
"Pagi bi. Mama Adina ada". Chaca menyapa asisten rumah keluarga Kalandra saat pintu rumah itu terbuka.
"Eh non Chaca. Ada no. Mari masuk". Chaca berjalan masuk kedalam rumah orangtua Kalandra. Chaca sengaja datang kerumah mama Adina pagi ini karena dia sudah berjanji akan menghabiskan waktu bersama mama Adina sebelum dia berangkat keluar negeri.
"Chaca". Chaca terkejut melihat Kalandra yang turun dari lantai atas. Chaca tidak tahu jika Kalandra juga tinggal disini.
"Om". Kalandra berjalan mendekati Chaca yang masih diam ditempat dia berdiri.
"Terimakasih ya. Sudah mau menemui mama". Kalandra berdiri tepat didepan Chaca. Dia sudah rapi dengan pakaian kerjanya.
"Iya sama-sama om. Mama dimana om". Chaca mencoba mengedarkan pandangannya mencari mama Adina.
"Mama ada ditaman belakang. Mau saya antar". Kalandra menawarkan diri untuk mengantarkan Chaca menemui mamanya.
"Tidak usah om. Om udah mau berangkatkan. Chaca kesana sendiri saja". Chaca berjalan menuju taman belakang. Kalandra segera berangkat menuju kantor.
Chaca melihat mama Adina sedang berkebun. Taman belakang rumah orangtua Kalandra dijadikan kebun mini sayuran dan taman bunga oleh mama Kalandra. Beliau sangat suka berkebun.
"Mama". Sapa Chaca pelan saat sudah didekat mama Adina. Mengingat jantung mama Adina yang lemah, Chaca tidak berani mengejutkan.
"Sayang. Sini sini". Mama Adina segera bangun dari duduknya menyambut Chaca.
"Ah mama kangen banget sama kamu. Eh tapi tangan mama kotor". Chaca tetap mencium tangan mama Adina dan memeluknya walaupun sudah dicegah.
"Mama nanem apa. Wah sayurannya banyak banget mah. Hijau bikin mata segar". Chaca mengagumi indahnya kebun milik mama Adina yang nampak menyegarkan mata.
"Mama mau nanem terong sayang. Kemarin mama beli bibitnya". Chaca berjalan-jalan disekitar taman melihat tanaman mama Adina.
"Oh ya Chaca lupa. Ini tadi Chaca bikin kue buat mama". Saking asyiknya melihat pemandangan sejuk dihadapannya, Chaca lupa dengan bingkisan yang dibawanya.
"Wah, kamu bisa bikin kue sayang". Chaca mengangguk sambil tersenyum. Chaca meletakkan tas miliknya dan berjongkok hendak membantu mama Adina.
"Chaca bantu ya mah. Sepertinya asyik berkebun bersama". Mama Adina tertawa dan ikut berjongkok bersama Chaca. Mereka berkebun bersama. Mereka sesekali bercanda hingga suara tawa mama Adina terdengar hingga kedalam rumah.
Waktu menjelang siang, mereka menyudahi acara berkebun. Dan akan menyiapkan makan siang bersama. Chaca hari ini akan memasak untuk mama Adina.
__ADS_1
"Sayang bersihkan dulu badan kamu. Naik saja ke kamar Kalandra. Pakai saja dulu bajunya. Karena baju kamu agak kotor". Baju Chaca terkena tanah saat mereka berkebun.
"Tidak usah mah. Chaca bersihkan saja dengan sedikit air. Kamar mandi bawah ada kan mah. Chaca gak enak masuk kamar tanpa ijin pemiliknya". Chaca berusaha menolak halus saran mama Adina.
Mama Adina tersenyum dan mengambil ponselnya. Dengan sengaja mama Adina menghubungi Kalandra dihadapan Chaca bahkan menyalakan speaker agar Chaca ikut mendengarkan.
"Ya mah. Ada apa"
Chaca terkejut mendengar suara Kalandra. Mama Adina tersenyum melihat reaksi Chaca yang lucu.
"Alan, Chaca boleh pakai kamar kamu untuk membersihkan badannya kan. Tadi dia kena lumpur waktu berkebun sama mama"
"Iya boleh mah. Pake saja"
"Pinjam baju boleh. Bajunya kotor"
"Tapi baju Alan gak ada yang ukuran Chaca mah. Tapi kalau gak keberatan ya gapapa pake saja"
"Iya juga ya. Badan Chaca kan kecil. Hmmm kamu pesankan pakaian buat Chaca. Karena mama mau jalan-jalan habis ini"
Chaca sempat melambaikan tangan menolak permintaan mama Adina kepada Kalandra. Namun mama Adian tak peduli. Tetap meminta Kalandra memesankan pakaian untuk Chaca.
"Hush bawel. Cepet pesankan pakaian untuk Chaca. Gak boleh pake lama".
Mama Adina segera menutup panggilannya. Chaca hanya bisa pasrah saja. Dibantahoun juga tak bisa.
"Sekarang kamu naik, Kalandra sudah mengijinkan kamu memakai kamarnya. Sambil menunggu bajunya datang". Mama Adina mendorong tubuh Chaca agar berjalan naik menuju kamar Kalandra.
Rudi dan Kalandra sedang meeting saat mama Adina menghubungi dirinya. Bahkan kliennya ikut diam memperhatikan Kalandra yang sedang berbincang dengan mamanya. Bahkan saat Kalandra menghubungi butik langganannya meminta dikirimkan pakaian wanita kerumahnya, membuat klien Kalandra penasaran.
"Wah pak Kalandra sayang banget ya sama adiknya sampai dipesankan pakaian". Klien itu bisa menebak jika pakaian yang dipesan Kalandra adalah pakaian remaja.
