
"Alan. Kapan kamu mau beli cincin nak. Jangan sampai kamu tidak membawa cincin waktu melamar Chaca". Mama Kalandra sangat antusias dengan segala persiapan lamaran Kalandra. Meskipun kedua belah pihak keluarga belum bertemu.
"Nanti aja ya mah. Kalau kita sudah bertemu dengan keluarga Chaca". Dalam hati Kalandra masih ada keinginan untuk menjelaskan semua. Tapi melihat begitu antusiasnya sang mama, membuat Kalandra urung berkata jujur.
"Lan, papa sampai lupa mau tanya ke kamu. Chaca usianya berapa. Karena papa lihat wajahnya masih sangat muda". Kalandra menghembuskan nafas sebelum menjelaskan.
"Ini juga sebenarnya yang ingin Alan sampaikan pah, mah". Mama Kalandra yang sedang sibuk memilih beberapa hantaran secara online, segera berhenti dan fokus kepada Kalandra.
"Ada apa. Sepertinya wajahmu tampak ragu". Kalandra menatap lembut kedua orangtuanya sebelum berbicara.
"Pah, mah. Jika diijinkan tolong jangan dulu melamar Chaca. Biarkan kami menjalani hubungan ini seperti ini dulu. Chaca masih sangat muda Mah,pah". Mama Kalandra terkejut dengan permintaan sang putra.
"Kamu jangan mencari alasan Alan. Mama gak mau kamu nyakitin Chaca. Pake alasan masih terlalu muda". Mama Kalandra sudah sangat hafal dengan sifat putranya yang suka mengelak dan mencari alasan agar terbebas dari sebuah hubungan.
"Alan jujur mah. Chaca itu usianya baru mau tujuh belas tahun. Belum lama juga dia naik kelas. Sekarang kelas sebelas dia mah". Orangtua Kalandra terkejut secara bersamaan.
"Apaa". Kalandra kembali menunduk setelah kembali mengatur nafasnya.
"Jadi kamu sukanya yang abege gitu Lan. Wah mama gak nyangka loh. Tapi gapapa, kita ounya kesempatan buat punya cucu banyak". Reaksi sang mama berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan Kalandra.
"Kalau menurut papa juga gak masalah. Kalian juga gak akan nikah diwaktu yang dekat. Setidaknya ada ikatan resmi diantara kalian berdua. Itu sudah cukup membuat papa dan mama lega Lan". Kalandra semakin terkejut dengan jawaban papanya. Biasanya sang papa akan sedikit memihaknya. Tapi ternyata kali ini Kalandra salah.
__ADS_1
"Iya betul kata papa Lan. Dah gak usah difikirkan. Mama mau lanjut cari hantaran dulu. Buat calon mantu mama yang cantik jadi harus spesial juga kan". Mama Kalandra kembali dengan aktivitasnya. Begitu juga papa Kalandra yang masih menghubungi beberapa kerabat meminta doa restu agar acara lamaran Kalandra lancar.
Usaha Kalandra benar-benar sudah gagal. Orangtuanya tidak goyah sama sekali. Mungkin jika dia mengatakan hal yang sebenarnya dibalik hubungan dirinya dan Chaca, bisa dipastikan acara lamaran akan gagal. Tapi resiko besar juga akan Kalandra terima.
"Huahhh. Ck, loe emang bego Lan. Sekarang loe terjebak dipermainan loe sendiri tanpa loe tau gimana cara keluarganya. Huahhh". Kalandra berteriak sambil menutup wajahnya dengan bantal. Agar kedua orangtuanya tidak mendengar. Dia merutuki kebodohannya sendiri.
"Gue harus kasih tau Chaca. Siapa tau dia ada solusi". Kalandra mengambil ponselnya. Dia mulai mencari nama Chaca.
"Telpon gimana. Nomor saja gue gak punya. Ck, makin rumit. Mana ponsel Dzaky gak aktif. Gue yakin Dzaky marah sama gue". Kalandra juga mencoba menghubungi Dzaky namun ponsel Dzaky tidak aktif.
Kalandra bingung bagaimana doa mencari solusinya. Hal yang paling Kalandra takuti adalah dia bisa terjebak dengan perasaannya sendiri jika nanti terus menerus berada dalam satu ikatan bersama Chaca. Sebenarnya tidak ada yang salah jika cinta pada akhirnya tumbuh. Tapi Kalandra masih sangat membenci makhluk yang bernama wanita. Kecuali mamanya. Sedangkan Chaca dia menghargai sebagai adik sahabatnya.
