
Dua bulan kemudian.....
Chaca menikmati kehidupan barunya sebagai mahasiswa. Sejak awal masuk, Chaca sudah memiliki tiga orang teman. Joan, Sandra dan Mike. Mereka berasal dari negara yang berbeda. Chaca nyaman bersama mereka. Sandra tinggal di asrama bersama dengan Chaca. Sedangkan Joan dan Mike memilih tinggal di apartemen. Setiap hari mereka akan berangkat dan pulang bersama.
Mama Adina masih belum mendapatkan ijin dari papa Gerald untuk menjenguk Chaca. Kalandra juga masih menjalani kehidupannya seperti biasa, walaupun sudah tidak seperti sebelumnya. Kedua orangtua Chaca dan Dzaky menemani Chaca selama dua Minggu. Dzaky adalah orang paling ribut dan paling perhatian kepada Chaca.
*Ting
Marjuki
Cha..yuhu merica. Adek Abang ganteng*
Chaca hanya melirik pesan dari Kalandra. Dia masih ada kelas dan ponselnya masih menggunakan mode getar. Chaca kembali fokus mendengarkan dosen yang sedang memberikan materi.
*Ting
Marjuki
Mericaaaaaaa. Kualat loe nanti gak jawab gue*
Chaca hanya diam. Dia tahu Dzaky akan terus menerornya sampai mendapatkan tanggapan. Sandra ikut melirik kearah ponsel Chaca dan hanya tersenyum.
"Abang kamu ribet banget". Sandra berbisik kepada Chaca. Joan dan Mike memperhatikan mereka dari belakang.
"Hmmm". Chaca hanya berdehem dan mengangguk. Mereka kembali fokus mendengarkan dosen sebelum dosen menegur mereka.
Empat puluh lima menit sudah mereka lalui. Kelas mereka sudah usai. Sambil menunggu kelas selanjutnya, mereka pergi ke taman kampus.
"Cha, nanti malam nonton yuk". Karena besok weekend, mereka biasa menghabiskan waktu bersama.
"Chaca aja nih yang diajak. Kita nggak Jo". Chaca tertawa melihat wajah Mike yang dibuat imut.
"Ck. Jangan sok imut. Mau muntah yang ada". Sandra dan Chaca menertawakan keduanya.
"Habis kamu mengabaikan diriku". Mike memeluk lengan Joan erat sambil menyenderkan kepalanya dibahu Joan.
"Menjauh lah. Lihat mereka memperhatikan kita". Banyak mata memandang Joan dan Mike dengan berbagai macam ekspresi. Chaca dan Sandra hanya tertawa.
"Ck. Biarkan saja". Mike ingin kembali merangkul Joan, namun Joan menghindarinya.
"Mereka kira kita kaum pelangi bege". Mike tertawa bersama dengan Chaca dan Sandra.
"Dahlah ribut aja terus". Sandra menenangkan mereka. Chaca lupa membuka pesan dari Dzaky. Hingga Dzaky kembali menerornya.
*Ting
Marjuki
Chaca hello eni bodi hom
Marjuki
__ADS_1
Chaca merica he he*
Chaca segera membuka pesan dari Abang kesayangannya itu. Chaca berdecak dengan isi pesan Dzaky yang unfaedah.
Me
Apaan sih berisik
*Marjuki
Loe kangen gue ya Cha.
Me
Nggak. Emang anda siapa
Marjuki
Gak usah boong dah Cha. Loe kangen kan sama gue
Me
Gue jujur. Hidup gue bahagia tanpa loe
Marjuki
Gengsi amat sih Cha. Tinggal bilang kangen aja
Me
Marjuki
Ck. Jelas-jelas loe yang dari tadi spam chat ke gue. Apa namanya kalau bukan kangen
Me
Hah, gue. Gak salah tuh
Marjuki
Gak usah kangen Cha. Dilan udah tamat
Me
Sesukamulah Marjuki*
Chaca menatap layar ponselnya yang masih menampilkan chat Dzaky. Chaca tersenyum bahagia. Setiap kali ada rasa gundah dalam hati Chaca, Dzaky bisa merasakannya.
"Aku kangen kamu bang". Suara Chaca lirih sambil tersenyum dan menyimpan ponselnya.
"Kenapa. Ada masalah". Mike memperhatikan ekspresi Chaca sejak berbalas pesan tadi membuatnya penasaran.
__ADS_1
"Ah biasa abangku. Selalu ribut". Ketiga teman Chaca sudah mengenal Dzaky belum lama ini. Saat itu Dzaky memang sengaja menjenguk Chaca. Dan bukan Dzaky jika mudah mengakui jika dirinya rindu dengan adik kesayangannya itu.
