Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 24


__ADS_3

"Loe masih suka ribut sama Dzaky". Rudi menemani Kalandra ke sebuah kafe lain setelah pergi meninggalkan teman-temannya.


"Gak juga. Mungkin karena Dzaky masih gak terima gue sakitin Chaca". Kalandra memainkan minuman yang dipesannya.


"Kenapa gak coba jujur. Kalau loe jujur gak akan seperti ini kan. Loe tinggal jelaskan siapa wanita diapartemen loe itu". Kalandra hanya diam saja tak menjawab.


"Jangan lupa, loe punya mama yang sangat menyayangi Chaca. Loe gak ada niat jelasin siapa wanita itu, bisa dipastikan Tante Adina akan mencari tahu. Sampai sekarang loe belum ngomong kan sama Tante Adina". Kalandra menggeleng. Dia belum ada keberanian untuk berkata jujur kepada kedua orangtuanya terutama sang mama. Bahkan setiap sang mama menelpon menanyakan kabar Chaca, Kalandra selalu berkata mereka baik-baik saja.


"Sebentar lagi Tante Adina ulangtahun dan semoga loe gak lupa itu". Kalandra mengangkat wajahnya dan menatap Rudi. Dia melupakan hal penting itu.


"Ahhh kenapa gue bisa lupa kalau mama seminggu lagi ulangtahun. Gue harus gimana coba. Mama pasti nanyain Chaca". Kalandra semakin panik. Rudi hanya menatapnya saja.


"Makanya jangan suka berbohong. Sekali loe bohong, akan ada kebohongan lainnya lagi. Sekarang loe rasakan sendiri kan ulah loe. Jangan berfikir loe meminta Chaca buat masuk ke permainan loe lagi. Kalau loe gak ingin nyawa loe habis ditangan Dzaky". Kalandra segera mengurungkan niatnya. Rudi paham seperti apa Kalandra. Dia mencoba mengingatkan sebelum hal lebih buruk terjadi.


Kalandra mulai gelisah. Apalagi mamanya memiliki penyakit jantung. Kalandra takut jika mamanya tau mengenai dirinya dan Chaca bisa membuat sang mama terkena serangan jantung. Rudi hanya diam tak mau memberikan solusi apapun.


"Ck. Masalah nenek sihir belum kelar, sekarang masalah baru akan datang. Gue udah gak tau harus gimana. Nanti gue akan coba ngomong sama mama pelan-pelan. Semoga mama gak serangan jantung". Rudi mendengarkan ocehan Kalandra sambil memakan kue yang sudah dipesannya.


"Gue setuju sama omongan Dzaky. Bisa jadi loe emang gak bisa move on dari Gwen. Sampai segitunya loe menghindari Gwen". Kalandra hampir saja tersulut emosinya kembali mendengar apa yang dikatakan Rudi.


"Jaga omongan loe. Menghindar bukan berarti tidak move on. Loe tau seperti apa si nenek sihir. Lihat muka dia saja gue selalu ingat seperti apa mama nangis dulu. Setiap gue lihat wajah dia, yang ada bayangan mama gue terlintas. Itu yang buat gue langsung emosi". Kalandra mencoba menjelaskan kepada Rudi bagaimana perasaannya saat bertemu Gwen.


"Hmmm. Cobalah loe berusaha untuk tidak peduli dengan kehadirannyam Apalagi bisa dipastikan loe akan ketemu dia terus selama proses pembuatan iklan. Apa loe akan terus menghindar. Kesannya loe masih berharap ke Gwen kalau terus menghindar. Dan Gwen akan semakin genjar ngejar loe". Kalandra sejenak memikirkan apa yang dikatakan oleh Rudi. Dan memang benar jika terus menerus dia menghindar dari Gwen, Gwen akan berfikir jika dirinya masih ada rasa dengan Gwen.

__ADS_1


"Thanks loe udah selalu sabar nasehatin gue". Rudi tersenyum disudut bibirnya.


"Tinggal sekarang coba hentikan kebiasaan loe yang suka main sama wanita malam. Gak takut loe kena virus". Rudi memanfaatkan keadaan. Rudi hanya ingin sepupu sekaligus bosnya itu bisa bertaubat.


"Gak akan ada virus masuk ketubuh gue". Dengan percaya diri Kalandra menentang perkataan Rudi.