Walaupun papa Dzaky sangat menyayangi Chaca, tidak menutup kemungkinan Chaca akan mendapatkan hukuman karena kesalahpahaman ini. Dzaky sedang mencari solusi yang tepat agar tidak ada yang terlukai. Apalagi Dzaky juga tidak mau hubungan baiknya dengan Kalandra berakhir menjadi permusuhan.
"Abang, gak mau keluar kamar. Sebegitu kecewanya Abang sama gue". Chaca menangis didalam selimutnya.
"Gue harus gimana. Papa sebentar lagi sampai. Apa gue harus jujur saja. Gue gak mau juga terikat dengan om-om itu. Tapi gue juga kasihan sama mama dia". Chaca bergumam pelan dibalik selimutnya.
Dari awal Chaca sudah berencana akan menceritakan semua kebenarannya. Dan mengatakan jika ini cuma kesalahan pahaman saja. Sudah pasti masalah selesai. Tapi akan timbul masalah baru dari keluarga Kalandra. Apalagi Chaca sudah mendengar sendiri bagaimana kondisi mama Kalandra sebelum ini.
"Gue bingung. Gue harus gimana. Boleh gak gue egois. Dosa gak bikin oranglain terluka. Akhhhhh". Chaca berteriak sekencang mungkin. Dan tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Dzaky masuk kedalam setelah mendengar teriakan Chaca.
__ADS_1
"Dek, loe kenapa". Mendengar suara Dzaky, Chaca segera membuka selimut dan berlari memeluk Dzaky.
"Bang, jangan cuekin gue. Gue gak mampu mikir ini sendirian bang. Gue harus gimana bang". Dzaky membalas pelukan Chaca dan mengusap lembut punggungnya. Dzaky tahu apa yang sedang Chaca rasakan saat ini.
"Tenang ya dek. Kita cari solusi sama-sama". Chaca mengurai pelukannya dan mereka berjalan masuk kekamar Chaca mencoba mencari solusi kembali.
Bukannya Dzaky tak setuju Chaca memiliki hubungan dengan salah satu sahabatnya. Tapi usia Chaca belum bisa untuk memiliki hubungan sejauh itu. Masa depan Chaca masih panjang. Belum lagi Kalandra yang masih dibayangi masalalu. Dzaky tak ingin adiknya terluka karena sebuah keegoisan semata.
"Sebenarnya Abang juga berfikir seperti itu dek. Loe jujur agar segera selesai. Tapi kuta juga harus memikirkan pihak Kalandra. Sudah pasti mamanya akan terkena serangan jantung jika mereka tahu kebenaran seperti apa dibalik hubungan kalian. Hubungan persahabatan Abang juga pastinya akan terancam. Tapi jika tetap melanjutkan sandiwara ini, masa depanmu akan menjadi taruhan. Loe siap dek nikah muda". Chaca menggelengkan kepalanya kuat. Membayangkan saja Chaca tak bisa apalagi sampai benar-benar terjadi.
"Terus kita harus gimana bang. Beberapa jam lagi papa sama mama sudah sampai. Dan pastinya Chaca akan kena marah". Dzaky tersenyum tipis agar adiknya sedikit tenang.
"Ya sudah tetap jalani saja. Nanti kita tunda pernikahan kamu, sampai kamu lulus sekolah. Dan sesuai dengan batas usia yang ditentukan pemerintah untuk menikah. Setidaknya dengan mengulur waktu, kita punya kesempatan untuk menjelaskan kesalah pahaman ini dek. Gimana". Chaca terkejut dengan solusi dari Dzaky.
"Gak ada cara lain gitu bang. Yang setidaknya jangan terlalu rumitlah". Chaca masih belum bisa menerima saran Dzaky.
"Gak ada sepertinya dek. Tapi kalau status loe tunangan, terus seolah-olah kalian ada masalah. Kalian kan bisa pisah. Ya itung-itung ngulur waktu dan cari situasi yang pas gitu. Gimana". Chaca paham dengan maksud Dzaky.
"Oke gapapa deh. Toh cuma pura-pura ini. Tapi nanti Abang bantuin ngomong sama papa mama". Chaca menyetujui usulan Dzaky. Itu mungkin jalan terbaik untuk masalahnya saat ini.
"Iya. Gak usah khawatir. Darling, dadar gulingnya Abang tercinta". Chaca memeluk tubuh Dzaky erat. Setidaknya hatinya sedikit tenang, sebelum menghadapi badai selanjutnya.
__ADS_1