
Kak Lexa
Gue tunggu di kafe xxx makan siang besok
Chaca segera membalas pesan dari sepupu Julian. Senyum getir tampak diraut wajah Chaca. Joan yang sedari tadi memperhatikan Chaca, menjadi penasaran. Joan menggenggam tangan Chaca.
"Ada apa. Ada masalah". Chaca tersenyum tipis. Perlahan Chaca melepaskan genggaman tangan Joan.
"Tidak. Gue gapapa Jo". Joan menatap tajam Chaca yang kembali menyantap makan siangnya. Mereka sedang berada dikantin perusahaan.
"Cha. Jangan dipendam sendiri. Kamu boleh kok cerita". Chaca hanya menggeleng dan tersenyum.
"Iya. Gue tau kok". Chaca berusaha meyakinkan Joan. Joan tau jika Chaca tidak baik-baik saja.
"Nanti malam aku jemput ya". Chaca menatap Joan bingung.
"Kemana". Joan menepuk jidatnya. Chaca memang mudah lupa akhir-akhir ini.
"Sandra ulangtahun Chaca sayang. Kamu melupakan hal penting itu". Chaca terkikik geli mendengar jawaban Joan.
"Ah iya. Beneran gue lupa. Mana belum beli kado lagi". Joan menghela nafasnya dalam. Sedangkan Chaca hanya terkikik saja.
"Pulang aku antar sekalian cari kado". Chaca mengangguk antusias. Joan pun tersenyum. Beberapa karyawan menatap Joan dan Chaca dengan tatapan yang beraneka ragam. Mereka menganggap mereka adalah pasangan. Beberapa berusaha mendekati Joan.
Waktu istirahat telah usai mereka segera kembali keruangan masing-masing. Hari ini akan ada meeting bersama. Chaca dan Joan sedang mempersiapkan berkas untuk meeting.
Tak jauh beda dengan Chaca, Kalandra juga sedang disibukkan dengan pekerjaannya. Sedari pagi sudah beberapa meeting yang dia lakukan bersama beberapa kliennya. Rudi datang mengunjungi Kalandra. Dan Rudi sudah mengetahui mengenai Chaca dan Kalandra yang sudah tidak satu atap lagi.
"Rud, masih ada berkas lain yang harus gue cek". Rudi dan Kalandra sedang sibuk memeriksa beberapa berkas kerjasama.
__ADS_1
"Ini yang terakhir". Kalandra mengangguk. Rudi memeriksa kembali setiap berkas yang telah Kalandra bubuhi tanda tangan agar tidak ada yang terlewat.
"Lan. Gimana kabar Chaca. Kalian masih saling bertukar kabar kan". Kalandra terus menatap berkas didepannya. Kalandra menjawab pertanyaan Rudi dengan anggukan saja.
"Apa tidak mencoba untuk membuka hati. Chaca berbeda dengan gadis lainnya Lan. Jangan loe pukul rata semua cewek sama". Rudi mencoba menasehati Kalandra.
"Tidak ada yang perlu dicoba Rud". Rudi tersenyum sinis. Dia sangat memahami sepupunya itu.
"Munafik. Gede gengsi". Rudi memasukan berkas yang telah siap untuk dia bawa kembali ke perusahaan pusat kedalam tas kerjanya.
"Gue gak munafik. Tapi memang itu adanya". Lagi-lagi Rudi menatap remeh Kalandra. Bahkan Kalandra selalu menghindari kontak mata dengan Rudi.
"Jangan menyesal kalau ada orang lain yang bisa membuat Chaca nyaman selain loe". Kalandra diam membisu. Perkataan Rudi menohok sekali. Ada rasa gelisah yang Kalandra rasakan.
Sore ini Rudi harus segera kembali, setelah dua hari dia berada dinegara ini. Rudi bergegas menuju bandara dengan diantar oleh supir. Pesan Rudi yang disampaikan sebelum kepergiannya, membuat Kalandra diam termenung.
"Kalau memang masih merasa nyaman, jangan loe lepaskan. Gue tau loe kesepian tanpa Chaca. Loe sudah ada rasa. Cuma gengsi loe terlalu tinggi. Ingat, jika nanti Chaca menemukan tempat ternyamannya bukan dengan loe. Jangan pernah ada kata menyesal. Coba sadari itu semua sebelum terlambat"
Kalandra memutuskan untuk pulang kerumah. Dalam perjalanan, Kalandra selalu berharap Chaca sedang menunggunya. Sejak Chaca datang diam-diam beberapa bulan lalu, membuat Kalandra selalu berharap akan kehadiran Chaca. Namun semua hampa. Chaca tidak lagi berkunjung. Tidak ada makanan tersedia. Tidak ada halaman yang bersih dan rapi. Dan itu membuat Kalandra semakin sesak.
Sesuai dengan janjinya, saat ini Chaca sudah berada dikafe tempat dirinya akan menemui sepupu Julian. Saat jam makan siang tiba, Chaca bergegas menuju kafe. Bahkan Joan tidak mengetahui kepergian Chaca. Orang yang ingin Chaca temui sudah menunggu.
