
"Hmm". Chaca meregangkan tubuhnya sebelum membuka matanya. Ada rasa aneh yang Chaca rasakan saat ini. Chaca diam sesaat sebelum dia membuka matanya memastikan sesuatu yang saat ini berada disampingnya.
"Hush". Chaca mencoba menggeser tubuhnya. Ada rasa perih yang Chaca rasakan dibawah sana. Chaca berbalik dan melihat seseorang ada disampingnya dengan bertelanjang dada. Hanya berbalut selimut.
"Apa ini". Lirih Chaca saat menyadari jika dia tanpa menggunakan sehelai kain pun dibawah selimut tebalnya.
Chaca menoleh kembali kearah pria disampingnya. Dan benar itu Kalandra yang masih terlelap. Chaca ingin sekali berteriak marah dan menangis sekencang-kencangnya. Tapi seakan suaranya tidak bisa keluar. Air mata Chaca menetes deras tak tertahankan.
Suara tangis Chaca menyadarkan Kalandra dari mimpi indahnya. Kalandra juga terkejut dengan kondisinya sendiri. Dia menoleh kearah Chaca yang sudah menangis dibalik selimutnya. Kalandra diam mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka malam tadi setelah makan malam bersama keluarga.
"Cha". Panggil Kalandra lirih. Tangannya yang hendak menyentuh pundak Chaca, hanya bisa menggantung.
Chaca masih menangis. Kalandra mengusap kasar rambutnya. Perlahan mencoba mendekati Chaca.
"Chaca maafkan saya. Saya juga tidak tahu mengapa tidak bisa menahan diri. Maafkan saya Cha". Kalandra memberanikan diri menyentuh punggung Chaca dibalik selimutnya.
"Kenapa om. Kenapa bisa seperti ini". Chaca masih terkejut dengan kondisinya saat ini. Ini kali pertama untuknya.
"Maafkan saya Cha. Kita akan menikah lagi Cha. Saya akan tanggungjawa". Kalandra tegas memberikan putusannya demi kebaikan bersama.
"Hiks. Hiks. Kenapa om. Kenapa bisa". Kalandra sudah tidak tahan lagi melihat Chaca begitu terluka. Kalandra mendekap tubuh Chaca dari belakang. Bahkan Kalandra ikut menangis.
"Jangan menangis sayang. Kakak mohon. Kakakpun terluka mendengar tangisan kamu". Tanpa sadar Kalandra mengucapkan kata manis ditelinga Chaca.
Chaca masih terisak pelan. Kalandra tetap memeluk tubuh polos Chaca yang berbalut selimut itu. Kalandra kembali mengingat apa saja yang terjadi malam tadi.
Flashback....
Mama Adina mengajak Chaca dan Kalandra menonton film action romantis bersama. Mereka menikmati kebersamaan dengan hidangan camilan dan minuman jus.
"Mah, Chaca mau tidur dulu ya. Ngantuk". Chaca meminta ijin untuk tidur terlebih dahulu karena merasa mengantuk.
__ADS_1
"Iya sayang. Selamat malam". Chaca hanya mengangguk dan tersenyum. Saat Chaca akan melangkah, tiba-tiba saja tubuhnya goyah dan terjatuh.
"Chaca". Teriak mama Adina dan Kalandra bersamaan. Kalandra segera membantu Chaca berdiri.
"Kamu gak papa sayang". Mama Adina melihat kondisi Chaca.
"Gapapa mah. Gak tau kenapa tiba-tiba Chaca pusing". Chaca merasakan pusing di kepalanya.
"Ya sudah biar diantar Alan saja ya sayang. Mama takut kamu jatuh lagi". Chaca hanya mengangguk dan Kalandra segera menggendong tubuh Chaca masuk kedalam kamar.
Kalandra meletakkan tubuh Chaca diatas ranjang. Tiba-tiba saja Chaca menarik lengan Kalandra dan membuat Kalandra terjatuh diatas tubuh Chaca.
"Chaca". Pekik Kalandra saat tiba-tiba saja Chaca mengecup bibirnya. Kalandra berusaha berdiri.
"Om. Panas om. Tolong Chaca om". Chaca mulai menggerakkan tubuhnya tak karuan. Bahkan berusahalah membuka pakaiannya.
"Cha jangan seperti ini Cha". Kalandra berusaha mencegah Chaca yang akan membuka pakaiannya. Dan sial bagi Kalandra, dia pun juga merasakan hal yang sama dengan Chaca.
"Apa ini. Kenapa tubuhku sepanas ini. Ah sial". Kalandra ingin menyadarkan Chaca, namun dirinya sendiri mengalami hal yang sama.
Chaca juga bersikap agresif kepada Kalandra. Hingga tanpa mereka sadari, mereka saling membalas cumbuan dibawah shower. Saling menikmati setiap sentuhan yang mereka rasakan. Bahkan suara merdu Chaca membuat Kalandra semakin kesetanan.
