
"Sialan, siapa yang berani main-main ini". Agnes begitu marah saat dia menyadari ada keanehan di setiap gadget yang digunakannya. Kalandra tetap tenang meskipun dia tahu itu ulah siapa.
"Kamu kenapa beib. Ada apa dengan ponselmu". Kalandra melihat wajah Agnes sudah berubah menyeramkan.
"Ini bukan ulah kamu kan Ndra. Jangan sampai aku tau kamu macam-macam denganku". Kalandra tersenyum menatap Agnes. Dia harus hati-hati dalam berbicara. Bahkan Agnes pandai menebak ekspresi wajah Kalandra.
"Apasih. Saya disini bersama kamu sejak tadi. Bagaimana bisa kamu menuduh saya seperti itu". Kalandra dengan santai meminum jus dihadapannya. Ekspresi wajah Agnes sudah kembali seperti sediakala.
"Maafkan aku sayang. Aku tidak mau kamu berkhianat. Aku gak mau kamu pergi". Kalandra memegang kedua tangan Agnes agar Agnes tenang.
"Sudahlah. Jangan terlalu emosi. Kita kesini untuk bersantai. Mungkin ponselmu sedang eror saja. Jangan terus curiga dengan oranglain". Agnes tersenyum dan memeluk Kalandra dari samping. Ada rasa lega dari hati Kalandra saat Agnes tak lagi mempermasalahkan ponselnya yang rusak.
"Iya. Maaf merusak suasana". Kalandra hanya mengangguk dengan ekspresi wajah datarnya. Kalandra akan tersenyum saat Agnes menatapnya. Dan ekspresinya kembali datar dibelakang Agnes.
Kalandra berusaha mengulur waktu sebisa mungkin. Mereka sudah memulai rencana selanjutnya. Berharap semua berhasil. Agnes sudah nampak tak nyaman. Kalandra melirik kearah arlojinya. Waktu masih sisa cukup lama. Kalandra harus segera menyusun rencana lain sebelum Agnes meminta untuk pulang.
"Sayang, kita nonton yuk". Agnes memincingkan matanya menatap Kalandra.
"Nggak. Aku gak suka nonton. Ayo kita pulang". Kalandra segera berdiri mengejar Agnes. Saat berjalan menyusul Agnes, Kalandra mengirim pesan kepada Dzaky, jika kondisi darurat.
Agnes sudah berada didalam mobil Kalandra. Kalandra segera menyusul masuk dan segera pergi dari kafe. Letak kafe dan rumah Agnes tak begitu jauh. Lebih-lebih saat ini jalanan begitu lengang. Akan dipastikan Kalandra tiba lebih cepat. Kalandra berharap para sahabatnya sudah keluar dari rumah itu.
Saat memasuki area perumahan Agnes, Kalandra masih melihat mobil Dzaky yang terparkir ditaman tak jauh dari rumah Agnes. Kalandra semakin takut. Dia tau teman-temannya masih berada dirumah Agnes.
Kalandra membunyikan klakson untuk dibukakan pintu pagar. Setelah pintu terbuka lebar Kalandra segera memarkikan mobilnya. Dan benar teman-temannya masih berada disana. Karena Kalandra hafal dengan mobil Leo.
__ADS_1
"Sepertinya ada tamu sayang". Kalandra sengaja menanyakan hal tersebut ingin melihat reaksi Agnes.
"Iya, mobil siapa kok asing. Tapi papa itu gak suka berteman. Mereka siapa". Tanpa menunggu Kalandra, Agnes membuka pintu mobil sendiri dan segera mencaritahu siapa tamunya.
Agnes berjalan dengan wajah tak suka. Bahkan para pengawalnya hanya bisa menunduk karena takut. Agnes terus berjalan menuju ruang tamu. Kalandra mengikuti dari belakang. Diruang tamu tak nampak satu orangpun. Agnes mendengar suara dari dalam kamar papanya. Dia pun mendekati kamar orangtuanya.
"Ada apa ini. Kenapa ramai sekali ". Nampak dokter dan dua orang perawat sedang menangani mamanya. Papa Agnes nampak takut ketika mendengar suara Agnes yang tiba-tiba datang.
"Mama kamu nak. Harus segera dibawa kerumah sakit. Kesadaran mama kamu sudah menurun nak". Papa Agnes mencoba menjelaskan kondisi istrinya saat ini.
”Jangan bercanda. Mama baik-baik saja pagi tadi. Kenapa sekarang seperti ini. Atau jangan-jangan anda sengaja memberikan obat yang salah dok". Agnes segera menatap tajam dokter tersebut. Dokter tetap santai menanggapi Agnes. Dokter itu sudah tau sebelumnya mengenai Agnes.
