Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 34


__ADS_3

"Hai Ndra, lama gak mampir. Kangen tau". Kalandra tersenyum tipis kepada wanita yang selalu melayaninya saat dia datang ketempat ini.


"Saya sibuk". Wanita itu lantas duduk dipangkuan Kalandra seperti biasanya.


Sejak mama ad sakit dan dirawat dirumah sakit, Kalandra tidak datang ketempat dimana dia selalu merasa terpuaskan. Karena hari ini dia cukup penat dengan pekerjaan dan juga mamanya yang terus merengek meminta bertemu Chaca, Kalandra ingin menenangkan dirinya dan memanjakan ubi jalar kesayanganya.


"Sepertinya hari ini cukup ramai". Kalandra melihat diseluruh ruangan itu nampak sangat padat.


"Iya. Ada seorang model yang merayakan ulangtahun hari ini. Dan menyewa sebagian tempat. Banyak sosialita yang menjadi tamunya". Perempuan itu menjelaskan kepada Kalandra. Dan Kalandra hanya mengangguk saja.


Kalandra memesan minuman seperti biasa. Dia menikmati musik dan menikmati setiap sentuhan ditubuhnya.


"Aku merindukan ini. Tak ada yang bisa menandingi ketangguhannya". Wanita itu sudah mulai mengelus manja si ubi jalar. Kalandra menikmati sentuhannya. Beberapa wanita nampak sedang asyik berjoget didepan Kalandra bersama dengan para pria.


"Jangan membukanya disini. Malam ini aku tak mau ada yang melihat". Kalandra menghentikan gerakan tangan wanita itu saat akan mengeluarkan si ubi dari sarangnya.


"Baiklah. Ayo kita ketempat biasa". Kalandra mengeluarkan seringainya ketika perempuan itu membuka baju bagian dadanya dan mengeluarkan sedikit salah satu dari si kembar.


Selama ini Kalandra tidak mau dan tidak mengijinkan wanita manapun untuk menyentuhnya secara berlebih-lebihan bahkan dia tidak akan mau memasuki lubang sembarangan. Namun Kalandra akan menikmati setiap inci dari wanita yang sedang melayaninya jika dia sedang menginginkannya. Asal tidak ada adegan masuk memasukkan.


"Tunggulah dulu. Kenapa kau tidak sabar. Aku masih ingin menikmati musik ini dan minuman ini". Kalandra mengangkat gelasnya yang masih berisi setengah minuman.


"Akh baiklah. Aku juga akan menikmati ini". Karena tubuh wanita itu cukup ramping, sehingga Kalandra bisa memainkan biji kelereng milik wanita itu dengan menggunakan sebelah tangannya sambil merangkulnya.


"Akhhh. Hishhh. Gak pengen lebih". Wanita itu terus mengeluarkan suara desisan ular saat Kalandra mulai memainkan biji kelerengnya.


"Aku belum haus". Kalandra semakin menurunkan salahsatu lengan baju wanita itu agar Samantha terlihat jelas. Sedangkan Rachel masih bersembunyi didalam sangkarnya.


"Ini mau minta keluar. Lihat ujungnya sudah mengintip keatas. Bolehkah". Kalandra menggeleng. Melarang wanita itu melepaskan si ubi dari sarungnya.


Mata Kalandra terbelalak saat melihat sosok yang dia kenali sedang duduk tak jauh dari Sofanya dan sedang saling memanjakan satu sama lain namun bukan dengan pemilik ibu jalar melainkan sesama pemilik lubang ubi.

__ADS_1


"Saya gak salah lihatkan". Tanpa sengaja Kalandra meremas Samantha cukup kencangm Hingga sang pemilik sedikit menjerit manja.


"Akhhh. Sakit. Jangan kencang-kencang". Kalandra menatap wanita dihadapannya.


"Akh sorry. Saya reflek". Kalandra melepaskan tangannya dari genggaman Samantha. Dia mengambil ponselnya dan sengaja mengambil video wanita itu.


"Kamu ngapain Ndra". Wanita itu ikut memperhatikan arah kamera Kalandra. Bahkan sampai Samantha menempel dipipi Kalandra.


"Kau mengenal wanita itu". Kalandra sudah mematikan ponselnya dan memasukkan kedalam saku. Karena saat Kalandra menoleh tanpa sengaja biji kelereng tadi tepat dibibirnya. Kalandrapun mulai memasukan biji kelereng itu kedalam mulutnya.


"I-iya. Aku kenal. Akhhh. Kamu tau apa yang ku mau. Akhh". Wanita itu menikmati ******* Kalandra.


"Dia sering kesini". Kalandra melepaskan kulumannya sesaat untuk bertanya.


"Iya. Tapi tidak terlalu sering. Ada apa". Seperti bayi buaya yang kehausan, Kalandra masih saja mengulum dan belum mau menjawab pertanyaan wanita itu.


"Akhh.. Akhh. Ndra aku mau lebih. Milikmu sudah minta keluar Ndra". Kalandra melepaskan ******* itu. Dia menatap kearah ubi jalarnya yang mengintip disela-sela ujung celananya.


"Apa tidak seperti biasanya Ndra. Dia juga merindukanku". Kalandra terus menatap kearah wanita yang dikenalinya yang masih asyik bercumbu. Bahkan Kalandra kini semakin terkejut saat ada seorang pria juga ikut bergabung dengan mereka.


"Apa dia selalu seperti itu. Apa kau tau jika dia seorang bis**k". Kalandra bertanya kepada wanita yang masih menemaninya itu.


