
Chaca akan mengikuti ajang olimpiade sains nasional. Dia sibuk mempersiapkan diri. Dzaky sangat mendukung kegiatan Chaca. Karena Dzaky tidak mau adiknya terlalu memikirkan Kalandra. Padahal yang terjadi tak seperti apa yang Dzaky sangka. Kedua orangtua Dzaky masih belum mengetahui perihal Chaca dan Kalandra. Dzaky sudah tau akan mengatakan apa nantinya karena kedua orangtuanya akan pulang dalam waktu dua hari ini.
Kerjasama perusahaannya dengan Kalandra masih berlanjut. Mereka tetap profesional. Sahabat mereka sudah mengetahui apa yang terjadi. Karena setelah Dzaky menghajar Kalandra, hubungan mereka sempat renggang selama dua Minggu. Dan sahabat merekalah yang mendamaikan. Walaupun masih canggung, mereka tetap berusaha untuk profesional.
Chaca sedang berada dikantin bersama sahabatnya. Dia hanya mengikuti dua jam pertama pelajaran. Karena setelah istirahat usai Chaca bersama-sama dengan para siswa yang terpilih untuk mengikuti olimpiade sains nasional harus berlatih diruangan khusus.
"Mbak Chaca". Dita memperhatikan Chaca yang tetap fokus dengan bukunya walaupun sedang makan.
"Hem. Apa Dit". Julian yang duduk disamping Chaca sesekali menyuapi Chaca yang fokus belajar.
"Gak pusing mbak baca buku setebal itu". Chaca hanya tertawa mendengar perkataan Dita.
"Oneng, kalau Chaca pusing gak akan baca. Emang loe suruh baca buku malah diilerin tuh buku". Chaca kembali tertawa. hanya Fani dan Julian yang tersenyum tipis.
"Ya salahin bukunya dong. Kenapa ada obat tidurnya jadi Dita ngantuk". Dito menepuk jidatnya mendengar jawaban Dita.
Chaca bahagia memiliki sahabat seperti mereka yang selalu bisa menghibur dirinya dengan kelakuan mereka.
"Mas Jul, Dita mau juga dong disuapi. Masa mbak Chaca terus yang disuapi". Dita membuka mulutnya bersiap menerima suapan dari Julian.
"Akhhh pedes". Dita kepedasan karena ulah Dito yang menyuapi nasi bercampur sambal. Chaca dan Julian tertawa melihat tingkah mereka.
"Dito jahat banget sih loe. Kasian Dita gak bisa makan pedas". Chaca memberikan susu coklat miliknya kepada Dita untuk menghilangkan rasa pedas.
"Iya loe gak kira-kira jadi teman". Fani memukul lengan Dito.
"Nanti kalau Dita kenapa-kenapa mas Dito tanggung jawab". Dito menghela nafasnya mendengar Dita memanggil dirinya dengan sebutan mas.
__ADS_1
"Serasa bini gue loe Dit. Manggil mas, mas". Sahabat mereka hanya tertawa terbahak. Banyak yang iri dengan persahabatan Chaca dan teman-temannya. Terutama sikap Julian ayang begitu menyayangi Chaca.
"Mbak Chaca kok gak pernah dijemput sama Mas Alan. Gak perhatian sih. Masa tunangan sendiri gak pernah dijemput". Chaca lupa memberitahu sahabatnya jika mereka sudah berakhir.
"Ah baru ingat. Gue sama si om udah putus". Julian menatap Chaca dari samping. Sahabat Chaca menatap Chaca tak percaya.
"Kenapa Cha. Kalian kan udah tunangan. Kok bisa putus". Dito sangat antusias ingin tahu ada apa.
"Orang nikah aja bisa cerai, apalagi tunangan. Yang jekas kita udah pisah. Jadi gak usah tanya tentang si om lagi. Oke". Saat Dito ingin kembali bertanya alasan Chaca, Julian memberi kode untuk diam.
"Are you oke". Bisik Kalandra kepada Chaca. Namun masih bisa didengar sahabat mereka.
"Hem. Jangan khawatir. Kalian juga. Gue gapapa. Udah hampir satu bulan juga kok kita pisahnya. Gak usah takut gue sedih. Oke". Teman-teman Chaca mengangguk paham. Apalagi wajah Chaca yang tidak sedih, membuat mereka lebih tenang.
Waktu pelajaran sudah kembali dimulai. Chaca segera masuk keruang latihan dan teman-temannya kembali ke kelas. Setiap hari Chaca akan pulang bersama Julian. Semenjak terpilih untuk mewakili sekolah, Dzaky selalu diantar Dzaky atau supir. Agar Chaca bisa sambil belajar saat dalam perjalanan.
"Jek. Apa kabar calon istriku. Lama gak ketemu". Setelah tau jika Kalandra berpisah dengan Chaca, Damar kembali beraksi.
"Sejak kapan adik gue jadi calon istri loe". Damar berdecak kesal dengan jawaban Dzaky yang selalu sama.
"Ayolah. Terima gue jadi adik ipar loe. Gue gak akan sebrengsek Andra". Kalandra yang ikut terbawa, segera memukul kepala belakang Damar.
"Kampret emang loe. Kayak loe bener aja". Dzaky hanya diam memperhatikan begitu juga dengan teman mereka yang lain.
"Setidaknya gue setia. Loe sok kecakapan. Udah dapat yang perfect kayak Chaca, malah beralih yang good looking". Mereka sudah tau penyebab perpisahan Kalandra dan Chaca. Juga mengenai wanita yang bertemu dengan Dzaky diapartemen Kalandra.
"Dah berisik aja kalian. Yang jelas gue gak percaya kalian semua". Jawaban Dzaky membuat Kalandra dan Damar terdiam.
__ADS_1
"Rasain. Marjuki dah ngamuk. Gak usah bahas yang sudah berlalu. Anggap aja takdirnya seperti itu". Sontak Dzaky menatap tajam Sultan.
"Haish. Salah ngomong lagi ini. Sorry bro". Sultan langsung mengangkat kedua telapak tangannya menghadap Dzaky.
"Le, loe ngajakin ketemuan mau bahas apa. Kalau unfaedah, mending gue cabut". Leo memang yang mengajak mereka bertemu. Selain untuk membuat Dzaky dan Kalandra kembali akur, Leo ingin membahas mengenai kerjasama yang baru saja mereka selesaikan.
"Gue gak tau harus gimana ngomongnya". Leo cukup gugup untuk memulai pembicaraan.
"Kalian kan tau, kalau dari perusahaan gue yang akan biayai semua promosi kita. Team gue udah dapat model iklannya. Dan Papa gue langsung setuju sebelum tanya sama gue". Leo kembali menjeda perkataannya. Membuat teman-temannya penasaran.
"Nah dimana letak masalahnya Jojon. Kan uang penting udah disetujui papa loe". Damar menyahut sebelum Leo menyelesaikan perkataannya.
"Modelnya yang jadi masalah. Si Gwen yang jadi model". Kalandra melotot kearah Leo.
"Kok bisa. Dan kenapa loe gak nolak". Kalandra tidak mau terlibat apapun lagi dengan Gwen.
"Papa ketemu dia saat papa ada pekerjaan di negara S. Kata papa Gwen jadi model utama disana. Dan papa sudah tau popularitas Gwen sangat menakjubkan. Dari situ papa mikir kalau pake Gwen jadi model, pasti hasil penjualan kita akan baik". Kalandra seketika lemas.
"Gak bisakah kita cari model lain. Tolong jangan dia. Gue gak mau terlibat urusan lagi sama dia". Kalandra memohon kepada Leo agar bisa mengganti modelnya.
"Loe tau kan papa gue gimana orangnya. Gue udah sempat ngomong sama papa, tapi langsung ditolak". Kalandra memijat keningnya yang mendadak pusing.
"Sebenarnya loe udah move on belum dari Gwen ". Pertanyaan Dzaky seketika membuat Kalandra emosi namun masih bisa ditahannya.
"Kalau gue gak move on, gak mungkin gue tunangan sama Chaca ". Dzaky mencibir Kalandra.
"Iya habis itu loe selingkuhin. Kalau menurut gue lanjut aja, pake model dia gapapa. Waktu kita juga gak banyak. Gak usah melibatkan perasaan kalau ingin hasil yang sempurna". Kalandra sudah sangat emosi dengan perkataan Dzaky. Beruntung Sultan menahan Kalandra. Jika tidak pasti Kalandra akan menghajar Dzaky.
__ADS_1
"Oke gue setuju. Akan gue buktikan kalau dia gak ada arti apapun buat gue. Masalah selingkuh kemarin, mungkin saat nanti loe tau yang sebenarnya. Loe akan menyesal. Gue cabut". Kalandra memilih pergi daripada dia dan Dzaky kembali baku hantam. Dzaky hanya menatap punggung Kalandra tajam.