
Hari-hari Chaca berjalan seperti biasa. Hanya para sahabatnya saja yang tahu jika dia sudah bertunangan. Tapi mereka tidak tahu jika status itu hanya sekedar status tidak berjalan seperti mana layaknya sebagai pasangan. Chaca tetap menjalankan hobinya balap liar walaupun hanya sesekali. Dan selalu bersama dengan Julian.
Tidak jauh berbeda dengan Chaca, Kalandra juga sibuk dengan aktivitasnya. Tak lupa aktivitas memanjakan juniornya dengan menyewa gadis malam. Rudi selalu mengingatkan, namun tak pernah didengar oleh Kalandra. Bahkan Rudi meminta agar Kalandra belajar membuka hati dan menerima kehadiran Chaca. Tetap saja omongan Rudi hanya dianggap angin lalu.
Jika ada acara yang melibatkan keluarga dan sahabatnya. Kalandra akan meminta Chaca untuk mendampinginya. Keduanya masih mencari celah agar bisa mengakhiri hubungan palsu ini. Dua tahun bukan waktu yang lama. Karena kedua keluarga sepakat untuk menikahkan Chaca dan Kalandra setelah Chaca lulus sekolah.
Gwen sudah lama tidak menampakkan dirinya. Entah kemana dia pergi. Kalandra berharap tidak akan pernah bertemu lagi dengan wanita itu. Kedua Chaca sudah kembali ke luar negeri begitu juga dengan orangtua Kalandra.
Pagi ini Chaca sedikit terlambat bangun. Dia sedang kurang sehat. Belum lagi Chaca mengikuti beberapa ekstrakulikuler disekolahnya. Chaca melakukan itu agar dirinya tidak kesepian dirumah. Setidaknya saat dia dirumah tak butuh waktu lama untuk menunggu Dzaky pulang kantor.
"Bang, gue berangkat. Bye bye". Chaca segera pergi meninggalkan rumah tak memperdulikan teriakan Dzaky.
"Merica. Loe gak sarapan dulu. Awas aja kalau loe sampai sakit dan nyusahin gue". Teriakan Dzaky begitu kencang. Tapi Chaca tak peduli.
Terdengar suara deru mesin motor Chaca sudah meninggalkan halaman rumah. Chaca kesal karena dia kesiangan. Mungkin keberuntungan masih dipihak Chaca, karena jalanan tidak terlalu ramai.
Citttttt
Chaca hampir hilang kendali saat sebuah motor lain memotong jalan tanpa melihat kebelakang. Chaca terjatuh dan sedikit luka. Beberapa orang berlari kearah Chaca dan hendak menolongnya. Seorang pria menerobos kerumunan dan langsung memapah Chaca.
"Kenapa bisa jatuh". Chaca diam melihat kearah pria itu. Chaca dibawa kedalam mobil miliknya.
"Namanya juga kecelakaan kak. Aduh pelan-pelan kak". Pria itu meminta Chaca untuk duduk didalam mobil, sementara dia menghubungi seseorang untuk mengurus motor Chaca.
"Tunggu disini, saya telpon Rudi dulu biar ambil motor kamu". Ya, dia adalah Kalandra. Kebetulan Kalandra lewat daerah dimana Chaca jatuh.
Chaca terpaksa mengirim pesan kepada Julian. Chaca meminta tolong agar hari diijinkan karena dia mengalami kecelakaan. Julian panik ingin menyusul Chaca, tapi Chaca melarang. Karena hari ini ada ulangan harian.
"Ayo saya antar ke klinik dulu". Kalandra masuk kedalam mobil dan melajukan kearah klinik terdekat.
"Kakak kok bisa disini." Chaca bertanya sambil berbalas pesan dengan Julian.
__ADS_1
"Iya, tadi gak sengaja lewat sini. Kebetulan ada meeting pagi sama klien. Ini mau ke kantornya". Kalandra melihat kearah Chaca sebentar dan kembali fokus menyetir.
"Oh". Jawab Chaca singkat. Tak seberapa lama mereka sampai diklinik terdekat. Chaca menyimpan ponselnya dijok mobil karena Kalandra akan kembali memapahnya.
"Kakak gendong saja. Kamu sepertinya susah jalan". Kalandra langsung mengangkat tubuh Chaca sebelum Chaca menolaknya. Mereka berjalan masuk kedalam klinik.
"Permisi. Tolong bantu saya sus. Tunangan saya kecelakaan". Kalandra segera diarahkan keruang gawat darurat agar Chaca segera ditangani.
