
Maaf semalam ada kesalahan karena jaringan disini eror banyak yang gak bisa diedit dan ternyata sudah dah ke post...
_____
"Mah, Alan sudah melamar Chaca. Dan tidak lama lagi kami akan menikah". Chaca hanya diam mendengarkan pembicaraan Kalandra dan mama Adina saat mereka sudah berada dikamar hotel.
"Benarkah itu sayang. Chaca masih mau menerima Alan kembali". Chaca mengangguk dan tersenyum menjawab pertanyaan mama Adina. Mama Adina segera memeluk tubuh Chaca karena bahagia.
"Terimakasih sayang. Terimakasih. Mama bisa tenang sekarang". Tiba-tiba mama Adina melepaskan pelukannya dan menatap Kalandra tajam.
"Kali ini kalian tidak main sandiwara lagi kan. Kalian serius kan menikah sungguhan. Jangan lagi seperti kemarin. Mama tidak suka". Chaca menatap Kalandra. Kalandra paham maksud tatapan Chaca dan segera menjelaskan kepada mama Adina.
"Kami akan menikah secara resmi mah. Tapi kami sepakat membuat perjanjian pranikah". Tampak mama Adina tak suka dengan jawaban Kalandra.
"Gak ada perjanjian semacam itu. Mama tidak suka. Jika kalian sungguh-sungguh dengan niat kalian, maka lakukan dengan setulus hati". Chaca segera memberikan jawaban yang bisa dimengerti mama Adina. Chaca memanfaatkan rasa sayang mama Adina kepada dirinya.
"Mah, perjanjian itu Chaca yang meminta. Chaca hanya ingin ada jaminan dari kak Alan untuk tidak menyakiti Chaca". Mama Adina menatap dalam mata Chaca.
"Nak, apa kamu belum bisa mempercayai Alan. Sampai kamu meminta perjanjian semacam itu". Chaca tersenyum menatap mama Adina. Dan menggenggam kedua tangannya.
"Chaca akan berusaha mempercayai kak Alan mah. Dan Chaca sedang mencoba belajar menerima kehadiran Kak Alan mah. Selama ini Chaca tidak pernah mempercayai lelaki manapun kecuali keluarga Chaca sendiri. Jadi Chaca minta agar mama mengijinkan kami untuk membuat perjanjian pranikah". Kalandra tersenyum tipis mendengar semua ucapan Chaca. Dia yakin Chaca bisa membuat mama Adina luluh.
"Huh. Baiklah. Tapi setelah kalian benar-benar yakin bisa saling menerima, maka hapus perjanjian itu". Chaca mengangguk begitu dengan Kalandra.
__ADS_1
Perjanjian pranikah adalah alibi Kalandra agar mama Adina tidak curiga jika kontrak pernikahannya nanti telah berakhir. Mereka lega sudah mendapatkan restu dari mama Adina walaupun menggunakan kata ganti untuk sebuah kata kontrak.
Malam hari mereka kembali berjalan-jalan seperti biasanya. Dan besok mama Adina harus melakukan cek rutin. Chaca sudah membujuk mama Adina untuk berobat sebagai syarat Chaca mau menikah dengan Kalandra.
"Mumpung ada toko perhiasan. Kita sekalian cari untuk mas kawin saja. Gimana. Itung-itung nyicil niat baik kalian". Kalandra mengangguk dan Chaca hanya menurut saja.
"Baik mah. Tapi mama bantu pilih ya". Mama Adina semangat menggandeng tangan Chaca. Mereka masuk kedalam toko perhiasan dan memilih.
Beberapa model terbaru sudah dikeluarkan. Chaca hanya diam melihat mama Adina begitu antusias memilih perhiasan untuknya.
"Alan". Panggilan seseorang mengalihkan fokus mereka.
"Gwen". Mama Adina menyebut nama orang yang memanggil Kalandra.
"Baik". Mama Adina kembali fokus memilih cincin untuk pernikahan Kalandra. Gwen memperhatikan dari belakang mereka.
"Cha, ini bagus. Berliannya juga gak gede. Kamu suka yang kayak gini kan sayang". Mama Adina sengaja sedikit menaikan suaranya agar Gwen mendengar.
"Iya mah. Kita ambil yang ini saja. Kak Alan setuju gak". Kalandra mengambil cincin yang dipegang oleh Chaca dan memasangkan dijari manis Chaca.
