
"Bolehkah hari ini tidak menggunakan ponsel". Kalandra membawa Agnes ke pantai. Tatapan Agnes sangat mengerikan. Kalandra berusaha tenang. Jika ingin semua berjalan lancar.
"Apa yang kamu rencanakan". Kalandra tetap berusaha tersenyum dikala jantungnya sudah tak tenang.
"Rencana apa. Jangan berburuk sangka kepada saya. Saya ingin waktu kita berdua spesial. Sedari tadi kamu hanya sibuk dengan ponsel kamu. Apa salah kalau saya meminta saat kita berdua tanpa ada gangguan. Saya pun akan meninggalkan ponsel saya di mobil". Beruntung sepanjang jalan Agnes sibuk memantau papanya. Itu bisa Kalandra jadikan alasan yang tepat.
"Ah maafkan aku Ndra. Maaf sampai membuat kamu terabaikan. Baiklah aku akan mematikan ponselku. Hari ini aku milikmu". Agnes mematikan ponselnya dan menyimpan dalam dashboard mobil Kalandra begitu juga dengan ponsel Kalandra.
Kalandra membukakan pintu untuk Agnes. Agnes nampak begitu bahagia dengan perlakuan Kalandra. Mereka saling bergandengan tangan berjalan kearah bubur pantai. Dalam hati Kalandra menyemangati dirinya dan selalu mengingat untuk berhati-hati dalam berbicara.
"Kita duduk dibawah pohon sana yuk". Kalandra mengajak Agnes berjalan menuju sebuah pohon yabg cukup rindang. Mereka duduk sambil menikmati angin sore. Banyak pula pasangan lainnya yang sedang menghabiskan waktu dipantau tersebut.
"Indahnya hari ini. Sudah lama aku menantikan kita seperti ini". Kalandra sedikit terkejut dengan perkataan Agnes.
"Sudah lama, seberapa lama". Kalandra sengaja menyenderkan kepala Agnes dipundaknya. Sambil memberikan usapan lembut, agar dia bisa mendapatkan informasi.
"Iya. Tau gak sebenarnya aku ini sudah tertarik sama kamu dari sejak kita ketemu. Tapi sayangnya kamu selalu tidak menyadari itu. Kamu selalu menganggapku adik". Agnes mengerucutkan bibirnya. Kalandra sedikit terkikik agar tidak membuat Agnes curiga.
"Benarkah. Bagaimana bisa kamu menyukai saya, sedangkan kita saja bertemu hanya beberapa kali". Kalandra bertanya secara perlahan.
"Aku tuh udah sering lihat kamu. Kampus kamu itu dekat dengan apartemenku. Bahkan aku selalu lihat kamu olahraga didekat apartemenku". Kalandra terkejut mendengar itu. Dia kuliah dinegara ini. Dan apartemen itu sampai sekarang dia tinggali. Pikiran Kalandra sudah tidak bisa baik-baik saja.
"Hmm benarkah. Tapi apartemen didekat kampus saya itu banyak. Mungkin saja kamu salah lihat". Kalandra masih dalam kondisi terkejut. Selama itu Agnes mengenalnya.
"Agnes tidak akan pernah salah. Bahkan saat kamu lulus dan pindah ke luar negeri, aku pun tau. Aku juga pindah dinegara yang sama dengan kamu". Andai bisa marah, Kalandra ingin sekali marah. Kenapa dia tidak tau jika dikuntit selama ini. Kalandra harus benar-benar tenang.
"Iyakah. Lalu kenapa kamu tidak mencoba untuk menemui saya". Bingung Kalandra dalam bersikap. Jika dia salah sedikit saja pasti semua berantakan.
Agnes membuka tasnya mengambil rokok elektrik. Kalandra sempat melirik isi tas Agnes dari balik kacamata yang dikenakan. Berusaha menelan ludahnya karena Kalandra melihat pistol dan juga pisau didalamnya.
__ADS_1
"Huh bisa-bisa nyawa gue melayang setiap saat ini. Tenang Alan tenang jangan sampai curiga".Kalandra bermonolog dalam hati setelah melihat isi tas Agnes.
"Kamu masih tidak merokok kan Ndra. Tapi sering ke klub". Tubuh Kalandra menegang mendengar itu. Sejauh itukah dan mengapa dia tidak sadar.
"Kamu..". Kalandra menggantungkan perkataanya. Bahkan nampak dengan santainya tertawa melihat reaksi Kalandra.
"Haha. Gak usah tegang sayangku. Kenapa harus dengan wanita klub itu. Akupun bisa melakukan dengan sangat baik jika kamu mau". Tangan Agnes sengaja meraba pangkal paha Kalandra. Beruntung si ubi jalar tidak merespon.
Jangan sampai Agnes juga tau mengenai Chaca. Itulah yang saat ini sangat Kalandra takutkan. Jika Agnes bisa tau sejauh itu. Kemungkinan dia mengetahui Chaca itu sangat besar. Kalandra masih menunggu Agnes melanjutkan perkataannya.
"Ndra, Chaca siapa". Sedikit ada rasa lega dari hati Kalandra saat Agnes menanyakan itu. Agnes bisa dipastikan belum bisa memperoleh informasi mengenai Chaca.
"Chaca masih sepupu saya. Dia keluarga dari paman saya. Kenapa". Kalandra harus berbohong agar Agnes tidak mencaritahu tentang Chaca.
"Aku kira dia kekasih kamu. Kemana sekarang. Kenapa aku gak pernah lihat". Agnes masih menaruh curiga dari cara dia bertanya, Kalandra sudah bisa menebak.
