
"Apa putus. Loe gak bercanda kan merica". Dzaky memegang kedua pundak adik tercintanya yang sedang tertunduk menangis.
"Apa gue kelihatan bercanda bang". Chaca menangis sesenggukan dihadapan Dzaky.
"Kenapa kalian bisa putus. Bukannya kalian baik-baik saja. Kemarin juga habis jalan berdua kan". Dzaky masih belum yakin jika adiknya mengakhiri hubungannya dengan sahabatnya sendiri.
"Kak Alan. Selingkuh". Dzaky melepaskan cengkraman dipundak Chaca dan menatap wajah sang adik.
"Dasar brengsek Kalandra. Awas loe. Gue habisin". Dzaky berjalan cepat menuju garasi dan segera mengendari mobilnya mencari Kalandra.
Dzaky tahu dimana keberadaan Kalandra. Dia segera menuju apartemen sahabatnya karena ini weekend. Kalandra jarang sekali pergi jika weekend. Dengan amarah yang memuncak, Dzaky mendatangi unit Kalandra.
Berkali-kali Dzaky memencet bel apartemen Kalandra, masih saja belum ada yang membuka pintu tersebut. Dzaky bahkan menggedor kuat pintu unit Kalandra. Tak lama pintu terbuka. Yang membuat Dzaky semakin kesal adalah orang yang membukakan pintu tersebut. Seorang wanita dengan pakaian seksinya.
"Bang***t. Anj***g. Keluar loe Kalandra". Dzaky berteriak kencang didalam unit apartemen Kalandra.
"Kalandra Aditya. Keluar loe. Sebelum gue bakar apartemen loe". Perempuan yang membukakan pintu tadi mendekati Dzaky.
"Loe siapa. Keluar loe sebelum gue panggil security". Dzaky mendorong kasar wanita tadi. Tak peduli perempuan tadi berteriak kesakitan.
Kalandra berlari dengan bertelanjang dada dan celana boxer. Dzaky yang melihat itu semakin kalap. Dia berlari dan menghajar Kalandra tanpa berhenti.
"Bangs***t. Apa salah adek gue. Kenapa loe lakuin ini. Loe gak tau terima sudah dibantu tapi balasan loe kayak anj***ng". Kalandra diam tak membalas dan menjawab.
Perempuan yang berada di apartemen Kalandra segera menarik tubuh Dzaky. Dengan sekuat tenaga wanita itu berusaha menjauhkan Dzaky dari atas tubuh Kalandra.
"Sudah berhenti. Gak lihat lawan loe udah gak berdaya. Lama-lama ma**i". Dzaky yang ditarik lengannya kembali menghempaskan tangan wanita itu.
__ADS_1
"Lepaskan tangan gue. Dan loe Kalandra Aditya, jangan pernah lagi menemui adik gue". Dzaky pergi meninggalkan apartemen Aditya.
"Loe gapapa. Gue obatin dulu". Setelah Dzaky pergi, perempuan itu membantu Kalandra dan mengobati lukanya.
Dzaky melajukan mobilnya dengan kencang. Dia bingung bagaimana jika tiba-tiba kedua orangtuanya pulang dan menanyakan perihal hubungan Chaca dan Kalandra. Dzaky belum ingin pulang kerumah. Dia berusaha meredam emosinya.
Disaat sang Abang sedang bingung mencari solusi, Chaca asyik menonton kartun sambil tertawa lepas. Bahkan bahagianya bertambah saat Kalandra mengirimkan pesan singkat. Rencana mereka sudah berhasil. Tanpa Kalandra memberitahu Chaca apa yang sebenarnya terjadi. Kalandra hanya bercerita jika Dzaky marah dan menghajar dirinya hingga babak belur.
Sebagai rasa simpati Chaca kepada Kalandra, Chaca mentransfer sejumlah uang untuk biaya pengobatan Kalandra. Kalandra menolak, tapi Chaca mengancam akan memberitahukan yabg sebenarnya kepada Dzaky.
"Akhirnya gue bebas. Yuhuuuuu". Chaca berlonjak-lonjak bahagia. Chaca lupa dengan kedua orangtuanya.
Menjelang malam Dzaky kembali kerumah. Tak lupa dia membawakan makanan untuk Chaca. Dzaky tak merepotkan Chaca saat hati Chaca sednag tidak baik-baik saja. Dzaky menyiapkan makanan yang dibawanya diatas piring. Dia segera menemui Chaca dikamar dengan membawa dua piring makanan.
