
Om maaf Chaca pergi tidak menunggu om bangun. Chaca gak pulang om. Jadi tidak usah ditunggu nanti malam. Sarapan pagi sudah Chaca siapkan. Baju juga sudah Chaca siapkan ditempat biasa. Jangan lupa habiskan sarapannya om dan jangan minum kopi. Maaf Chaca gak buatin susu karena takut dingin pas om bangun.
Kalandra diam membaca catatan kecil yang Chaca tinggal dibawah ponselnya yang berada dimeja samping ranjangnya. Saat bangun tadi Kalandra melihat korden masih tertutup rapat namun Chaca sudah tidak berada diranjang sampingnya. Dan selimut Chaca pun sudah rapi.
Sebelum Kalandra menemukan catatan tersebut, Kalandra mengira Chaca sedang di toilet. Kalandra kembali merebahkan tubuhnya menatap lurus kearah langit -langit kamar. Hening, sepi. Mungkin Kalandra sudah terbiasa dengan semua aktivitas yang Chaca lakukan dipagi seperti ini.
"Huh. Setidaknya hari ini gue tenang. Gak ada yang teriakin suruh bangun". Kalandra berjalan menuju toilet. Dan segera membersihkan dirinya.
Setengah jam lamanya aktivitas Kalandra bersiap pin usia. Kalandra turun menuju ruang makan. Lagi-lagi dia berhenti diujung tangga menatap lurus kearah dapur yang berada dihadapannya. Kalandra segera duduk dan membuka tudung saji.
"Selamat makan om. Maaf Chaca tidak menemani dan melayani hari ini"
Kalandra kembali memperoleh catatan dari Chaca yang diselipkan dibawah piringnya. Kalandra segera melahap habis hidangan yang disiapkan Chaca. Selama hidup bersama Chaca, lidah Kalandra terbiasa dengan semua masakan Chaca. Terkadang Kalandra tidak mau makan diluar karena ingin menikmati makanan buatan Chaca.
Selesai makan Kalandra segera mencuci piring bekas dia makan dan tempat lauk serta sayur. Kalandra tidak ingin meninggalkan rumah dalam keadaan masih meninggalkan barang yang kotor. Waktu sudah beranjak siang, Kalandra bergegas menuju kantor. Entah mengapa hari ini Kalandra merasa lain. Ada yang hilang namun dia tak mau mengakui bahkan dia selalu menghalau rasa itu.
Tiga puluh menit waktu yang Kalandra tempuh untuk sampai ke kantornya. Kalandra memarkirkan mobilnya didepan lobby dan akan dipindahkan oleh security. Kalandra berjalan menuju ruangannya dan sudah disambut oleh beberapa karyawan. Pesona seorang Kalandra tak pernah gagal menarik perhatian. Walaupun dia sudah menikah masih banyak wanita mencoba mendekati dirinya.
"Ndra". Kalandra berhenti dan menoleh kearah suara yang memanggil namanya. Dan Rudi sudah berdiri dihadapannya saat ini.
"Kapan loe sampai Rud". Rudi memang sudah mengatakan akan datang untuk meminta tandatangan secara langsung kepada Kalandra dan membahasa beberapa hal.
"Semalam. Gue mau kerumah loe. Takut ganggu. Ya udah gue nginap dihotel dekat sini". Rudi dan Kalandra saling berpelukan. Mereka berjalan beriringan menuju ruangan Kalandra.
"Ck. Kayak sama siapa aja". Rudi tertawa mendengar perkataan Kalandra. Hanya sebagian karyawan Kalandra yang mengenal Rudi. Karena sejak Kalandra memutuskan untuk tinggal di negara ini, Rudi tidak pernah datang mengunjungi Kalandra. Dan ini kali pertama Rudi berkunjung.
__ADS_1
"Gimana kabar adik ipar gue. Sudah berhasil belum". Rudi tidak mengetahui perihal pernikahan kontrak mereka. Dan Rudi mengira jika Kalandra dan Chaca menjalani kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya.
"Baik. Berhasil apanya". Kalandra pura-pura tidak paham dengan maksud Rudi.
"Yaelah. Kalandra junior udah proses apa malah udah malah udah otewe launching nih". Lagi-lagi Kalandra tersenyum mendengar pertanyaan Rudi.
"Doakan saja. Lagian Chaca masih sibuk banget. Dia pengen cepat lulus". Senjata terampuh Kalandra jika ditanya mengenai keturunan.
