Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 27


__ADS_3

"Kak Inez. Kak Alan sibuk gak". Sepulang sekolah Chaca datang ke kantor Kalandra. Sejak semalam Kalandra terus menerornya. Kalandra tidak mau ditolak oleh Chaca. Dan menganggap hubungan mereka kini sudah kembali seperti dulu.


"Mbak Chaca. Apa kabar lama tidak bertemu". Inez tetap menyapa Chaca ramah walaupun dalam hatinya tidak suka. Inez mengira mereka sudah berakhir karena Chaca jarang datang ke kantor Kalandra.


"Baik kak. Pak bos ada gak". Chaca kembali bertanya karena belum mendapatkan jawaban dari Inez.


"Ada mbak. Tapi baru ada tamu. Sebentar saya tanyakan bapak mbak". Inez memegang gagang telepon untuk menghubungi ruangan Kalandra. Namun dihentikan oleh Chaca.


"Gak usah kak. Chaca tunggu saja disini. Gak usah diganggu". Chaca duduk disofa yang disediakan untuk menunggu didekat ruangan Kalandra.


Inez kembali fokus pada pekerjaannya. Sesekali dia melirik kearah Chaca yang asyik membaca buku sambil mendengarkan musik menggunakan headset. Lima belas menit menunggu, Kalandra akhirnya keluar ruangan hendak mengantarkan kliennya.


Chaca masih belum menyadari jika Kalandra sudah berdiri didepan pintu. Begitupun Kalandra. Karena Chaca fokus membaca bukunya sambil menunduk. Saat mata Kalandra menatap kearah ruang tunggu, dia sedikit menajamkan pandangannya. Setelah kliennya berjalan menjauh, Kalandra mendekati Inez.


"Sejak kapan Chaca disini". Inez gugup karena Kalandra sedikit menaikkan nada bicaranya.


"Sidah dari setengah jam yang lalu pak". Dengan gugup Inez menjelaskan kepada Kalandra.


"Kenapa gak disuruh masuk. Walaupun ada tamu, jika itu tunangan saya jangan disuruh menunggu diluar. Paham kamu". Inez hanya bisa meminta maaf dan menunduk. Kalandra berjalan mendekati Chaca.


"Sayang". Chaca tidak mendengar Kalandra memanggil namanya karena dia masih memasang headset. Kalandra mengusap lembut pucuk kepala Chaca.


"Sayang". Kembali Kalandra memanggil nama Chaca. Chaca terkejut karena ada yang memegang kepalanya.


"Om". Lirih suara Chaca. Kalandra tersenyum manis. Kalandra langsung menarik tangan Chaca lembut dan membawanya masuk kedalam ruangan. Mata semua karyawan Kalandra tertuju pada mereka.


Chaca hanya menurut saja kepada Kalandra. Kalandra menutup rapat ruangannya. Sebelum masuk ruangan, Kalandra sempat berpesan kepada Inez untuk tidak menerima tamu dulu. Chaca duduk disofa dan meletakkan tas serta bukunya. Kalandra berjalan menuju lemari pendingin tmyang ada diruangannya. Mengambilkan Chaca minuman dingin dan beberapa snack.


"Kamu baru pulang sekolah". Kalandra berjalan dan meletakkan minuman dan makanan dimeja.


"Hem. Ada yang mau Chaca omongin sama om". Kalandra membuka tutup minuman segar miliknya dan milik Chaca.


"Ada apa. Sepertinya serius". Kalandra duduk dihadapan Chaca sambil duduk bersandar.


"Tolong jangan libatkan Chaca lagi. Chaca gak mau berbohong lagi. Om cari saja wanita lain. Chaca gak bisa om". Kalandra paham arah pembicaraan Chaca.


"Tidak bisa Cha. Kamu tahukan mama sayang sama kamu. Dan Minggu depan mama ulangtahun Cha. Jadi tolong saya Cha. Tolong bantu saya lagi". Chaca diam mendengarkan apa penjelasan Kalandra.


"Om. Sebaiknya kita jujur kepada orangtua kita pelan-pelan. Kita akui saja kita tidak cocok. Chaca benar-benar gak bisa lagi bantu loe om". Kalandra mulai gusar. Bahkan Kalandra melipat kedua lengan bajunya dan melepaskan dasi serta satu kancing baju teratasnya.


