Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 33


__ADS_3

"Chaca. Jangan lupa nanti mama tunggu di resto ya".


Chaca hanya memandangi layar ponselnya. Sudah kelima kalinya mama Adina mengirimkan pesan dengan isi yang sama. Chaca sudah berusaha menolak dengan alasan akan pergi bersama kawan-kawannya. Namun mama Adina tetap saja memaksa.


Setelah dua Minggu mama Adina dirawat dirumah sakit, pertemuan keluarga sudah mereka lakukan. Sebelum adanya pertemuan keluarga, papa Chaca dan Dzaky sudah mengetahui permasalahan Chaca dan Kalandra. Papa Chaca tidak menghukum Chaca karena itu kesalahan yang dilakukan bersama Kalandra dan juga ada maksud baik didalamnya. Walaupun pada akhirnya mereka terjebak dengan permainan mereka sendiri.


Keluarga Chaca sudah memutuskan untuk tidak ikut campur dalam hubungan Chaca dan Kalandra. Itu membuat Chaca bernafas lega. Chaca masih dengan pendiriannya untuk tidak terlibat hubungan dengan Kalandra. Setelah pertemuan itu, Chaca semakin tak tenang. Ada saja cara mama Adina untuk meminta bertemu. Karena setelah pertemuan itu, mama Adina meminta agar diijinkan menganggap Chaca sebagai anak. Dan itu hanya sebuah alasan. Setiap bertemu banyak cara yang mama Adina lakukan agar Chaca busa bersama Kalandra.


"Huh. Dijawab salah gak dijawab salah". Chaca hanya memandangi pesan itu. Bukan menjadi sombong atau tak sopan. Chaca sudah paham pada akhirnya dia dan Kalandra harus kembali menjadi korban.


"Kalau maki orangtua gak dosa, mungkin udah gue maki-maki dia". Gerutu Chaca didalam kamarnya. Hari ini Chaca harus ke sekolah untuk melengkapi semua syarat kelulusan.


Chaca berjalan menuju ruang makan. Seketika suasana hening saat Chaca tiba diruang makan. Bahkan suara berisik Dzaky tak terdengar sama sekali.


"Mah, pah. Chaca nanti mau keluar sama teman-teman. Bolehkan". Hari ini Chaca akan ke sekolah untuk melengkapi berkas kelulusan sebagai syarat untuknya melanjutkan sekolah.


"Boleh sayang. Jangan pulang malam ya". Pesan mama Chaca dengan suara lembutnya. Chaca melanjutkan sarapan bersama keluarganya. Dan segera kesekolah setelah Julian datang menjemput.


Sesampainya disekolah, mereka segera menuju ruang kepala sekolah untuk meminta tandatangan dan stempel resmi. Chaca dan teman-temannya sedang ikut mengantri. Mereka yang datang hari ini adalah para siswa yang akan melanjutkan sekolah diluar negeri ataupun luar kota.


"Gess, jadi jalankan kita". Tanya Dito saat mereka masih duduk mengantri didepan ruang kepala sekolah.


"Jadilah. Ini kan hari terakhir Dita disini mas Dito. Besok siang Dita udah berangkat". Chaca sempat terkejut mendengar perkataan Dita, begitupun dengan yang lain.


"Lah bukannya loe berangkat Minggu depan Dit. Gak jadi ke pantai dong kita". Seingat Chaca, Dita memang akan berangkat mengikuti kepindahan papanya Minggu depan. Bahkan mereka sempat akan berencana berlibur terlebih dahulu.


"Maafin Dita teman-teman. Semalam papa dapat panggilan mendadak. Dan papa harus pindah tugas besok pagi. Liburannya ditunda gapapakan. Atau kalian tetap liburan saja tanpa Dita". Chaca langsung memeluk tubuh Dita. Tampak raut wajah kesedihan disana.


"Ya udah gapapa. Kita tunda saja dulu. Nanti saling kabar saja kalau kalian semua ada waktu luang dan bisa berlibur bersama". Mereka menyetujui saran Chaca. Walaupun akan saling terpisah, mereka berjanji akan terus berkomunikasi.

__ADS_1


Setelah urusan sekolah selesai, mereka segera pergi menuju pusat perbelanjaan untuk berjalan-jalan, makan dan nonton. Menghabiskan waktu bersama sebelum mereka terpisah jauh. Mereka berjalan-jalan sambil bercerita. Hal pertama yang mereka lakukan adalah pergi ke area permainan. Mereka benar-benar menikmati hari ini. Setelah selesai menonton film, mereka pergi makan sebelum akhirmya pulang kerumah masing-masing.


"Gess. Makan apa ini". Mereka sudah berada di food court area. Sambil melihat-lihat untuk memilih makanan apa yang ingin mereka makan.


"Seafood aja gimana". Dito memberi ide untuk makan dirumah makan seafood.


"Setuju". Mereka memutuskan untuk masuk ke resto yang menyediakan aneka makanan seafood. Masing-masing sudah memesan makanan mereka. Tak lupa mereka juga mengabadikan kebersamaan mereka sepanjang hari ini.


"Nanti kalau kita sudah pada pisah jangan saling melupakan ya gess". Dita menggenggam tangan sahabatnya satu persatu. Mereka kompak mengangguk.