"Saya sudah merawat ibu anda sejak lama. Apa pernah terjadi sesuatu". Dokter tersebut memang berani untuk membantah Agnes.
"Lalu kenapa mama bisa seperti ini jika anda tidak memberikan obat yang salah". Agnes masih terus mencecar dokter tersebut.
"Mama bangun mah. Mama jangan tidur terus mah. Agnes mau curhat". Agnes menangis sambil memeluk tubuh mamanya.
"Eh ngapain juga mama bangun ya. Yang ada mama nyusahin. Mama pasti bujukin Agnes yang nggak-nggak. Tidur aja yang lama ya mah". Tak butuh waktu lama, Agnes sudah berubah menyeramkan. Bahkan dia tertawa terbahak. Kalandra yang menatap itu jadi merinding. Begitu juga dengan dua sahabat Kalandra.
"Agnes, kita bawa mama kerumah sakit ya. Mama harus diobati. Kalau mama gak diobati, nanti gak ada yang nemanin Agnes". Papa Agnes membujuk anaknya perlahan. Agnes tiba-tiba kembali menangis dengan histeris.
"Tapi mama akan sembuh kan pah. Mama gak akan kenapa-kenapa kan pah. Nanti gak ada yang bisa Agnes ajak bermain kalau tidak ada mama". Papa Agnes berjalan mencoba kembali membujuk Agnes.
"Kita bawa mama ya nak. Bolehkan". Agnes mengangguk dalan isak tangisnya. Tanpa menunggu lama, sahabat Kalandra yang menyamar menjadi perawat segera mengangkat tubuh mama Agnes menggunakan tandu dan memasukkan kedalam ambulance yang sebelumnya memang sudah mereka pesan.
__ADS_1
Kalandra memberi kode agar segera pergi sebelum Agnes berubah pikiran. Kalandra segera menghampiri Agnes yang masih menangis. Dokter juga sudah meninggalkan rumah Agnes.
"Mama. Mama kenapa mah". Didalam kamar Agnes masih menangisi mamanya. Dan beberapa saat kemudian berubah menjadi tawa. Kalandra sangat takut dengan sikap Agnes seperti itu.
"Sudah ya, itu yang terbaik untuk mama kamu". Kalandra menenangkan Agnes agar tidak sedih. Agnes beranjak dari kamar itu dan berjalan seperti biasa dan segera masuk ke kamarnya sendiri.
Kalandra melihat Agnes yang sudah pergi, mencoba mengajak papa Agnes untuk berbincang. Papa Agnes meneteskan air mata saat melihat istrinya dibawa pergi menggunakan ambulance. Papa Agnes hendak ikut kedalam ambulance, namun Agnes menatapnya dengan tajam. Tanda tidak diijinkan.
Kalandra dan papa Agnes duduk diruang keluarga sambil menunggu Agnes keluar dari kamarnya. Entah apa yang sedang Agnes lakukan karena suasana menjadi hening. Karena diawasi oleh pengawal, papa Agnes dan Kalandra berbicara pelan dan kode". Agar pengawal itu tidak curiga.
"Terimakasih karena pengiriman bahan bangunan sudah aman nak Kalandra". Kalandra mengangguk. Dia paham arah pembicaraan itu.
"Iya om. Semoga tidak ada kendala apapun sampai ditujuan. Tapi sepertinya masih ada sedikit kekurangan om dalam pengiriman itu". Papa Agnes mengangguk-anggukkan kepalanya tiga kali.
"Iya, saya rasa juga begitu. Tapi kita harus menunggu waktu yang tepat. Jika salah kirim semua akan rusak mengingat ini musim hujan". Tiba-tiba Agnes sudah duduk bergabung dengan mereka.
"Ngobrol apa kok asyik banget". Kalandra tersenyum menatap Agnes agar tidak curiga. Agnes sudah kembali biasa seperti tak terjadi apapun.
"Ini kita lagi bahas pengiriman bahan bangunan sayang. Berharap tidak ada kendala. Ini musim hujan". Agnes hanya diam tak merespon. Agnes meletakkan kepalanya di bahu Kalandra. Tak lupa memeluk pinggang Kalandra posessif.
"Nak, jangan lupa ada satu tempat penyimpanan yang harus kita kunjungi". Papa Agnes memberikan kode mata kepada Kalandra.
"Nanti kita atur waktunya om. Menunggu sedikit waktu senggang". Papa Agnes mengangguk. Dan berpamitan untuk kembali masuk kedalam kamar.
Agnes masih diam memainkan ponselnya. Kalandra melihat kearah arloji. Dia harus segera pergi dari rumah menakutkan ini.
__ADS_1
"Sayang saya pulang dulu. Saya harus menggantikan papa menunggu mama". Agnes mendongak menatap mata Kalandra.
"Aku ikut. Aku ingin menginap dirumah papa kamu".