Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 11


__ADS_3

Hari ini Chaca sedang menjalani ujian semester. Nilai Chaca tidaklah buruk. Chaca selalu mendapat peringkat tiga besar teratas. Papa Chaca masih menetap diluar negeri dan mamanya akan mengunjungi sang papa setiap dua Minggu.


Dzaky juga disibukkan dengan proyeknya bersama para sahabat. Dzaky akan bergantian pergi memeriksa perkembangan proyek dengan sahabatnya jika mama tercintanya sudah kembali ke rumah. Pagi ini Dzaky sedang mengadakan meeting bersama para sahabatnya.


"Jek. Loe kapan ada waktu buat ke lokasi. Ada beberapa titik yang butuh rancangan loe". Leo menjelaskan masalah yang saat ini menjadi kendala proyek mereka.


"Gue nunggu mama pulang dulu. Chaca lagi ujian. Gue gak bisa tinggalin dia". Para sahabat Dzaky mengangguk memahami kondisi Dzaky.


"Oke kalau gitu. Jadi untuk rancangan baru kita tunda dulu. Kita jalankan yang sudah kita sepakati saja. Gimana". Kalandra ikut bersuara.


"Yap. Kita bahas itu saja. Lagian tenggat waktu masih panjang". Perkataan Damar diangguki setuju oleh sahabat lainnya.


Meeting berjalan dengan lancar. Usai meeting mereka memutuskan untuk pergi ke coffeshop sekedar menikmati segelas kopi menenangkan pikiran mereka.


"Le. Abang loe masih gak mau tanggungjawab". Kakak Leo sudah diketemukan berkat bantuan dari para sahabat Leo.


"Udah kok. Minggu depan mereka menikah. Kalian datang ya. Mama sama papa yang minta". Wajah Leo tampak bahagia saat berbicara.


"Undangan resminya mana. Yang ada kita diusir sama satpam datang keacara keluarga Farhan Hamid tanpa undangan resmi". Damar menyindir Leo.


"Iya nanti ada. Nanti gue kirim ke rumah kalian kalau perlu. Jangan lupa bawa pasangan". Leo sengaja mengolok para sahabatnya yang masih sendiri.


"Gampang, ada Chaca ini". Jawab Dzaky santai. Karena memang Chaca yang selalu dia andalkan.


"Ck. Curang loe. Gak bisa. Gak boleh bawa adik sendiri. Mending Chaca sama gue itu lebih benar ". Damar mencari kesempatan untuk dirinya sendiri.


"Gak usah ngimpi loe. Mending adik gue jomblo daripada sama modelan loe". Dzaky mematahkan impian Damar sebelum dia mencoba untuk maju.


Mereka asyik bercanda dan saling mengolok. Meja mereka didatangi seorang perempuan yang tinggi semampai nan cantik. Dengan rambut terurai sebahu.


"Kalandra". Kalandra menoleh diikuti oleh para sahabatnya. Wajah Kalandra sedikit terkejut. Sedangkan para sahabatnya hanya diam membisu.


"Gwen". Hanya sepatah kata yang keluar dari mulut Kalandra.


"Apa kabar kamu Andra". Hanya Rudi asisten Kalandra yang tahu siapa perempuan itu.


"Baik". Kalandra hanya bersikap dingin. Melihat gelagat tak nyaman dari Kalandra, Rudi mencoba untuk mengusir perempuan itu.

__ADS_1


"Jika nona tidak ada urusan lagi, silahkan tinggalkan kami". Sahabat Kalandra terkejut dengan sikap Rudi yang sangat berani.


"Loe gak pernah berubah ya Rud. Sekalinya pesuruh akan tetap pesuruh". Perkataan Gwen membuat Kalandra emosi.


"Pergi kau. Jangan lagi mengganggu saya". Sahabat Kalandra masih belum paham siapa gadis itu.


"Gue akan pergi sekarang. Dan akan kembali hanya buat kamu". Gwen berjalan keluar kafe diikuti beberapa orang.


"Maaf atas kekacuan tadi. Dia mantan gue. Dan gue gak tau kenapa dia ada disini". Kalandra menjelaskan sebelum sahabatnya bertanya.


"Model Gwen Anastasya. Bukannya dia sudah memiliki tunangan. Gue pernah baca beritanya lama. Itupun karena mama gue fans dia". Damar menjelaskan apa yang dia ketahui tentang Gwen.


"Hmmm. Selama ini hubungan kami ditertutup karena permintaan Gwen. Dia selalu mengatakan ingin menjaga privasi. Tapi nyatanya dia berhubungan dengan pria lain yang menjadi sponsornya". Sahabat Kalandra diam mendengarkan kisah yang tidak pernah terungkap.


"Sebenarnya sebelum gue memutuskan kembali kesini, gue sudah menyiapkan acara buat lamar dia. Orangtua gue juga sudah setuju. Gue datang kerumah dia bersama orangtua gue. Dan dihari itu gue melihat kedua orangtua gue terhina dan itu membuat gue benci dia". Rudi mengusap lembut punggung Kalandra. Tak ada satupun sahabatnya yang menyela cerita Kalandra.


