
Hari yang telah dijanjikan oleh Chaca untuk menemui keluarga Joan. Sebelum adanya pertemuan, Dzaky dan Kalandra memberitahukan kepada kedua orangtua mereka. Mereka meminta bantuan dan dukungan dari kedua orangtua mereka. Awalnya mereka terkejut mendengar Dzaky menjelaskan semuanya. Mereka mengerti dan mau membantu.
Chaca sudah menunggu Joan dan keluarganya. Chaca sudah mempersiapkan dirinya. Kedua orangtua Chaca juga ikut menunggu bersama. Tak berselang lama Joan dan keluarganya datang.
Ting Tong
Suara bel pintu cukup membuat mereka gugup sesaat. Mama Chaca menenangkan sang putri. Begitu juga papa Rasyid. Mata mereka seolah berkata, semua akan baik-baik saja. Mama Chaca berjalan menuju pintu dan membukakan pintu untuk tamu mereka.
"Selamat siang". Ucap Mama Joan setelah pintu terbuka lebar.
"Selamat siang. Mari silahkan masuk". Mama Chaca mempersilahkan keluarga Joan untuk segera masuk kedalam rumah. Wajah Joan berbinar mendapatkan sambutan hangat dari keluarga Chaca.
"Mari pak, bu. Silahkan duduk". Mama Chaca mempersilahkan tamunya duduk. Papa Rasyid segera menuju ruang tamu. Mereka sedari tadi menunggu diruang makan.
"Wah sepertinya ada tamu istimewa siang ini Mah". Sambut papa Rasyid kepada para tamunya dengan hangat. Joan dan kedua orangtuanya kembali berdiri dan menyalami papa Rasyid.
"Selamat siang pak. Perkenalkan saya Johan papa dari Joan. Dan ini istri saya Wida". Mereka saling memperkenalkan diri. Karena ini memang kali pertama mereka saling bertemu.
"Saya Rasyid dan ini istri saya. Salam kenal pak,bu dan nak Joan. Mari silahkan duduk". Mereka kembali duduk. Chaca masih menunggu didalam dan belum menemui Joan sebelum papa Rasyid memanggilnya.
"Terimakasih atas sambutan hangatnya pak. Maksud kedatangan kami sekeluarga datang kemari, pertama untuk saling mengenal karena memang saya baru pertama kali bertemu dengan bapak dan keluarga. Mungkin begitu juga dengan bapak Rasyid sekeluarga". Papa Joan tersenyum membalas senyuman dari papa Rasyid. Beliau menjeda sesaat perkataannya dan kembali melanjutkan.
"Yang kedua. Sebenarnya saya sendiri bingung bagaimana cara mengatakannya. Joan, putra saya mendadak mengatakan ingin kami melamarkan putri bapak. Sedangkan setau kami selama ini Joan tidak pernah memiliki hubungan dengan wanita manapun. Jadi, ijinkan kami meminang putri bapak untuk putra kami Joan". Papa Joan langsung mengatakan inti dari kedatangannya menemui keluarga Chaca.
"Saya terima dengan baik niat bapak sekeluarga untuk kita saling mengenal. Walaupun memang ini kali pertama kita saling bertemu. Saya sendiri juga bingung. Chaca belum pernah mengenalkan saya pria manapun. Dan sekarang ada yang melamarnya. Sebelumnya saya ingin bertanya kepada nak Joan". Papa Rasyid menatap Joan dengan senyuman penuh arti.
"Apa om". Jawab Joan tanpa ragu sedikitpun. Dengan penuh kepercayaan diri, Joan siap menjawab.
"Nak Joan sudah mengenal Chaca berapa lama". Papa Rasyid masih menatap Joan intens.
"Sudah sejak awal masuk kuliah om". Jawab Joan tegas. Dan memang mereka saling mengenal semenjak lama.
