
POV Kalandra
Kringgggggggggg
"Cha. Matiin dong alarm kamu. Berisik banget". Dering alarm jam diatas nakas terdengar sangat nyaring. Kalandra kembali memeluk guling dan menutup telinga menggunakan bantal.
"Chaca. Matiin dong. Saya masih ngantuk". Kalandra membalikkan tubuhnya mengarah ke ranjang Chaca. Namun ranjang itu kosong dan sangat rapi.
"Ck. Kalau mandi, matiin dulu alarm kamu Cha". Kalandra meraih jam diatas meja nakas dan mematikan alarm yang terus berdering. Kalandra ingin kembali memejamkan matanya. Namun itu terasa sangat susah. Kalandra memutuskan membuka ponselnya. Dan satu pesan dari sekretarisnya memberitahu Kalandra jika ada klien yang mendadak ingin bertemu.
"Chaca mandinya buruan. Saya ada meeting dadakan pagi ini". Kalndra berteriak kencang, sedangkan tangan dan matanya fokus membalas pesan dari sekretarisnya.
Kalandra turun dari ranjang dan membuka korden kamarnya agar cahaya pagi ini masuk. Kalandra tak hentinya bergumam dengan terus menyebut nama Chaca.
"Ck. Tumben banget sih gak dibuka kordennya. Biasanya jam segini udah terang cahaya matahari". Sambil membuka korden, Kalandra melihat jam dinding dikamarnya. Dia semakin kesal karena Chaca tak kunjung membuka pintu kamar mandi. Kalandra berjalan menuju kamar mandi hendak mengingatkan Chaca agar mempercepat mandinya.
"Cha, ayo buruan saya bisa kesiangan nih". Tak afa sautan apapun dari balik pintu itu. Kalandra mengetuk berkali-kali. Namun masih sama saja.
"Saya masuk ya Cha. Jangan marah sama saya. Kamu terlalu lama. Tenang saya tutup mata kok". Kalandra segera memutar handle pintu kamar mandi perlahan. Kalandra sempat terkejut karena pintu tersebut tidak dikunci oleh Chaca.
"Cha, Chaca". Hening tanpa ada suara apapun. Bahkan suara gemericik air pun tak ada. Kalandra perlahan membuka matanya. Dia menatap lantai kamar mandi yang masih kering. Dan mendongak melihat disekeliling kamar mandi tersebut.
Deg...
Kalandra pun teringat akan sesuatu. Tubuhnya kembali lesu. Dia pun bergegas mandi dan bersiap menemui kliennya. Dibawah shower pikirannya menerawang jauh.
__ADS_1
"Apa kabar kamu Cha. Bahkan saya lupa jika sudah tiga bulan kamu tidak kembali kerumah ini lagi". Kalandra bergumam dalam hatinya teringat Chaca yang sudah lama tidak kembali kerumah, namun Kalandra selalu menganggap adanya kehadiran Chaca.
Setelah siap, Kalandra segera bergegas turun menuju meja makan. Biasanya seangkir kopi dan sepiring nasi goreng ataupun sandwich menemani sarapannya. Namun tiga bulan ini semua tidak pernah lagi Kalandra rasakan. Bahkan dirinya lebih sering sarapan dikantor.
"Cha, saya berangkat. Jangan lupa kun....". Belum juga Kalandra menyelesaikan ucapannya, dia teringat jika saat ini dia hidup sendiri.
Kalandra segera meninggalkan rumah. Bahkan kebiasaan menyelipkan kunci cadangan dibawah pot, masih Kalandra lakukan. Karena Chaca sering lupa membawa kunci. Kalandra selalu menatap sendu rumahnya saat akan memasuki mobil. Karena rumah itu saat itu begitu sunyi. Waktu semakin siang, Kalandra segera menuju kantor sebelum terlambat.
Setibanya dikantor, Kalandra disibukkan dengan tumpukan pekerjaan. Itu yang dia lakukan selama tiga bulan ini. Menghabiskan waktu habya untuk bekerja, bekerja dan bekerja. Sesekali Kalandra akan menghibur dirinya jika sudah sangat penat. Walaupun Kalandra masih suka mengunjungi klub malam, namun kegiatan memanjakan Jhon sudah lama tidak dia lakukan.
Kalandra selalu kehilangan hasratnya saat akan memajakan Jhon, ketika dia terbayang wajah Chaca yabg tertawa ataupun mengoloknya. Mela masih berusaha mendekati Kalandra meskipun berkali-kali mendapatkan penolakan. Bahkan Mela juga menceritakan saat dirinya sengaja menemui Chaca mengatakan niatnya mendekati Kalandra. Kalandra cukup terkejut mendengar perkataan Mela. Dan lebih terkejut lagi saat Mela mengatakan Chaca tidak menyetujui ataupun menolak permintaannya.
