Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 82


__ADS_3

I'm back...maaf terlalu padatnya rutinitas membuat saya melupakan ini sejenak.....menjelang tomat ya gesss😁😁😁😁😁......


__________


"Kok kita kesini mas. Bukannya kita makan malam di restauran lainnya?" Chaca bingung karena Kalandra membawanya ke restauran lain bukan tempat untuk mereka akan dinner.


"Mas ada sedikit urusan disini sayang. Gapapa kan kita berhenti bentar disini?"


"Iya mas. Gapapa kok" Kalandra memeluk pinggang Chaca posesif. Mereka tidak masuk melalui pintu utama, melainkan pintu samping restoran itu.


"Loh mas kok lewatnya sini. Bukannya ini pintu ke arah dapur ya mas?" Dengan penuh tanya Chaca terus berjalan mengikuti Kalandra.


"Karena kita akan memberikan kejutan kepada teman mas yang sedang ulangtahun sayang" Chaca hanya mengangguk saja.


Mereka masuk melalui pintu dapur. Seseorang sudah menunggu kedatangan mereka berdua. Mereka diarahkan untuk masuk kedalam sebuah ruangan menunggu orang yang akan menjemput mereka untuk menjadi tamu kejutan.


"Pak Kalandra bisa menunggu disini dulu. Nanti saya akan menjemput bapak setelah semua siap" Kalandra mengangguk dan orang tersebut meninggalkan Kalandra dan Chaca.


Sebelum datang ketempat ini, Kalandra dan Chaca sudah sempat menonton film di bioskop. Yang awalnya mereka akan makan terlebih dahulu, namun sua berubah mendadak. Sepuluh menit menunggu, orang tadi kembali menjemput Kalandra. Dan Chaca harus menunggu diruangan itu ditemani beberapa orang yang tidak dia kenal.


"Sayang, mas keluar dulu. Jangan takut, mereka semua teman mas" Chaca masih menatap Kalandra. Kalandra mengusap lembut pipi Chaca menenangkan.


"Kenalkan saya Kevin nyonya. Saya rekan kerja pak Kalandra. Maaf saya harus meminta bantuan pak Kalandra kali ini demi kebaikan kita bersama" Chaca semakin bingung dengan ucapan Kevin.


"Kamu akan mengerti sesaat lagi sayang. Percaya sama mas ya" Chaca mengangguk. Kalandra berjalan keluar ruangan setelah berpamitan dengan Kevin dan Chaca.


Sepeninggal Kalandra, baik Chaca maupun Kevin tidak ada yang saling berbicara. Dua orang berbadan besar masuk kedalam ruangan. Mereka segera memasang layar proyektor dihadapan Chaca dan Kevin. Mereka segera berdiri disamping Kevin setelah menyelesaikan pekerjaan mereka.


Chaca terkejut melihat tayangan dilatar itu. Kalandra seolah baru saja masuk kedalam resto. Kalandra berjalan mendekati sebuah meja dan disana sudah ada seorang wanita menunggu. Semua terlihat dengan sangat jelas, karena memang kamera tersembunyi yang telah disiapkan dari berbagai sudut oleh Kevin.


"Mela" Lirih suara Chaca, namun masih terdengar oleh Kevin. Kevin menoleh sesaat kepada Chaca dan mencoba menjelaskan.


"Nyonya tidak usah khawatir. Ini semua atas permintaan saya. Pak Kalandra hanya membantu. Agar semua kesalah pahaman ini segera usai" Chaca melihat sekilas kearah Kevin.


"Siapa anda sebenarnya. Dan apa hubungan anda dengan Mela?" Kevin tersenyum tipis sambil menatap lurus kearah layar.


"Saya suami sah Mela" Chaca terkejut dengan jawaban Kevin. Mereka kembali fokus ke layar.

__ADS_1


Pintu ruangan kembali terbuka. Dua pasangan paruh baya memasuki ruangan bersama seorang pria seusia dengan Kalandra. Setelah mereka menyapa Chaca dan berpelukan dengan Kevin, mereka ikut duduk bersama melihat kearah layar.


"Terimakasih kamu sudah mau datang. Aku tau kamu sangat peduli dengan anak kita ini" Mela mengusap perutnya yang mulai menonjol.