"Iya. Dia pengusaha muda. Kabarnya dia pernah bertunangan dan kandas karena tunangannya selingkuh dengan mamanya sendiri. Dia frustasi. Wanita yang bermain bersamanya adalah orang yang selalu ada menemani dia selama terpuruk. Mungkin karena itu mereka menjalin kasih. Dan wanita itulah yang saat ini berulangtahun. Apa kau mengenal mereka atau salah satunya. Sepertinya kau sangat tertarik dengan mereka dibanding menuntaskan sesuatu yang terus meronta ini". Kalandra terus menatap kearah wanita yang dia tanyakan tadi.


"Ya saya mengenalnya. Wanita yang sedang menikmati sentuhan dua insan yang berbeda itu adalah klien saya". Wanita yang bersam Kalandra sedang membuka pengait ikat pinggang dan kancing celana Kalandra agar dia leluasa bermain dengan si ubi jalar.


"Oh Bu Tasya". Kalandra menoleh kearah wanita yang saat ini sudah menunduk bermain dibawah sana tanpa membuka sarung si ubi jalar.


"Kau tau namanya". Wanita itu mengangguk. Dan melirik kearah Kalandra. Melepaskan sedikit kegiatannya untuk menjawab.


"Semua pegawai disini mengenalinya. Dia salah satu member terpenting disini. Dan klub ini milik sepupu dari model yang menjadi kekasihnya itu". Kalandra melotot mendengar penjelasan itu. Dia merasa keamanannya akan terusik jika Tasya tau dia sering bermain disini.

__ADS_1


"Sepertinya saya akan pulang sekarang. Dan mungkin saya tidak akan kesini lagi". Wanita itu melepaskan mainannya saat Kalandra mengatakan itu.


"Apa kau akan mencari tempat lain". Wanita itu sudah menjadi langganan Kalandra dan dia yang selalu melayani Kalandra. Mendengar ucapan Kalandra seolah hilang salah satu sumber uangnya.


"Tidak. Kau akan tetap menjadi pemuasku. Tapi tempat ini sudah tidak aman. Kau kan tau aku seorang pengusaha. Jika Tasya tau keberadaanku saat ini, akan sangat membahayakan". Wanita itu mengangguk paham.


"Berikan nomor ponselmu. Jika aku membutuhkanmu, kau harus segera datang". Kalandra menyodorkan ponselnya agar wanita itu menyimpan nomor ponselnya segera.


"Lalu ini bagaimana. Apa kau tak akan tersiksa". Wanita itu melirik kesatu titik setelah mengembalikan ponsel Kalandra.


"Ikutlah denganku. Tuntaskan pekerjaanmu". Kalandra berdiri dan merapikan pakaiannya begitu juga dengan wanita itu. Mereka berjalan menuju tempat parkir. Kalandra selalu memakirkan kendaraannya di basemant agar aman.


Kalandra masuk kedalam mobil diikuti wanita itu. Tak mau membuang waktu, Kalandra segera meminta wanita itu menuntaskan pekerjaannya. Tak ada satu orangpun yang berani mengusik mereka karena tak hanya mereka yang melakukan hal seperti itu disana.


Disaat Kalandra sedang memuaskan ubi jalarnya, Chaca sedang bersiap untuk mengantarkan Julian kebandara. Malam ini Julian akan berangkat menyusul kakaknya dan bersekolah disana. Chaca ditemani kedua orangtua Julian dan Dzaky.


"Cha, gue pergi ya. Loe harus bisa jaga diri. Sekarang gue jauh gak bisa jagain kamu. Tapi gue akan ada saat loe butuh gue. Ingat janji persahabatan kita. Gue sayang loe Cha. Jangan lupa kabari gue kalau loe berangkat. Nanti kalau pas liburan gue akan samperin loe". Julian memeluk sahabat kesayangannya itu. Setelah dia berpamitan dengan kedua orangtuanya terlebih dahulu.


"Loe juga jangan bandel. Jaga makanan loe. Ingat loe punya asam lambung. Kalau loe punya pacar gue harus tau. Gue juga sayang loe. Gue pasti akan merindukan loe yang selalu setia menjadi body guard gue". Mereka sama-sama tersenyum. Bersama-sama sedari kecil, perpisahan ini tampak sangat berat.


"Jul. Belajar yang benar. Jangan malah asyik pacaran aja". Julian tersenyum mendengar perkataan Dzaky.


"Gue pamit ya bang. Makasih udah jadi Abang gue disini. Nanti kalau Abang nikah wajib kabarin gue. Awas kalau gak". Dzaky dan Chaca tertawa begitupun dengan kedua orangtua julian. Julian segera masuk kedalam bandara dan check in karena pesawat yang akan ditumpanginya sebentar lagi akan take off.


Dzaky pulang bersama Chaca, sedangkan orangtua Julian berangkat menuju luar kota bersama dengan supir mereka. Disepanjang jalan, ponsel Chaca terus bergetar.


"Kenapa didiamkan saja Cha". Dzaky melihat Chaca tak menyentuh ponselnya.


"Gue lagi bingung bang". Dzaky menatap Chaca saat mereka berhenti karena lampu lalulintas berwarna merah.


"Tante Adina terus meminta bertemu. Gue harus gimana bang". Dzaky memahami posisi adiknya. Kalandra juga pernah menemuinya dikantor agar bisa membujuk Chaca untuk bertemu dengan mamanya.

__ADS_1


"Chaca adek Abang ganteng. Temui saja. Jangan terus loe abaikan. Apalagi ini orangtua. Gak baik loe berbuat seperti itu. Apalagi loe kan akan pergi sebentar lagi. Sekalian loe pamitan". Chaca mengangguk. Chaca segera membalas pesan mama Adina dan membuat janji untuk mereka bertemu. Niat Chaca ingin berpamitan kepada mama Adina.


__ADS_2