Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 21


__ADS_3

"Ugh. Dimana gue. Perasaan tadi gue dimobil si om deh". Chaca baru saja bangun. Dia melihat kesekeliling isi kamar tersebut. Dan merasa sangat asing. Chaca meraba-raba isi tasnya mencari ponsel. Namun ternyata tak dia temukan.


"Ah, pasti dibawa si om ini". Chaca turun dari ranjang dan berjalan kearah pintu. Sebelum membuka pintu itu, sayup terdengar suara Kalandra yang seperti sedang marah.


"Jika anda sudah tidak ingin bekerja di perusahaan saya lagi, saya tunggu surat pengunduran diri anda". Chaca mengerutkan keningnya mendengar Kalandra berkata seperti akan memecat orang secara halus.


"Tidak pak. Maafkan saya. Saya tidak akan mengulanginya kembali". Suara perempuan terdengar memohon kepada Kalandra. Chaca segera membuka pintu karena dia sudah sangat haus.


"Kak". Suara Chaca sedikit serak. Bahkan dia berjalan sambil berpegangan pada dinding. Karena lukanya terletak ditempat yang membuatnya susah melangkah sendiri.


"Sayang. Kamu sudah bangun". Kalandra segera menghampiri Chaca. Chaca sempat memandang Kalandra bingung karena tiba-tiba dia memanggilnya sayang.


"Hmmm. Haus kak". Kalandra menggendong Chaca. Dan membawanya ke sofa agar Chaca nyaman. Perempuan yang sejak tadi berada di ruangan Kalandra, menatap Chaca tak suka.


"Sebentar sayang, aku ambilkan dulu". Kalandra mengambil air mineral diatas mejanya dan diberikan kepada Chaca.


Kalandra menyadari jika masih ada oranglain didalam ruangannya setelah Chaca memberikan kode seolah bertanya siapa perempuan itu.


"Inez, silahkan keluar dari ruangan saya jika sudah tidak ada keperluan. Dan jangan menerima tamu selama dua jam ini. Saya tidak mau diganggu jika sedang bersama tunangan saya". Inez spontan melotot mendengar Kalandra menyebut Chaca sebagai tunangannya.


"Baik pak. Saya permisi". Chaca sempat tersenyum kepada Inez karena Inez terus saja menatapnya dengan tatapan tak bersahabat. Bahkan saat menutup pintu ruangan Kalandra sedikit kencang.


"Pegawai baru om". Tanya Chaca sambil memakan cemilan yang disiapkan oleh Chaca.


"Iya. Kenapa. Jangan bilang kamu cemburu Cha". Kalandra sengaja menggoda Chaca.


"Buat apa cemburu om. Chaca tanya karena baru lihat dia, terus kelihatan banget dia gak suka sama gue om". Kalandra mengangguk paham.


"Dia sekretaris saya yang bantu Rudi dikantor". Chaca mengangguk saja dan kembali fokus pada makanannya.


"Lama gak ketemu. Giliran ketemu kamu jatuh. Kenapa gak pake mobil aja sih Cha". Kalandra kembali berjalan menuju meja kerjanya. Karena memang pekerjaannya hari lumayan padat.


"Gak. Enakan naik motor om. Kalau macet bisa cari gang tikus". Sebelum kembali ke mejanya, Kalandra sempat menyalakan layar televisi didepan Chaca agar dia tidak bosan.


"Tapi kan bahaya Cha. Kamu juga gak pake celana panjang. Tuh lututnya jadi kena obras". Karena tergesa-gesa pagi tadi, Chaca cuma memakai celana didalam roknya sepanjang lutut saja. itupun berbahan tipis. Dan saat jatuh celana Chaca sobek.


"Karena pagi tadi gue kesiangan om. Biasanya juga gue pake celana panjang aja. Ganti seragam disekolah". Mata Chaca fokus menonton acara didepannya.


"Darimana semalam kok bisa kesiangan". Kalandra pun juga sibuk dengan berkasnya.


"Gak kemana-mana. Capek aja. Jadi keenakan tidur". Tak ada jawaban dari Kalandra. Chaca baru teringat akan ponselnya.


"Eh om. Lihat ponsel gue gak". Kalandra menghentikan sejenak pekerjaannya dan menatap wajah Chaca dari balik meja kerjanya.


""Loh emang kamu taruh mana tadi. Saya gak ada pegang loh". Kalandra mulai mengingat dimana terakhir kali dia memegang ponselnya.