Makanan yang mereka pesan sudah datang. Dengan diselengi canda tawa dan kejahilan saat menyantap makanan. Ponsel Chaca terus bergetar. Chaca masih mengabaikan. Biar saja dia dikatakan tak sopan mengabaikan orangtua. Tapi dia hanya ingin agar mama Adina tidak terus memohon agar dia kembali kepada Kalandra.


"Chaca". Panggilan seseorang membuat Chaca dan teman-temannya teekejut.


"Kamu apa kabar". Chaca masih diam menatap seseorang yang mengejutkan dirinya.


"Baik. Om lagi meeting". Chaca hanya sekedar berbasa-basi dengan Kalandra. Kalandra memang sedang meeting ditemani Rudi.


Keseruan dimeja Chaca sempat membuyarkan konsentrasi Kalandra. Sudah lumayan la mereka tak bertemu. Bahkan Kalandra terus menghindari sang mama karena berulang kali merengek ingin bertemu Chaca.


"Pak Kalandra hari ini free tidak". Klien Kalandra seorang wanita yang umurnya hampir sama dengan Kalandra. Ini kali ketiga mereka bertemu dan selalu saja berusaha mendekati Kalandra.


"Maaf hari ini saya sangat sibuk Bu Tasya". Jawab Kalandra tanpa basa-basi.


"Ya sudah nanti malam saja. Mau tidak menemani saya keacara party sahabat saya". Kalandra tetap tersenyum walaupun dia sudah sangat kesal dengan rayuan kliennya.


"Malam ini saya ada acara keluarga. Maafkan saya. Mungkin lain waktu". Tasya nampak kecewa dengan jawaban Kalandra. Tak ingin berlama-lama, Kalandra segera pamit. Namun Tasya ternyata juga mengikuti Kalandra bahkan bergelayut manja saat Kalandra ingin berpamitan kepada Chaca.


"Chaca". Chaca kembali menoleh dan melihat Kalandra sedang digandeng dengan wanita.

__ADS_1


"Kenapa om". Mendengar sebutan itu membuat Tasya seolah sangat mengenal Chaca.


"Saya pulang dulu". Tasya tersenyum manis kepada Chaca seolah-olah mereka sudah sangat kenal.


"Oke om. Hati-hati". Rudi menahan tawanya. Melihat Tasya semakin menempel.


"Ini keponakan kamu". Tanya Tasya didepan Chaca. Chaca hanya diam tak mau menanggapi.


"Bukan". Kalandra hanya menjawab singkat. Dia berjalan menuju kasir. Kalandra berusaha mengibaskan lengannya perlahan agar terlepas dari Tasya.


"Loh kok kamu bayarin juga mereka. Tadi katanya bukan keponakan kamu". Kalandra diam tak menjawab perkataan Tasya saat dia membayar makanan miliknya dan juga milik Chaca.


"Maaf Bu. Kita hanya sekedar partner kerja. Jadi tidak semua urusan pribadi saya anda harus tau. Dan tolong untuk tidak seperti ini. Saya tidak nyaman". Kalandra akhirnya bisa melepaskan gelayutan manja Tasya.


"Sekarang rekan kerja. Siapa tau nantinya akan menjadi rekan ranjang. Ya kan". Tasya sengaja menggoda Kalandra. Namun Kalandra tetap tak tergoda. Rudi tersenyum disudut bibirnya melihat ulah Tasya.


"Maaf saya permisi. Masih ada pekerjaan lain". Kalandra segera pergi sebelum Tasya lebih berulah lagi. Sebelumnya saat pertama kali mereka bertemu dikantor milik Tasya, sudah ada gelagat aneh dari Tasya. Namun Kalandra tidak menanggapi.


Kalandra dan Rudi segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Chaca dan teman-temannya juga sudah selesai makan. Kini mereka sedang mengantri untuk membayar.


"Kak total meja dia belas berapa". Chaca sedang menyiapkan dompetnya untuk membayar saat kasir menyiapkan bill.


"Sudah dibayar kak. Ini billnya. Dan tadi ada titipan pesan juga untuk Chaca". Teman-teman Chaca sama terkejutnya dengan Chaca.


"Beneran kak sudah dibayar". Chaca kembali memastikan kepada kasir. Kasir mengangguk dan menyerahkan bill serta titipan untuk Chaca. Chaca dan teman-temannya segera pergi setelah mengucapkan terimakasih.


Mereka berpisah diarea parkir. Chaca pulang bersama Julian. Chaca belum sempat membuka pesan yang dititipkan dikasir Resti tadi. Dan kini dia membukanya dan mulai membaca.


Selamat ya atas kelulusan kamu. Maaf hanya bisa memberikan hadiah traktiran kecil ini. Saya tau kamu masih marah sama saya. Tapi bolehkah saya minta satu hal. Sekali saja tolong temui mama. Mama sangat merindukan kamu. Sebelum kamu berangkat keluar negeri, saya minta tolong untuk kamu menemui mama. Terimakasih ya Cha. Sekali lagi selamat. Kalandra..

__ADS_1


Chaca diam dan memasukkan kertas tadi kedalam tas. Julian tak mau bertanya apapun. Karena dia tau Chaca nantinya juga akan cerita jika dia sudah merasa nyaman.


__ADS_2