Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 85


__ADS_3

"Akhhhh massss" Teriakan kencang menggema dari Chaca yang saat ini sedang berjuang melahirkan penerus keluarga Gerald.


"Iya sayang. Huh huh. Tarik nafas, buang nafas sayang" Kalandra menenangkan Chaca menahan rasa sakit karena Chaca terus menjambak rambutnya.


"Sakit massss" Dokter juga memberikan aba-aba agar persalinan Chaca lancar.


"Ayo Bu semangat. Dedeknya sudah terlihat Bu" Chaca semakin semangat dalam mengejan. Dan Kalandra semakin ikhlas tersakiti.


"Akhhhhhh" Teriakan panjang dari Chaca teriring dengan tangis Kalandra junior.


Oek..oek...oek..


"Mas" Mendengar suara tangisan dari keturunan Rasyid dan Gerald. Kalandra pun ikut terharu.


"Wah tampan sekali kamu nak. Selamat ya pak, bu. Bayinya sehat dan sempurna" Mendengar penjelasan dokter, Chaca dan Kalandra saling tatap dan tersenyum.


"Terimakasih sayang. Terimakasih macha" Kalandra mengecup kening Chaca lembut.


Chaca masih mendapatkan perawatan lanjutan. Dan setelah dibersihkan, perawat membawa putra mereka untuk mendapatkan inisiasi menyusu dini. Chaca meneteskan air matanya karena bahagia. Melihat putra tampannya yang sedang berusaha mencari sumber makanan untuknya. Kalandra sedang keluar kamar menemui kedua pasang orangtuanya yang sudah menunggu.


"Pah,mah" Ucap Kalandra dengan air mata yang masih menetes.


"Selamat jagoan papa, sekarang sudah menjadi orangtua" Sambutan peluk hangat dari papa Gerald.


"Terimakasih pah" Mama Adina pun ikut memeluk tubuh putranya itu.


"Sudah jadi ayah, jaga mereka dengan baik. Jangan membuat mereka sedih" Kalandra mengangguk mendengar nasehat mamanya.


"Terimakasih menantu papa. Sudah menjaga putri papa sejauh ini" Ada sedikit rasa sakit dihati Kalandra, mengingat perceraian mereka yang tidak diketahui keluarga Chaca. Meskipun itu sudah lama dan mereka sudah kembali kini, masih ada rasa bersalah dalam hati Kalandra.


"Terimakasih pah sudah memberikan Kalandra istri seperti Chaca. Terimakasih mah sudah membesarkan wanita sehebat Chaca" Kedua mertua Kalandra memeluk tubuh Kalandra bersamaan.


"Mama juga berterimakasih kamu menjaga putri kami dengan baik. