Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 14


__ADS_3

POV Merrisa Al-Rasyid


Sedari kecil dia selalu berpindah-pindah sekolah karena harus mengikuti kedua orangtuanya. Terkadang dia merasa bosan dengan hal seperti itu. Tapi orangtuanya tidak bisa meninggalkan Chaca tanpa pengawasan mereka. Chaca mulai menetes setelah Dzaky akan masuk bangku kuliah. Dengan ditemani satu asisten rumah tangga yang sudah sangat dipercayai oleh keluarganya, Chaca mulai hidup bersama Dzaky.


Setiap pulang sekolah, jika merasa bosan. Chaca akan pergi kerumah Julian. Mereka kenal sejak bangku taman kanak-kanak. Dan kedua orangtua Julian juga sangat menyayangi Chaca. Mereka selalu bersekolah ditempat yang sama. Begitulah cara Julian selalu menjaga Chaca. Hingga Chaca mulai memasuki masa remajanya, banyak pria mendambakan Chaca. Namun tak pernah mendapat tanggapan dari Chaca.


Chaca sangat menyukai hal menantang. Balap motor adalah salah satu hobinya. Bahkan Chaca sudah memegang sabuk hitam taekwondo diusia muda. Beberapa kali Chaca memenangkan pertandingan taekwondo. Julian satu-satunya sahabat sejati yang dia miliki.


"Cha, loe gak pengen cari pasangan". Pertanyaan yang selalu muncul dari bibir teman-temannya.


"Huah, gak adakah pertanyaan yang lebih bermutu selain itu. Bosen". Itulah jawaban dari Chaca.


'Kalian berdua bilangnya gak ada hubungan. Giliran ada yang nembak nolak. Sebenarnya apa yang kalian mau. Jomblo terus gitu. Gak pengen apa ada yang ngasih perhatian lebih". Dito begitu cerewet jika membahas masalah percintaan Julian dan Chaca.


"Ck. itu hubungan yang membosankan menurutku. Lagian apa enaknya pacaran. Malahan banyak ruginya. Apalagi bagi cewek. Benar gak". Jawaban Chaca diangguki oleh Julian dan Fani. Tapi tidak untuk Dita dan Dito.


"Apanya membosankan. Karena loe belum pernah nyoba, jadinya langsung ngomong gitu Cha. Coba dulu baru berkomentar". Dito tak mau kalah dalam hal perdebatan.


"Nih ya. Tanpa harus gue coba, gue juga udah tau. Panas kuping gue dengar mereka-mereka yang punya cowok penuh keluhan. Manis didepan pahit dibelakang. Ujungnya nangis pas ditinggal. Bahkan ada yang tekdung karena kebablasan. Intinya hubungan tak jelas seperti itu lingkaran setan. Paham". Saat Dito akan kembali membantah, Julian memotongnya.


"Gue setuju. Dan loe Dit, kalau mau pacaran silahkan. Tapi gak usah minta kita ikutan". Dito diam setelah mendapatkan serangan dari Julian.

__ADS_1


Beberapa kali Chaca melihat teman-temannya menangis hanya karena diputusin, diselingkuhi bahkan ada yang harus putus sekolah hanya karena terlalu bablas dalam berpacaran. Memang itu semua tergantung masing-masing orang. Tapi yang namanya hubungan seperti itu selalu menggunakan kontak fisik. Itulah pendapat Chaca.


Chaca bukanlah gadis yang tak paham mengenai ****. Bahkan dia pernah melihat Dzaky berciuman dengan kekasihnya saat dirumah. Dan beberapa temannya selalu menceritakan apa saja yang mereka lakukan setelah mereka berkencan dengan kekasih mereka. Tanpa ada rasa malu, mereka menceritakan semua kepada teman lain didalam kelas. Bagi Chaca itu hal yang merugikan bagi wanita. Dijamah orang yang belum pasti akan menjadi miliknya selamanya.


"Chaca. Bisa ngomong sebentar". Untuk kesekian kalinya kakak kelas Chaca mendekati Chaca. Dan Chaca paham apa maksudnya. Karena ini bukan kali pertama dialami Chaca.


"Iya kenapa kak". Chaca pura-pura tidak tahu dan menanggapi kakak kelasnya itu.


