
"Chaca". Chaca terkejut melihat seseorang sudah berdiri didepan pintu masuk asrama. Wanita paruh baya dengan senyuman mengembang menyambut kedatangan Chaca.
"Mama". Chaca berlari menghampiri mama Adina. Sandra dan kedua teman Chaca saling berpandangan dan menatap heran saat mendengar Chaca memanggil wanita paruh baya itu dengan sebutan mama.
"Itu bukan mamanya Chaca kan Jo". Joan mengangkat kedua bahunya. Mike pun melakukan hal yang sama. Sandra berjalan mendekati Chaca yang masih berpelukan dengan mama Adina.
"Sayang apa kabar. Mama kangen banget". Mama Adina mengurai pelukannya dan memegang kedua pipi Chaca.
"Chaca baik mah. Mama sehat kan. Kok gak kasih kabar Chaca kalau mau kesini". Ini kali pertama Chaca kembali bertemu dengan mama Adina. Bahkan Chaca tidak berpamitan saat akan pergi keluar negeri.
"Mama sehat sayang. Mama sengaja mau kasih kejutan ke kamu". Mama Adina membelai lembut rambut Chaca. Sandra berdehem karena sangat penasaran.
"Ehem. Cha". Chaca dan mama Adina menoleh kearah Sandra. Mike dan Joan juga sudah berada didekat mereka. Sandra memberikan kode bertanya kepada Chaca.
"Ah, mama kenalkan mereka teman-teman dekat Chaca disini". Chaca memperkenalkan satu persatu temannya.
"Hai sayang. Panggil mama Adina saja. Saya juga mama Chaca kok. Ya kan sayang". Tampak raut wajah kebingungan diwajah teman Chaca. Perhatian mereka teralih karena suara seseorang.
"Mama, Chaca". Mama Adina tersenyum. Chaca berbalik memastikan suara yang didengarnya.
"Om Alan". Kalandra menemani mama Adina yang terus memaksa menemui Chaca. Kalandra berjalan mendekat. Teman-teman Chaca semakin penasaran.
"Cha. Kamu sehat Cha. Lama tidak bertemu". Kalandra mengulurkan tangannya. Chaca menyambut dengan hangat.
"Chaca sehat om. Chaca pikir mama kesini sendirian". Kalandra tersenyum tipis mendengar perkataan Chaca.
"Mana mungkin Alan mengijinkan mama pergi sendiri sayang". Mama Adina tertawa usai menjawab pertanyaan Chaca.
"Cha, kami pulang dulu ya. Besok gue jemput". Mama Adina menanggapi perkataan Joan sebelum Chaca menjawab.
__ADS_1
"Tidak usah dijemput. Besok Alan yang akan mengantarkan Chaca ke kampus". Joan mengangguk dan segera berpamitan dengan mama Adina begitu juga dengan Mike.
"Cha, gue masuk dulu". Sandra segera masuk kedalam asrama setelah berpamitan. Chaca mengajak mama Adina dan Kalandra untuk duduk diruang tamu asrama.
"Mama menginap disini kan". Chaca duduk berhadapan dengan mama Adina. Sedangkan Kalandra duduk di sofa single.
"Mama akan menginap dihotel sayang. Dan mama kesini mau mengajakmu untuk tidur dihoteli menemani mama. Gimana, maukan". Chaca berfikir sejenak. Kalandra hanya diam mendengarkan percakapan mereka.
"Baiklah. Chaca juga sudah lama tidak tidur bersama mama". Mama Adina tersenyum bahagia mendengar jawaban Chaca.
Tanpa menunggu lama segera meminta ijin kepada kepala asrama dan mengambil beberapa pakaian serta buku yang akan dibawanya. Chaca berangkat menuju hotel tempat mama Adina dan Kalandra menginap. Sepanjang jalan tidak ada suara yang keluar dari mulut Kalandra. Mama Adina begitu heboh menceritakan segala hal kepada Chaca.
"Alan, kita makan dulu sebelum kembali ke hotel". Kalandra mengangguk dan mengubah arah laju kendaraannya. Kalandra sengaja menyewa mobil hotel selama menemani mamanya.
"Mama liburan lama disini". Mama Adina sengaja duduk di bangku belakang bersama Chaca dan meminta Chaca merebahkan kepalanya dipaha mama Adina.
"Tidak sayang. Mama hanya satu Minggu disini. Nanti mama akan menyusul papa diantar Alan". Mama Adina terus membelai rambut Chaca.
"Sehat sayang. Papa juga merindukan anak gadisnya ini. Nanti liburan maukan nyusul papa dan mama". Chaca mengangguk semangat. Chaca merasa kasihan melihat Kalandra yang hanya diam, dia pun berinisiatif untuk bertanya kepada Kalandra.