"Cha, makan dulu yuk. Abang sudah belikan kamu makanan". Chaca diam tak merespon. Pandangannya lurus kedepan memandang layar televisi dikamarnya.
"Aduh apaan si Marjuki. Sakit tau". Mendengar suara Chaca yang mulai nampak ceria, membuat hati Dzaky cukup tenang.
"Makan dulu. Jangan karena patah hati terus loe lupa makan yang ada ntar loe sakit gue gak ada waktu buat ngurusin loe, lama-lama koid deh loe Cha". Chaca memukul Dzaky menggunakan guling.
"Loe pengen gue cepat koid. Abang gak guna emang". Dzaky hanya tertawa mendengar ocehan Chaca.
"Jangan hilangkan senyum itu Cha. Abang akan selalu ada buat loe". Dzaky berbicara dalam hatinya.
Dzaky menemani Chaca makan dikamar Chaca sambil bercanda. Seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Bahkan malam ini Dzaky berniat menemani Chaca tidur dikamarnya. Sejenak Dzaky akan melupakan semua. Dan akan kembali memikirkan jawaban apa yang akan dia berikan ketika kedua orangtuanya pulang nanti.
Disaat Chaca tidur dengan nyenyaknya, Kalandra sedang berada diclub tempat biasa dia menuntaskan segala hasratnya. Kali ini Kalandra pergi tanpa Rudi. Dia sudah hampir dua puluh menit berada diruangan yang dipenuhi dentuman musik sangat kencang. Bau alkohol menyebar di seluruh ruangan bercampur dengan aroma parfum yang beraneka ragam.
__ADS_1
"Hai. Lama gak kesini. Tumben sendirian". Para wanita yang bekerja disana sudah banyak yang mengenal Kalandra. Salah satu dari mereka kini mendekati Kalandra.
"Iya lagi sibuk". Kalandra menarik tangan gadis tersebut dan mendudukkannya diatas pangkuan.
"Aku kangen loh sama si sosis jumbo berurat". Tangan perempuan itu mulai tak bisa diam. Meraba dengan liar.
"Benarkah". Kalandra menanggapi dengan senyuman disudut bibirnya.
Kalandra menikmati setiap sentuhan wanita itu. Dia tidak menolak atau membalas. Bahkan saat tangan wanita itu meraba bagian sensitif miliknya, Kalandra diam menikmati sambil meminum segelas wine. Mata Kalandra tetap lurus menatap para gadis yang sedang menari dihadapannya.
"Kenapa wajah kamu. Habis berantem". Wanita itu ingin meraba wajah Kalandra, namun ditepisnya.
"Diam. Lakukan tugasmu saja". Kalandra tetap santai saat wanita itu kembali melakukan pekerjaannya bahkan dengan sengaja menggesekkan slebor seksinya diatas sarang sosis jumbo berurat.
"Wow. Dia mulai bangun ini. Mau tetap disini atau room". Kalandra kembali dengan senyum andalannya yang cukup membuat orang takut.
"Tiga kali lipat kalau loe berani main disini". Wanita itu cukup terkejut dengan tantangan yang Kalandra berikan.
"Siapa takut. Let's play baby". Wanita itu mulai turun dari pangkuan Kalandra. Dia meraba-raba paha dan kaki Kalandra dengan gaya sensual.
Walaupun disekitar Kalandra penuh dengan manusia yang asyik berjoged, mereka tak peduli dengan apa yang sekarang Kalandra lakukan. Gadis malam itu sedang asyik bermain dengan sosis jumbo berurat Kalandra. Bahkan dimeja tak jauh dari Kalandra duduk, ada yang melakukan hal lebih daripada apa yang Kalandra lakukan.
Sambil menikmati wine, Kalandra menikmati apa yang wanita malam itu saat ini dia kerjakan. Karena terlalu bernafsu, wanita itu kehilangan kendali. Si kembar Samantha dan Rachel ikut unjuk gigi. Kalandra hanya menyeringai saja. Beberapa pengunjung disamping Kalandra ikut menikmati pemandangan gratis dari Samantha dan Rachel.
"Sudah cukup. Ini bayaran loe. Jangan lupa bersihkan". Karena telah terjadi banjir lahar yang cukup deras, Kalandra segera mengakhiri permainannya. Tak lupa wanita itu harus membersihkan sisa-sisa pekerjaannya.
"Wah sering-sering saja kesini baby. Gak perlu keluar keringat banyak, dapatnya banyak. Thanks baby". Kalandra hanya diam tak menjawab. Wanita itu dimintanya untuk segera pergi.
__ADS_1