Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 55


__ADS_3

Satu Minggu sudah kedua orangtua Kalandra mengunjungi putra dan menantunya. Dan dua hari terakhir Chaca baru bisa berjumpa dengan mertuanya. Mama Chaca hanya berpesan agar mereka tetap sehat dan akur. Cucu dan cucu itulah yang mama Adina tanyakan kepada Chaca. Dan senjata mereka untuk mengulur waktu adalah kuliah Chaca yang belum selesai.


Pagi tadi mereka mengantarkan kedua orangtua Kalandra ke bandara untuk kembali ke negara dimana papa Gerald tinggal. Hari ini Chaca tidak ada kelas, dan Kalandra sengaja meliburkan diri. Kalandra beralasan kepada Chaca ingin istirahat.


"Cha, mau jalan-jalan dulu". Mereka sudah dalam perjalanan kembali dari bandara.


"Om gak ngantor hari ini". Chaca masih belum tau jika suaminya meliburkan diri.


"Tidak. Saya ingin istirahat Cha. Lelah. Jadi kita jalan-jalan". Chaca berfikir sejenak sebelum menjawab permintaan Kalandra.


"Hmmm. Boleh deh om. Tapi Chaca batalin janji dulu sama Sandra". Chaca segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Sandra.


"Loh, kamu ada janji hari ini". Kalandra tidak tau jika Chaca memiliki janji dengan Sandra.


"Iya om, tapi gak begitu penting kok. Cuma nganter Sandra cari apartemen baru". Kalandra mengangguk pelan. Sebenarnya bukan Sandra yang ingin mencari apartemen. Melainkan Chaca. Chaca berubah fikuran untuk mencari apartemen lainnya. Dia membatalkan untuk tinggal ditempat yang sama dengan Sandra.


"Sandra mau pindah. Bukannya belum lama dia tinggal di apartemen itu". Kalandra tau mengenai Sandra, karena Chaca pernah bercerita.


"Iya om. Gak tau kenapa". Kalandra melajukan kendaraannya menuju pusat taman hiburan ditengah kota. Sampai saat ini, Kalandra menganggap tanggung jawabnya kepada Chaca karena Chaca adik dari sahabatnya.


Chaca hanya diam menatap pohon yang berjajar disepanjang jalan. Entah mengapa hari ini Chaca mau menemani Kalandra. Setiap kali Kalandra mengajak Chaca sekedar makan dikafe, Chaca selalu menolak dengan berbagai macam alasan.


Mereka telah sampai ketempat tujuan. Ekspresi Chaca bahagia sekali saat dia tau Kalandra mengajaknya ketempat yang paling dia sukai. Chaca yang begitu antusias tanpa sadar menarik tangan Kalandra untuk segera masuk.


"Buruan om. Chaca mau naik semuanya". Kalandra terkikik melihat tingkah Chaca yang menggemaskan.


"Gak usah buru-buru Cha. Tempatnya gak akan pindah kok". Kalandra terus tersenyum melihat tingkah Chaca.

__ADS_1


Hampir semua wahana Chaca naiki tanpa rasa lelah. Kalandra terus mengikuti langkah kaki Chaca. Saat mereka menaiki wahana roller coaster, Chaca meluapkan semua rasa dalam hatinya dalam teriakan kencang.


""Wahhhhhh. Hoaaaaaa". Kalandra tertawa melihat Chaca yang duduk disampingnya.


Chaca sudah merasa lelah, mereka pun segera mencari tempat untuk istirahat dan mencari makan. Chaca terus tersenyum disepanjang jalan menuju kafe.


"Kamu mau makan apa Cha". Kalandra duduk disamping Chaca dan membuka buku menu ekafe tersebut. Chaca juga membuka buku menu dan mulai memilih.


"Hmm. Sup iga bakar sama potato wedges dan orange jus". Chaca sudah menentukan makanan apa yang ingin dia makan.


Kalandra pun mulai memesan makanan. Kalandra memesan iga bakar madu dan strawberry jus. Sambil menunggu makanan datang mereka bertukar cerita. Ada rasa mengganjal dalam hati Kalandra dengan keadaan mereka yang intim ini.


"Cha, boleh saya tanya sesuatu". Chaca yang masih mengamati beberapa wahana yang tak jauh dari tempat mereka saat ini.


"Apa om". Chaca segera mengalihkan pandangannya dan memiringkan badannya kearah Kalandra.


