
"Maaf mengganggu. Apa benar kamu yang namanya Chaca”. Seseorang datang menghampiri Chaca yang sedang berada ditoko buku seorang diri.
"Ya benar. Maaf anda siapa ya. Apa pernah kita bertemu sebelumya". Chaca terkejut karena seseorang datang menghampiri dirinya sedangkan Chaca merasa tak mengenalnya.
"Mungkin kita belum saling mengenal, tapi saya tahu banyak tentang kamu". Chaca semakin terkejut mendengar jawaban wanita didepannya yang kemungkinan memiliki usia sama dengan Chaca.
"Benarkah. Tapi saya baru bertemu kamu sekarang". Chaca masih sangat kebingungan dengan datangnya wanita itu secara tiba-tiba.
"Kamu ada waktu tidak. Kalau boleh saya ingin bicara sebentar dengan kamu". Wanita itu meminta waktu Chaca untuk berbicara. Karena Chaca juga penasaran, Chaca pun menyetujuinya.
"Boleh. Taoi saya bayar dulu. Nanti kita cari tempat yang nyaman untuk bicara". Wanita itu mengangguk dan mengikuti langkah Chaca menuju kasir. Usai membayar mereka berjalan keluar dari toko buku dan mencari teman yang nyaman untuk berbincang. Tak jauh dari toko buku, terdapat sebuah taman yang cukup tenang untuk berbincang-bincang.
"Kita duduk disini saja ya". Tawar Chaca kepada wanita tadi setelah mereka masuk kedalam area taman.
Suasana kembali hening. Hanya terdengar suara tawa anak-anak yang sedang bermain ditaman itu. Chaca sedikit berdehem agar mencairkan suasana dan mereka nyaman dalam berbicara.
"Sebelumnya kenalin nama aku Sania. Kamu pasti bingung kenapa aku bisa mengenalmu". Wanita itu memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.
"Iya. Saya bingung karena sepertinya kamu memang benar-benar mengenal saya". Chaca menatap Sania tulus. Tampak raut sedih diwajah Sania.
"Kamu teman Joan kan". Pertanyaan Sania kembali mengejutkan Chaca.
"Kamu juga mengenal Joan". Sania mengangguk. Wajah Sania kembali sendu. Chaca bahkan melihat mata Sania mulai berembun.
__ADS_1
"Joan teman saya sejak sekolah. Kami masih berteman baik sampai sekarang walaupun berbeda kampus. Bahkan saya juga tinggal disatu gedung yang sama dengan Joan". Chaca diam mendengarkan setiap perkataan Sania.
"Bukan hanya saya, masih ada tiga orang lagi teman Joan yang mungkin kamu tidak kenal. Kami sering hang out bersama. Clubbing maupun party sejenisnya sudah sering kami lakukan". Chaca merasa itu bukan Joan yang dia kenal. Karena Joan yang dikenalnya tidak pernah seperti itu.
"Maaf Sania. Mungkin Joan kita berbeda. Joan teman saya anak baik. Dia tidak pernah party ataupun clubbing seperti yang kamu katakan. bahkan dia tidak bisa minum alkohol". Sania tersenyum tipis. Sania mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto kepada Chaca.
"Ini kan. Christopher Joan. Benar bukan". Chaca menggeleng. Dia tak percaya jika Joan seperti itu.
"Itu tidak mungkin. Joan tidak pernah melakukan hal seperti yang kamu katakan jika sedang bersama kami". Sania kembali tersenyum. Sania menghela nafasnya sebelum kembali bercerita.
"Dihadapan kalian, Joan menjadi Joan yang lain. Tapi dihadapan kami, Joan menjadi dirinya sendiri. Joan selalu meluangkan waktu untuk hang out dan party bersama kami jika kalian tidak bisa meluangkan waktu untuknya. Dan Joan selalu bercerita tentang kamu". Sania menatap Chaca dengan senyuman tipisnya. Setitik air mata tampak disudut mata Sania.
"Ada apa. Kenapa kamu menangis. Saya yakin kedatangan kamu mencari saya karena ada maksud tertentu". Mendadak Sania menunduk dan menangis terisak-isak. Chaca segera memeluk tubuh Sania untuk menenangkannya.
"Apa yang terjadi. bantuan seperti apa yang kamu inginkan dari saya Sania". Sania menatap Chaca penuh harap. Chaca membantu menghapus air mata Sania.