"It's okay. Mengapa hanya kita berdua. Apa ini tidak berlebihan?" Kalandra hanya berpura-pura terkejut saja. Karena memang Mela menyewa satu restoran hanya untuk mereka berdua dinner.


"Tidak. Aku ingin kenyamanan untuk kita berdua" Mela meraih tangan Kalandra dengan senyuman penuh arti. Kalandra hanya tersenyum simpul.


"Aku sudah memesankan makanan favorit kamu" Mela memberikan kode kepada pelayan untuk mengantarkan makanan yang sudah disiapkan.


"Terimakasih sudah mengingat apa yang aku sukai" Mela mengangguk dengan senyuman bahagia. Dia merasa berhasil merebut perhatian Kalandra lagi.


Didalam ruangan, Chaca hanya diam mendengarkan umpatan dan amarah dari dua pasangan paruh baya tadi. Kevin sedang berusaha menjelaskan semuanya. Chaca hanya fokus dengan apa yang Kalandra lakukan saat ini.


"Daddy, kapan akan melamarku. Apa kamu tidak kasian, jika anak kita tidak memiliki ayah" Kalandra tersenyum tipis mendengar permintaan Mela.


"Apa kamu lupa jika aku sudah memiliki istri?" Kalandra melihat reaksi Mela yang berubah menjadi masam.


"Ck. Tinggal kamu ceraikan saja selesai. Apa anak ini tidak penting untukmu. Bahkan aku yang sudah lebih dulu memberikanmu keturunan dibandingkan istrimu itu" Kalandra meremas kuat sendok yang dipegangnya. Menahan amarah saat Mela merendahkan Chaca.


"Hmm. Baiklah jika itu maumu. Aku akan pikirkan" Kalandra masih tetap berusaha menahan emosinya.


Mereka melanjutkan makan malamnya. Walaupun Kalandra benar-benar tidak ingin memakan itu. Entah mengapa saat ini perut Kalandra sangat mual. Bahkan melihat makanan dihadapannya membuat Kalandra semakin mual. Kalandra menahan itu semua.


"Oya, apa Daddy ingat jika hari ini adalah hari dimana dulu pertama kali kita bertemu" Kalandra berpura-pura mengingat apa yang Mela ucapkan.


"Benarkah?" Mela cemberut mendengar reaksi Kalandra.


"Apa semudah itu kamu melupakan semuanya Daddy?" Kalandra tertawa kecil.


"Aku hanya sedikit lupa" Mela tersenyum kembali. Mela menarik tangan Kalandra. Mela juga berpindah duduk disamping Kalandra, dan sengaja meletakkan tangan Kalandra diperutnya.


"Dia sangat bahagia malam ini. Daddy menemani mommy makan malam" Kalandra ingin sekali segera menyudahi semua ini. Kalandra ingin segera memeluk Chaca.


"Benarkah. Aku punya hadiah untukmu malam ini" Kalandra melepaskan perlahan tangannya dari atas perut Mela.


"Apa itu?" Mela tampak sangat antusias dengan kejutan yang disiapkan oleh Kalandra.

__ADS_1


"Lihatlah kesana" Kalandra menunjuk kearah layar yang sudah disiapkan. Mela belum menyadari dengan kejanggalan ini karena sangat antusias dengan kejutan dari Kalandra.


Asisten Kalandra segera memutarkan beberapa potongan foto awal pertemuan mereka. Dirangkai layaknya film dokumenter. Setelah beberapa menit, gambar dilayar berubah menjadi video yang menayangkan janji suci dua insan dihadapan penghulu dan saksi-saksi serta keluarga besar mereka.


Wajah Mela tampak pucat. Dia sangat terkejut dengan apa yang saat ini terpampang jelas dihadapannya. Kalandra tersenyum disudut bibirnya. Bahkan tampak jelas dimana hari pertama Mela memberitahu Kevin jika dia sedang mengandung anaknya.


"Mami" Panggil Kevin pelan. Mela menoleh. Dia begitu terkejut melihat kehadiran suami dan kedua orangtuanya beserta kedua mertuanya sudah berada disana. Mela menoleh kearah Kalandra yang saat ini sudah berdiri memeluk Chaca.


