangguk setuju. Walaupun mereka sedang berbincang dengan rekan bisnis, tatapan mereka tak lepas dari dua wanita yang asyik bercerita.


Kalandra datang ke meja Chaca dan Caroline. Dibelakang Kalandra sudah ada seorang wanita seumur dengan Kalandra.


"Sayang. Maaf ganggu sebentar". Kalandra bersikap lembut dan manis dihadapan semua orang.

__ADS_1


"Ya kak. Ada apa". Chaca bisa memahami situasi dah segera menyesuaikan.


"Ada yang ingin berkenalan denganmu sayang". Chaca bangun dari duduknya. Menatap wanita yang sejak tadi juga menatapnya lekat.


"Nona Adele, perkenalkan ini istri saya Marrisa Geraldin Aditya". Chaca segera mengulurkan tangannya setelah Kalandra menyebut namanya.


"Selamat malam nyonya Kalandra perkenalkan saya Adele rekan bisnis suami anda". Tak ada sedikitpun senyum diwajah wanita itu.


"Selamat malam nona. Saya Marrisa, senang bertemu dengan anda". Dengan cepat Adele menarik tangannya melepaskan tautan dari genggaman Chaca.


"Kalau begitu saya permisi pak Kalandra". Adele segera menjauhi meja Chaca. Bahkan saat itu tangan Chaca masih menggantung.


"Dia kenapa om". Bisik Chaca pelan setelah Adele pergi menjauh.


"Biasa fans Cha. Gak percaya kalau saya sudah punya istri". Chaca mencebik mendengar jawaban Kalandra yang terlalu percaya diri.


"Ck. Sok keren om". Chaca kembali duduk disamping Caroline. Melihat interaksi Kalandra dan Chaca membuat Caroline tersenyum. Kalandra ikut duduk bersama Chaca dan Caroline. Stevan pun juga ikut bergabung.


"Aku yakin kamu akan menemukan pria yang lebih baik setelah perpisahan kita". Kalandra menatap dalam wajah itu.


"Kamu cantik Cha. Bukan hanya parasmu tapi juga hatimu". Kalandra kembali bergumam pelan sambil menatap wajah Chaca yang masih terlelap.


"Ck. Apa sih Lan. Ingat semua perempuan sama Lan". Kalandra kembali bergumam menyangkal apa yang sudah diucapkannya.


Perjalanan kembali hening. Hampir tengah malam Kalandra tiba dikediamannya. Kalandra membangunkan Chaca perlahan. Bisa saja Kalandra menggendong Chaca, tapi egonya lebih tinggi daripada inginnya.


"Cha. Chaca bangun sudah sampai". Setelah panggilan ketiga, Chaca baru membuka matanya sedikit.


"Ah, sudah sampai ya om". Dengan mata yang sangat mengantuk dan langkah yang gontai, Chaca melangkah menuju pintu rumah. Kalandra tersenyum gemas melihat tingkah Chaca. Kalandra segera berlari untuk membuka pintu rumah sebelum Chaca menabrakkan tubuhnya ke pintu tersebut.


Chaca terus melangkah dengan mata yang sedikit terbuka menuju kamar mereka. Matanya benar-benar sudah lengket. Hari ini begitu lelah untuk Chaca.


"Pelan-pelan Cha". Kalandra berjaga dibelakang Chaca saat Chaca mulai melangkah menaiki anak tangga.

__ADS_1


"Lama amat Cha. Gue gendong juga lama-lama". Kalandra bermonolog dalam hatinya.


Kalandra segera menggelengkan kepalanya menyadari apa yang baru saja dia ucapkan dalam hatinya. Chaca sudah sampai didepan pintu kamar mereka. Bukannya membuka handle pintu, Chaca menubruk pintu tersebut menggunakan badannya.


Bugh....


"Aduh. Siapa sih naruh papan ditengah jalan". Chaca mengusap keningnya yang sakit karena terbentur pintu.


"Ck. Matanya buka dulu Cha. Itu pintu dari dulu sudah ada disana. Yang jalan merem yang disalahin pintu". Chaca menoleh kearah Kalandra dengan tatapan tak sukanya.


"Berisik amat sih om. Buruan buka pintunya. Ngantuk ini". Kalandra terkekeh dan segera membuka pintu kamar mereka.


"Dah tuh. Masuk sana". Chaca segera melangkah menuju ranjang miliknya. Didalam kamar tersebut memang sudah Kalandra siapkan dua ranjang yang terpisah.


"Cha, gak ganti baju dulu. Make up gak dihapus dulu". Kalandra bertanya sambil duduk ditepi ranjang miliknya.


"Malas om. Ngantuk ini". Chaca sudah terlentang dengan gaun dan make up masih setia bertengger dibadan dan wajahnya.


"Nanti ada jerawat jangan ngamuk Cha. Nanti saya lagi yang kamu salahkan". Chaca berdecak dan duduk ditepi ranjang sebelum melangkah menuju ruang ganti dan toilet.


Setelah selesai dengan ritualnya, Chaca kembali naik keatas kasur. Matanya sudah sangat tidak bersahabat. Kalandra segera masuk kedalam ruang ganti dan toilet untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Kalandra juga menuju ranjang setelah selesai membersihkan dirinya.


"Om. Perjanjian kita tinggal enam bulan lagi. Chaca harap setelah kita pisah jangan pernah lagi kita terlibat hal seperti ini lagi". Kalandra terkejut dengan ucapan Chaca yang sudah setengah sadar.


"Chaca berdoa agar om segera mendapatkan pengganti Chaca biar gak kelamaan jadi duda". Suara tawa Chaca mengiringi Chaca menyusuri alam mimpi.


"Cha. Saya juga berharap seperti itu". Kalandra belum menyadari jika Chaca sudah masuk kedalam dunia mimpinya.


"Jika saya ingin memperpanjang surat perjanjian kita apa bisa Cha". Kalandra menoleh kearah ranjang Chaca.


"Cha, Chaca. Chaca". Kalandra menepuk pipi Chaca pelan namun sudah tidak ada respon.


"Selamat tidur Cha. Mimpi indah". Kalandra merebahkan tubuhnya menghadap ke Chaca.

__ADS_1


__ADS_2