"Gwen tidak mengakui hubungan kami, bahkan Gwen sempat berkata jika gue hanya fans yang berhalu bisa memiliki dia. Mama gue nangis disitu. Dan itu kali pertama bagi gue lihat air mata mama gue. Kami diusir secara paksa dari rumah keluarga Gwen". Kalandra menunduk mengingat kisah itu. Memang itu sudah berlalu hampir dua tahun. Tapi luka itu masih membekas.


"Lalu kenapa perempuan tadi mengatakan dia akan kembali buat loe". Dzaky masih penasaran dengan kalimat yang Gwen ucapkan sebelum pergi.


"Seminggu yang lalu dia mengirim gue email. Dia bilang pernikahannya gagal. Karena lelaki pilihannya ternyata memiliki seorang anak dari wanita lain. Dan keluarga Gwen tidak mau menerima itu. Dan Gwen pengen balik sama gue". Rudi ikut terkejut seperti teman-teman Kalandra. Karena Kalandra tidak menceritakan hal itu.


"Gaklah. Gue gak akan masuk dalam lobang yang sama. Seperti tidak ada wanita lain saja". Mereka sepakat dengan perkataan Kalandra.


Dering ponsel Dzaky memecah ketegangan mereka. Dzaky melihat layar ponselnya untuk mengetahui siapa yang menghubunginya.


"Hmm. Kangen loe ma gue". Sambut Dzaky menjawab panggilan itu.


"__"


"Ogah. Jalan kaki Sono"


"Marjukiiiii"


Suara seseorang begitu keras dari ponsel Dzaky membuat mereka paham siapa si penelpon.


"Budeg Cha. Kemana si Bajul".

__ADS_1


"__"


"Nyusahin emang loe. Ntar gue kirim supir kantor buat jemput loe. Gue lagi sibuk"


Dzaky segera menghubungi kantor untuk meminta supir menjemput Chaca disekolah. Motor Chaca tiba-tiba mogok dan Julian dijemput abangnya menggunakan motor. Jadi Chaca tidak bisa menumpang. Ditambah hujan turun. Sangat sulit mencari taksi online disaat hujan.


"Ck. Supir tugas keluar. Menyebalkan". Dzaky menggurutu sendiri.


"Kenapa si cantik Jek". Tanya Damar semangat jika itu mengenai Chaca.


"Minta jemput sekolah. Dahlah gue jemput dia dulu. Sebelum tanduknya keluar". Dzaky beranjak dari tempat duduknya.


"Loe jemput Chaca, gue ikut. Ingat gue nebeng mobil loe kesini. Dan mobil gue dikantor loe". Kalandra menghentikan langkah Dzaky. Dan dia teringat jika tadi mereka hanya memakai dua mobil saja untuk ke kafe.


"Yah. Lupa gue. Loe nebeng mobil Sultan aja". Dzaky mencoba memberikan solusi.


"Mana muat. Rudi loe suruh naik di kap atas mobil. Dah tau mobil Sultan minimalis". Dzaky menepuk jidatnya karena baru sadar jika Sultan menggunakan mobil kecil.


"Ya udah ayo buruan. Gaess gue cabut dulu. Besok ketemu lagi". Pamit Dzaky. Kalandra dan Rudi ikut mengekor dibelakang.


Dzaky memacu kendaraannya cukup kencang karena Chaca sudah menerornya terus menerus. Kalandra dan Rudi tertawa melihat sahabatnya yang terus diteror adiknya dan kesal. Tibanya Dzaky disekolah Chaca, dia dibuat melongo dengan ulah sang adik.


"Duh kenapa gue dikasih adik gak ada akhlak malunya. Apa waktu pembagian akhlak dia molor". Dzaky menggerutu sendiri dan kedua temannya tertawa terbahak.


Chaca dengan santainya mandi hujan sambil menari-nari bersama dengan beberapa teman lainnya. Namun saat Dzaky tiba tinggal Chaca yang belum selesai bermain air hujan. Bahkan dia bernyanyi sambil menari. Karena area depan sekolah Chaca jarang dilewati kendaraan umum.


"Dih bukan adik gue itu". Dzaky menutup matanya merasa malu dengan kelakuan Chaca. Kalandra dan Rudi terus tertawa melihat tingkah Chaca. Dzaky mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Chaca.


Chaca segera datang menghampiri mobil Dzaky setelah membaca pesan tadi. Chaca tidak tahu jika Dzaky membawa teman. Dia terkejut saat membuka pintu depan mobil Dzaky.


"Maaf gak tau kalau Marjuki bawa pasukan". Chaca kembali menutup pintu tersebut dengan cukup kencang. Membuat Kalandra terkejut. Chaca berjalan menuju kursi penumpang dan masuk kedalam.


"Lama". Gerutu Dzaky kepada Chaca.


"Kan loe suruh gue ganti baju dulu. Ya lamalah. Mulai pikun loe Marjuki". Sahut Chaca sambil menikmati sandwich yang sebelumnya dia beli dikantin.


"Kalian berdua udah kayak kucing dan tikus". Rudi Tertawa terbahak setelah mengatakan itu.

__ADS_1


"Marjuki tikusnya". Chaca lebih dulu menyahut sebelum Dzaky. Dzaky berdecak kesal. Rudi dan Kalandra terus menertawakan mereka yang tak hentinya berdebat. Dan menurut Kalandra itu sangat lucu.


__ADS_2