
Om Alan
Cha apa kabar. Maaf mengganggu waktunya. Bisa kita bertemu. Mama dan papa datang ingin bertemu dengan kamu Cha
Chaca diam menatap pesan dari Kalandra. Setelah tiga bulan mereka berpisah, ini kali pertama Kalandra mengirimkan pesan untuknya. Chaca dan Joan sudah menyelesaikan magang dikantor Mela. Mereka sedang fokus dengan tugas akhir yang menentukannya kelulusan mereka.
"Cha. Ada apa. Kenapa bengong". Chaca tersadar dari lamunan saat Joan memanggilnya. Joan tak gencar mendekati Chaca. Apalagi status Chaca saat ini adalah seorang janda kembang.
"Gapapa kok. Lagi mikir aja buat revisi besok. Gue belum dapat ide". Chaca menutupi apa yang dirasakannya saat ini.
"Loe revisi berapa bab Cha". Joan dan Chaca tidak satu pembimbing. Dan dosen Chaca terkenal sangat tegas dan pelit dalam memberi nilai.
"Satu bab isian aja sih. Tapi lumayan banyak. Habis ini gue mau ke toko buku dulu cari buku referensi". Saat ini mereka sedang santai dikantin menunggu Sandra dan Mike yang masih bimbingan.
"Oke. Nanti gue antar. Gue juga mau cari buku lagi. Sepertinya referensi gue masih kurang". Chaca mengerutkan keningnya mendengar perkataan Joan.
"Loe ada revisi juga Jo. Bukannya dosen loe gak rumit ya". Chaca mengambil gelas jus yang dipesannya tadi dan meminumnya.
"Loe lupa. Kalau penilaian terakhir tetap dapat dosen killer itu. Jadi sebelum gue diprotes habis-habisan dan banyak revisi, gue antisipasi dong". Chaca tertawaan terbahak mendengar jawaban Joan.
Ponsel Chaca kembali bergetar. Chaca membuka pesan yang dikirim oleh Kalandra. Joan memperhatikan ekspresi Chaca yang berubah.
Om Alan
*Cha. Saya jemput ya. Kita makan malam bersama
Me
Maaf om. Chaca ada acara
Om Alan
Ah baiklah. Mmm..Boleh saya berkunjung ke apartemen kamu. Mama sangat merindukan kamu Cha
__ADS_1
Me
Boleh om. Tapi tidak untuk hari ini. Chaca sibuk hari ini
Om Alan
Baiklah. Terimakasih Cha. Jaga kesehatan dan jangan terlambat makan. Semangat untuk tugas akhirnya*
Chaca tersenyum sebelum menyimpan ponselnya. Joan tak banyak bertanya. Joan takut Chaca akan risih jika dia terus banyak bertanya.
"Tuh dua cunguk datang. Tampaknya tak mulus". Joan tertawa melihat kedatangan Sandra dan Mike. Chaca ikut tertawa melihat kedua sahabatnya itu.
"Sebal sebal sebal". Sandra menghentakkan kakinya sambil meletakkan tas diatas meja dengan kasar.
"Loe kenapa San". Chaca menarik tangan Sandra agar duduk disampingnya.
"Apa lagi kalau bukan dosen killer sontoloyo". Sandra merebut minuman milik Chaca. Sandra dan Chaca satu pembimbing. Chaca tertawa mendengar perkataan Sandra.
"Dasar loenya aja yang ngeyel dikasih tau. Gue udah nyuruh loe buat lebih teliti lagi kalau copy paste. Dia itu matanya tajam banget. Sayur titik salah aja dia tau". Joan mengomel pada Sandra. Karena Joan tau jika Sandra selalu membantah saat diberi arahan yang baik.
Mereka fokus mencari buku-buku yang bisa mereka jadikan bahan referensi. Terlampau fokus membuat mereka tidak melihat jam yang melingkar ditangan. Mereka baru sadar saat perut mereka sudah berbunyi minta makan.
"Gess makan yuk. Cacing gue demo". Mike berteriak kepada teman-temannya yang memang sedang berpencar.
"Ayolah. Gue juga lapar". Joan merangkul pundak Mike. Mereka segera menuju kasir untuk membayar buku-buku yang mereka beli.
Mereka keluar dari toko buku dan mencari tempat makan terdekat. Mereka ingin makan dikafe saja. Mereka asal saja memilih kafe untuk makan karena memang perut mereka sudah sangat lapar. Mereka masuk beriringan kedalam kafe. Mencari tempat duduk.
