
Setelah kedatangan Gwen dua hari yang lalu ke kantor Kalandra yang berakhir dengan pengusiran, ternyata tak membuat Gwen menyerah. Apalagi esok harinya mereka kembali dipertemukan karena kontrak kerjasama. Gwen semakin bahagia karena bisa bertemu dengan Kalandra setiap saat selama kontrak mereka masih berlangsung. Gwen selalu berusaha mendekati Kalandra. Bahkan dengan terang-terangan dihadapan para sahabatnya, Gwen mengatakan akan mendapatkan kembali hati Kalandra.
Suasana hati Kalandra sedang tidak baik-baik saja. Belum usai masalah Gwen, Kalandra mendapatkan kabar jika mamanya ingin merayakan ulangtahun bersama Chaca dan keluarganya. Situasi yang sangat menyulitkan Kalandra. Jujur membawa malapetaka, tidak jujur juga akan menjadi malapetaka untuknya.
Niat hati ingin pergi menenangkan diri sekaligus memanjakan si ubi bakar. Namun saat dipersimpangam jalan Kalandra memutar arah. Entah mengapa malam ini dia tidak ingin pergi ketempat biasa Jhon diurut. Kalandra terus menyusuri jalan yang malam ini tampak sangat lengang. Padahal ini malam Minggu. Tak ada satu kendaraan pun yang melintas kejalan itu.
"Biasanya rame banget. Kok tumben sepi". Kalandra mengendarai mobil sambil melihat kekanan dan kirinya. Bahkan warung tepi jalan pun enggan memamerkan dagangannya.
"Oh Tuhan, semoga tidak ketemu setan. Om jin, Tante Kun. Jangan ganggu Alan ya. Alan anak baik kok". Sejatinya Kalandra memang sangat takut kepada makhluk ghaib. Walaupun bertampang macho, jika ditampakkan wajah mas Popon dia akan ketakutan.
Laju kendaraan Kalandra terhenti karena salah satu bahu jalan nampak begitu ramai. Deru suara mesin motor saling beradu. Begitu juga sorak sorai dari para muda mudi yang berdiri ditepi jalan mengelilingi tempat tersebut, membuat Kalandra menjadi penasaran. Kalandra memarkirkan mobilnya dan berjalan menuju kerumunan.
"Oh balap liar". Setelah mengamati sesaat Kalandra baru mengetahui ada tempat balap liar dijalanan tersebut. Karena tak tau ingin pergi kemana, Kalandra memutuskan untuk melihat balap liar tersebut. Dia mencari posisi berdiri yang tepat agar bisa menonton dengan jelas.
"Wah malam ini bakalan seru gak. Apa kayak biasanya". Tanya salah satu penonton kepada kawannya yang kebetulan berdiri didekat Kalandra.
"Sepertinya seru. Gue dengar dari gengnya Didan, princess balap akan turun malam ini". Mendengar jawaban dari temannya, membuat orang tadi bersemangat. Ditambah beberapa dari mereka sangat antusias hanya dengan menyebut nama Princess balap.
"Woy serius Chaca mau datang. Bukannya kata Didan dia gak mau main lagi". Kalandra sempat terkejut ada oranglain yang menyebut nama Chaca disana.
"Nggak mungkin. Nama Chaca banyak didunia ini ". Gumam Kalandra didalam hatinya.
"Serius. Gue baru aja lihat dia datang. Sekarang lagi ngobrol sama Didan". Sebenarnya Kalandra tak ingin peduli. Karena dia yakin itu bukan Chaca yang dia kenal. Tapi lama-lama dia pemasaran juga. Apalagi gadis bernama Chaca itu membuat semua penonton antusias. Bahkan mereka bertaruh untuk kemenangan Chaca.
Kalandra mencoba berpindah tempat. Hanya untuk meyakinkan dirinya jika itu bukan Cacha yang dia maksud. Akhirnya pertandingan antara princess balap dan sang penantangnya. Bahkan hadiah yang dijanjikan sangat gila.
"Sehebat apa perempuan ini, kenapa mereka bisa bertaruh hingga segila itu". Kalandra bergumam pelan sambil menatap dua pembalap yang sudah siap beradu dijaluk start.
Mata Kalandra terperanjat saat melihat motor yang digunakan pembalap wanita dihadapannya. Kalandra masih menyangkal, tapi saat wanita itu menoleh kearahnya dan Kalandra menatap matanya, dia tahu pasti itu Chaca yang dikenalnya.
__ADS_1
"Chaca. Itu loe. Gue yakin itu loe. Mata itu gak bisa bohong". Karena Kalandra berdiri dibelakang dan mengenakan hoodie, ditambah lampu yang remang-remang. Sulit bagi Chaca mengenali Kalandra.
