Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 47


__ADS_3

"Kita mau kemana om. Ini bukan kearah hotel". Seperti hari sebelumnya, Kalandra menjadi sopir pribadi Chaca selama.dia masih menemani mama Adina.


"Kesuatu tempat dulu ya Cha". Chaca hanya diam tak menanggapi. Kalandra mengajak Chaca pergi ke sebuah resto karena akan menemui kliennya. Kalandra sudah memberitahu mama Adina jika membawa Chaca untuk ikut meeting untuk menghemat waktu. Sedangkan mama Adina memilih beristirahat di hotel.


"Om Alan lapar ya". Kalandra hanya tersenyum tipis dan segera keluar dari mobil diikuti Chaca. Kalandra mengajak Chaca untuk ikut masuk. Awalnya Chaca ingin duduk di luar kafe karena dia tidak merasa lapar, namun Kalandra mengajaknya masuk dan memberitahu jika dia ada meeting.


Kalandra berjalan menuju tempat dimana kliennya sudah menunggu. Sudah ada dua orang wanita cantik menunggu disalah satu meja.


"Selamat sore, maaf lama menunggu". Kalandra menyapa media wanita itu. Salah satu dari wanita itu menyambut hangat kedatangan Kalandra.


"Tidak apa-apa pak Kalandra. Mari silahkan duduk". Kalandra menarik salah satu kursi untuk Chaca. Klien Kalandra terus memperhatikan sikap manis Kalandra.


"Duduk Cha". Bisik Kalandra meminta Chaca untuk duduk. Chaca tersenyum melihat klien Kalandra dan segera duduk dikursi samping Kalandra.


"Wah sepertinya gadis ini spesial sekali ya pak Kalandra. Baru pertama kali saya bertemu dengannya. Setiap meeting anda selalu bersama pak Rudi". Chaca hanya diam menunduk. Kalandra tersenyum menyapa Chaca yang menunduk.


"Anda bisa saja Bu Cintya. Mari kita mulai saja meeting kita". Kalandra segera mengalihkan pembicaraan mereka dan memulai pekerjaan mereka.


Chaca hanya diam mendengarkan percakapan mereka. Dia tidak begitu memahami apa yang sedang mereka bicarakan. Karena merasa jenuh, Chaca meminta ijin kepada Kalandra untuk pergi keluar.


"Om, gue keluar dulu ya. Disini bikin ngantuk". Chaca berbisik pelan ditelinga Kalandra.


"Mau kemana". Kalandra bertanya kepada Chaca dengan cara yang sama dilakukan Chaca.


"Teras depan. Bolehkan". Kalandra mengangguk mengijinkan Chaca untuk keluar.


"Maaf, saya ijin keluar dulu". Chaca berpamitan kepada klien Kalandra. Cintya tersenyum dan mempersilakan Chaca menggunakan telapak tangannya.


Kalandra dan Cintya melanjutkan pekerjaan mereka. Chaca berjalan menuju bagian depan resto yang juga dipasangi kursi untuk pengunjung. Chaca menghirup udara segar menghilangkan kantuknya.

__ADS_1


"Ahhh, segar banget udaranya". Chaca bergumam pelan sambil melihat langit yang cerah.


Kalandra masih sibuk dengan pekerjaannya. Sesekali Kalandra menoleh kearah Chaca diluar. Chaca sudah memesan kue dan coklat hangat. Sambil menunggu Kalandra, Chaca mengerjakan tugasnya.


"Baik pak Kalandra saya setuju dengan kerjasama kita. Dan segera kita tentukan kapan akan dimulai kerjasama kita". Kalandra berhasil mendapatkan kerjasama dengan Cintya.


"Terimakasih bu Cintya sudah percaya kepada perusahaan saya". Mereka saling berjabat tangan sebagai tanda mereka telah menjalin kerjasama.


"Sepertinya anda harus segera menyusul gadis manis diluar. Sebelum ada yang mengambilnya". Kalandra menoleh kearah Chaca. Dan benar saja ada beberapa pemuda sedang mendekati meja Chaca.


"Saya akan segera mengatur pertemuan kita untuk memulai kerjasama ini. Saya permisi dulu Bu Cintya". Kalandra berdiri dan diikuti oleh Cintya. Setelah berjabat tangan, Kalandra segera menyusul Chaca.


