
"Mama, mama kenapa belum mau bangun. Chaca lusa berangkat. Mama janji mau anterin Chaca, temani Chaca disana selama satu Minggu. Mama bangun dong". Chaca tak hentinya berkomunikasi dengan mama Adina meskipun tak ada jawaban.
"Chaca tunggu didepan ya mah. Cepat bangun. Nanti Chaca kesini lagi". Karena terbatasnya waktu, Chaca harus segera keluar dari ruangan mama Adina dan kembali ke ruang tunggu.
Papa Gerald sudah dalam perjalanan. Kalandra sudah hampir dua jam meninggalkan Chaca dirumah sakit. Bahkan ponselnya tak bisa dihubungi. Chaca sudah mengirim pesan kepada orangtuanya dan juga Dzaky. Kedia orangtua Chaca akan kembali besok. Sedangkan Dzaky akan menyusul setelah pekerjaannya selesai.
Chaca sudah mulai mengantuk dan tanpa sadar dia memejamkan matanya sambil terduduk. Chaca tidak mengetahui jika saat ini dia sedang diawasi dan dijaga oleh anak buah Kalandra. Mereka terus menjaga Chaca dari kejauhan.
Kalandra tak tenang meninggalkan Chaca seorang diri dirumah sakit. Berkali-kali dia menghubungi anak buahnya untuk memastikan keadaan Chaca. Saat ini Kalandra sedang bersama dengan teman-temannya. Saat dia menemui Dzaky, teman-teman lainnya sedang berkumpul bersama. Kalandra pun menceritakan semuanya. Dan teman-temannya pun akan ikut membantu.
"Besok gue akan cari informasi tentang keluarga Agnes. Dan loe Ndra, usahakan intuk tetap mwmjaga tante Adina. Jangan sampai Agnes curiga". Damar memberikan usulan pertama. Mereka akan berbagi tugas.
"Damar benar. Dan jangan lupa keselamatan adik gue. Gue udah minta pengawal papa buat jaga Chaca tanpa sepengetahuan papa. Gue gak mau orangtua gue ikut kepikiran". Dzaky segera bergerak cepat untuk melindungi Chaca.
"Jadi gue cuma pantau dari rumah sakit aja. Apa kalian gak kerepotan". Kalandra ingin sekali terlibat apalagi ini menyangkut mamanya.
"Tenang saja. Loe tinggal terima beres. Kalau loe ikutan, yang ada nyawa Chaca dan Tante Adina ikut terancam. Dan loe Rud, sebisa mungkin bersikap biasa saja. Loe tetap kerja selama Kalandra dirumah sakit". Leo juga ikut andil dalam permasalahan Kalandra. Rudi mengangguk menyetujui saran teman-temannya.
"Ingat harus tetap santai dan terlihat wajar. Tadi gue udah hubungi pacar gue yang kerja dirumah sakit tempat Tante Adina dirawat. Gue minta tolong untuk ikut menjaga. Orang seperti Agnes lebih banyak nekadnya. Jadi kita harus prepare dari segala hal". Kekasih Leo seorang dokter. Dan kebetulan sedang bertugas dirumah sakit dimana saat ini mama Adina dirawat.
"Terimakasih. Gue gak tau bagaimana cara gue membalas kalian. Kalian masih tetap selalu ada disaat gue butuh". Kalandra memeluk sahabatnya satu persatu. Karena tak ingin lebih lama lagi, Kalandra memutuskan untuk segera ke rumah sakit. Dzaky menyusul Kalandra setelah beberapa saat Kalandra pergi.
"Rud, semoga saja cewek psikopat itu segera bisa kita bereskan. Gue jadi merasa bersalah sama Gwen. karena nuduh dia yang membuat mama jatuh". Rudi mendengarkan Kalandra sambil mengemudikan mobilnya.
"Ya minta maaflah kalau salah. Asal jangan minta balikan aja". Kalandra mencibir candaan yang dilontarkan Rudi.
__ADS_1
"Gaklah untuk balikan. Gue akan minta maaf kalau ketemu dia". Rudi hanya diam saja tak menanggapi. Dia tetap fokus melihat jalanan yang gelap.
"Jujur Ndra, gue masih penasaran deh. Kemana perginya mama Agnes. Kalau kata orang suruhan gue, dia belum meninggal. Tapi setiap ada yang menanyakan keberadaannya, selalu dikatakan sudah meninggal". Rudi memperoleh sedikit informasi mengenai Agnes dari orang yang disuruhnya. Meskipun belum lengkap, cukup membantu mereka.
"Iya loe benar. Bahkan kemanapun Agnes pergi selalu dengan papanya. Dan loe perhatiin gak ekspresi papanya. Setiap akan ambil keputusan hanya diam dan seperti ketakutan". Kalandra mengingat ekspresi wajah papa Agnes saat mereka bertemu untuk membahas kerjasama.