"Terakhir pas habis balas pesan Julian dimobil om". Kalandra segera mengambil ponselnya dan menghubungi Rudi.

__ADS_1


"Tolong cek ponsel Chaca dimobil gue. Sekalian ambilin selimut dan baju gue yang ada dijok belakang". Kalandra segera menyimpan ponselnya setelah menghubungi Rudi.


"Ada gak om". Chaca menatap Kalandra penuh harap.


"Bentar, baru dicariin Rudi". Chaca cuma mengangguk saja dan kembali melihat kearah televisi.


Tiba-tiba Chaca ingin ke toilet. Dia bingung harus meminta tolong ke siapa. Karena sudah sangat tak tahan, Chaca terpaksa meminta tolong pada Kalandra. Berharap pria itu mau menolongnya.


"Om. Bisa minta tolong". Chaca sudah sangat gelisah. Duduknya sudah bergoyang tak tentu arah menahan keinginannya ke toilet.


"Apa Cha". Pandangan Kalandra tetap pada lembar kertas dihadapannya.


"Pengen buang air om. Anterin". Kalandra menatap Chaca sesaat. Setelah menghembuskan nafasnya, Kalandra berdiri menghampiri Chaca.


"Yuk. Saya gendong ya". Chaca menggeleng menolak permintaan Kalandra. Kalandra memapah Chaca pelan menuju toilet terdekat.


Karyawan yang melihat Kalandra memapah Chaca, merasa penasaran dengan Chaca. Karena Kalandra tidak pernah tampak membawa perempuan ke kantor. Apalagi Chaca masih menggunakan seragam. Chaca diantar sampai dalam toilet oleh Kalandra, dan Kalandra meninggalkan Chaca didalam setelah dirasa aman. Kalandra berdiri bersandar ditembok samping toilet.


Para karyawan wanita menatap Kalandra dengan tatapan penuh harapan. Berharap memiliki pasangan seperti Kalandra yang dingin, jutek tapi perhatian. Bahkan mereka baru sekali ini melihat Kalandra membawa perempuan kekantor. Rudi yang sedang berjalan menuju ruangan Kalandra dan melihat Kalandra sedang berdiri didekat toilet.


"Loe ngapain disini. Alih profesi loe jadi penjaga toilet". Kalandra menatap Rudi tajam.


"Mana ponsel Chaca". Rudi mengulurkan ponsel Chaca dan paperbag berisi baju Kalandra.


"Chaca mana. Masih tidur". Belum Kalandra menjawab dimana Chaca. Chaca memanggil Kalandra dari dalam toilet.


"Kak. Kak Alan masih diluar gak". Rudi menunjuk kearah toilet. Kalandra mengangguk menjawab Rudi.


"Tolongin Chaca kak". Rudi diam menatap Kalandra yang sudah berbalik kearah pintu toilet.


"Kakak masuk gapapa". Kalandra meminta ijin kepada Chaca terlebih dahulu sebelum masuk kedalam toilet.


"Iya kak masuk saja". Mata Rudi melotot mendengar jawaban Chaca. Begitu juga karyawan yang melintas. Bahkan mereka sampai menutup mulutnya karena terkejut.


Rudi bergatian menjaga pintu toilet. Tak terdengar apa yang terjadi didalam toilet. Membuat Rudi berdoa agar Kalandra bisa menerima Chaca sepenuhnya. Tak lama pinyu toilet terbuka. Kalandra sudah memapah tubuh Chaca.


"Tolonh loe panggilin dokter Kia. Suruh bawa perlatan lengkap". Rudi panik menatap chaca dengan lukanya yang kembali berdarah.


"Loe kenapa Cha". Rudi hendak ikut memapah Chaca, namun tangannya ditepis oleh Kalandra. Tanpa meminta ijin Chaca, Kalandra langsung menggendongnya.


"Kak. Kok digendong. Chaca jalan aja kak". Chaca memprotes Kalandra tapi Kalandra tak peduli. Rudi yang berjalan mengikuti Kalandra juga ikut panik dia sedang berbicara dengan dokter pribadi Kalandra untuk datang ke kantor segera.


"Diam. Luka kamu terbuka lagi". Pandangan para karyawan terus tertuju kepada Kalandra yang panik.


"Kok bisa sih Cha. Loe jatuh di toilet". Tanya Rudi yang juga panik.


"Gak bang. Cuma kebentur dikit tadi". Chaca seperti tak merasa sakit. Bahkan dia sempat terkikik menjawab pertanyaan Rudi. Kalndra dan Rudi hanya menggelengkan kepalanya melihat reaksi Chaca yang seperti tak merasa sakit.