Contya tersenyum melihat reaksi Kalandra yang segera mendatangi Chaca saat ada yang ingin mendekatinya. Asisten Cintya juga ikut tersenyum melihat sikap Kalandra.


"Pak Kalandra berbeda ya sama yang sebelumnya kita bertemu". Cintya memang kagum dengan Kalandra. Masih muda sudah sukses.


Kalandra segera menghampiri Chaca dan segera menyapanya. Beberapa pemuda menatap sinis Kep Kalandra yang tiba-tiba datang.


"Cha". Karena duduk Chaca membelakangi arah Kalandra, Chaca segera menoleh.


"Om, sudah selesai". Kalandra duduk disamping Chaca dan membuat para pemuda segera pergi menjauhi meja Chaca.


"Sudah. Kamu sudah selesai". Kalandra melihat meja Chaca. Minuman dan piring kue dihadapannya sudah kosong.


"Hemm". Chaca mengangguk dan berdehem menjawab Kalandra.


"Yuk, mama sudah menunggu". Chaca berdiri hendak meninggalkan resto, namun Kalandra mencegahnya. Kalandra meminta Chaca untuk kembali duduk.


"Duduk sebentar. Saya ingin bicara sebentar". Chaca kembali duduk ditempat semula.

__ADS_1


"Ada apa om". Kalandra memutar badannya agar bisa melihat kearah Chaca.


"Cha, jika saya mengatakan ini. Saya yakin kamu akan marah. Tapi cuma ini yang bisa saya lakukan Cha". Chaca terus menatap Kalandra tanpa menjawab perkataan Kalandra.


"Sebenarnya jantung mama kembali lemah beberapa Minggu ini. Dan sebelum kesini mama kembali dirawat dirumah sakit". Chaca terkejut mendengar perkataan Kalandra mengenai mama Adina.


"Apa mama sudah sembuh om. Kenapa om ijinkan kesini jika mama baru saja sehat". Kalandra diam menunduk memainkan ujung jarinya.


"Karena kamu Cha. Mama terus merengek ingin menemui kamu. Bahkan mama sempat berkata, dia akan pergi dengan tenang jika sudah bertemu denganmu". Chaca membeku mendengar perkataan Kalandra mengenai mama Adina.


"Cha, bolehkan kita kembali menjalin hubungan. Walaupun itu diatas kertas. Saya ingin melihat mama bahagia". Chaca menatap tajam Kalandra setelah mendengar permintaan Kalandra.


"Maksud om, kita pura-pura bertunangan lagi". Kalandra menggeleng mendengar dugaan Chaca.


"Bukan tunangan. Tapi menikahlah dengan saya. Kamu jangan takut pernikahan kita ini pernikahan kontrak. Agar mama mau berobat secara rutin". Chaca membulatkan matanya karena terkejut.


"Om waras kan. Chaca gak mau om. Om carilah wanita lain untuk om ajak menikah kontrak dengan om". Chaca menolak permintaan aneh Kalandra.


"Jika mencari dengan mencari wanita lain bisa menyelesaikan masalah ini, saya tidak akan jauh-jauh kemari Cha. Kamu kan tau mama sangat menyayangi kamu. Bukan wanita lain". Chaca menghela nafasnya. Dia tidak ingin kembali menjalin hubungan yang penuh dengan kebohongan itu.


"Kamu bisa kan Cha menolong saya untuk kali ini". Pikiram Chaca hanya mama Adina. Karena mama Adina juga mama Chaca yang dia sayangi.


"Baiklah. Buatlah surat perjanjian om. Chaca minta untuk tidak ada kontak fisik diantara kita. Dan berapa lama kontrak kita". Kalandra begitu bahagia ketika Chaca menyetujui permintaannya.


"Segera mungkin aku akan membuatnya. Terimakasih sekali lagi mau membantu saya Cha. Ini benar-benar yang terkahir saya meminta bantuan kamu. Chaca hanya mengangguk


Mereka segera kembali ke hotel karena mama Adina sudah menunggu mereka. Mama Adina nampak bahagia melihat kedatangan Chaca.


"Mah, Kalandra sudah melamar Chaca. Dan segera mungkin kami tindaki...

__ADS_1


__ADS_2