"Iya. Gue perhatiin itu. Awalnya gue anggap biasa saja. Apalagi perusahan itu memang atas nama Agnes. Tapi gak taunya memang ada sesuatu. Dan gue yakin kuncinya dipapanya Agnes". Kalandra mengangguk. Dia pun beranggapan sama. Jika bisa menemui papanya Agnes, kemungkinan mereka bisa mengatasi Agnes dengan mudah.
Ponsel Kalandra berdenting, pesan masuk dari anak buahnya cukup mengejutkan. Bahkan Kalandra sudah meminta memastikan jika orang yang mereka lihat termasuk anak buah Dzak atau bukan.
"Rud. Buruan Chaca dalam bahaya. Alex ngasih tau ada oranglain yang mencoba menculik Chaca". Rudi teekejut dan segera menambah kecepatan kendaraannya.
Setibanya dirumah sakit, Alex sudah menunggu Kalandra dan Rudi di lobby. Bahkan beberapa anak buah Dzaky juga tampak disana. Mereka menyamar agar tidak diketahui Agnes.
"Dimana Chaca". Kalandra panik melihat beberapa anak buahnya berada diluar.
Didalam mobil milik Alex, sudah ada seorang pria berbadan kekar. Alex menutup mata dan mengikatnya dengan erat. Tak lupa beberapa orang menjaganya. Kalandra masuk kedalam mobil Alex untuk mencaritahu siapa dia.
"Siapa yang menyuruhmu". Kalandra sudah sangat emosi ketika bertemu orang itu.
"Saya tidak mengenal namanya tuan. Saya hanya diberikan foto untuk menculik nona yang sedang berada dirumah sakit". Kalandra dan Rudi tak mempercayainya dan kembali bertanya.
"Jangan berbohong. Jika kau jujur, saya akan meringankan hukuman kau". Kalandra tak ingin mengotori tangannya dengan menghajar orang itu.
"Saya sudah mengatakan yang sejujurnya tuan. Saya hanya disuruh oleh bos saya untuk menculik nona itu. Dan hanya bos saya yang tahu siapa orang yang menyuruh kami. Tolong ampuni saya tuan". Kalandra meminta anak buahnya untuk menggeledah pakaian orang itu. Dia ingin mencari informasi melalui ponselnya.
__ADS_1
"Tuan, saya sudah menemukan ponselnya". Alex menyerahkan ponsel itu kepada Kalandra. Kalandra meminta tolong Rudi untuk memeriksa isinya.
"Saya akan masuk. Kamu amankan saja dia ditempat biasa. Dan segera cari tahu siapa yang menyuruhnya". Alex mengangguk paham. Kalandra berjalan menuju ruang ICU. Tampak Chaca masih terlelap sambil duduk. Didekat Chaca sudah ada beberapa orang berdiri menjaganya. Mereka memperkenalkan diri sebagai anak buah papa Rasyid.
Kalandra meminta mereka untuk bersembunyi dan sedikit menjauh. Karena jika Chaca terbangun dan melihat mereka, Chaca akan bingung dan cemas. Kalandra duduk disamping Chaca.
"Karena saya, kamu dalam bahaya Cha. Maafkan saya kembali merepotkan kamu". Kalandra bergumam pelan agr Chaca tak terusik.
Chaca tiba-tiba bangun karena merasakan kehadiran seseorang. Dia melihat Kalandra yang duduk disampingnya dan juga Agnes yang sudah berada disana.
"Makanlah dulu Ndra. Ayolah ini masakanku sendiri. Kamu pasti belum makankan". Agnes datang dengan membawakan makanan. Dia terus membujuk Kalandra agar mau memakannya.
"Om". Lirih suara Chaca khas bangun tidur. Kalandra menoleh karena mendengar Chaca memanggil namanya.
"Sudah bangun. Kamu lelah". Chaca hanya mengangguk saja. Mata Agnes terus menatap Chaca tak suka.
"Mama". Kalandra menggeleng ketika Chaca menyebut namanya. Chaca pun kembali terdiam.
"Mau makan. Kamu belum makan dari tadi". Karena merasa lapar, Chaca pun mengangguk.
"Sebentar saya hubungi Rudi dulu". Agnes kesal karena Kalandra sangat perhatian dengan Chaca. Agnes masih penasaran dengan Chaca. Sampai detik ini Agnes kesusahan mencari tahu identitas Chaca dan siapa Chaca untuk Kalandra.
"Apakah dia gadis yang menjadi tunangan Kalandra. Tapi masak masih anak kecil gini. Gue juga belum pernah lihat wajahnya. Jika benar dia gadis itu, akan mudah bagiku merebut Kalandra". Agnes berkata dalam hati dan terus menatap Chaca.
Kalandra sudah meminta Rudi untuk memberikan makanan. Sambil menunggu, Kalandra mengajak Chaca untuk berbicara. Itu membuat Agnes kesal. Agnes mencoba juga untuk mencari perhatian Kalandra, dan selalu saja tidak direspon oleh Kalandra. Kekesalan dan kebencian Agnes semakin menjadi kepada Chaca.
__ADS_1
"Awas kau. Tak akan kubiarkan".