"Kak maaf sudah menunggu kak". Chaca memeluk sepupu Julian itu.
"Tidak apa. Loe apa kabar Cha. Lama gak ketemu. Sekalinya ketemu minta bikin kejutan". Chaca tersenyum mendengar perkataan Alexa.
"Maaf ya kak. Chaca merepotkan kakak". Alexa mengeluarkan map yang memang untuk Chaca.
"Tenang saja. Ini memang pekerjaan gue Cha. Coba loe cek dulu benar tidak semua datanya. Mumpung masih ada waktu". Chaca meraih map itu. Saat membukanya rasa sedih, marah Chaca rasakan dalam hati. Alexa menunggu Chaca memeriksa berkas sambil menikmati minuman yang dipesannya.
__ADS_1
"Jujur ya Cha, gue sedikit terkejut loe tiba-tiba minta tolong gue jadi kuasa hukum loe. Dan ini kasus pertama dari loe yang juga membuat gue shock. Bahkan gue gak tau loe kapan nikah, tiba-tiba udah mau pisah". Chaca menunduk mendengarkan perkataan Alexa. Alexa seorang pengacara. Dan Chaca menggunakan jasanya untuk mengurus surat perceraian dengan Kalandra.
"Loe gak nyesel nantinya Cha. Semua masih bisa diperbaiki. Jangan hanya karena emosi semata kalian berpisah Cha. Apalagi alasan kalian ini masih bisa untuk pertimbangan memperbaiki hubungan kalian". Chaca menutup berkas itu. Dan masih menunduk mendengarkan perkataan Alexa. Ingin rasanya Chaca berkata jujur, tapi sebaiknya Chaca menyembunyikan alasan sebenarnya mengapa mereka berpisah.
"Semua memang harus berakhir kak. Chaca tidak ingin membuat Kak Andra semakin berharap lebih. Chaca tidak sesempurna itu kak". Alexa menghela nafasnya. Dia masih berusaha agar Chaca bisa berubah pikiran.
"Keturunan itu bisa kalian dapatkan nanti. Apalagi kalian baru satu tahun menikah. Masih banyak waktu Cha". Alexa terus berusaha merayu Chaca. Namun Chaca hanya diam menunduk.
"Setiap manusia memiliki sifat dan karakteristik masing-masing. Kalian berjodoh karena berbeda karakter dan sifat. Jika kalian merasa tidak cocok, kalian masih bisa kan mencoba untuk saling memahami". Chaca masih menunduk. Dia tidak berani menatap Alexa. Karena Alexa pasti tau akan ada kebohongan disemua alasan perpisahannya dengan Kalandra.
"Maaf kak. Chaca memilih untuk tetap berpisah. Chaca hanya ingin Kak Andra bahagia. Dan itu bukan dengan Chaca". Alexa kembali menghela nafasnya. Sepertinya usaha Alexa lagi-lagi gagal.
"Ya sudahlah jika memang itu keputusan akhir yang loe ambil. Gue cuma sebagai perantara saja". Chaca tersenyum mendengar perkataan Alexa.
"Kak, apa Chaca harus datang ke persidangan". Alexa sudah mengatakan jadwal mediasi Chaca dan Kalandra.
"Loe masih mau mempertahankan tidak". Chaca menggeleng cepat. Alexa mengangguk pelan.
"Kalian tidak perlu datang kepersidangan. Itu akan mempercepat proses perpisahan kalian". Chaca diam mendengarkan penjelasan Alexa.
"Baik kak. Makasih sebelumnya kak sudah mau Chaca repotkan". Alexa menggenggam tangan Chaca. Alexa sudah menganggap Chaca sebagai adiknya.
"Loe itu adik gue. Jangan sungkan". Chaca tersenyum. Mereka memesan makanan. Sambil menunggu makanan, mereka berbincang-bincang.
"Eh Cha, kemarin Julian hampir mengetahui perihal perceraian kalian". Chaca Terkejut mendengar perkataan Alexa.
"Kok bisa kak. Bukannya Julian ada diluar negeri". Makanan dan minuman mereka datang. Alexa mencicipi minuman yang dipesannya.
"Dia pulang karena ada urusan sama abangnya. Julian datang kekantor dan bersamaan dengan pegawai kakak yang menyerahkan dokumen loe. Mendengar nama Marissa, dia sempat curiga. Untung gue bisa mengalihkan. Jadi dia gak tau". Chaca lega mendengar penjelasan Alexa. Mereka menyantap makan siang bersama. Usai makan siang, mereka berpisah.
__ADS_1
Dalam perjalanan menuju kantor, Chaca memangku amplop berwarna coklat berisi surat gugatan cerai dari Alexa. Chaca akan datang sendiri mengantarkan surat itu kepada Kalandra.
"Tinggal sebentar lagi".....