"Saya hamil Cha. Anak Joan". Jika hari itu hujan, pasti akan ada petir menyambar dan menggelegar. Itulah reaksi Chaca saat pertama kali mendengar berita itu.
"Apakah Joan sudah tau Sania". Sania mengangguk pelan. Sania mengeluarkan surat dari rumah sakit tempat dia mengecek kehamilannya. Chaca membuka perlahan surat itu.
"Sudah. Saya sudah memberitahu Joan satu jam setelah hasil pemeriksaan ini keluar Cha". Chaca kembali menggenggam tangan Sania untuk menguatkan.
"Bagiamana reaksi Joan. Dia mau bertanggung jawab dengan kandungan kamu kan". Chaca yakin Joan tidak sebrengsek itu. Karena Joan yang dia kenal sangatlah bertanggung jawab.
__ADS_1
"Tidak. Dia tidak mau bertanggung jawab. Dia memintaku untuk menggugurkan atau mencari pria lain untuk menikah denganku". Sania semakin menangis. Chaca kembali memeluk tubuh Sania. Sania melepaskan pelukan Chaca dan kembali berbicara.
"Satu Minggu yang lalu Joan mengatakan jika kalian akan segera bertunangan setelah wisuda nanti. Bahkan Joan mengatakan jika kedua orangtua kalian sudah setuju". Chaca mengerutkan keningnya. Chaca tak merasa ada pertemuan keluarga.
"Cha, saya tau kamu belum lama berpisah dengan suami kamu. Bukankah tidak baik jika kamu kembali menikah dalam waktu dekat. Tolong bantulah untuk menyadarkan Joan dan bisa menerimaku dan anak ini". Sania sangat memohon bantuan kepada Chaca.
"Sudah berapa bulan usianya". Chaca mencoba mengusap perut Sania.
"Jalan dua bulan. Aku berharap Joan segera menerima kami sebelum perut ini semakin membesar Cha". Chaca masih mengusap perut Sania dengan senyuman.
"Apakah kalian sering melakukannya". Sania menunduk mengikuti gerakan tangan Chaca yang mengusap perutnya.
"Tidak. Tapi ini kedua kalinya. Dan Joan pria pertama yang melakukan bersamaku". Chaca mendongak menatap dalam Sania.
"Iya, Joan melakukan pertama kali tanpa sengaja saat kami usai berpesta merayakan kelulusan. Dan ini kali kedua. Setelah malam itu dia melihat kamu bersama mantan suami kamu dan keluarga sedang makan malam. Joan sangat cemburu. Kami pergi ke club dan Joan lepas kendali. Dan asal kamu tau, disetiap permainan kami hanya ada namamu yang dia sebut". Chaca hanya bisa diam tertunduk. Dia tidak tahu harus bagaimana.
"Apakah kamu mencintai Joan. Sebelum ini. Maksud saya sebelum Joan mengenal saya". Chaca hanya ingin memastikan perasaan Sania kepada Joan sebenarnya.
"Ya. Sudah sejak dulu saya mencintainya. Tapi kami tidak bisa bersama. Karena Joan selalu berkata jika kita hanya bersahabat dan tidak bisa melebihi itu. Joan selalu berganti kekasih dan saya mengenal mereka. Mereka selalu bermesraan didepanku. Saya selalu menahan rasa sakitku agar persahabatan kami tidak hancur. Tapi untuk kali ini maaf jika saya egois. Saya tak ingin menggugurkan anak ini. Saya mohon Cha bantu saya". Chaca memeluk Sania. Mengusap punggungnya lembut.
"Saya akan bantu sebisa saya. Dan sejujurnya, saya dan Joan hanya sekedar teman saja. Saya juga tidak berniat untuk menjalin hubungan dengan Joan. Memang Joan berkali-kali menyatakan perasaan kepada saya. Dan saya tidak pernah menerimanya lebih dari seorang teman". Chaca tersenyum lembut kepada Sania. Chaca mengusap perut Sania kembali.
"Sayang, tenang diperut mama kamu nak. Jangan bandel. Jangan membuat mama sedih. Tante janji akan mempertemukan kamu dengan papa kamu. Sabar ya sayang". Sania menangis bahagia mendengar perkataan Chaca kepada janin didalam perutnya.
__ADS_1