Kalandra bergeser agar bisa mengamati Chaca lebih jelas. Saat ini motor Chaca sudah melesat jauh. Beberapa penonton membubarkan diri dan membuat barisan lebih jauh agar aman melihat pertandingan balap motor liar malam ini. Kalandra melihat kesekitar sambil berjalan-jalan. Ada segerombolan orang yang membuat Kalandra tertarik. Karena orang itu nampak disegani.
Kalandra mendekat bermaksud ingin tahu siapa orang-orang itu. Bahkan saat jalan menuju kerumuman itu, Kalandra mendengar nama Didan disebut. Juga Chaca.
"Apakah orang itu bandarnya". Gumam Kalandra pelan dan terus berjalan. Hingga jarak mereka tak begitu jauh, tangan Kalandra ditarik seseorang.
"Om, kenapa bisa disini". Kalandra menoleh kearah suara yang pernah dia kenali.
"Kamu siapa. Apa kita saling kenal". Kalandra menatap orang bertopeng dihadapannya.
"Ikut gue om". Orang itu menarik lengan Kalandra sedikit menjauhi kerumunan. Setelah dirasa aman, orang itu membuka topengnya sesaat.
"Om ingat gue gak". Kalandra mengingat siapa orang itu. Dia merasa tak asing.
"Kamu Julian kan, sahabat Chaca". Julian mengangguk dan kembali menggunakan topengnya.
"Gak sengaja. Tadi saya sedang suntuk dan jalan-jalan. Malah nyasar sampai sini". Julian hanya diam saja menatap.
"Sebaiknya om segera pergi. Tempat ini gak cocok untuk om". Kalandra menyeringai mendengar Julian mengusir dirinya.
"Tak ada hak untuk kamu melarang saya". Belum sempat Julian menjawab, ada seseorang memanggil nama Julian.
"Jul. Loe sama siapa. Dicariin Didan". Julian segera pergi meninggalkan Kalandra. Kalandra berjalan kembali kearena. Dia kembali menonton pertandingan Chaca.
Satu jam lamaya pertandingan Chaca akhirnya selesai dan kembali Chaca menjadi sang juara. Chaca berjalan menuju Julian dan kawan-kawannya. Kalandra baru tahu jika Chaca juga menggunakan topeng. Kalandra diam menatap Chaca melewati dirinya.
"Ah princess kita memang tiada duanya". Sambutan Didan begitu antusias. Suara tepuk tangan mengiringi kemenangan Chaca.
__ADS_1
Kalandra terus menatap Chaca dari balik kerumunan. Tak lama Chaca dan Julian meninggaloan tempat tersebut. Walaupun tempat itu belum mengakhiri acara balap liar mereka. Kalandra mengikuti Chaca dan Julian. Merasa ada yang mengikuti, Chaca berhenti dan menoleh.
"Hai mantan. Apa kabar". Chaca terkejut melihat sipaa yang ada dihadapannya saat ini.
"Om. Om kenapa bisa disini". Kalandra tersenyum licik. Membuat Chaca menatapnya tajam.
"Persaan gue gak enak ini". Batin Chaca menatap Kalandra.
"Wah ternyata gadis cantik ini pandai main balap motor juga. Baru tahu saya". Chaca meminta Julian untuk menunggu dirinya ditempat biasa. Chaca ingin berbicara dengan Kalandra.
"Apa orangtua kamu tahu tentang hal ini". Chaca hanya diam melipat kedua tangannya didepan dada.
"Saya yakin mereka tidak tahu. Apalagi Dzaky. Sepertinya menyenangkan jika Dzaky tahu ini". Apa yang dikhawatirkan Chaca ternyata terjadi.
"Gak usah macam-macam deh om. Lagian om gak ada bukti". Kalandra kembali menyeringai.
"Kata siapa". Kalandra ternyata diam-diam merekam Chaca saat balap liar juga saat dia berbicara dengan Julian.
"Mau om apa". Chaca tahu jika manusia dihadapannya ini sedang meminta sesuatu yang setimpal.
"Gampang saja". Kalandra mendekati Chaca dan berbisik ditelinganya.
"Kita balikan". Setelah berbisik, Kalandra tersenyum tipis.
"Ogah". Chaca melangkah pergi meninggalkan Kalandra.
"Oke. Mungkin malam ini, Dzaky akan murka dengan kamu sayang". Chaca berhenti dan kembali berbalik mendekati Kalandra.
"Om menyebalkan". Chaca kembali berjalan menyusul Julian yang sudah menunggunya.
__ADS_1
"Terimakasih sayang. Kamu sekarang pacar saya lagi". Kalandra berteriak agar Chaca mendengar. Chaca diam tak menanggapi.