"Oh begitu. Jika mengenal putri saya sejak lama, pastinya nak Joan tau statis Chaca apa. Karena saya yakin Chaca tidak pernah menutupi statusnya itu". Joan berkali-kali mengedipkan matanya. Dia lupa memberitahukan kepada orangtuanya jika Chaca sudah pernah menikah.
__ADS_1
"Su-sudah om". Sedikit gugup saat Joan menjawab pertanyaan papa Rasyid. Kedua orangtua Joan hanya bingung mendengar percakapan putranya dengan calon besan mereka.
"Lalu mengapa nak Joan masih melanjutkan niat melamar putri saya". Joan semakin gugup. Kedua orangtuanya sudah menatap Joan dengan beribu pertanyaan.
"Maaf saya menyela. Maksudnya bagaimana pak Rasyid. Status apa ya". Papa Joan segera menyela sebelum Joan berbicara. Chaca yang sedari tadi mendengar percakapan mereka, sudah sangat khawatir. Khawatir jika Joan membocorkan rahasianya.
"Jadi bapak belum mengetahui mengenai putri saya". Papa Joan menggeleng. Wajahnya penuh dengan kebingungan.
"Sebenarnya ada apa pak. Kami sama sekali tidak mengetahui". Joan ingin menjawab pertanyaan kedua orangtuanya. Namun sang mama segera mencekal lengan Joan. Dan memintanya untuk diam mendengarkan saja.
"Jadi begini pak Johan. Putri saya Marrisa atau Chaca, sebenarnya sudah menikah". kedua orangtua Joan terkejut mendengar jawaban dari papa Rasyid.
"Menikah. Joan". Lirih papa dan mama Joan berbicara. Joan sama sekali tidak diberi kesempatan oleh kedua orangtuanya untuk menjawab.
"Maaf pak kami benar-benar tidak mengetahui perihal itu. Tapi mengapa putri bapak juga mau menerima kedatangan kami. Bukannya lebih baik sejak awal menolak kedatangan kami pak". Papa Johan tidak terima dengan sikap Chaca yang membuka pintu untuk anaknya sedangkan dirinya sudah bersuami.
"Untuk hal itu, biar putri saya saja yang akan menjawab. Chaca, sini nak". Papa Rasyid segera memanggil Chaca. Tak lama Chaca datang bersama dengan Dzaky dan Kalandra. Tak lupa kedua orangtua Kalandra juga ikut duduk bersama di ruang tamu.
"Selamat siang om, tante. Perkenalkan saya Marrisa. Teman Joan". Chaca memperkenalkan dirinya secara sopan. Chaca duduk berseberangan dengan Joan dan keluarganya.
"Iya om. Silahkan". Chaca sudah siap dengan apapun pertanyaan dari mereka.
"Nak. Mengapa kamu memberikan harapan kepada Joan, sedangkan kamu sendiri sudah bersuami. Apa itu baik nak. Dan bagaimana dengan perasaan suami kamu nak jika mengetahui hal ini". Chaca tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari papa Joan.
"Sebelumnya saya perkenalkan pria disamping saya ini adalah suami saya om. Dan suami saya sudah mengetahui hal ini". Kalandra mengangguk kecil saat Chaca mengenalkan dirinya sebagai suami. Joan tampak tak senang dengan apa yang Chaca ucapkan.
"Maaf om. Chaca tidak pernah memberikan harapan apapun kepada Joan. Joan pun tahu jika Chaca selalu menolak setiap Joan mengungkapkan perasaan. Joan juga mengenal suami Chaca". Kedua orangtua Joan masih belum puas dengan jawaban Chaca.
"Lalu mengapa kamu menerima kehadiran kami disini sekarang nak". Walaupun menggunakan bahasa yang halus, tetap ada amarah disetiap perkataan papa Joan.
"Saya sengaja menerima kedatangan keluarga om disini, sebenarnya bukan untuk saya. Melainkan ada seseorang yang memang saat ini membutuhkan Joan". Joan dan kedua orangtuanya saling bertatap bingung mendengar jawaban Chaca.