"Cantik". Jawaban Alan setelah cincin itu terpasang dijari manis Chaca. Mama Adina tersenyum melihat interaksi keduanya yang begitu manis. Gwen menatap tak suka kepada Kalandra dan Chaca.
"Alan, kamu akan menikah". Gwen kembali memastikan apa yang sedang dia lihat.
__ADS_1
"Oh iya lupa. Alan akan menikah dengan Chaca. Jika kamu tidak sibuk bisa kamu datang. Nanti Tante kirim undangannya". Mama Adina menjawab pertanyaan Gwen yang ditujukan kepada Kalandra.
"Alan, aku mau ngomong bisa". Chaca menatap Gwen sekilas sebelum kembali memperhatikan beberapa perhiasan yang ada didepannya.
"Jika kamu ingin bicara dengan anak saya, silahkan bicara disini". Kalandra sama sekali tidak menanggapi Gwen, hanya mama Adina yang menjawab permintaan Gwen kepada Kalandra.
"Alan, aku masih berharap kamu mau kembali denganku. Apa kamu tidak ingat masa-masa bersama kita selama empat tahun. Tidakkah kamu mempertimbangkan itu semua. Aku masih sangat mencintai kamu Lan". Kalandra sama sekali tak berekspresi. Mama Adina kembali menjadi juru bicara Kalandra.
"Sepertinya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Alan sudah akan menikah. Tidak ada lagi urusan diantara kalian. Jodoh kalian sudah usai beberapa tahun yang lalu. Jangan memaksakan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi. Tante yakin kamu akan mendapatkan jodoh lebih baik dari putra Tante". Gwen menangis mendengar perkataan mama Adina. Kalandra dan Chaca hanya diam mendengarkan percakapan mereka. Kalandra dan Chaca saling menatap ketika mama Adina mempertegas posisi Gwen saat ini.
"Tante. Gwen minta restui Gwen Tante. Alan satu-satunya pria yang bisa mengerti Gwen Tante. Gwen tau kesalahan Gwen. Dan Gwen ingin memperbaiki itu. Berikan kesempatan kepada Gwen Tante". Kalandra memegang lengan mama Adina lembut agar mama Adina tidak terbawa emosi yang bisa membuat penyakit mama Adina kambuh.
"Gwen sekali lagi saya katakan, kita sudah selesai. Sekarang saya akan menikah dengan gadis yang lebih baik darimu. Jangan lagi ganggu hidup saya. Carilah pasangan yang sesuai dengan keinginan kamu. Pergilah, jangan mempermalukan dirimu sendiri. Lihatlah banyak orang memperhatikan dirimu. Kamu tak mau kan reputasi terbaik mu hancur". Gwen melihat kesekeliling toko tersebut. Dan benar banyak pasang mata memperhatikan Gwen. Bahkan ada yang mengabadikan kejadian itu menggunakan ponsel mereka. Seorang model ternama Gwen Stefani pasti banyak yang mengenalnya dan berita semacam ini sangat merugikan bagi Gwen.
Gwen meninggalkan toko tersebut diikuti asisten pribadinya. Asisten Gwen sempat meminta beberapa orang yang merekam kejadian tersebut untuk menghapus rekaman mereka. Dengan imbalan uang semua mudah dilakukan.
Mama Adina kembali fokus memilih perhiasan untuk pernikahan Kalandra dan Chaca yang bahkan hari dan tanggalnya pun belum ditentukan. Bahkan orangtua Chaca juga belum mengetahui hal ini. Karena keantusiasan mama Adina, membuat Chaca dan Kalandra tak bisa menolak.
"Perhiasan sudah siap. Sekarang kita kemana". Perhiasan yang diinginkan sudah selesai mereka pilih dan Kalandra sudah membayarnya. Untuk cincin akan kembali mereka ambil empat hari lagi. Karena menyesuaikan ukuran dan mengukir nama.
"Sudah malam. Mama harus istirahat. Kita kembali saja ke hotel". Kalandra melihat arloji ditangannya dan memang hari sudah malam.
"Tapi mama masih ingin jalan-jalan". Mama Adina mulai merengek. Kalandra menyenggol lengan Chaca agar Chaca membantunya.
__ADS_1
"Mah, besok mama harus check up. Jadi sekarang kita pulang. Istirahat ya. Besok lagi jalan-jalannya. Besok Chaca akan menemani mama dari pagi". Mama Adina mengangguk dan mereka kembali ke hotel untuk beristirahat.