
"Dasar om-om menyebalkan. Seenak hatinya aja langsung bilang ke Marjuki udah balikan sama gue". Chaca kesal karena pagi harinya dikejutkan oleh kedatangan Kalandra dan teman-teman Dzaky.
Chaca kesal karena tiba-tiba saja Dzaky mengatakan agar dia mau memaafkan Kalandra. Kalandra sudah menjelaskan jika perempuan yang berada di apartemennya waktu itu adalah kakak kandung Rudi. Kebetulan saat itu Rudi sedang keluar kota, dan kakaknya tidak tahu kode akses unit apartemen Rudi.
Kalandra beralasan jika tidak bisa langsung menjelaskan karena Dzaky masih sangat emosi. Dan menunggu waktu yang tepat. Bahkan Kalandra sudah membuktikan jika benar itu kakak Rudi. Dzaky meminta agar Chaca bisa memperbaiki lagi hubungannya dengan Kalandra.
"Ck, kenapa juga harus pake klarifikasi. Lagian gue juga tau perempuan itu siapa. Sudah bagus lepas dari jeratan om-om gila. Kenapa sekarang dia harus datang lagi. Gue gak akan tanggepin permainan loe om. Gue gak akan takut sama ancaman loe". Chaca terus mengoceh sendiri didalam kamarnya. Dia tidak mau keluar karena teman-teman Dzaky masih berada dirumahnya.
Sementara diruang tamu Damar masih meragukan niat Kalandra meminta kembali kepada Chaca. Damar adalah orang pertama yang menentang hubungan Kalandra dan Chaca.
"Jek. Kasihlah gue kesempatan. Jangan percaya sama kadal buntung satu ini. Gue lebih baik sama gue aja. Adek loe pasti aman". Damar menatap Kalandra sinis. Kalandra hanya tertawa melihat tingkah Damar.
"Adik gue sama loe, yang ada semakin tertekan batinnya". Suara tawa teman-teman Kalandra riuh hingga membuat Chaca kesal. Hari Minggunya terganggu oleh geng bapak-bapak PKK.
Chaca mengirim pesan kepada Julian untuk mengajaknya keluar. Lama-lama Chaca bosan terus berada didalam kamarnya. Tidur pun dia terganggu. Bahkan untuk mengambil makanan kebawah Chaca pun malas.
Dzaky dan teman-temannya masih asyik bercanda. Tampak Julian datang dari arah pintu dapur. Julian sudah terbiasa masuk rumah Chaca dari pintu samping. Semua mata menatap Julian. Julian berjalan santai menuju arah kamar Chaca.
"Loe mau jalan sama Chaca jul". Tegur Dzaky yang melihat kedatangan Julian.
"Ya bang". Dzaky hanya mengangguk dan membiarkan Julian berjalan menuju kamar Chaca.
"Jek. Loe gak takut adek loe diapa-apain sama tuh bocah. Mukanya aja gak meyakinkan gitu". Protes yang Damar ungkapkan kepada Dzaky, hanya ditanggapi suara tawa.
"Gue malah lebih yakin sama si Bajul daripada kalian semua. Walaupun kayak kulkas, Bajul orangnya tulus. Dan gak pernah melanggar kepercayaan yang gue kasih". Bukan hanya Damar yang diam tak bersuara, bahkan Kalandra pun tidak bisa berkata-kata.
__ADS_1
Julian berjalan beriringan bersama Chaca. Kalandra menatap Chaca dengan tatapan tajam. Chaca hanya menyeringai melihat tatapan Julian. Chaca berhenti disamping Dzaky untuk berpamitan.
"Abang, Chaca jalan dulu sama Panjul". Julian hanya diam dibelakang tubuh Chaca. Kalandra terus menatap Chaca. Namun Chaca tak peduli.
"Oke. Jangan malam-malam pulangnya". Pesan yang selalu Dzaky berikan kepada Chaca setiap Chaca akan pergi.
"Besok pagi gue balik. Jadi gak usah loe tungguin Marjuki". Jawaban Chaca membuat sahabat Dzaky terbelalak. Dzaky hanya mengangguk seperti biasanya.
Kalandra masih menatap Chaca dan Julian. Sebelum lebih jauh, Kalandra menarik lengan Chaca agar berhenti. Chaca berhenti dan menghadap kearah Kalandra.