"Cha plis. Saya mohon Cha. Ini yang terakhir saya janji. Saya akan jujur setelah ini. Bantu saya Cha". Kalandra duduk bertumpu pada lututnya dihadapan Chaca. Dia memegang kedua lutut Chaca. Chaca pun luluh.

__ADS_1


"Berapa lama". Mendengar jawaban Chaca memberikan lampu hijau. Kalandra mulai tenang.


"Sampai acara ulangtahun mamaku selesai. Saya janji setelah acara ulangtahun, saya akan jujur. Dan tidak akan mengganggu kamu lagi Cha". Chaca masih diam menatap Kalandra.


"Oke. Jangan lagi ingkar janji. Chaca lakuin ini demi Tante Adina". Chaca beranjak hendak meninggalkan ruangan Kalandra. Namun ditahan oleh Kalandra.


"Kamu mau pulang". Chaca hanya mengangguk saja menanggapi pertanyaan Kalandra.


"Temani saya ke lokasi pembuatan iklan". Kalandra berjalan mengambil kunci mobilnya.


"Buat apa gue ikut om. Yang ada bosan gue disana". Kalandra menggenggam tangan Chaca dan berjalan keluar ruangan.


"Tidak akan bosan. Nanti bawa ponsel saya. Kamu bisa main game atau nonton film. Terserah kamu". Chaca tak menanggapi. Kalandra tak lupa menitipkan pesan kepada Inez karena dia tidak akan kembali ke kantor lagi.


Semua mata terfokus kepada Kalandra dan Chaca. Rudi yang baru saja kembali dari tugas diluar, menghadang keduanya.


"Hem. Mau kemana kalian". Kalandra berdecak dan menyingkirkan Rudi dari hadapannya.


"Studio. Loe jaga kantor saja. Gue langsung pulang". Kalandra menarik tangan Chaca meninggalkan Rudi yang masih terdiam.


"Dasar kampret emang loe Ndra". Rudi mengumpati Kalandra yang sudah jauh meninggalkan Rudi.


Dalam perjalanan menuju studio, Chaca merasa sedikit gerah. Dia memang masih menggunakan seragam sekolah. Karena memang dari awal dia berniat hanya sebentar saja bertemu Kalandra. Tapi ternyata Kalandra mengajaknya pergi.


"Ada tuh dikursi belakang. Kenapa". Chaca mengambil paperbag dikursi belakang.


"Chaca pinjam. Gerah mau ganti". Kalandra membelokkan arah kendaraannya menuju depo pengisian bahan bakar.


"Saya tunggu disini. Gantilah ditolet". Chaca membawa paperbag dan segera menuju toilet umum untuk menukar seragamnya.


Usai berganti pakaian, mereka segera melanjutkan perjalanan. Chaca kembali fokus membaca buku yang dibawanya. Kalandra hanya diam dan sesekali saja bertanya kepada Chaca.


"Chaca mau ujian. Atau ulangan harian. Kok rajin banget". Kalandra mengambil salah satu buku Chaca yang ditaruh diatas dasboard mobil. Sedangkan Chaca membaca buku lainnya.


"Mau olimpiade om". Karena lampu lalulintas berwarna merah, maka mereka berhenti dan Kalandra mengambil buku tersebut membaca judul buku itu.


"Wow. Gak nyangka. Ternyata kamu cerdas juga. Kapan olimpiadenya". Kalandra mengembalikan buku tersebut dan kembali melajukan mobilnya.


"Minggu depan penyisihan final". Kalandra sedikit melirik dan berfikir. Chaca tak melihat ekspresi wajah Kalandra karena terfokus pada soal dibuku yang dipegangnya.


"Minggu depan. Gak bareng kan sama acara mama". Chaca mendongakkan kepalanya dan melihat kearah Kalandra.

__ADS_1


"Tanggal berapa". Chaca masih menatap Kalandra yang fokus menyetir.


"Dua lima. Kamu final tanggal berapa". Chaca membuka buku agendanya.


"Tanggal dua tiga dan dua empat". Kalandra menoleh dan tersenyum.


