
"Mah Abang kemana. Kok sepi". Cacha yang baru saja datang menghampiri mamanya dimeja makan, bingung mencari keberadaan abangnya yang selalu bawel.
"Abang kan keluar kota dek. Apa gak pamit sama adik". Mama Cacha masih sibuk menata makanan.
"Nggak. Syukurlah rumah sepi gak ada si Juki". Mama Cacha hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Awas kangen nanti dek". Cacha mencebikkan bibirnya karena mamanya mengoloknya.
"Papa kapan pulang mah". Cacha sibuk menyiapkan makanannya kedalam mulut sambil berbincara.
"Lusa. Oh ya dek. Nanti temani mama yuk habis pulang sekolah". Mama Cacha ikut sarapan bersama putri tercintanya.
"Kemana mah". Sambil mengunyah makanannya, Cacha menanyakan tujuan mama tercintanya.
"Ke mall. Cari korden baru. Korden dirumah sudah kusam semua. Mama mau cari yang lagi trend". Cacha mengangguk sambil mengacungkan jempolnya sebagai tanda setuju.
Cacha berpamitan kepada mamanya. Dia segera berangkat sekolah menggunakan motor kesayangannya. Cacha mengendarai motor kesayangannya dengan santai karena memang dia berangkat lebih awal dari biasanya.
Dipertigaan jalan dekat sekolahnya, ada sebuah mobil yang muncul mendadak dari arah berlawanan dengan lumayan kencang. Cacha bisa mengerem mendadak. Dan Cacha sempat membanting stir kekiri. Walaupun kendaraan mereka sempat bergesekan.
Mobil itu berhenti. Namun pemiliknya tidak turun. Cacha yang kesal, segera menghampiri mobil itu. Cacha melepas helmnya dan segera menggedor kaca mobil itu. Kaca itu terbuka. Dan nampak seorang pria muda dibalik stir.
"Hei om. Bisa nyetir gak sih. Loe kira ini sirkuit balapan apa. Seenak jidat aja bawa mobilnya. Tuh motor gue lecet. Ganti rugi loe om". Cacha emosi setelah melihat yang mengendari mobil itu usianya tak jauh dari Dzaky.
"Loe tuli ya om. Gue minta ganti rugi. Mana". Cacha mengulurkan tangannya kearah wajah pria itu. Dan pria itu menoleh kearah Cacha.
"Mobil saya juga lecet, jadi kita impas". Cacha berlari kedepan mobil itu saat sang pemilik akan menancap gas. Cacha merentangkan kedua tangannya.
"Enak saja mau kabur. Bayar dulu om. Apa jangan-jangan loe gak punya duit buat bayar. Huh lagaknya aja mobil mewah. Padahal cuma supir. Palingan SIM juga hasil nembak". Cacha menyilangkan kedua tangannya didepan dada dan kembali kesamping mobil.
Cacha sengaja memprovokasi pemuda tersebut. Namun pemuda itu bersikap tenang tak terprovokasi. Karena sudah menjadi tontonan, apalagi banyak yang menonton. Pria itu menyerah dan mengeluarkan sejumlah uang untuk Cacha. Setelah mendapatkan ganti rugi, Cacha pun segera kembali melakukan motornya menuju sekolah.
"Dasar cewek gila. Udah manggil om, ngatain tuli pula". Pria itu menggerutu sambil melihat kepergian Cacha dari spion mobilnya.
Karena kejadian tadi, Cacha hampir terlambat ke sekolah. Beruntung satpam masih membuka sedikit pintu gerbang sekolah saat Cacha tiba disekolah. Julian sudah menunggu Cacha diparkiran. Karena Cacha tak kunjung sampai.
__ADS_1
"Loe kemana aja Cha. Lama banget". Julian segera mendekati Cacha begitu Cacha tiba dan memakirkan motornya.
"Ada sedikit hambatan tadi. Tapi tenang aja. Gue baik-baik saja. Cuma si blue agak lecet". Julian segera meneliti Cacha dari atas sampai bawah setelah mendengar perkataan Cacha. Dan Julian juga melihat kondisi motor Cacha yang memang sedikit lecet.
Mereka segera menuju ke kelas untuk mengikuti pelajaran. Sedangkan pria yang terlibat insiden bersama Cacha pagi tadi, kini sedang dikantornya. Namun dia masih kesal mengingat perkataan Cacha.
"Ck. Ayolah lupakan gadis tengil itu. Loe juga gak kenal kali". Pria itu memukul kepalanya dengan tangan karena bayangan dan kata-kata Cacha terus terngiang mengganggu konsentrasi bekerjanya.
Pria itu mencoba untuk kembali konsentrasi, namun kembali gagal. Dia diam termenung mengingat perkataan Cacha pagi tadi.
"Apa gue setua itu. Bahkan dia spontan panggil gue om". Pria itu berdiri didepan almari kaca yang berisi berkas penting didalam ruangannya. Dia memperhatikan dirinya sendiri dari atas hingga bawah.
"Ck. Mana ada gue tua. Ganteng iya. Masih muda gini dibilang tua". Suara tawa terdengar diambang pintu ruangan pria itu. Pria itu segera menoleh.