"Dia sudah pulang. Kesini karena liburan dan mama memang menyayangi Chaca sebagai anaknya". Agnes tersenyum ceria mendengar perkataan Kalandra.
Sultan sudah bisa leluasa berbicara dengan papa Agnes setelah hampir satu jam mereka diawasi ketat. Tampak raut wajah ketakutan dari papa Agnes.
"Om. Gak usah takut, pengawal Agnes akan kembali nanti satu jam lagi". Leo yang sudah bersembunyi ikut bergabung dengan Sultan dan papa Agnes.
"Bagaimana bisa. Agnes tidak akan mungkin menyuruh anak buahnya pergi begitu saja". Keringat dingin terus bercucuran. Berkali-kali papa Agnes menoleh kebelakang melihat tak ada satu orangpun anak buah Agnes disana.
"Om percaya sama kami. Kami gak akan jahat. Tapi kami butuh bantuan om". Tiba-tiba papa Agnes menangis ketakutan dan memeluk tubuh Leo.
"Jika saya bisa pergi, saya ingin pergi saat ini juga. Tapi nasib anak dan istri saya dalam bahaya. Tolong saya". Sultan menyiapkan alat perekam. Perlahan mereka akan menanyai papa Agnes.
"Om bisa cerita dengan kami. Kami sebenarnya juga ingin menanyakan beberapa hal mengenai Agnes". Papa Agnes melepaskan pelukannya dan menatap mata Leo serta Sultan bergantian.
__ADS_1
"Tolong jangan berurusan jauh dengan Agnes. Walaupun Agnes putri saya, yang jelas dia bukan anak normal. Ini juga salah saya. Saya menyadari jika dia mengidap penyakit kejiwaan, namun saya abaikan. Sudah banyak korban dari Agnes". Sultan dan Leo saling tatap. Ada rasa iba dihati mereka melihat kondisi papa Agnes.
"Maksud om bagaimana. Apa Agnes berbuat kejahatan". Papa Agnes menunduk. Air matanya tertumpah begitu derasnya.
"Erotomania. Agnes memiliki bipolar sejak lama. Dan mengarah pada erotomania. Mungkin kalian bingung dengan jenis penyakit itu". Sultan dan Leo sama-sama mengangguk.
"Erotomania itu seperti obsesi cinta pada seseorang. Tapi dia lebih kepada pemaksaan diri. Dalam artian dia mencintai seseorang bahkan orang itu tak mengenalnya. Walaupun hanya lewat gambar, dia yakin orang itu mencintai dia. Itulah yang saat ini Agnes rasakan kepada Kalandra. Dan berdampak kepada kami keluarganya sendiri". Saat nama Kalandra terucap, Sultan dan Leo melotot terkejut. Mereka sama sekali tak menyebut nama Kalandra dari awal percakapan.
"Ada apa dengan Kalandra om. Apa om mengenalnya". Papa Agnes mengangguk. Dan melanjutkan pembicaraan mereka.
"Saya tidak begitu mengenalnya. Agnes menyukai Kalandra sejak pertemuan pertama mereka tanpa sengaja. Saat itu Agnes baru kelas IX saat pertama bertemu Kalandra. Sejak saat itu Agnes mendambakan Kalandra, seolah-olah Kalandra miliknya. Bahkan dia tak segan mencelakai siapapun yang mendekati Kalandra". Sultan dan Leo sama-sama tak paham dengan maksud papa Agnes.
"Masa bisa seperti itu om. Kalandra sahabat kami dan kami juga baru pertama kali bertemu Agnes kemarin". Jelas Sultan kepada papa Agnes.
"Ya itulah penderita erotomania. Sudah beberapa orang menjadi korban Agnes saat itu. Kami sudah berusaha menasehati dan mencoba untuk terus mengawasi. Tapi bagi Agnes kami adalah penghalang hubungannya dengan Kalandra. Setiap ada kesempatan, Agnes akan menjadi penguntit setia bagi Kalandra. Apa kalian ingat pernah ada kasus tentang siswa yang meninggal loncat dari atap kampus". Sultan dan Leo mencoba mengingatnya.
"Ya, dia salah satu teman satu jurusan kami. Kenapa om bisa tau". Ada raut penyesalan diwajah papa Agnes.
"Itu perbuata Agnes. Dia terus meneror teman kalian karena teman kalian suka dengan Kalandra. Saat itu saya sudah berusaha mencegahnya bersama mamanya. Tapi Agnes juga menyerang kami. Hingga mama Agnes terluka parah". Sultan dan Leo kompak menutup mulutnya karena terkejut.
"Astaga. Tapi saat itu penyelidikan mengatakan Lusi bunuh diri karena depresi om". Papa Agnes menggelengkan kepalanya. Dia menyangkal.
"Bukan. Dia memang bunuh diri tapi karena paksaan". Sultan dan Leo mulai khawatir dengan keselamatan Kalandra yang saat ini bersama Agnes.
"Apa Agnes sudah pernah diobati om". Sultan merasa kondisi Agnes butuh penanganan khusus.
"Sudah, sudah dia tinggal direhabilitasi. Dia bisa selalu lolos karena pandai dalam mengatur karakter dalam dirinya sendiri". Sultan nampak menghela nafasnya.
"Nak bisakah kalian membantu saya. Saya mohon nak". Papa Agnes memohon hingga berlutut dihadapan Leo dan Sultan.
__ADS_1
"Apa om. Kami akan berusaha semaksimal mungkin". Sultan dan Leo menunggu papa Agnes kembali berbicara. Setelah mereka diskusi, sepakat untuk saling membantu. Benar saja para bodyguard Agnes kembali setelah hampir satu jam. Mereka segera bermain peran.