Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 13


__ADS_3

POV Kalandra Aditya


"Ndra loe gak pengen gitu cari pasangan yang serius". Rudi asisten sekaligus sepupunya kembali menasehati Kalandra. Selama ini sahabat Kalandra hanya mengenal Rudi sebagai teman masa kecil Kalandra.


"Buat apa. Gini aja gue udah happy". Rudi menggeleng melihat kelakuan sepupunya itu.


"Ndra, kasian Tante kalau tau loe kayak gini. Apalagi sampai tahu loe suka keluar masuk club hanya untuk menuntaskan hasrat loe". Rudi masih mencoba menyadarkan Kalandra.


"Asal loe gak buka suara sama orangtua gue. Gue rasa gak akan ada masalah". Kalandra menyenderkan tubuhnya disofa. Rudi menemani Kalandra minum malam ini. Dan kembali mengingatkan Kalandra.


Rudi dan Kalandra diam menikmati dentuman musik dan para wanita asyik bergoyang. Setiap Kalandra datang ke club tersebut, para wanita disana sudah siap melayani. Dan kini sudah ada dua wanita yang mendekati mereka.


"Hai beib. Lama gak kesini. Kangen loh". Satu perempuan bergelayut manja dipundak Kalandra. Dengan pakaian mini dan seksinya. Kalandra menanggapi dengan senyuman dan usapan lembut dilengan perempuan itu.


"Kau pergi. Jangan menyentuh saya". Berbeda dengan Rudi yang tak segan berbuat kasar jika perempuan-perempuan itu mendekati dan menyentuhnya.


"Jangan kasar-kasar Rud. Nikmati saja". Kalandra mengolok Rudi. Dua perempuan itu berpindah kepangkuan Kalandra.


Rudi hanya melirik saja saat para perempuan itu dengan tak tau malu menggerayangi tubuh Kalandra dihadapannya. Mereka berebut bibir Kalandra.


"Eugh. Ashh". Suara-suara aneh keluar dari mulut kedua wanita itu. Rudi tak memperdulikan. Dia disana untuk menjaga Kalandra. Karena jika Kalandra mabuk, akan sangat merepotkan.


"Ayo kita pindah ke kamar saja". Ajak Kalandra kepada perempuan-perempuan itu.


"Threesome kah". Salah satu wanita itu mengerlingkan matanya menggoda Kalandra.


"Bukannya tidak mau. Tapi malam ini saya hanya ingin dia yang menemani saya. Dan kau lain kali". Kalandra memilih wanita yang berada disisi kanannya. Kalandra memberikan beberapa lembar uang untuk wanita disebelah kirinya, yang segera berlalu pergi setelah mendapatkan uang.


"Rud gue tinggal bentar". Kalandra beranjak dari kursinya dengan merangkul wanita tadi. Rudi hanya diam menatap tanpa ekspresi.

__ADS_1


Diclub itu memang disediakan kamar khusus bagi mereka yang menginginkan pelayanan lebih. Rudi duduk menunggu hingga apa yang sedang Kalandra inginkan tercapai.


Kalandra masuk kedalam kamar yang sudah dipesannya bersama wanita tadi. Wanita itu begitu agresif bahkan disepanjang jalan menuju kamar. Melihat sosok Kalandra, memang tak mungkin jika tidak ada yang tertarik. Kalandra keturunan timur tengah dan memiliki manik mata yang indah.


"Beib. Mau pemanasan dulu apa langsung saja ke intinya. Aku udah gak kuat". Wanita itu berkata dengan suara yang seksi ditelinga Kalandra. Kalandra hanya tersenyum disudut bibirnya.


"Emangnya apa yang kau harapkan dari saya. Tubuh saya. Apa itu yang kau harapkan". Suara Kalandra berubah menjadi dingin dengan tatapan tajam.


"Of course. Malam ini aku akan memuaskan mu sayang. Jadi ayo kita lakukan". Perempuan itu mulai akan membuka kancing kemeja Kalandra. Namun tangan itu dia tahan.


"Siapa kau berani menyentuh tubuhku. Jangan pernah bermimpi kau bisa menikmati tubuhku dasar ja**ng". Wanita itu terkejut dengan perlakuan dan perkataan Kalandra yang berbanding terbalik saat mereka masih berada diluar kamar.


"Lalu untuk apa kamu membawaku kesini jika bukan untuk bersenang-senang". Perempuan itu masih berusaha menggoda Kalandra.


"Kita memang akan bersenang-senang. Tapi tanpa harus kau menyentuh tubuhku ini". Tangan yang menjalari tubuh Kalandra, diarahkan menuju kesatu titik.


"Puaskan dia". Ucap Kalandra penuh penekanan. Wanita itu tersenyum tipis dengan tatapan penuh hasrat. Perlahan dia mulai melakukan pekerjaannya memuaskan pelanggannya.


