
Satu Minggu setelah kejadian Joan dan Chaca di kafe, mereka sudah tidak bertemu lagi. Chaca menghindari Joan. Chaca memblokir semua akses komunikasi dengan Joan. Bahkan Chaca tidak tinggal diapartemen miliknya melainkan menginap di apartemen Sandra. Mike beberapa kali memberikan informasi kepada Chaca mengenai Joan. Dan meminta Chaca agar bisa menemui Joan.
Hari ini Chaca memberanikan diri menemui Kalandra. Dia harus segera meminta tolong kepada Kalandra mengenai acara kelulusannya nanti. Chaca sengaja tidak memberitahu Kalandra jika ingin berkunjung. Chaca berjalan memasuki lobby kantor Kalandra. Security memberi salam hormat kepada Chaca.
"Nyonya. Sudah lama tidak berkunjung". Sapa salah satu security kantor Kalandra. Chaca masih kaget dengan panggilan security itu kepadanya.
"Iya pak. Chaca sedang sibuk. Bapak apa kabar". Chaca berhenti sejenak untuk sekedar menyapa security tersebut.
"Baik nyonya. Nyonya ingin menemui Tuan". Tanya security itu dengan sopan.
"Iya pak. Apa Kak Alan ada". Chaca tidak merubah sama sekali panggilan Kalandra.
"Ada nyonya. Belum lama Tuan kembali dari makan siang. Nyonya bisa langsung keruangan beliau. Atau mau saya antar". Tawar security tersebut kepada Chaca.
"Tidak perlu pak. Chaca akan keruangan Kak Alan sendiri. Bapak bisa lanjutkan pekerjaannya. Chaca permisi pak". Chaca sedikit membukuk sebelum melangkah pergi. Dan security tersebut juga melakukan hal yang sama.
Chaca berjalan melewati resepsionis. Mereka menatap Chaca penasaran karena memang beberapa karyawan Kalandra masih baru. Saat salah satu resepsionis hendak mencegah Chaca, security terlebih dahulu memberitahu kepada mereka siapa Chaca. Chaca masuk lift dan segera keruangan Kalandra. Sepanjang jalan beberapa karyawan yang mengenal Chaca, menyapa dengan ramah.
Chaca belum mengetahui jika Kalandra mengganti sekretarisnya dua bulan yang lalu. Sekretaris lamanya menikah dan mengikuti sang suami ke luar kota.
"Selamat siang. Maaf mau bertemu dengan siapa Bu". Sopan sekretaris Kalandra menyapa Chaca.
"Siang kak. Mau bertemu pak Kalandra. Apakah beliau ada". Chaca pun merespon dengan sopan juga.
"Maaf sebelumnya sudah ada janji atau belum Bu". Chaca diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan sekretaris Kalandra.
"Belum kak. Jadi Chaca harus buat janji dulu kak". Sebenarnya Chaca paham seperti apa peraturan perusahaan. Namun dia hanya sekedar menghargai sekretaris Kalandra saja.
"Benar Bu. Jika belum ada janji, silahkan buat janji terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Tuan". Sekretaris Kalandra mengusir Chaca secara halus.
"Baiklah Kak. Chaca pamit. Tapi tolong sampaikan pesan ke kak Alan. Kalau Chaca mau ketemu". Chaca menitipkan pesan dan memutuskan memilih pulang saja. Dia tak suka berdebat.
"Baik. Nanti akan saya sampaikan". Saat Chaca hendak pergi meninggalkan tempat tersebut, seseorang memanggil Chaca.
"Chaca". Chaca menoleh dan tampak terkejut melihat siapa yang telah memanggil namanya.
__ADS_1
"Kak Rudi. Kok disini". Orang itu adalah Rudi. Kebetulan dia sedang berkunjung seperti biasanya.
"Iya. Ada kunjungan rutin. Loe mau ketemu Alan kan". Chaca mengangguk pelan. Sekretaris Kalandra masih memperhatikan interaksi Rudi dan Chaca.
"Ya udah yuk tunggu diruangan dia aja. Dia masih meeting sama pegawainya. Palingan bentar lagi selesai". Rudi mengajak Chaca masuk kedalam ruangan Kalandra. Sekretaris Kalandra hendak mencegah namun tak berani. Karena Chaca bersama dengan Rudi.
"Silahkan duduk. Loe tunggu disini dulu. Gue mau nyusul Alan. Kalau haus, ambil aja di lemari es". Rudi meninggalkan Chaca sendiri diruangan Kalandra. Rudi keluar dari ruangan Kalandra dan menghampiri sekretaris Kalandra.
"Lusia, kenapa kamu melarang Chaca masuk". Lusia yang merasa dipanggil namanya, segera berdiri.
"Maaf tuan. Saya tidak mengenal wanita tadi. Jadi saya melarangnya untuk masuk Tuan". Lusia menunduk. Rudi sama menyeramkannya dengan Kalandra.
"Dia istri Kalandra. Jadi jangan pernah melarangnya untuk masuk kedalam ruangan Kalandra saat dia datang berkunjung". Lusia nampak terkejut. Wajahnya sedikit pucat.
"Tapi setau saya nona Mela adalah tunangan Tuan Kalandra". Rudi tersenyum tipis mendengar jawaban Lusia.