"Cha. Tunggu. Saya mau ngomong". Chaca melepaskan cekalan tangan Kalandra dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.
"Kenapa om". Karena belum jauh dari tempat para sahabatnya berkumpul, mereka masih bisa mendengar percakapan Chaca dan Kalandra. Cibiran mereka berikan saat mendengar Chaca memanggil Kalandra dengan sebutan om.
"Cha, kenapa kamu gak mau ketemu saya. Saya nunggu dari tadi. Dan sekarang kamu malah pergi dengan Julian. Apa kamu gak bisa menghargai saya sedikit pun". Chaca menatap Kalandra datar dan cukup menyeramkan.
"Cha, bukannya kemarin saya sudah bilang kalau kita balikan lagi. Jadi kamu sekarang adalah tunangan saya lagi Marrisa". Chaca menyeringai saja mendengar perkataan Kalandra.
"Dalam mimpi om saja". Chaca berjalan menggandeng tangan Julian dan meninggalkan rumahannya.
"Dasar gadis tengil menyebalkan. Awas aja kalau sampai kamu gak mau bantu saya lagi". Kalandra mengumpat dalam hati sambil menatap kepergian Chaca dan Julian.
"Memang benar pengesalan datang paling akhir. Kalau datang pas awal-awal namanya rencana". Damar mencoba memecahkan suasana. Kalandra masih diam mematung. Dzaky menghampiri Kalandra yang masih diam berdiri.
"Loe harus sabar dengan sikap adil gue. Dia memang seperti itu jika masih kesal. Saran gue, kalau loe emang loe serius. Buat adik gue yakin kalau loe gak akan yakitin dia lagi". Kalandra hanya tersenyum tipis saja. Satu-satunya orang yang mengetahui semua rencana Kalandra hanyalah Rudi. Entah apa jadinya jika selama ini dirinya dan Chaca hanya bersandiwara.
__ADS_1
"Thanks udah kasih gue kepercayaan dan kesempatan lagi. Gue gak akan sia-siakan kepercayaan loe". Mereka saling berpelukan. Dan kembali bergabung bersama teman-teman mereka.
Chaca pergi bermain bola basket bersama Julian. Chaca juga sudah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Kalandra. Julian tidak memberikan solusi apapun. Julian membiarkan Chaca meluapkan semua isi hatinya. Chaca menangis dipundak Julian.
"Mungkin besok gue akan datang kekantor si Om. Gue gak mau terlibat lagi". Jelas chaca kepada Julian.
"Oke, mau gue temani". Julian adalah orang yang paling mengerti dirinya.
"Gak usah. Loe pasti besok sibuk banget. Kan loe juga ikut turnamen basket antar sekolah". Julian terpilih untuk ikut serta dalam tim basket.
Julian hanya mengangguk saja. Dia tidak mau memaksakan kehendak. Dia percaya jika Chaca pasti bisa menyelesaikan ini dengan baik. Mereka terus bermain disekitar taman hingga malam menjelang.
"Kita pulang yuk sudah hampir gelap". Ajak Julian kepada Chaca. Chaca mengikuti juliantang sudah terlebih dahulu jalan.
"Jul kita kerumah loe aja ya. Gue masih malas pulang kerumah. Pasti rombongan bapak-bapak PKK belum kelar gosip". Chaca yakin jika sahabat kakaknya masih dirumah.
Julian membawa Chaca pulang kerumahnya. Mama Julian bahagia dengan kedatangan Chaca. Karena terlalu fokus dengan kedatangan Cacha.
"Sayang. Anak gadisnya mami. Kemana aja. Mami kangen". Mereka saling berpelukan.
" Maaf mi, Chaca sibuk belajar buat olimpiade sains nasional. Chaca mewakili sekolah". Mata mami Julian berbinar bahagia mendengar perkataan Chaca.
"Wah hebat anak mami ini. Mami percaya kalau kamu akan menang. Mami selalu bangga dengan kamu nak". Mami kembali memeluk mami Julian.
"Anaknya yang mana. Siapa yang disambut heboh ". Julian menyindir sang mami.
__ADS_1
"Kalau ketemu kamu mami sudah bosan". Julian berdecak pelan menanggapi perkataan.. Dan benar malam ini Chaca menginap dirumah Julian. Dan sudah memberitahu Dzaky.