"Masih aman. Tapi sepertinya kamu gak bisa ikut jemput mama dan papa dibandara". Mama Kalandra memang meminta untuk dijemput oleh Chaca.


"Kapan datang". Chaca tetap fokus membaca saat bertanya kepada Kalandra.


"Tanggal dua tiga malam. Mama sebenarnya minta kamu untuk ikut menjemput. Tapi kalau kamu gak bisa gapapa. Nanti saya bisa ngomong ke mama kalau kamu lagi olimpiade". Tak ada respon dari Chaca. Kalandra menganggap jika Chaca setuju dengan usulan Kalandra. Setelah beberapa menit, Chaca baru menjawab.


"Oke bisa. Gue olimpiade sampai jam empat sore". Kalandra tersenyum tipis. Karena dipastikan Kalandra akan melihat senyum bahagia dari mamanya setelah sekian lama.


Tiba di studio, Kalandra kembali menggandeng tangan Chaca. Lagi-lagi mereka menjadi pusat perhatian. Apalagi beberapa kru yang terlibat dalam proyek kolaborasi banyak yang mendambakan Kalandra. Chaca menggunakan kaos pendek milik Kalandra yang berukuran sedang. Namun besar dibadan Chaca.


"Tan. Sorry telat". Kalandra menepuk pundak Sultan yang saat ini mengawasi pemotretan Gwen.


"Kemana aja loe. Ijin telat dua puluh menit, ini hampir dua jam baru nongol". Sultan kesal karena Kalandra datang sangat terlambat.


"Sorry. Nih tadi ada nyonya datang mendadak ke kantor. Jadi telat". Sultan belum menyadari adanya Chaca.


"Hai Cha. Apa kabar. Tumben ikut". Tanya Sultan sambil melambaikan tangannya kearah Chaca.


"Baik kak. Iya tadi mau pulang tapi diajak kesini sama si om". Sultan tertawa mendengar Chaca masih memanggil Kalandra dengan sebutan om.


"Sayang. Jangan om dong. Ck kebiasaan kamu tuh". Kalandra mengerucutkan bibirnya karena kesal.


"Lah terus. Kan emang om-om". Sultan semakin terpingkal-pingkal mendengar jawaban Chaca.


"Tega kamu Ay. Sultan aja kamu panggil kak. Sama aku yang tunangan kamu malah om. Gak asyik". Kalandra mode mengambek. Karena kesal Sultan memukul belakang kepala Kalandra.


"Gak usah sok imut. Jijik gue. Emang loe pantes dipanggil om. Dah, ayo kerja lagi". Mereka tak sadar jika Gwen terus memperhatikan. Gwen kesal karena hari ini Kalandra datang bersama Chaca.


Kalandra mengantarkan Chaca duduk disofa tak jauh dari lokasi pengambilan gambar. Tak lupa Kalandra menyodorkan ponselnya, jika Chaca merasa bosan. Namun Chaca menolak. Dia memilih mendengarkan musik dan membaca buku. Kalandra kembali bergabung dengan Sultan setelah memastikan Chaca aman dan nyaman.


"Andra. Aku kira kamu gak datang". Gwen mendekati Kalandra. Bahkan sengaja merangkul lengan Kalandra.


"Maaf nona tolong lepaskan tangan anda. Saya tidak mau tunangan saya salah paham". Kalandra melepaskan secara paksa tangan Gwen dari lengannya.


"Ck cuma anak ingusan. Gak ada bandingannya dengan gue. Kita balikan saja gimana". Kalandra kepala dengan sikap Gwen. Kalandra memberi kode kepada kru untuk kembali memulai proses pengambilan gambar. Gwen kesal karena harus bekerja kembali dan tak bisa bermesraan dengan Kalandra.

__ADS_1


Kalandra acuh kepada Gwen. Hanya sikap profesional yang Kalandra tunjukkan. Berkali-kali Gwen terus menatap sengit kepada Chaca. Dan ingin sekali mendekati Chaca, namun selalu gagal.


"Awas saja, gue bakalan ambil Kalandra dari loe". Gwen bergumam pelan dan kembali ke pesta.


__ADS_2