
Marjuki
Cha adik Abang ganteng. Tolong anterin berkas Abang yang tertinggal diruang tengah
Chaca yang asyik menonton kartun harus terusik dengan pesan Dzaky. Chaca sudah mulai libur sekolah. Selama dua hari ini dia hanya berada dirumah. Sebenarnya dia bahagia mendapat pesan Dzaky. Tapi tidak asyik jika tanpa ada perdebatan.
Marjuki
Woy, Loe online gak balas. Buruan gue mau meeting.
Cha sudah bersiap dan sengaja tidak menanggapi pesan Dzaky. Chaca sudah siap diatas motor kesayangannya.
Marjuki
Gue gak dikantor. Gue dikantor teman. Ini alamatnya
"Untung gue belum jalan. Dasar Marjuki menyebalkan". Chaca segera meluncur setelah membaca alamat yang diberikan oleh Dzaky. Musim liburan tak membuat jalanan lengang. Yang ada semakin macet. Inilah untungnya Chaca mengendarai motor. Dia bisa mencari jalan tikus agar cepat sampai.
Dua puluh menit waktu yang ditempuh Chaca untuk sampai dikantor teman Dzaky. Chaca berjalan masuk kedalam lobby perusahaan yang cukup mewah. Didepan resepsionis Chaca bertanya kepada pegawai disana.
"Selamat siang kak". Sapa Chaca kepada pegawai resepsionis tersebut.
"Siang. Ada yang bisa saya bantu". Jawab ramah dari pegawai disana.
"Kak, saya mau nganterin berkas milik pak Dzaky". Jelas Chaca. Nampak wajah resepsionis tersebut bingung saat Chaca menyebut nama Dzaky.
"Bagian apa ya dek". Chaca juga bingung harus menjawab apa.
"Abang saya tidak kerja disini kak. Tapi baru meeting disini". Chaca mengatakan yang sebenarnya. Dan resepsionis tersebut mulai paham.
"Baik sebentar saya hubungi Pak Rudi terlebih dahulu". Dzaky memang sedang berada diperusahaan Kalandra. Mereka meeting membahas proyek hasil kerjasama mereka.
Chaca berdiri menunggu sambil melihat sekeliling. Beberapa pegawai pria melihat Chaca bahkan ada yang sengaja tersenyum kepada Chaca.
"Maaf dek. Dengan adek siapa ya". Resepsionis itu kembali bertanya sambil memegang gagang telepon.
__ADS_1
"Chaca kak". Jawab Chaca singkat. Chaca kembali berdiri menatap kearah meja resepsionis. Tak lama pegawai tersebut menutup gagang telponnya.
"Dek, bisa langsung keruangan pak Kalandra. Ruangannya ada dilantai sepuluh sebelah kanan". Jelas resepsionis tersebut.
"Apa gak bisa dititipkan disini saja kak. Saya malas naiknya". Chaca memang males untuk menemui Dzaky.
"Maaf tidak bisa dek. Pesan Pak Rudi, harus diantar langsung dek". Chaca hanga bisa pasrah saja dan berjalan menuju lift.
Tiba dilantai sepuluh, Chaca melangkah menurut petunjuk dari pegawai resepsionis tadi. Banyak pasang mata melihat kearah Chaca. Bahkan ada yang menggodanya. Namun Chaca tidak peduli. Sampailah Chaca diruangan bertuliskan CEO Kalandra A.
"Oh ini ruangannya". Chaca berjalan mendekati pintu tersebut. Karena meja didepan ruangan tersebut kosong tak berpenghuni, Chaca memutuskan untuk mengetuk pintu ruangan itu.
Tok tok tok
"Masuk". Jawaban dari dalam ruangan setelah Chaca mengetuk pintu tersebut. Chaca membuka pintu dan berjalan masuk perlahan.
"Chaca". Sambut Kalandra lirih. Kalandra memang sedang meeting bersama Dzaky ,Leo dan Sultan. Chaca hanya menjawab dengan senyuman singkat sambutan dari Kalandra.
Chaca berjalan mendekati Dzaky yang diam menunduk sambil membaca beberapa berkas. Chaca mengulurkan apa yang Dzaky minta tadi.
"Cha. Jangan kluyuran". Chaca berhenti sebentar dan kembali berbalik.
"Yang penting inget pulang". Jawaban Chaca membuat Dzaky mengomel.
"Jangan mentang-mentang loe libur terus seenaknya main. Pokoknya harus pulang jangan kluyuran lagi. Kalau sampai gue balik loe gak dirumah, gue kunciin loe diluar". Sahabat Dzaky hanya diam memperhatikan perdebatan kedua saudara kandung itu.