"Bapak bisa tunggu diluar. Kami akan menangani pasien dulu". Kalandra keluar ruangan dan menunggu Chaca. Kalandra menghubungi Rudi memastikan motor Chaca sudah dibawa ke bengkel. Tak lupa meminta Rudi menghubungi sekolah Chaca untuk meminta ijin karena Chaca kecelakaan.
"Gimana kondisi pasien dok". Tanya Kalandra setelah dokter keluar ruang pemeriksaan.
"Tidak ada yang membahayakan. Hanya beberapa luka memar dan ada satu luka harus mendapatkan jahitan. Karena cukup dalam". Penjelasan dokter membuat Kalandra tenang.
"Terimakasih dok. Bisa langsung saya bawa pulang sekarang dok". Dokter tersenyum dengan pertanyaan Kalandra.
"Bisa. Tunggu sampai nanti perawat membawakan obat yang harus diminum pasien. Kalau begitu saya permisi". Kalandra mengangguk dan segera masuk kedalam menemui Chaca setelah dokter pergi.
"Lumayan kak. Lumayan perih maksudnya". Kalandra tertawa mendengar candaan Chaca.
"Om apa kabar. Lama gak bertemu". Mereka memang sudah hampir dua bulan mereka tidak saling bertukar kabar.
"Kakak Cha. Kakak. Ck. Sekalinya ketemu manggil om lagi. Tadi udah benar panggil kakak, sekarang panggil om lagi". Chaca hanya diam mendengarkan ocehan Kalandra.
"Permisi". Seorang perawat masuk membawakan obat-obatan untuk Chaca dan juga kwitansi tagihan.
"Ya sus. Silahkan masuk sus”. Kalandra beranjak dari kursinya dan berdiri disamping Chaca.
"Pak ini obatnya dan tolong dilunasi administrasinya agar pasien segera pulang". Kalandra menerima obat yang diberikan perawat tersebut beserta nota tagihan.
"Baik terimakasih sus". Perawat itu pergi meninggalkan ruangan Chaca. Sebelum pergi perawat itu sempat berkali-kali mencuri pandang kepada Kalandra.
__ADS_1
"Sebentar saya bayar tagihan kamu dulu". Kalandra segera menuju administrasi dan melunasi tagihan Chaca.
Kalandra kembali menggendong Chaca apa bridal style. Karena luka dilutuy Chaca yang mendapatkan jahitan. Banyak pasang mata melihat Kalandra menggendong Chaca. Apalagi Chaca masih menggunakan seragam sekolah.
"Wah sama adiknya aja perhatian. Apalagi sama pasangannya". Bisik salah satu pasien.
"Itu adiknya atau simpanannya. Masa jaraknya jauh banget kalau adiknya". Ada juga cibiran yang terlontar.
"Diamkan saja. Gak usah kamu dengar Cha". Kalandra sadar dengan gestur tubuh Chaca yang merasa tak nyaman dengan omongan beberapa orang.
Kalandra melajukan kendaraannya meninggalkan klinik setelah membawa Chaca kedalam mobil. Tak lama Kalandra melajukan kendaraannya, Chaca tertidur. Efek obat mulai bereaksi.
"Hallo. Kenapa Rud". Tak lama ponsel Kalandra berdering. Kalandra mendapatkan panggilan dari Rudi.
"___"
"Oke. Gue langsung ke kantor. Oya tolong rapikan kamar pribadi gue".
"___"
"Sialan. Walaupun gue brengsek, gue gak akan bawa ja**ng ke kantor. Gue masih sama Chaca. Chaca tidur karena efek obat. Kalau gue bawa pulang ke apartemen atau anterin kerumah dia, makan waktu banyak. Tau sendiri Tuan Alden gak suka orang telat".
"___"
"Oke. Thanks". Kalandra mengakhiri panggilan telepon dari Rudi. Dia segera meluncur menuju kantor. Ada klien penting yang meminta bertemu secara mendadak.
Setibanya dikantor, Kalandra kembali menggendong Chaca. Karena Chaca belum sadar. Karyawan Kalandra terbengong melihat Kalandra menggendong perempuan. Kalandra acuh tak memperdulikan tatapan karyawannya. Rudi berlari kearah Kalandra.
"Sini biar Chaca sama gue. Loe udah ditunggu diruang rapat". Rudi memposisikan tangannya untuk memindahkan tubuh Chaca kedalam gendongannya.
"Loe temani dulu Tuan Alden. Gue antar Chaca sebentar". Rudi tak berkata apapun lagi dan segera menuju ruang rapat.
__ADS_1
Kalandra segera menaruh tubuh Chaca diatas ranjang ruang kerja pribadinya. Dan segera menyusul Rudi diruang rapat.