Bukan hanya dikamar mandi, mereka juga melakukan berkali-kali diatas ranjang. Kalandra selalu menyebut nama Chaca. Tanpa mereka tahu jika suara itu terdengar hingga diluar kamar. Kedua orangtua Kalandra merasa bahagia rencana mereka sudah berjalan lancar.
Karena sesungguhnya itu semua ulah Mama Adina yang sengaja mencampur minuman mereka dengan obat perangsang. Mama Adina terpaksa melakukan hal itu karena memang sudah tidak ada jalan lain lagi. Apalagi keluarga Chaca akan datang dalam waktu dekat ini membahas pernikahan Dzaky. Mama Adina tidak ingin permasalahan mereka diketahui keluarga Chaca.
"Akhirnya. Semoga kamu cepat hamil sayang. Maafkan mama mengambil jalan ini. Karena mama sangat mencintai kalian nak. Mama ingin kalian bersatu kembali". Gumam mama Adina sambil melangkah pergi menuju kamarnya.
Flashback end....
Setelah Chaca cukup tenang, mereka mencoba berbicara. Kalandra dan juga Chaca masih sama-sama belum beranjak dari atas ranjang.
__ADS_1
"Cha, kalau kamu mau marah sama saya. Saya akan terima Cha. Maaf saya sudah tidak sopan dengan kamu". Kalandra memulai percakapan mereka.
"Tidak om. Chaca sudah mulai ingat. Chaca juga salah om. Jadi jangan salahkan diri om sendiri". Jawab Chaca tenang. Mereka hanya menatap lurus kedepan.
"Chaca, maukah kamu kembali kepada saya. Kita menikah lagi. Kita mulai dari awal lagi. Apa kamu mau Cha". Kalandra sudah memutar posisi duduknya menghadap Chaca.
"Om, kalau ini karena rasa bersalah dan hanya sekedar tanggung jawab om ke Chaca. Chaca menolak om. Chaca tidak mau menikah diatas perjanjian lagi. Jika Chaca menikah nantinya, adalah pernikahan sesungguhnya tanpa ada perjanjian apapun". Chaca masih menatap lurus kedepan. Sedangkan Kalandra menatap kearah Chaca yang sedang berbicara.
"Cha, saya janji ini bukan kontrak. Karena sejujurnya saya sudah mencintai kamu Cha. Saya merasa kehilangan saat kamu pergi meninggalkan rumah kita sayang". Mendengar kata sayang dari mulut Kalandra, membuat Chaca terkejut.
"Apa om yakin dengan apa yang om katakan. Chaca tidak mau jika itu hanyalah sebuah pemanis untuk meluluhkan hati Chaca". Jawab Chaca kepada Kalandra secara gamblang.
"Tidak sayang. Tidak. Saya mengatakan sebenarnya. Saya sangat mencintai kamu sayang. Maukah kamu menikah lagi dengan saya. Kita jalani pernikahan ini dengan sesungguhnya. Kita akan menua bersama. Bahagia bersama anak dan cucu kita sayang. Maukah kamu memberikan lagi kesempatan itu kepada saya". Kalandra menggenggam tangan Chaca menatap Chaca dengan ketulusan.
Chaca menangis kembali karena mendengar permintaan Kalandra. Bahkan tidak ada kebohongan dalam tatapan mata Kalandra. Dan Chaca mengangguk menjawab permintaan Kalandra.
"Terimakasih sayang. Terimakasih. Aku janji tidak akan menyia-nyiakan kamu sayang. Aku akan selalu mencintai dan menjaga kamu sayang". Kalandra memeluk tubuh Chaca. Kalandra benar-benar bahagia dengan jawaban Chaca.
Mereka tidak keluar dari dalam kamar hingga siang menjelang. Bahkan Mama Adina dan papa Gerald sudah meninggalkan apartemen Chaca setelah mama Adina menyiapkan makanan untuk mereka.
Mama
Mama dan papa pulang sayang. Kalian nikmati waktu kalian bersama. Jangan diulang lagi sebelum kalian kembali meresmikan pernikahan kalian
Pesan singkat dari mama Adina kepada Kalandra. Kalandra tersenyum membaca pesan itu.
"Ada apa kak". Chaca penasaran dengan apa yang Kalandra baca.
"Lihat". Mereka tertawa bersama setelah membaca pesan mama Adina.
"Kenapa Chaca merasa itu ulah Mama Adina ya kak". Kalandra mengangguk. Kalandra menarik Chaca dalam pelukan.
__ADS_1
"Diam dan jangan banyak bergerak sayang. Dia akan bangun lagi". Chaca sedikit bingung dengan maksud Kalandra. Kalandra memberikan kode kearah bawah. Chaca lupa jika mereka masih sama-sama polos. Chaca membuka selimut Kalandra.
"Aaaahhh. Om mesum".