"Maksud kamu apa Cha. Siapa yang butuh aku". Joan yang tidak paham dan sangat ingin tahu, mulai terpancing emosinya.
__ADS_1
"Sania. Apa yang kamu lakukan pada Sania". mendengar nama itu Joan melotot. Sedangkan kedua orangtuanya bergumam pelan.
"Nak kamu mengenal Sania". Tanya mama Joan kepada Chaca.
"Iya tante. Chaca mengenal Sania belum lama. Karena Sania meminta bantuan Chaca". Mereka semakin kebingungan. Berbeda dengan Joan yang mulai cemas.
"Kami sudah beberapa Minggu ini tidak bisa bertemu dengan Sania. Sania itu anak sahabat kami. Dia dititipkan kepada kami karena kedua orangtuanya berada diluar negeri". Mama Joan menjelaskan secara singkat siapa Sania menurut versi mereka.
"Sania ada bersama saya om, tante. Sania sempat depresi karena ulah seseorang. Dan sekarang sudah sedikit membaik". Orangtua Joan panik mendengar Sania depresi.
"Ada apa nak. Dimana Sania sekarang". Papa Joan begitu ingin bertemu Sania. Berbeda dengan Joan yang masih tampak ketakutan.
"Sania kemarilah". Panggil Chaca lembut. Sania dituntun oleh Mike dan Sandra. Mereka sudah diberitahu oleh Chaca. Joan semakin pucat.
"Sania". Mama Joan segera memeluk Sania. Sania memang sedang kurang sehat. Terlalu memikirkan Joan membuat kesehatannya menurun.
"Mama". Sania berpelukan dengan mama Joan dan papa Joan. Melihat wajah Sania begitu pucat, membuat mama Joan semakin khawatir.
"Kamu sakit sayang". Sania hanya menggeleng. Sandra menuntun Sania untuk duduk disampingnya.
"Tante, om. Maaf Chaca akan menjawab semua pertanyaan mengenai Sania. Sania sedang hamil saat ini. Dan saya sendiri juga sudah membuktikan dengan membawa Sania ke rumah sakit. Usia kandungan Sania hampir tiga bulan". Mama dan papa Joan menatap Sania yang hanya bisa menunduk. Sebelum mereka menyalahkan Sania, Chaca segera menyela.
"Jangan menyalahkan Sania saja om. Coba om meminta penjelasan kepada putra om". Mereka beralih menatap Joan yang saat ini hanya bisa menunduk.
"Joan, jelaskan". Papa Joan sudah tidak bisa menahan emosi. Joan mau tidak mau menceritakan semuanya. Mereka hanya diam menyimak.
"Ya Tuhan. Apa yang harus kami katakan kepada orangtua Sania. Mereka menitipkan Sania kepada kita, tapi kamu malah merusaknya Joan". Terdengar suara tangis dari mama Joan. Sania pun ikut menangis.
"Jalan satu-satunya hanya menikahkan mereka secepat mungkin mah". Papa Joan segera memberikan keputusan. Karena mereka tidak mau melibatkan keluarga Chaca, mereka segara berpamitan. Dan membawa Sania pulang bersama mereka.
"Akhirnya selesai sudah". Ucap lega Sandra dan Mike. Chaca hanya tersenyum.
"Yuk pulang. Batas sewa rumah ini cuma tinggal satu jam lagi". Papa Rasyid mengajak semua kembali kerumah. Sengaja mereka menyewa rumah perjam agar Joan tidak mengetahui alamat tinggal keluarganya Chaca saat ini. Karena Joan memang orang yang sangat nekad.
__ADS_1
"Kapan nih kami dapat cucu". Pertanyaan papa Rasyid membuat Chaca dan Kalandra diam. Bahkan keluarga Kalandra juga ikut mematung.