"Maafkan Chaca om. Chaca tidak bermaksud untuk membuat om tersinggung atau meras tidak menjalankan kewajiban sebagai suami. Chaca memang salah. Chaca terlalu kekanak-kanakan menganggap itu bukan hak Chaca karena kita hanya berdasarkan kontrak saja. Maafkan Chaca om. Chaca akan menggunakan apa yang om berikan kepada Chaca mulai hari ini. Dan sampai batas kontrak kita usai". Mendengar penuturan Chaca hati Kalandra kembali ada rasa tak nyaman. Entah apa itu.


"Terimakasih Cha. Kamu masih menghargai saya sebagai suami kamu". Kalandra tersenyum senang. Begitu juga dengan Chaca.


"Selama ini kamu jajan uang darimana Cha". Kalandra memang sangat penasaran darimana sang istri mendapatkan uang jajan.


"Om kan tau Chaca suka balap liar". Belum selesai Chaca menjelaskan, ekspresi Kalandra sudah berubah. Bahkan dia menatap tajam Chaca.


"Kamu balap liar lagi Cha. Apa kamu sudah tidak waras masih melakukan hal berbahaya itu...". Chaca membekap mulut Kalandra agar diam dan dia bisa menjelaskan.


"Ck. Dengarkan dulu. Chaca sudah tidak balap liar lagi setelah lulus sekolah. Maksud Chaca, sebagian hasil balap liar itu. Selain itu papa dan Marjuki masih selalu memberikan Chaca uang jajan. Jadi Chaca masih ada tabungan". Kalandra diam sejenak dan sedikit menghela nafasnya.

__ADS_1


Makanan yang mereka pesan sudah dihidangkan. Mereka menikmati makanan mereka. Sesekali Chaca mengambil makanan dari piring Kalandra. Chaca pun juga memberikan makanan miliknya untuk Kalandra.


"Kita mau langsung pulang, atau masih ingin main Cha". Mereka sudah selesai makan. Dan memang waktu masih siang beranjak sore.


"Boleh main lagi gak om. Anggap saja kita kencan om. Walaupun kencan pertama dan terakhir untuk kita". Kalandra menatap Chaca dengan tatapan sendu.


Kalandra diam menatap Chaca yang sudah berjalan menjauh meninggalkan dirinya. Chaca masih sangat antusias dengan permainan ditempat wahana permainan itu.


"Ada apa dengan hatiku. Kenapa rasanya sesesak ini". Kalandra bermonolog dalam hatinya sambil terus menatap Chaca dari kejauhan.


"Om. Ayo buruan". Menyadari tidak adanya Kalandra dibelakangnya, Chaca berhenti dan menoleh.


"Ah ya". Kalandra tersadar setelah mendengar teriakkan Chaca. Kalandra segera berlari mendekati Chaca.


"Om kenapa berhenti. Om ngelamun ya". Chaca kembali mengoceh membuat Kalandra gemas.


"Iya maaf. Yuk mau naik apa". Kalandra mengalihkan perhatian Chaca agar dia tidak bertanya macam-macam.


Chaca kembali menarik Kalandra untuk menaikki beberapa wahana yang belum sempat dia naiki. Melihat keantusiasan Chaca, Kalandra kembali bersemangat. Walaupun masih ada rasa yang mengganjal. Semua wahana sudah Chaca naiki. Kini saatnya dia pulang bersama Kalandra.


"Pulang yuk. Lelah". Kalandra mengangguk dan segera menggandeng Chaca menuju area parkir.


Dalam perjalanan hanya ada keheningan. Hingga Chaca teringat akan mengatakan sesuatu hal yang dia rasa sangat penting.


"Om. Sebentar lagi, pernikahan kita sudah tujuh bulan. Dan Chaca akan ada praktek magang diperusahaan". Chaca diam sejenak menciba mengatur kata-katanya. Kalandra diam mendengarkan.


"Mm. Om, Chaca akan pindah ke apartemen mulai bulan depan". Perkataan Chaca membuat Kalandra terdiam membeku untuk sesaat.

__ADS_1


"Selain mempermudah Chaca untuk pulang pergi ke perusahaan tempat Chaca magang, juga untuk membiasakan kita untuk kembali hidup terpisah dengan dunia kita masing-masing. Dan pastinya saat nanti kita sudah berpisah kita sudah terbiasa. Tak apa kan om....


__ADS_2