
Berita kehamilan Chaca membawa berkah tak terduga. Papa Rasyid semakin membaik. Bahkan semakin bersemangat untuk sembuh. Mama Adina dan Mama Bianca selalu protect kepada Chaca. Bahkan asiste rumah tangga keluarga mereka sudah tinggal dirumah Kalandra untuk membantu Chaca.
Kalandra juga sudah meminta Rudi untuk mengambil alih perusahaan milik Chaca sementara waktu. Karena ini kehamilan pertama Chaca, dokter juga mengatakan jika kehamilan Chaca termasuk rentan keguguran. Karena rahim Chaca agak lemah. Kalandra tidak mengijinkan Chaca untuk turun dari ranjang, selain Chaca pergi ke toilet. Saking protectnya, Kalandra akan mengantarkan Chaca hingga masuk kedalam toilet dan menungguinya.
Menu makanan Chaca sangat dipantau oleh kedua mamanya. Beruntung bukan Chaca yang mengidam, melainkan Kalandra. Kalandra mengidam lebih ke makanan yang tidak pernah dia sentuh, sekarang sangat dia sukai. Hanya sesekali Kalandra akan mual dan muntah, jika mencium bau yang membuatnya tidak nyaman.
Pagi ini seperti biasa, Kalandra akan terbangun terlebih dahulu. Dia bergegas membersihkan diri dan menyiapkan sarapan untuk Chaca. Dan tak lupa menyiapkan air hangat untuk Chaca berendam.
"Selamat pagi tuan muda. Ada yang bisa saya bantu?" Salah satu pelayan menyapa Kalandra yang baru saja memasuki dapur.
"Pagi Bi. Saya mau coklat hangat bi" Kalandra duduk dimeja menunggu dimeja makan. Coklat hangat adalah favorit Chaca. Namun semenjak Chaca hamil, Kalandra menjadi menyukai minuman itu.
"Baik tuan muda" Kalandra membaca laporan dari Rudi melalui ponselnya sambil menunggu coklat hangat miliknya.
"Bi, hari ini menu Chaca apa?" List menu makanan Chaca sudah ditentukan kedua mama mereka. Dan saling bergantian. Terkadang Chaca akan meminta tambahan menu jika sedang menginginkan sesuatu, Chaca akan langsung meminta kepada pelayan.
"Hari ini menu nona. Sup kakap merah, salad buah, tumis sayuran tuan" Pelayan menjelaskan menu Chaca untuk hari ini.
"Hmm baiklah. Saya tolong buatkan oseng mercon bi" Pelayan keluarga Gerald segera menyahut permintaan Kalandra itu.
"Maaf, tuan muda tidak bisa makan terlalu pedas" Kalandra menatap mata pelayan pribadi mamanya itu dengan wajah sedihnya.
"Tapi Alan mau itu bi" Mereka paham jika Kalandra saat ini mengidam.
"Tapi, bibi takut lambung tuan akan sakit" Wajah Kalandra semakin sedih. Membuat kedua pelayan itu tampak panik.
"Baiklah bibi akan buatkan tuan muda" Kalandra kembali ceria. Dan kedua pelayan itu hanya menggeleng saja. Mau heran, tapi itulah efek mengidam Kalandra. Beruntung hanya keluarga mereka dan Rudi yang melihat perubahan sikap Kalandra itu.
__ADS_1
"Terimakasih Bi. Alan naik dulu. Mau lihat Chaca" Kalandra segera beranjak sambil membawa susu untuk Chaca yang tadi sebelumnya sudah dia buat. Chaca hanya bisa minum susu hamil buatan Kalandra.
Kalandra sudah berada didalam kamar dan melihat ranjang susah kosong. Terdengar suara kucuran air dari dalam kamar mandi. Kalandra meletakkan susu diatas nakas. Dan berjalan menuju kamar mandi lalu membuka pintu kamar mandi.
"Sayang, kenapa tidak menunggu mas" Chaca sudah terbiasa dengan Kalandra yang tiba-tiba masuk kedalam kamar mandi.
"Chaca gerah banget mas. Jadi langsung mandi aja" Kalandra masuk kedalam bathtub dan membantu sang istri membersihkan diri.
"Ah...Kapan papa boleh mengunjungi kamu nak?" Chaca memukul tangan Kalandra yang saat ini sedang bermain-main diperut Chaca.
"Sabar. Ingatkan kata dokter kemarin gimana?" Kalandra meletakkan dagunya dipundak Chaca. Tak lupa memberikan kecupan diarea pundak Chaca.
"Heem. Mas akan menunggu sayang. Bagi mas, kesehatan kalian berdua adalah yang utama" Chaca memalingkan wajahnya dan mencium pipi Kalandra.
"Terimakasih papa. Sudah mengerti keadaan kami" Kalandra memeluk erat tubuh polos Chaca dari belakang.