__ADS_1


Kalandra membawa Chaca kedalam kamar pribadinya. Kalandra meletakkan tubuh Chaca perlahan diatas ranjang. Kalandra melepaskan sepatu Chaca dan menaruh kakinya perlahan diatas ranjang.


"Udah loe telpon si Kia". Rudi mengangguk dan berjalan keluar karena mendengar suara ketukan pintu ruangan Kalandra.


"Masuk". Perintah Rudi dan tak lama pintu ruangan Kalandra terbuka. Inez berjalan mendekati Rudi bersama dokter yang ditelpon oleh Rudi.


.


"Pak ada dokter Kiano". Rudi hanya mengibaskan tangannya untuk meminta Inez keluar dari ruangan.


"Siapa yang sakit". Dokter berjalan mengikuti Rudi menuju kamar pribadinya.


Tatapan dokter tampan itu tertuju pada Chaca yang duduk bersandar dan ditemani Kalandra. Dokter berjalan menuju ranjang dengan tatapan tak teralihkan. Chaca juga membalas tatapan itu.


"Siapa dia Lan". Tanya dokter Kiano sambil melihat luka Chaca.


"Cewek gue". Jawab Kalandra singkat. Kalandra memegang dahi Kalandra.


"Loe waras kan. Sejak kapan loe doyan cewek". Kalandra menatap tajam Kiano. Chaca hanya terkikik melihat dua pria tampan sedang berperang.


"Cepat obatin lukanya". Kiano segera membuka perban lama Chaca dan memeriksa kondisi lukanya.


"Untung jahitannya gak lepas. Cuma ini kebentur agak kuat jadi berdarah lagi. Gue kasih obat dulu ya cantik. Tahan karena pasti agak perih". Chaca tersenyum kepada Kiano.


Chaca tak bereaksi apa-apa saat Kiano mengusapkan obat diluka Chaca dan membersihkan sisa darah yang menempel.


"Kok diam saja. Gak perih". Chaca hanya menggeleng saja. Rudi dan Kalandra juga bingung dengan reaksi Chaca.


"Dah. Selesai. Jangan lupa obatnya diminum. Dan jangan terlalu banyak bergerak". Kiano mengemas kembali peralatannya.


"Kia, makasih ya. Bayaran gue transfer". Kiano berdecak kesal.


"Panggil nama gue yang lengkap". Kalandra tak peduli. Dia meminta Rudi membawa Kiano pergi. Kalandra duduk menemani Chaca.


Diluar kamar pribadi Kalandra, Kiano masih penasaran dengan Chaca. Karena dia baru pertama kali bertemu dengan Chaca. Rudi menjelaskan siapa Chaca dan ada hubungan apa dengan Kalandra.


Sedangkan saat ini Chaca sedang berbicara serisus mengenai kelanjutan status palsu mereka. Apalagi Chaca sebentar lagi sudah kelas dua belas. Berarti pernikahan yang direncanakan kedua orangtua mereka akan segera terjadi.


"Om. Kapan kita akan akhiri ini semua. Gue tau loe perhatian ke gue karena gue adik Marjuki. Tolong segera akhiri om. Agar tidak ada beban lagi diantara kita". Kalandra mengangguk dan menatap manik mata indah Chaca.


"Segera mungkin. Saya punya rencana, kalau kita sepakat berpisah karena saya terlalu sibuk dan gak ada waktu buat kamu. Gimana menurut kamu alasan itu". Chaca memikirkan ide Kalandra itu.


"Kayaknya kalau alasan sibuk masih bisa disangkal om. Mungkin kalau alasan selingkuh itu baru berhasil deh om". Chaca memberikan solusi lain. Keduanya saling pandang.


"Selingkuh. Siapa. Kamu". Tanya Kalandra kepada Chaca.


"Ya om lah. Masa Chaca. Kalau Chaca mana ada yang percaya. Tahu sendiri Chaca punya pengawal lebih galak dari buldog. Jadi gak mungkin Chaca selingkuh". Kalandra baru ingat jika pengawasan Dzaky itu sangat ketat kepada Chaca.

__ADS_1


"Oke. Deal. Minggu depan kita mulai beraksi". Mereka berdua berjabat tangan tanda saling sepakat untuk mengakhiri permainan mereka.


Akankah mereka berhasil dengan rencana mereka ?..


__ADS_2