"Om. Om Alan kapan merried". Mama Adina terbahak mendengar pertanyaan Chaca. Kalandra melirik Chaca dari spion dalam mobil.
"Belum tau". Chaca mengangguk dan kembali bertanya kepada Kalandra.
"Betah amat jomblo om". Kalandra berdecak kesal mendengar perkataan Chaca.
"Emang kamu gak jomblo apa. Dirinya saja jomblo, ngatain oranglain jomblo". Kalandra mencibir Chaca. Mama Adina semakin terbahak melihat anak dan mantan menantunya yang disayanginya bercanda.
"Chaca jomblo karena fokus belajar. Nah si om, kan udah tuir kapan mau nikahnya coba". Karena lampu lalu lintas berwarna merah, Kalandra menggunakan kesempatan itu untuk menjitak kepala Chaca.
__ADS_1
"Aduh. Om KDRT ini namanya". Chaca mengusap jidatnya yang dijitak Kalandra dibantu mama Adina.
"Alan kok main tangan. Kan kasian Chaca". Kalandra kembali menjitak Chaca karena gemas.
"Om. Mama om Alan nakal". Chaca mengadu kepada mama Adina. Mama Adina tertawa terbahak sambil mengusap jidat Chaca.
"Gadis tengil. Masih saja menyebalkan". Kalandra kembali melajukan kendaraannya. Mama Adina terus tertawa. Hari ini perasaannya sungguh bahagia.
Mereka menuju restauran Chinese food. Mama Adina sedang ingin memakan masakan khas China itu. Kalandra bak bodyguard yang mengawal seorang ratu dan tuan putrinya. Mereka segera memesan makanan yang diinginkan. Sambil menunggu, Kalandra dan Chaca kembali berdebat.
"Mah, si om cariin jodoh aja kenapa. Takut semakin tuir nanti mah". Kalandra kembali ingin menjitak Chaca namun dihalau oleh mama Adina.
"Gadis tengil, enak aja ngatain saya tuir. Usia saya sama dengan Dzaky. Kalau saya tua Dzaky pun tua". Kalandra membalas perkataan Chaca dengan menggunakan nama Dzaky.
"Marjuki emang sudah tua. Yang bilang dia muda juga siapa. Om mau gak Chaca cariin jodoh. Dosen Chaca banyak yang muda dan cantik loh". Kalandra tersenyum disudut bibirnya sambil melipat kedia tangannya didepan dada.
"Gak perlu kamu mencarikan jodoh untuk Alan. Karena kamu jodohnya Alan". Jawaban mama Adina membuat Chaca dan Kalandra diam membisu. Bahkan mereka sama-sama memalingkan wajahnya.
"Kenapa diam, mama benar kan. Kalian sama-sama belum memiliki pasangan sampai saat ini. Sudah jelas kalian ditakdirkan bersama. Betulkan". Beruntung pelayan segera datang dan menghidangkan makanan mereka.
Chaca dan Kalandra merasa canggung jika harus kembali bersenda gurau, Mama Adina melihat kecanggungan diantara keduanya. Mama Adina tiba-tiba tertawa melihat sikap mereka.
"Kalian ini seperti akan dinikahkan sekarang juga. Wajah kalian kenapa tegang sekali". Melihat mama Adina terbahak, Kalandra dan Chaca hanya tersenyum tipis. Mereka kembali menikmati makanan yang bagi Chaca dan Kalandra sudah berada hambar karena candaan mama Adina.
"Jujur ya mama masih sangat sangat berharap Chaca mau menikah dengan Alan". Mama Adina tanpa beban saat berkata demikian. Chaca dan Kalandra saling menatap sebentar.
"Mah, mama sudah janji kan tidak akan membahas ini lagi. Kenapa sekarang mama menanyakan hal ini". Kalandra mencoba mengingatkan mama Adina, karena memang sebelumnya mama Adina berkata tidak akan membahasnya.
"Mama kan cuma mengungkapkan harapan mama Alan. Mama ini sudah tua. Bisa jadi ini hari terakhir mama sama kalian. Dan mama gak mau membawa beban karena belum mengungkapkan keinginan terbesar mama". Chaca yang hendak menyuap makanan pun diurungkan. Kalandra pun demikian.
__ADS_1
"Mama jangan mengatakan hal demikian. Chaca yakin mama akan sehat-sehat saja. Terus temani Chaca ya mah". Chaca memeluk tubuh mama Adina.
"Apa kalian tidak mau memikirkannya lagi".