"Cha, abang kamu jomblo ya". Sandra tersenyum malu saat menanyakan itu.
"Heem. Belum laku dia". Chaca tertawa terbahak bersama Joan dan Mike.
"Jangan bilang loe naksir abangnya Chaca San". Joan menatap Sandra hingga membuat Sandra salah tingkah.
"Kan cuma nanya. Gak boleh apa". Melihat Sandra salah tingkah, membuat mereka tertawa.
"Boleh, boleh, boleh". Ketiganya kompak menjawab pertanyaan Sandra.
Mereka kembali kekelas untuk melanjutkan mata kuliah berikutnya. Hari ini mereka masuk siang dan akan berakhir sore nanti. Terkadang jika mereka mendapatkan dosen yang sedikit rewel, akan membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk selesai.
"Huahhh akhirnya kelar. Ketemu kasur juga". Sandra merentangkan kedua tangannya keatas sesaat setelah kelas usai.
"Tidur melulu. Gak bosan tuh guling sama iler loe". Sandra berbalik dan menjitak kepala Joan.
"Enak aja elir. Gue gak pernah ileran ya". Chaca dan Mike tersenyum tipis melihat kedua teman mereka.
"Iya gak ileran tapi tukang ngigau". Chaca membuka aib Sandra.
"Ngigau". Joan dan Mike terkejut dengan apa yang Chaca katakan.
"Chaca jangan ngomong lagi". Sandra segera membekap mulut Chaca. Karena Joan dan Mike penasaran dengan ucapan Chaca, Mike dan Joan menarik tangan Chaca dan menahannya.
"Lanjutkan. Jangan sampai tidur gue gak tenang kalau loe gak lanjutin cerita loe". Joan meminta Chaca melanjutkan perkataannya yang tertunda.
"Chaca jangan dong". Mike membekap mulut Sandra menggunakan sapu tangan.
"Cepat dong Cha". Mike sangat tidak sabaran. Chaca terkikik sebelum melanjutkan ceritanya.
"Sandra itu hobi ngigau. Kadang-kadang dia dansa, nyanyi, baca puisi. Bahkan pernah adegan perang-perangan. Dan yang paling parah, dia pernah peluk gue dan hampir nyium gue. Dia pikir gue idola dia. Gue tendang sampai jatuh". Chaca tertawa terbahak bersama kedua temannya. Sandra hanya cemberut saja menanggapi ulah teman-temannya.
"Cha, loe harus waspada dong sama Sandra. Bisa-bisa loe dijadiin praktek ***-*** sama Sandra". Mike meledekki Sandra. Dan Sandra memukul lengan Mike karena tak terima.
"Ck. Gue seratus persen normal ya. Masih doyan yang panjang berurat". Joan dan Mike semakin terbahak.
"Wuih panjang berurat. Apaan tuh San". Joan semakin menggoda Sandra.
"Ubi kayu". Mike dan Joan semakin terbahak dengan jawaban Sandra.
Chaca bahagia memiliki teman-teman seperti mereka. Sejak awal pertemuan mereka tak ada rasa canggung diantara mereka. Mereka bersikap apa adanya. Dan mereka benar-benar tulus. Itu yang membuat Chaca nyaman. Walaupun tanpa adanya Julian sahabat kecilnya yang selalu melindunginya, Chaca sudah merasa aman dan nyaman.
Karena apartemen Mike dan Joan berada disatu lokasi hanya berbeda bangunan saja, mereka selalu menggunakan satu mobil dan selalu bergantian. Sandra dan Chaca tidak diijinkan membawa kendaraan oleh keluarga mereka diawal perkuliahan ini. Sandra harus menunggu satu semester selesai dahulu baru akan diberikan kendaraan oleh orangtuanya. Sedangkan Chaca harus menunggu beberapa bulan lagi.
"Langsung pulang, atau makan dulu gess". Hari ini Mike yang menjadi sopir mereka.
"Makan dulu aja. Nanti kalau udah sampai asrama malas keluar lagi". Sandra memberikan usulan dan diberikan acungan jempol oleh Joan dan Chaca.
"Oke. Kita ketempat biasa aja ya. Atau mau cari tempat baru". Mike menanyakan tujuan mereka akan kemana.
__ADS_1
"Tempat biasa aja. Besok aja kita hunting tempat baru". Joan menyarankan untuk mereka ke tempat biasa mereka makan.
"Asyiap".