Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 30


__ADS_3

Saat ini Chaca sedang menghadapi ujian akhir. Dalam beberapa bulan dia akan lulus. Yang membuat Chaca pusing bukan perihal dia akan lulus atau tidak. Akan tetapi dengan lulusnya dia, pernikahannya semakin dekat. Mama Kalandra tidak lagi kembali menemani suaminya. Sesekali saja mamanya mengunjungi sang papa. Chaca sangat marah kepada Kalandra karena sampai saat ini, Kalandra belum mengatakan kepada orangtuanya mengenai hubungan palsu mereka.


Chaca lebih sering berkunjung ke rumah Kalandra. Mereka juga sering pergi bersama demi menyenangkan hati orangtua mereka. Walaupun terlihat dekat, tapi mereka tak sedekat dan seakrab yang orang-orang pikirkan. Kedua orangtua Chaca sudah menitipkan putrinya kepada mama Kalandra karena mereka sudah kembali ke luar negeri.


Ting


*Om Menyebalkan


Hari ini ujian terakhirkan..Mama minta kamu menginap dirumah. Tadi saya sudah ijin Dzaky. Saya jemput kamu pulang sekolah*


Chaca hanya bisa berdecak kesal. Hari-harinya tak lagi bebas. Ada saja cara mama Kalandra untuk terus bertemu Chaca. Pagi ini Chaca memang berangkat bersama Dzaky, karena Kalandra sedang perjalanan dari luar kota. Bahkan Chaca berencana akan hang out bersama teman-temannya, namun semua gagal karena pesan Kalandra baru saja dia terima saat istirahat usai ujian jam pertama.


"Guys, sorry kita jalan-jalannya lain kali ya". Chaca segera membatalkan janji mereka.


"Kenapa Cha. Bukannya si om lagi diluar kota". Teman-teman Chaca tahu jika Kalandra sedang tugas diluar kota.


"Baru aja chat kalau mau jemput gue. Suruh nginep rumah dia". Teman-teman Chaca mengangguk paham.


"Ya udah gapapa. Daripada si om manyun. Kita jalan-jalan habis pengumuman aja gimana. Dan loe Cha harus wajib ikut. Bilang sama si om". Chaca mengacungkan jempolnya.


Usai istirahat mereka kembali ke kelas untuk menyelesaikan soal ujian terakhir mereka. Waktu sembilan puluh menit harus mereka manfaatkan sebaik mungkin. Dan mereka sedang berjuang untuk mendapatkan nilai sempurna bagi mereka. Chaca selesai terlebih dahulu. Dan mengulangi kembali sebelum dia menyerahkan lembar jawaban miliknya. Setelah benar-benar yakin, Chaca menyerahkan lembar jawaban miliknya dan segera keluar ruangan dan menunggu sahabatnya di kantin sekolah.


*Ting


Om Menyebalkan*


Cha, pulang belum. Kenapa tidak dijawab dari tadi


Kembali Chaca mendapatkan pesan dari Kalandra. Chaca pun segera membala pesan Kalandra sebelum ponselnya kembali berbunyi.


*Me :

__ADS_1


Sudah selesai om. Chaca tunggu digerbang*


Julian mendekati Chaca yang masih menunggu sahabatnya menyelesaikan ujian. Kalandra sudah membalas pesan Chaca dan akan tiba di sekolah Chaca dua puluh menit lagi. Dan Chaca memutuskan menunggu Kalandra dikantin sekolah.


"Nunggu dimana". Julian duduk dengan membawa segelas jus alpukat.


"Disini dulu. Masih lama sampainya. Anak-anak belum selesai". Chaca menikmati batagor favoritmya sambil menunggu teman-temannya menyelesaikan ujian.


"Belum". Julian dan Chaca bersantai menunggu dan menikmati makanan mereka.


Satu persatu teman mereka sudah menyelesaikan ujian. Bahkan Kalandra sudah menunggu Cacha didepan gerbang. Chaca berjalan menuju gerbang ditemani Dita. Karena hanya Dita yang selalu baik angkot.


"Mbak. Tuh Mamas ganteng udah nunggu". Dita memanggil Kalandra dengan sebutan Mamas ganteng.


"Huh. Om-om kali Dit". Dan selalu seperti itu sangkalan Chaca kepada Dita.


"Ck. Masih muda loh mbak. Gak pantes dipanggil om". Jika Chaca tak mengalah perdebatan itu tak akan pernah usai.


"Yayaya. Manutlah Dit". Dita terkikik sendiri melihat ekspresi Chaca. Chaca segera masuk ke mobil Kalandra dan Dita berjalan menuju halte. Jika arah Dita tak berlawanan dengan Chaca, sudah pasti akan diantarkan Chaca.


"Cha, kamu masih marah sama saya". Chaca tak mengalihkan pandangannya. Dia terus menatap pemandangan jalan melalui kaca mobil.


"Om pikir". Jawaban singkat selalu Kalandra dapatkan jika Chaca masih menyimpan kekesalan.