Kalandra sengaja lembur setiap hari agar dirinya cepat tertidur saat pulang kerumah. Dan tidak memikirkan tentang Chaca. Walaupun saat dia membuka mata, selalu saja meneriaki nama Chaca. Jika tidak ada pekerjaan yang membuatnya lembur, Kalandra sengaja berdiam lebih lama dikantor walaupun hanya sekedar melamun.
Kalandra juga masih sering mengirimi Chaca makanan ataupun snack. Saat Chaca jatuh sakit pun, Kalandra datang menjenguk dan membawa Chaca untuk periksa kedokter. Entah terlalu bodoh atau gengsi yang tinggi sehingga Kalandra selalu menyangkal perasaan yang telah tumbuh itu. Kalandra selalu saja menyangkal dan mengatakan itu bentuk tanggungjawabnya menjaga adik sahabatnya.
Siang ini, Mela sengaja datang ke kantor Kalandra dan mengajak Kalandra untuk makan siang bersama. Beberapa karyawan Kalandra mulai bergosip mengenai Mela. Apalagi sudah lama Chaca tidak datang mengunjungi kantor Kalandra. Mela sudah berada diruangan Kalandra setelah mendapatkan ijin dari Kalandra untuk masuk.
"Andra kamu tidak sibuk kan hari ini". Mela duduk disofa sedangkan Kalandra masih sibuk membaca beberapa file didepannya.
"Tidak begitu. Ada apa Mel". Kalandra melihat kearah Mela sesaat. Mela selalu dengan sengaja menggoda Kalandra jika mereka hanya berdua. Mela sengaja membuka blazer yang dikenakannya. Dan tampak dress seksi berwarna hitam sebatas dada yang saat ini Mela kenakan.
"Makan keluar yuk. Saya bosan. Sekalian jalan-jalan. Sudah lama kita tidak jalan-jalan". Mela sengaja menarik turun dressnya agar kedua gunungnya terekspose dihadapan Kalandra.
"Hmmm. Oke. Saya juga sedang suntuk. Mau jalan sekarang saja". Kalandra merapikan tumpukan kertas dihadapannya. Berjalan mendekati Mela yang masih duduk disofa.
__ADS_1
"Bisa tidak ditunda beberapa menit". Mela meraih tangan Kalandra dan mengayunkannya. Sengaja Mela sentuhkan ke arah dadanya.
"Memangnya kenapa harus ditunda. Sebaiknya kita berangkat sekarang saja". Kalandra tak memperdulikan apa yang Mela lakukan bahkan perlahan Kalandra menarik tangannya.
"Ayolah. Kamu sudah tau apa maksudku Andra". Mela berdiri dan mulai membelai dada bidang Kalandra. Kalandra tetap diam tak merespon. Kalandra sedikit membungkuk dan mengambil blazer Mela. Menaruh blazer itu dipundak Mela.
"Mau sekarang, atau saya tinggal kamu disini". Kalandra mengeluarkan senjatanya kepada Mela. Dan Mela pun berdecak kesal. Dia kenakan kembali blazer itu. Berjalan menyusul Kalandra yang sudah berjalan mendahului dirinya.
Mela dan Kalandra berjalan beriringan. Banyak karyawan yang menatap mereka dengan berbagai macam eksepsi yang tak bisa ditebak. Kalandra hanya cuek saja. Kalandra membawa Mela ke sebuah resto untuk makan siang bersama.
"Ndra, boleh saya tanya sesuatu". Mela mencoba memberanikan diri menanyakan hal yang pribadi kepada Kalandra.
"Apa itu". Kalandra memainkan minuman dalam gelas dihadapannya.
"Apa kamu dan Chaca ada niatan untuk bercerai". Seketika mata Kalandra membola. Dia menatap tajam Mela.
"Itu bukan urusan anda". Suara deep Kalandra dan tatapan tajamnya membuat Mela sedikit takut.
"Iya itu memang bukan urusanku. Tapi aku ingin tahu saja. Karena kamu selalu menolak ku. Dan aku juga tau jika kalian tidak satu rumah". Kalandra kembali menatap Mela. Mela sebenarnya sudah takut, namun dia berusaha biasa saja.
"Apa anda menyelediki mengenai Chaca. Walaupun Chaca adalah anak magang diperusahaan anda, tapi anda tidak ada hak mencampuri urusan pribadinya". Mela menghela nafas berat. Dan mencoba menggenggam tangan Kalandra, walaupun mendapat penolakan.
"Tidak adakah kesempatan untukku Ndra". Kalandra beranjak ingin meninggalkan Mela. Namun matanya terkunci pada satu titik yang membuatnya berdiri dengan kaku.
"Sudah tidak adakah kesempatan itu"
__ADS_1