"Apa maksud semua ini. Kamu menjebakku?" Mela marah kepada Kalandra. Dia merasa tertipu.


"Bukan pak Kalandra yang salah disini. Tapi ini semua rencanaku. Aku meminta bantuan pak Kalandra" Kevin menjelaskan kepada Mela. Mela berjalan mendekat kearah Kevin.


"Kamu tega sama aku. Kamu jahat Kevin" Mela mengamuk. Memukul Kevin. Kevin menahan tangan Mela.


"Aku jahat. Lalu kamu apa. Apa kamu tidak jahat dengan memfitnah pak Kalandra. Menghancurkan rumah tangganya. Bahkan kamu juga sudah menyakiti perasaanku Mela" Kevin tidak membentak Mela. Dia berkata dengan lemah lembut.


"Itu bukan urusan kamu Kev" Mela masih mengamuk. Orangtua Kevin sudah sangat emosi. Ingin sekali memaki Mela. Namun masih mereka tahan.


"Kamu istriku. Dan anak itu jelas anakku. Karena aku orang pertama yang menyentuhmu. Lalu apa ini semua bukan menjadi urusanku?" Mela diam sejenak. Tidak ada satupun yang menyahut disana.


"Ayo kita pulang sayang. Aku tidak marah. Aku tau kamu masih sangat terobsesi dengan pak Kalandra. Tapi kamu juga harus tau jika pak Kalandra juga sudah bahagia dengan keluarganya" Kevin memeluk tubuh Mela untuk menyadarkan istrinya.


"Mel, aku sudah memiliki Chaca sejak dulu. Bahkan sebelum kita bertemu. Aku dan Chaca sudah ditakdirkan bersama. Begitu juga denganmu dan pak Kevin. Hiduplah berbahagia bersama dengannya" Mela menoleh kearah Kalandra yang baru saja bersuara. Mela menangis dan terduduk dilantai.


"Maafkan aku. Maafkan aku" Hanya jata itu yang keluar dari mulut Mela. Kevin mengangkat tubuh istrinya itu dan memeluknya.


"Sudah ya sayang. Jangan menangis lagi. Kasian baby didalam perut" Mela membalas pelukan suaminya itu.


Kevin segera membawa Mela pergi dari resto itu diikuti beberapa pengawalnya. Orangtua Kevin dan Mela mengucapkan terima kepada Kalandra dan Chaca.


"Pak Kalandra, saya tidak mengira jika candaan saya waktu itu untuk menjodohkan Mela dengan bapak, berdampak seperti ini. Saya juga sudah meminta kepada sekretaris saya untuk membatalkan semua kerjasama kita untuk sementara waktu. Semua demi kebaikan kita bersama" Papa Mela benar-benar menyesali kesalahannya dulu. Kalandra tersenyum menerima uluran tangan papa Mela.


"Baiklah pak, jika memang jalan ini yang terbaik untuk kita saat ini. Jika memang semua sudah kondusif, perusahaan saya dengan senang hati akan bekerjasama dengan perusahaan bapak lagi". Mereka pergi menyusul Mela dan Kevin setelah berpamitan. Masih ada seseorang yang berdiri disana.


"Pak Kalandra saya tidak menyangka jika hari ini saya akan menyaksikan ini semu" Kalandra tersenyum menanggapi ucapan pria didepannya.


"Saya pun juga baru tahu jika pak Edwin akan menjadi tamu spesial malam ini" Laki-laki itu adalah Edwin. Edwin bahkan terkejut dengan apa yang baru saja dia saksikan.

__ADS_1


"Yang terpenting semua kini sudah berakhir. Semoga kedepannya akan baik-baik saja" Edwin dan Kalandra saling melempar senyuman. Kalandra juga mengenalkan Chaca kepada Edwin.


Malam panjang kini telah usai. Semua kesalah pahaman pun berakhir. Semoga kebahagiaan selalu mendatangi mereka. Chaca dan Kalandra pulang dengan membawa kebahagiaan dan kelegaan. Mereka pun bisa tidur dengan tenang. Kalandra menepati janjinya kepada Chaca membuktikan jika dia tidak salah.


__ADS_2