"Pesan apa gess". Chaca membuka buku menu makanan dan mulai memilih makanan dan minuman yang dia inginkan.
Sambil menunggu makanan mereka bercanda. Chaca benar-benar bisa tertawa lepas. Melupakan sejenak kepenatannya. Sahabat Chaca tidak mau membahas permasalahan perceraian Chaca dan Kalandra. Mereka menghargai privasi Chaca. Dan berusaha menghibur Chaca.
Disisi lain, Kalandra tengah berusaha meminta maaf kepada mamanya. Mama Adina yang kecewa hanya mendiami Kalandra. Papa Gerald tidak membantu Kalandra. Membiarkan sang outra berusaha sendiri.
__ADS_1
"Mah. Jangan diamkan Alan mah. Alan salah. Tapi jangan diamkan Alan seperti ini. Mama boleh memarahi Alan. Mama boleh memukul Alan mah". Kalandra duduk bersimpuh memegang kedua lutut mama Adina.
Mama Adina masih diam tak menanggapi. Kalandra sengaja tidak masuk kerja karena ingin menemani kedua orangtuanya. Dan fokus meminta maaf kepada mamanya.
"Lan, gimana. Apa Chaca mau bertemu dengan kita". Kalandra menatap papa Gerald sekilas.
"Mau pah. Tapi tidak untuk hari ini. Chaca sedang sibuk mengurus tugas akhirnya". Kalandra menjelaskan kepada papa Gerald sesuai apa yang ditulis dalam pesan Chaca.
"Baiklah. Papa akan keluar bersama mama. Kamu mau ikut". Papa Gerald mengajak Kalandra untuk keluar bersama. Mungkin bisa sedikit mencairkan suasana hati mama Adina.
"Ikut pah". Kalandra bergegas menyiapkan mobil. Papa Gerald merangkul pundak mama Adina. Kalandra duduk dibelakang kemudi dan papa Gerald duduk disampingnya.
Kalandra hanya patuh menjalankan mobil sesuai arahan papa Gerald. Mereka pergi ke restoran untuk makan malam. Resto mewah yang mereka pilih untuk makan malam ini. Mereka segera masuk dan duduk dimeja yang masih kosong sesuai arahan pelayan restoran tersebut.
Mereka menunggu pesanan makanan. Mama Adina hanya berbicara dengan papa Gerald. Kalandra berusaha untuk masuk kedalam pembicaraan mereka. Namun mama Adina bersikap cuek. Makanan pesanan mereka datang. Mama Adina tak pernah menanggapi setiap candaan Kalandra. Kalandra pasrah menghadapi sikap sang mama.
"Selamat malam om tante". Kalndra dan kedua orangtuanya terkejut dengan kedatangan Mela dan orangtuanya.
"Malam". Papa Kalandra yang menjawab sapaan Mela. Sedangkan Kalandra dan mama Adina hanya diam menatap.
"Kita bertemu kembali om tante. Maaf dipertemuan pertama kita kemarin, belum ada perkenalan secara baik". Papa Gerald tersenyum menanggapi perkataan Mela.
"Ah benar nak. Maafkan kami belum mengenalkan diri nak". Kedua orangtua Mela hanya diam dan memandang datar keluarga Kalandra.
"Mami, papi. Kenalkan ini Kalandra Aditya yang Mela sering ceritakan". Kedua orangtua Mela tersenyum mendengar perkataan putrinya.
"Wah ini pria yang menjadi idaman putri kami. Kenalkan saya papi Mela. Rustam dan ini maminya, Sinta". Orangtua Mela mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"Gerald papa Kalandra dan istri saya Adina". Mama Adina menghormati dan menghargai kedua orangtua Mela.
"Karena sudah saling mengenal, semoga kedepannya kita bisa saling akrab dan mungkin menjadi keluarga". Papi Mela tersenyum setelah mengatakan keinginannya.
"Semoga saja pak Rustam. Maaf kami tidak bisa mengajak bergabung keluarga pak Rustam. Mungkin lain waktu". Keluarga Mela tidak tersinggung dengan perkataan papa Gerald. Mereka mengangguk dan tersenyum menanggapinya.
__ADS_1
"Iya Pak Gerald. Lain waktu kita bisa saling berbincang lebih akrab". Keluarga Mela berpamitan dan segera menuju meja yang telah mereka pesan. Setelah kepergian keluarga Mela. Mama Adina semakin kesal.
"Tak sebanding dengan Chaca"...