"Hahaha. Loe baru balik dari luar negeri udah gila. Ngomong sama kaca". Pria lainnya dengan stelan kerja masuk kedalam ruangan pria tadi.
"Rud. Emang gue udah kelihatan tua apa". Pria tadi bertanya pada pria lain yang bernama Rudi.
"Gak. Kenapa emangnya Ndra. Sejak kapan loe peduli umur". Rudi berjalan dan meletakkan berkas yang diminta oleh pria tadi.
"Ck. Kalau loe om om, gue juga. Usia kita gak jauh beda Kalandra Aditya". Kalandra berdecak pelan mendengar perkataan Rudi, asisten pribadi sekaligus sepupunya.
"Baru pertama kali gue dipanggil om sama cewek, dah gitu dia ngatain gue tuli". Rudi melipat dahinya mendengar sepupunya menggerutu.
"Siapa cewek yang berani mengabaikan pesona seorang Kalandra Aditya. Penasaran gue secantik apa". Kalandra pun menceritakan apa yang terjadi pagi tadi. Rudi yang awalnya serius tiba-tiba tertawa terbahak.
"Ah loe, sama anak abege aja kalah. Tapi gue penasaran deh. Kok bisa tuh cewek gak terpesona sama loe. Cantik gak". Rudi penasaran dengan wanita yang bisa mengabaikan ketampanan sepupunya itu.
"Hmmm. Gimana ya. Yang jelas dia itu bukan seperti cewek biasanya. Bawanya aja moge. Sejenis Ducati. Masalah cantik nggaknya, gue gak perhatiin banget. Habis dia nyebelin". Rudi hanya manggut-manggut saja mendengar perkataan Demian.
"Hmm gitu. Oya nih tanda tangani. Proyek pertama kita nih". Rudi menyerahkan lembaran berkas kepada Kalandra.
"Ini yang dari Dzaky kan". Kalandra membaca perlahan sebelum dia bubuhi tanda tangan.
"Iya. Kalau ada revisi, Zacky minta dikoreksi. Kalau dari gue cuma satu poin aja revisinya. Dan udah gue ganti. Coba loe cek. Kalau udah ntar gue anterin ke kantor Zacky buat dia tanda tangani". Kalandra mengangguk dan kembali membaca satu persatu dengan teliti.
__ADS_1
Sore hari, seperti janji Cacha kepada mamanya pagi tadi. Mereka sudah berada di mall. Cacha hanya mengikuti sang mama dari belakang seperti bodyguard. Sesekali Cacha memberi masukan kepada mamanya.
"Cha. Mau motif apa". Mamanya kegirangan melihat berbagai jenis dan warna serta corak korden dihadapannya.
"Mama mau tema apa sekarang. Biar Cacha bantu pilih motif". Cacha sangat paham selera sang mama yang suka berganti sesuai tema yang sedang dia inginkan.
"Pemandangan bagus kali ya Cha. Biar kelihatan adem gitu". Cacha berjalan menuju tumpukan kain yang sudah memiliki motif yang masing-masing berbeda.
"Ini cantik mah. Sesuai tema mama. Warnanya juga bagus. Adem dilihatnya". Cacha menunjukkan pilihannya kepada mamanya.
"Emang gak salah mama ajakin kamu. Kamu selalu tau apa mau mama. Kita ambil ini". Cacha tersenyum manis melihat mamanya bahagia. Mama segera membayar belanjaannya ke kasir. Cacha menunggu didepan toko karena bosan.
Dari kejauhan seseorang memanggil nama Cacha. Cacha pun menoleh. Dan seorang pria yang Cacha kenal datang menghampiri.
"Hai Cha. Sama siapa kesini". Orang itu menyapa Cacha dengan ramah.
"Abang siapa ya. Kok kenal Cacha". Jawaban Cacha membuat pria yang mendekatinya menepuk jidatnya.
"Hadeh Cha, baru aja ketemu udah lupa. Ini bang Sultan teman bang Dzaky". Cacha mencoba mengingat nama Sultan.
"Oh Sultan yang gak punya kerajaan ya. Cacha baru ingat". Sultan hanya menghela nafas saja mendengar olokkan Cacha.
"Cha, ayo pulang. Mama udah selesai". Sultan dan Cacha menoleh kearah suara. Dan mama Cacha sudah membawa beberapa paper bag berisi belanjaannya tadi.
"Sudah selesai mah". Mama mengangguk dan senyum. Mama Cacha menoleh kearah Sultan. Dan mengenalinya.
"Loh Sultan. Lagi main ya". Sapa mama Cacha kepada Sultan.
"Iya tante. Ada janji sama teman Tan. Habis borong nih Tan". Mama Cacha tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Sultan.
"Oh cuma beli korden. Ya sudah Tante sama Cacha pamit dulu ya Sultan". Pamit mama Cacha kepada Sultan.
"Iya Tan. Hati-hati dijalan". Mama Cacha hanya tersenyum menanggapi perkataan Sultan.
Sultan kembali melangkah menuju tempat dia akan bertemu temannya. Saat didekat pintu keluar mall, Cacha berpapasan dengan seseorang. Namun Cacha tidak melihatnya.
__ADS_1
"Itu kan gadis tengil tadi pagi". Orang itu bergumam pelan sambil melihat kepergian Cacha.