"Nanti aku tunggu ditaman sekolah sepulang sekolah ya Cha. Jangan lupa datang". Sebelum mendapatkan persetujuan dari Chaca, kakak kelasnya segera pergi.


"Wah roman-romannya bakalan ada katakan cinta lagi nih". Olok Dito sambil tersenyum.


"Heh. Jadi males gue. Loe aja yang nyamperin Dit". Chaca meminta Dito yang menemui kakak kelasnya itu.


Karena menghargai kakak kelasnya, Chaca benar-benar datang ketaman bersama dengan teman-temannya. Ditaman sudah berkumpul kakak kelas Chaca menunggu Chaca. Chaca berjalan mendekati kerumunan itu. Walaupun dia sudah paham apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Kak. Maaf tadi Chaca piket kelas dulu. Jadi lama". Hari ini memang jadwal Chaca untuk piket kelas.


"Ah gapapa Cha. Tadi aku kira kamu gak mau datang. Ternyata kamu datang". Wajah sumringah tampak nyata dihadapan Chaca.


"Ada apa ya Cha". Pura-pura bodoh itu lebih menguntungkan daripada sok pintar. Itulah moto Chaca.

__ADS_1


"Cha sebenarnya sudah lama aku suka sama kamu. Tapi aku nunggu waktu yang tepat buat ungkapin ini. Gue nunggu setelah ujian akhir sekolah. Dan ini waktu yang tepat. Cha, mau gak jadi pacar aku. Aku memang akan lulus tak lama lagi. Tapi aku janji akan teus setia sama kamu walaupun kita sudah tidak berbeda pendidikan. Gimana Cha, mau kan kamu jadi pacar aku". Julian diam menatap dibelakang Chaca. Hanya Dito dan Dita yang heboh agar Chaca mau menerima pernyataan kakak kelasnya itu. Apalagi dia mantan ketua OSIS yang sangat populer.


"Kak, maaf. Chaca tidak bisa menerima kakak. Chaca ingin fokus belajar saja. Apalagi Chaca masih kelas sepuluh. Jadi maaf ya kak membuat kakak kecewa. Semoga kakak mendapatkan cewek yang lebih baik dari Chaca. Chaca pulang dulu kak. Permisi". Jawab Chaca tegas tanpa basa-basi. Wajah kecewa kakak kelas Chaca membuat suasana kian sendu.


Chaca melangkah meninggalkan area sekolah tanpa beban. Hanya dua sahabatnya yang begitu berisik menyalahkan Chaca yang menolak kakak kelas mereka. Chaca hanya diam tak menanggapi. Julian tak berkomentar apapun.


Setiap kembali kerumah, Chaca selalu disambut dengan kehebohan kakak satu-satunya. Hubungan mereka benar-benar aneh menurut sebagian orang. Karena selalu saja ada perdebatan. Cara mengungkapkan kasih sayang yang sangat unik.


"Merica bubuk. Dadar gulungnya Abang Dzaky". Teriakan Dzaky yang begitu membahana.


"Berisik amat loe Marjuki". Chaca berjalan melewati Dzaky yang merentangkan tangannya.


"Gak sopan amat, gak mau dipeluk nih". Wajah Dzaky dibuat seimut mungkin.


"Anjay, jijik amat muka loe". Sebuah jitakan didapat Chaca.


"Dasar adik durhakim loe Cha". Chaca diam tak peduli. Dia masuk kedalam kamar untuk beristirahat.


Walaupun sikap mereka absurd, Dzaky adalah tempat ternyaman bagi Chaca untuk berlindung. Dzaky orang pertama yang akan menjadi tameng bagi Chaca jika terjadi sesuatu pada Chaca. Karena papa mereka jarang sekali ada dirumah. Dan hanya Dzaky yang memahami Chaca.


Chaca dirumah tidak berbeda dengan Chaca disekolah. Hanya saja jika dirumah, Chaca rajin mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan Chaca mahir dalam hal memasak. Asisten rumah mereka sudah terlalu tua untuk terus menjaga mereka, dan Dzaky memintanya untuk istirahat dirumah saja. Chaca dan Dzaky sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya.

__ADS_1


Kedua orangtua Chaca jarang sekali dirumah. Itu kadang membuat Chaca sangat rindu. Jika mereka sedang berkumpul, Chaca akan sangat manja bersama sang Papa.


__ADS_2