"Pede amat loe. Loe yakin wanita itu hanya loe pake sendiri. Gak kan. Udah bekasan beberapa manusia". Kalandra tersenyum tipis menanggapi ocehan Rudi.


"Gue disana buat memuaskan si Jhon. Tanpa harus adu ranjang, Jhon bisa puas. Paham kan loe". Rudi menggeleng sambil berdecak.


"Gak bengkak tuh ubi gosong diisapin terus". Kalandra melemparkan sendok kearah Rudi karena kesal.


"Enak aja ubi gosong. Punya gue gak gosong. Emang punya loe udah bantet plus gosong". Kalandra puas menertawakan ekspresi Rudi yang kesal.


"Selamat siang. Bisa saya bantu Bu". Inez berdiri menyambut tamu yang baru saja datang hendak memasuki ruangan Kalandra.


"Andra ada didalam kan". Inez menatap wanita dihadapannya. Baru kali ini dia bertemu dengan wanita ini.


"Bapak ada didalam Bu. Apa sudah ada janji". Tanya Inez dengan ramah dan sopan. Walaupun dia kesal setiap ada tamu wanita yang mendadak datang seperti ini mencari Kalandra.


"Apakah calon istrinya harus membuat janji dulu untuk bertemu". Inez mengerutkan dahinya. Walaupun sudah lama tidak bertemu Chaca, Inez masih sangat hafal seperti apa Chaca.


"Maaf Bu, setahu saya tunangan bapak adalah mbak Chaca". Tanpa permisi Gwen langsung membuka pintu ruangan Kalandra setelah mendengar perkataan Inez.

__ADS_1


"Bu, Bu tunggu Bu. Ibu tidak diijinkan masuk". Inez mengejar perempuan yang baru saja masuk kedalam ruangan Kalandra.


"Andra. Sayang". Gwen mendekati Kalandra. Dia memeluk tubuh Kalandra yang kebetulan memang sedang berdiri menghadap jendela.


"Lepas. Siapa yang mengijinkan anda masuk". Kalandra melihat kearah Inez yang ketakutan.


"Maaf pak, sudah saya cegah tapi ibu ini memaksa. Beliau mengaku sebagai tunangan bapak ". Ine sengaja mengatakan semua yang dikatakan oleh Gwen kepada Kalandra.


"Baik terimakasih. Kamu boleh keluar dan jaman lupa panggilkan security untuk datang keruangan saya". Inez segera pergi setalah menjawab perintah Kalandra.


Gwen mendekati Kalandra dan hendak memeluknya kembali. Namun dengan sigap Kalandra menghindari.


"Ada apa anda datang kemari. Saya tidak memiliki janji dengan anda nona". Kalandra memang selalu bersikap tak kenal jika itu Gwen.


"Jangan formal gitu dong. Aku kesini karena kangen sama kamu. Lama gak ketemu. Maaf aku ada kerjaan diluar negeri dan mendadak, jadi gak sempat pamitan sama kamu". Gwen menjelaskan tanpa diminta. Seolah Kalandra bersikap dingin karena marah dengannya.


"Itu bukan urusan saya. Jika tidak ada yang penting, silahkan anda pergi. Pekerjaan saya masih banyak". Kalandra berbicara langsung tanpa basa-basi.


"Kok diusir. Kan baru sampai. Makan malam bareng yuk sayang. Udah lama kita gak ajakan berdua". Gwen masih berharap jika Kalandra mau memenuhi permintaannya.


"Saya tidak berminat dengan ajakan anda nona. Silahkan keluar dari ruangan saya. Dan jangan lagi berani kembali mengaku sebagai tunangan saya". Pintu ruangan Kalandra terbuka lebar dan memperlihatkan empat orang pengawal yang setia menunggu perintahnya". Gwen kesal lagi-lagi ditolak oleh Kalandra.


"Pak tolong bawa pergi wanita ini. Dan ingat baik-baik wajah dan namanya. Jangan ijinkan dia masuk kedalam kantor saya, sekalipun itu gudang". Gwen berontak tidak mau dibawa keluar ruangan.

__ADS_1


Setelah Gwen pergi, Kalandra kembali fokus dengan pekerjaanny. Kalandra akan tetap berusaha untuk tidak menghindari si nenek sihir jika tak sengaja bertemu dimana pun. Mungkin dengan cara demikian, Kalandra segera lupa akan kehadiran Gwen. Ikhlas bukan berarti pasrah, tapi itu cara terbaik menyembuhkan luka hati.


__ADS_2