"Cha, ini diluar dugaan saya. Saya kira mama tidak akan lama disini". Kalandra merasa sangat bersalah. Karena sudah melanggar perjanjian mereka.


"Om tau, mama Adina mengirim pesan ke Chaca tadi saat istirahat. Mama Adina sudah memiliki Pohan vendor untuk mengurus wedding kita. Om paham kan maksud Chaca". Chaca berbicara tanpa melihat Kalandra.


"Apa. Kenapa mama gak ngomong ke saya". terdengar suara Chaca yang berdecak. Kalandra semakin bingung harus bagaimana mengakhiri semua ini.


"Gue pernah ngomong kan om sebelum gue setuju melanjutkan ini. Bahkan om juga janji saat itu hanya sebentar. Apakah hampir satu tahun sebentar. Dan om masih diam saja. Jadi jangan salahkan Chaca kalau Chaca sendiri yang akan jujur". Kalandra menghentikan mobilnya secara mendadak. Dan beruntung tidak terjadi kecelakaan karena ulahnya.

__ADS_1


"Cha, tolong jangan cepat ambil keputusan seperti itu. Saya akan menyelesaikan ini sesegera mungkin Cha. Dan saya gak bisa langsung asal ngomong semua butuh persiapan". Lagi-lagi Chaca hanya menyeringai saja mendengar jawaban Kalandra.


"Sampai akhirnya akad nikah terjadi, Chaca gak yakin sama janji om". Chaca meremehkan apa yang kalandra ucapkan.


"Kali ini saya akan berusaha semaksimal mungkin Cha. Tolong ya Cha. Kasih saya waktu untuk berbicara kepada mama". Chaca hanya diam saja tak menanggapi perkataan Kalandra. Bagi Chaca janji Kalandra hanya sebuah omongan semata.


Mereka sudah sampai dikediaman orangtua Kalandra. Chaca berjalan masuk dengan diiringi Kalandra. Saat tiba diruang tamu, sudah tampak beberapa orang yang tidak mereka kenali sedang berbincang dengan mama Adina.


"Mama". Sudah sejak lama Chaca memanggil mama Kalandra dengan sebutan mama seperti permintaan mama Adina.


"Chaca. Sini sayang. Kangen mama". Pelukan hangat selalu diberikan mama Adina kepada Chaca setiap bertemu.


Chaca diajak duduk disofa berdampingan dengan mama Adina. Dan Kalandra duduk disofa lain yang tak jauh dari Chaca. Dihadapan mereka sudah ada empat orang dengan pakaian kasual sedang tersenyum kepada Chaca dan Kalandra.


"Nah ini calon pengantinnya. Jadi kalian bisa langsung perlihatkan semua desain undangan, dekorasi pelaminan dan dekorasi ruangan pestanya". Chaca dan Kalandra saling menatap dan mata mereka melotot karena terkejut.


"Mah. Ini ada apa". Kalandra masih bingung mencerna situasi.


"Alan, mereka ini dari beberapa perusahaan wedding organizer. Mama pilih beberapa yang memiliki nilai terbaik dari konsumen". Chaca menatap Kalandra tajam. Bahkan matanya tersirat amarah.


"Mah. Kenapa mama gak tanya Alan atau Chaca dulu". Kalandra tau maksud tatapan Chaca. Dia berusaha agar mamanya bisa berubah pikiran.


"Nah ini sekarang kan mama tanya. Dah sekarang kalian pilih mau pake yang mana. Jadi biar mama persiapkan semua dari sekarang". Chaca semakin geram. Bahkan dia sudah mulai akan mengakatan uang sebenarnya.


"Mah, Chaca mau jujur sama mama". Belum juga Chaca menyelesaikan perkataannya, Kalandra menarik tangan Chaca untuk menjauh.


"Om lepas. Kenapa om diam saja. Dan malah bawa Chaca kesini". Chaca sudah sangat kesal. Kalandra tak mengatakan apapun kepada mamanya.


"Jangan sekarang Cha. Tunggu dulu. Nanti saya jujur". Chaca kembali mencibir perkataan Kalandra.


"Nanti kapan hah. Pokonya Chaca gak mau tau. Tidak ada pernikahan diantara kita. Titik". Chaca kembali keruang tamu. Begitu juga dengan Kalandra.

__ADS_1


"Maaf mah. Bisa tidak bahas ini nanti dulu. Kasian Chaca mah belum juga pengumuman kelulusan. Kasih dulu kami waktu untuk berdiskusi". Chaca berusaha menahan kesalahannya. Apalagi cara Kalandra mengulur waktu tidak membuat Chaca puas.


"Hah baiklah. Kalau gitu biar mereka kembali dan mama kasih kalian waktu dua hari buat diskusi. Lebih dari itu, mama sendiri yang akan putuskan". Melihat api amarah dimata Chaca, membuat Kalandra berfikir cara menyelesaikan ini sesegera mungkin.


__ADS_2