"Saya tidak memiliki adik Bu". Jawab Kalandra singkat.
"Ah, tunangan bapak. Saya ingat waktu itu bapak mengumumkan memliki tunangan dari keluarga Rasyid". Rudi dan Kalandra saling pandang. Mereka lupa akan hal itu. Dan sekarang hubungan palsu itu berakhir tanpa adanya konfirmasi dari kedua belah pihak.
__ADS_1
"Ya benar Bu". Kalandra hanya mengiyakan saja. Mereka melanjutkan meeting yang sedikit tertunda.
Dirumah mama Adina Chaca sedang memasak. Sambil menunggu pakaian yang dipesankan Kalandra sampai.
"Wah mama gak nyangka masakan kamu sangat enak sayang. Apa kamu ambil kursus memasak". Mama Adina terus menerus memuji masakan Chaca.
"Tidak mah. Ini karena Oma. Dulu Chaca sering bersama Oma. Dan Oma selalu mengajari Chaca untuk memasak. Kata Oma, sekalipun kamu nanti menikah dengan seorang sultan yang memiliki banyak asisten rumah. Kamu harus tetap bisa memasak agar suami Kam tetap setia dengan kamu. Memikat hati laki-laki berawal dari perutnya. Gitu kata Oma". Mama Adina tertawa mendengar cerita Chaca.
"Mama setuju sayang. Manjakan mereka melalui perut. Walaupun satu kali saja dalam satu Minggu kamu memasak untuk pasangan kamu, itu akan sangat berkesan daripada tidak pernah memasak sama sekali". Chaca dan mama Adina menikmati makan siang mereka dengan obrolan hangat. Tak berselang lama penjaga rumah datang dengan membawakan pesanan Kalandra untuk Chaca. Chaca segera mengganti pakaiannya dan akan berjalan-jalan dengan mama Adina.
Mereka pergi dengan Chaca sebagai sopir. Awalnya mama Adina meminta sopir rumah mereka untuk mengantarkan, namun Chaca menolak. Mereka pergi ke taman hiburan. Menghabiskan waktu dengan bersenang-senang. Walaupun sudah tidak muda lagi, mama Adina tetap menikmati setiap wahana yang dia naiki bersama Chaca.
Setelah menghabiskan dua jam diwahana permainan, mama Adina mengajak Chaca untuk ke pergi ke Mall. Mama Adina ingin berbelanja hari ini bersama Chaca.
"Sayang apapun yang kamu mau, hari ini mama belikan". Chaca sudah terus menerus menolak tetap sama saja.
"Chaca sedang tidak ingin apapun mah. Mama saja yang beli". Chaca kembali menolak. Namun mama Adina tak peduli.
Mama Adina memasuki setiap toko yang menjual semua kebutuhan remaja. Chaca hanya bisa diam menuruti kemauan nama Adina. Chaca sudah mengatakan kepada mama Adina tentang keberangkatannya lusa untuk melanjutkan sekolah keluar negeri. Raut wajah mama Adina nampak sedih. Dan dengan alasan itu saat ini mama Adina tak hentinya membelikan apapun untuk Chaca.
"Sayang, jangan lupakan mama ya saat kamu sudah berada disana. Kamu tetap putri mama. Jujur mama masih berharap kamu dan Kalandra bersama sayang. Tapi mama juga tidak akan memaksa lagi. Tapi apa tidak bisakah kamu memberikan Kalandra satu kali kesempatan lagi nak". Chaca hanya bisa tersenyum menanggapi permintaan yang selalu sama. Inilah yang Chaca hindari selama ini. Ekspresi wajah mama Adina sangat menyiksa Chaca. Sekuat apapun Chaca bertahan, jika bertemu langsung dengan mama Adina pertahanan itu bisa runtuh setiap saat.
"Sekali lagi maafkan Chaca mah. Semoga Kak Alan bisa mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Chaca. Mungkin kita tidak berjodoh mah". Sekuat mungkin Chaca bertahan. Benteng itu dia pertahankan agar tidak runtuh.
"Dan jodoh terbaik itu kamu nak. Tapi jika memang kamu sudah tak bisa. Mama harus bagaimana". Chaca benar-benar harus bertahan. Mama Adina sudah hampir meneteskan air mata. Hingga mereka dikejutkan oleh datangnya Kalandra.
"Mama, Chaca. Kalian disini juga". Kalandra dan Rudi menemui klien lain di mall tersebut. Dan melihat mama Adina dan Chaca sedang makan ditempat yang sama dengan dirinya.
"Alan. Siapa dia". Mama Adina menatap tak suka pada wanita yang bergelayut manja dilengan Kalandra.
"Ah, Tante perkenalkan saya Agnes. Calon kekasih Kalandra". Kalandra menatap Agnes tak suka. Agnes adalah anak dari kliennya dan kebetulan mereka dulu teman satu kampus.
"Apa. Alan jelaskan pada mama". Keringat dingin sudah mulai bermunculan diwajah mama Adina. Chaca menyadari wajah mama Adina sudah mulai memucat.
"Dia teman Alan mah. Bukan siapa-siapa". Kalandra mencoba mengatakan yang sesungguhnya. Namun Agnes tidak terima.
__ADS_1
"Gak ya. Kalandra berbohong Tante. Sebenarnya kami sudah lama dekat. Kamu gimana sih beib gak mau ngaku". Tiba-tiba mama Adina pingsan. Chaca dan Kalandra panik. Rudi yang baru saja kembali dari toilet segera berlari mendekat.
"Jika terjadi sesuatu dengan mama saya. Saya akan menghancurkan kau dan keluarga kau. Ingat itu". Agnes diam melihat tanpa mau membantu. Mereka segera bergegas membawa mama Adina kerumah sakit terdekat.