"Hotel masih banyak. Gue mau jalan-jalan. Bye". Dzaky lumayan jengkel dengan jawaban Chaca.
"Merica. Gue laporin papa loe". Chaca tetap berjalan menuju pintu sambil menjawab perkataan Dzaky.
"Tukang ngadu. Aduin aja". Chaca hampir saja terbentur pintu karena tiba-tiba pintu ruangan Kalandra terbuka. Chaca cukup terkejut melihat sosok wanita cantik nan anggun dihadapannya.
Kalandra terkejut melihat Gwen tiba-tiba datang dan masuk keruangannya tanpa ijin. Beruntung Chaca belum pergi dari ruangan itu. Chaca tetap ingin berjalan keluar, namun Kalandra segera mencegahnya.
"Sayang. Sebentar ya". Kalandra mencekal lengan Chaca. Mendengar panggilan Kalandra untuknya, Chaca hampir marah. Namun Kalandra memberi kode.
__ADS_1
"Andra. Gue ganggu ya". Tanya Gwen sambil menatap beberapa orang yang berada dibelakang Kalandra.
"Ada apa loe kesini. Dan siapa yang memberikan ijin masuk". Kalandra berdiri disamping Chaca sambil mengapit pinggang rampingnya.
"Gue mau ngomong sama kamu Ndra. Ada waktu sebentar saja". Gwen tak peduli dengan adanya Chaca disana. Karena saat awal bertemu, Gwen menggunakan masker dan topi. Itu yang membuat Chaca tak mengenali Gwen saat ini.
Jangan lupakan wajah aneh sahabat Kalandra. Terutama Dzaky. Dia menatap Kalandra tajam dari balik tubuh Kalandra. Dzaky dan yang lainnya bingung ada apa antara Kalandra dan Chaca. Hanya Rudi yang biasa saja.
”Maaf saya sedang sibuk". Jawab Kalandra dengan sikap dinginnya.
"Sebentar saja Andra. Dan hanya berdua". Gwen mulai menatap tak suka kepada Chaca.
"Banyak orang saja saya sudah tak mau lagi berbicara dengan anda. Apalagi hanya berdua. Tolong minggir saya mau keluar bersama tunangan saya". Chaca melotot terkejut dengan apa yang dikatakan Kalandra. Begitu juga dengan teman-teman Kalandra terutama Dzaky.
Kalandra tak menyadari jika ada oranglain lagi yang datang dan berdiri dipintu masuk. Sepasang suami istri yang kini mematung karena ucapan Kalandra.
"Apa tunangan. Sejak kapan kamu bertunangan Andra. Kamu pasti bohong. Saya tidak percaya". Gwen masih tak mau menerima omongan Kalandra. Hingga sepasang suami istri itu datang menghampiri.
"Apakah putra saya harus memberitahu anda nona Gwen saat bertunangan. Saya rasa tidak perlu". Kini giliran Kalandra yang terkejut dengan kedatangan sepasang suami istri tersebut secara tiba-tiba.
"Papa, mama". Chaca melirik kearah Kalandra meminta kebenaran tentang kedua orangtua tersebut. Kalandra paham maksud tatapan Chaca, dia pun mengangguk. Chaca menunduk merutuki kebodohannya.
Mama Kalandra berjalan mendekati Chaca. Chaca takut jika mama Kalandra akan marah karena ucapan Kalandra. Namun ternyata tak seperti yang Chaca bayangkan.
"Hai sayang. Maaf ya mama baru datang". Chaca tersenyum kaku. Bahkan saat mama Kalandra memeluknya, dia bingung harus bagaimana.
"Sekarang sudah jelaskan nona Gwen. Jadi saya minta jangan lagi mengganggu kehidupan putra saya. Silahkan anda pergi". Gwen masih berusaha untuk meyakinkan orangtua Kalandra dengan meminta maaf.
"Om, Tante maafkan kesalahan Gwen. Gwen tidak ada maksud melukai om dan tante. Gwen ingin memperbaiki semuanya dengan Kalandra. Gwen ingin meminta maaf om, tante". Kalandra mengeraskan rahangnya.
"Tidak ada yang perlu diulangi. Jika anda datang meminta maaf, kami sudah memaafkan. Tapi untuk anda bisa bersanding dengan putra saya lagi, maaf sudah tidak bisa. Kalandra sudah memiliki tunangan. Dan tidak akan lama lagi mereka akan menikah". Jawaban papa Kalandra sangat mengejutkan seluruh isi ruangan tersebut. Terutama Dzaky yang masih shock.
"*Menikah. Gue sama om-om ini". Chaca berbicara dalam hatinya.
"Apa-apaan papa. Kenapa harus bilang nikah sih. Ah....". Kalandra pun bergumam kesal dalam hatinya*
__ADS_1