"Istri Kalandra hanya satu. Chaca. Atau Marrisa Al-Rasyid. Ingat namanya dan wajahnya. Untuk kejadian saat ini, saya tidak akan melaporkan kepada Kalandra. Tapi saya minta untuk tidak kamu ulangi lagi". Tegas setiap perkataan yang terlontar dari mulut Rudi. Lusia semakin menciut nyalinya.
"Terimakasih Tuan. Saya berjanji tidak akan terulang". Rudi segera berjalan menuju ruangan meeting. Sebenarnya Rudi tidak berminat mengikuti meeting. Dia hanya akan memberitahu Kalandra tentang kedatangan Chaca.
"Om. Kenapa ini masih disini. Apa maksudnya om". Chaca masih diam menatap foto itu. Diam, Chaca teringat dengan perkataan Sandra waktu itu.
"Apa benar yang Sandra ucapakan". Chaca mengembalikan foto tersebut ditempat semula. Chaca memilih kembali duduk di sofa. Pikiran Chaca sudah tak fokus.
"*Apakah aku benar jika meminta pertolongan om Alan". Chaca menatap kearah jendela lebar dihadapannya.
"Tapi memang cuma om Alan yang bisa membantuku". Pikiran Chaca kembali bimbang*.
Tak lama pintu ruangan terbuka lebar. Chaca masih belum menyadari kedatangan Kalandra karena posisi duduknya yang membelakangi Kalandra dan juga Chaca masih sibuk dalam lamunannya. Kalandra tersenyum bahagia dibelakang Chaca. Ingin rasanya dia berlari memeluk Chaca. Namun dia tak mau membuat Chaca marah.
Kalandra berjalan perlahan mendekati Chaca. Dia masih merasa jika ini hanya sebuah mimpi. Bahkan berkali-kali Kalandra sengaja mencubit lengannya sendiri. Dan nyata terasa sakitnya. Jantungnya semakin berdebar saat langkahnya semakin mendekat.
"Chaca". Sapa Kalandra pelan. Chaca segera tersadar karena Kalandra juga menepuk pelan pundaknya.
"Om. Sudah selesai meetingnya". Kata pertama yang Kalandra dengar setelah sekian lama mereka tak bertemu. Suara yang Kalandra rindukan kini terdengar kembali.
__ADS_1
"Sudah. Kamu sudah lama menunggu disini". Karena terlalu gugup, Kalandra hanya bisa mengatakan apa yang terlintas dibenaknya.
"Tidak juga. Om apa kabar". Chaca bisa bersikap biasa saja dihadapan Kalandra. Seolah tidak terjadi apapun sebelumnya.
"Baik Cha. Chaca sehat". Mereka masih berdiri saling berhadapan. Kalandra benar-benar ingin memeluk Chaca saat ini. Namun dia tak mampu.
"Boleh duduk gak om. Pegel juga lama-lama". Chaca sedikit mencairkan suasana dengan candaannya.
"Ah sampai lupa. Ayo duduk dulu Cha. Mau minum sesuatu, biar saya ambilkan". Kalandra segera berjalan menuju lemari pendingin dan mengambil minuman serta camilan yang biasa Chaca makan. Kalandra masih mengingat itu semua.
"Apa saja om". Chaca masih diam memperhatikan Kalandra. Pikirannya masih terngiang perkataan Sandra.
"Ini diminum Cha. Saya cuma ada ini di lemari pendingin". Kalandra menaruh makanan dan minuman untuk Chaca diatas meja.
"Makasih om. Masih ingat saja Chaca suka susu strawberry. Dan snack jenis ini". Kalandra hanya tersenyum sambil menunduk malu mendengar perkataan Chaca.
"Ada apa Cha. Tumben kamu ke kantor". Kalandra segera menanyakan maksud kedatangan Chaca.
"Sudah lama Chaca tidak datang kesini. Sudah banyak yang berubah ya om". Chaca sedikit berbasa-basi sebelum mengatakan maksudnya.
"Sering-seringlah main kesini. Saya tidak pernah melarang kamu Cha". Chaca tersenyum mendengar jawaban Kalandra.
"Om. Sebenarnya Chaca datang mau minta tolong sama om". Chaca sudah mulai mengatakan maksudnya mendatangi kantor Kalandra.
"Apa Cha. Selagi saya mampu, pasti akan saya bantu". Chaca segera mengatakan maksudnya menemui Kalandra. Dia juga mengundang Kalandra untuk menghadiri acara kelulusannya nanti.
"Bagiamana om. Apa om bersedia". Chaca menunggu jawaban Kalandra.
"Hmmm. Baiklah Cha. Saya mau". Chaca reflek memeluk Kalandra karena senang. Saat mereka berpelukan, Rudi masuk bersama Lusia membawakan kue yang mereka beli untuk menjamu Chaca.
"Auw auw. Maaf tidak sengaja. Makanya pintunya dikunci dulu bos". Chaca reflek melepas pelukannya.
"Ck pengganggu". Decak Kalandra kesal. Rudi hanya tersenyum menggoda. Sedangkan Lusia tidak mau menatap Chaca karena malu.
"Lanjutkan. Kami permisi. Tapi ingat jangan asal gas". Rudi berlari sebelum Kalandra murka.
__ADS_1