"Ayo pulang". Kalandra berjalan didepan Rudi. Mereka keluar dari club sudah hampir pagi. Kalandra dah Rudi tinggal disatu gedung apartemen yang sama hanya berbeda unit.


Orangtua Kalandra memiliki rumah pribadi, namun Kalandra enggan untuk menempatinya. Dia merasa tak bebas jika berada dikediaman pribadi orangtuanya.


Pagi hari seperti biasa, Rudi akan berangkat ke kantor bersama Kalandra. Hanya Rudi yang mengetahui sandi untuk masuk kedalam unit Kalandra.


"Sarapan dimana". Pertanyaan yang selalu Rudi lontarkan setiap pagi. Karena jika malam hari Kalandra pergi ke club, pagi hari dia tidak akan membuat sarapan.


"Terserah aja". Jawaban Kalandra singkat. Dia kembali melihat tablet yang digenggamnya. Sudah satu Minggu Kalandra kembali ke tanah kelahirannya. Namun tak ada satupun sahabatnya yang mengetahui hal tersebut.


"Kapan loe siap bertemu Dzaky". Rudi bertanya sambil mengebdarai mobil menuju kantor.

__ADS_1


"Nantilah. Lagian juga baru hari ini gue masuk kantor". Memang selama satu Minggu ini, Kalandra hanya bersenang-senang saja.


"Loe masih gak bisa lupa sama Gwen". Pertanyaan Rudi cukup membuat Kalandra kesal.


"Jangan sebut wanita itu lagi". Rudi hanya terkekeh saja melihat reaksi Kalandra.


"Sudahlah. Lupakan dia. Masih banyak wanita lain yang lebih baik daripada dia". Rudi terus berusaha menasehati sepupunya.


"Semua wanita itu sama. Hanya covernya saja yang baik. Tapi dalam hatinya busuk. Mereka akan mencari mangsa yang lebih walaupun sudah memiliki yang berharta". Setelah hal pahit menimpa percintaannya, Kalandra seperti membenci wanita.


"Serah loe ajalah. Yang pasti jangan asal celap-celup sembarangan. Bahaya penyakit". Sindir Rudi pada Kalandra. Kalandra hanya diam menatap layar tabletnya.


"Gue bukan anak kecil yang asal masuk lubang. Gue tau aturan mainnya. Loe gak usah takut". Rudi paham maksud dari omongan Kalandra. Tapi tak hentinya Rudi mengingatkan sepupunya itu untuk bisa lebih baik lagi.


Rudi memesankan Kalandra makanan setibanya dikantor. Hari ini menjadi hari pertama Kalandra menjadi pimpinan perusahaan ini. Aturan utama yang diberlakukan Kalandra adalah, tidak ada wanita berpakaian seksi dan menggoda dirinya. Jika ada yang berani melakukan itu, maka Kalandra tak segan memecatnya.


Walaupun Kalandra brengsek diluar sana, namun jika dalam lingkungan perusahaannya Kalandra bisa menempatkan diri. Nama baik keluarga tetap harus dia jaga.


Beberapa karyawan wanita yang sejak awal memiliki niat mendekati Kalandra karena ketampanannya, hanya bisa mundur perlahan. Nyali mereka menciut sebelum bertarung. Kalandra cukup tegas dalam hal pekerjaan. Tak segan dia akan membuat semua karyawannya lembur jika pekerjaan mereka tidak baik.


"Ini sarapan loe. Makan dulu. Gue gak mau loe kena asam lambung". Rudi menyodorkan sebungkus nasi yang dipesannya tadi kepada Kalandra. Dan mereka sarapan setelah perkenalan dengan para karyawan.


"Loe bawa berkas yang gue minta kemarin Rud". Rudi menyerahkan beberapa map kepada Kalandra.


"Itu beberapa investor yang dulu pernah kerjasama dengan kita. Kita bisa mulai membuat janji pertemuan, jika loe sudah siap". Kalandra membaca berkas tersebut sambil menyantap makanannya.


"Oke. Tolong loe atur jadwal pertemuannya. Kita selesaikan satu-satu". Rudi mengangguk. Rudi juga sedang menyantap sarapan bersama Kalandra.


"Untuk masalah Dzaky, gue belum ajukan proposal. Mereka minta sebagai formalitas saja". Kalandra menatap sesaat kearah Rudi dan mengangguk.

__ADS_1


"Gak masalah. Bukannya memang harus begitu. Atur juga pertemuan gue sama mereka". Rudi pun menjawab dengan anggukan.


Begitulah Kalandra kehidupannya hanya berkisar kantor dan club. Tak ada satupun sahabatnya yang mengetahui tentang hal itu. Hanya Rudi satu-satunya orang yang memegang rahasia Kalandra.


__ADS_2