Mandi Chaca pagi ini lebih lama dari biasanya. Chaca sangat paham dengan kondisi Kalandra yang sudah cukup lama menahan. Chaca pun melakukan dengan cara lain. Selesai mandi, Chaca segera meminum susu yang sudah disiapkan Kalandra.
"Tidak. Mas masih mau dirumah" Kalandra masih tidak ingin pergi ke kantor dengan alasan Chaca tidak ada yang menjaganya.
"Mas, ayolah. Chaca bisa jaga diri. Lagian sudah ada dua pelayan kepercayaan mama-mama kita disini" Chaca berusaha membujuk suaminya itu.
"Tidak. Aku tidak yakin mereka bisa menjaga kamu sayang. Jadi biarkan mas tetap dirumah. Mas bisa memantau pekerjaan dari rumah" Seperti biasa Kalandra akan terus membantah.
"Oke kalau gitu, Chaca saja yang kerja. Mas dirumah" Kalandra segera meletakkan ponselnya dan menatap tajam Chaca.
"Gak, gak akan mas ijinkan. Kalau perlu mas akan bilang papa Rasyid untuk menjual saja perusahaan itu" Chaca menahan tawanya. Reaksi Kalandra memang akan seperti itu jika Chaca mengatakan ingin bekerja lagi.
__ADS_1
"Ya sudah, mas berangkat sana. Kasian Narendra. Dia selalu lembut demi menyelesaikan pekerjaan mas. Dia juga punya keluarga mas" Kalandra mencebikkan bibirnya. Kalandra segera beranjak dari ranjang dan menuju ruang ganti. Chaca terkikik geli melihat tingkah laku suaminya.
Lima menit kemudian Kalandra keluar dengan pakaian rapi. Menenteng dasi untuk dipakaikan Chaca. Dengan wajah cemberut Kalandra mendekati Chaca dan mengulurkan tangannya yang membawa dasi.
"Papa yang cemberut gitu dong. Nanti gantengnya hilang loh" Chaca menggoda Kalandra. Namun Kalandra masih saja cemberut.
"Mama kamu nakal baby. Papa masih mau menemani kamu tapi gak boleh" Kalandra menciumi perut Chaca yang sudah agak membuncit.
"Alasan saja ya baby. Papa malas" Kalandra semakin mencebikkan bibirnya mendengar perkataan Chaca. Chaca pun terbahak sudah tidak bisa lagi menahan tawanya.
"Sayang. Macha, ayolah. Mas masih ingin dirumah" Kalandra kembali merengek. Chaca sudah memasangkan dan dasi Kalandra. Chaca mencubit gemas pipi Kalandra yang nampak gembul.
"Apa macha ikut saja ke kantor pah?" Kalandra melepaskan tangan Chaca yang masih berada di pipinya.
"Ya sudah papa berangkat dulu sayang. Jaga mama kamu ya sayang. Nanti papa cepat pulang" Kalandra berbicara dengan perut Chaca dan menciuminya berulang kali.
"Papa jangan lupa makan siang. Vitamin jangan lupa dibawa mas. Obat mual juga" Kalandra mendapatkan obat perada mual dari dokter.
"Iya. Macha juga jangan bandel. Jangan coba-coba keluar kamar tanpa pengawasan. Panggil pelayan untuk membantu mama atau langsung telepon papa, nanti papa langsung pulang" Chaca tersenyum mendengar semua wejangan Kalandra.
"Siap bos. Jangan khawatir papa. Mama akan ingat perkataan papa" Kalandra mencium kening Chaca cukup lama.
"Mas berangkat sayang. Segera hubungi mas jika terjadi sesuatu" Chaca mengangguk dan tersenyum. Kalandra segera meninggalkan kamar mereka dan berangkat menuju kantor.
Dua hari yang lalu, Chaca tanpa sengaja membaca pesan yang dikirim oleh Narendra untuk Kalandra. Pesan itu mengingatkan Kalandra untuk datang meeting penting siang ini dan bisa diwakilkan. Dan Chaca mulai memikirkan cara membujuk Kalandra. Karena memang susah membujuk Kalandra tanpa sedikit ancaman.
Kalandra juga memberikan pesan begitu banyak kepada para pelayan dan penjaga rumahnya untuk menjaga Chaca dengan baik. Kalandra juga mengingatkan pelayan untuk tidak menuruti kemauan Chaca yang membahayakan. Karena Kalandra sudah sangat hafal dengan sifat Chaca yang sedikit bandel itu.
__ADS_1
Kalandra segera menuju kantor dengan sopir. Chaca yang mendengar deru mobil suaminya sudah menjauh, ingin sekali keluar kamar dan bersantai ditamn belakang. Baru saja membuka pintu, Chaca sudah dikejutkan dengan pengawal kepercayaan Kalandra.
"Maaf nyonya. Silahkan kembali ke kamar. Karena tuan tidak mengijinkan nyonya keluar kamar" Wajah ceria berubah masam setelah mendengar ucapan pengawal itu. Chaca kembali ke kamar dengan kesal.