"Iya juga. Kasian kalau dia harus bawa drum kemanapun. Capek banget pastinya". Kalandra menjentikkan jarinya tanda setuju dengan perkataan Rudi.
"Loe kenapa gak pake stempel aja buat tanda tangan. Biasanya kan juga gitu". Kalandra mulai membuka berkas yang sebelumnya disodorkan oleh Rudi.
"Jika urusannya semudah itu, gue gak akan capek-capek sampai sini. Loe taukan partner kita Pak Johan. Seribet apa. Ini bukan kali pertama kita kerjasama dengan pak Johan". Kalandra mengangguk dan mulai membubuhkan tanda tangan miliknya setelah selesai membaca semua isi berkas itu.
"Oya Rud. Kemungkinan bulan depan gue balik. Loe siapin buat rapat tahunan. Mumpung ada waktu longgar". Rudi membuka buku agendanya dan memang jadwal rapat tahunan mereka sudah dekat.
"Ikut. Kalau dia sudah selesai ujian. Tapi mungkin gak lama. Karena dia cuma libur bentar saja". Pintu ruangan Kalandra diketuk dan Kalandra mengijinkan orang tersebut masuk.
"Ada apa". Tanya Kalandra kepada sekretarisnya. Sekretaris Kalandra sempat melirik kearah Rudi.
"Ada tamu untuk bapak". Karena Kalandra tidak merasa ada jadwal, diapun menanyakan mengenai tamu tersebut.
"Siapa. Bukannya saya tidak ada jadwal hari ini". Sekretaris Kalandra sedikit gugup untuk menjawab pertanyaan Kalandra.
"Maaf pak. Beliau...". Belum selesai sekretaris Kalandra berbicara sudah datang seseorang yang langsung masuk ruangan Kalandra.
__ADS_1
"Alan. Lama sekali, mama sampai capek berdiri". Ternyata tamu tersebut adalah mama Adina dan papa Gerald.
"Mama, papa. Kenapa gak kasih kabar". Kalandra berdiri menyambut kedua orangtuanya.
"Niat kasih surprise malah kena surprise. Mama sama papa tadi langsung kerumah kamu. Dan tidak ada seorangpun dirumah. Dimana menantu mama". Kalandra memeluk mama dan papanya bergantian.
"Chaca sedang keluar kota mah. Urusan kampus dan mungkin agak lama". Kalandra sengaja mengatakan hal tersebut agar mamanya tindak terus menanyakan dimana Chaca.
"Oh gitu. Yah padahal mama kangen banget sama Chaca. Kamu gak pernah ajak Chaca mengunjungi mama sama papa". Kalandra tersenyum mendengar Omelan mamanya.
"Maaf mah, Chaca benar-benar sangat sibuk. Dia pengen lulus cepat". Mama Adina tersenyum mendengar penjelasan Kalandra.
"Ya sudah, mama mau ke hotel istirahat. Capek banget". Mama Adina hendak pergi meninggalkan kantor Kalandra.
"Kenapa ke hotel. Dirumah Alan saja mah. Sekalian nunggu Chaca pulang". Kalandra segera memerintahkan supir kantor untuk mengantarkan mama Adina dan papa Gerald pulang kerumahnya.
Kalandra tidak mengantarkan kedua orangtuanya karena dia harus meeting bersama dengan Rudi. Sebelumnya Kalandra sudah memberikan kabar kepada Chaca tentang kedatangan kedua orangtuanya.
Saat ini Chaca sedang berada di apartemen Sandra. Rencananya Chaca akan mensurvey apartemen Sandra. Jika dia merasa nyaman Chaca akan membeli salah satu unit apartemen disana.
"Loe yakin Cha akan beli sekarang. Gak nunggu urusan loe sama om Kalandra selesai". Sandra paham dengan permasalahan Chaca. Karena Chaca selalu menceritakan kepada Sandra.
"Setidaknya gue sudah aman memiliki tempat tujuan saat gue keluar dari rumah itu". Sandra mengangguk paham dengan maksud Chaca.
Mereka kembali mensurvey beberapa apartemen lainnya yang lokasinya tidak jauh dari kampus mereka. Chaca memiliki tabungan sendiri dari uang saku yang diberikan Dzaky dan papanya. Walaupun sudah menikah Dzaky dan papa Rasyid masih mengirim uang kepada Chaca.
__ADS_1
Kalandra dan Rudi sedang dalam perjalanan menuju rumah. Kalandra mendapatkan notifikasi penggunaan kartu kredit bulanan miliknya dan milik Chaca.
"Selalu tidak digunakan".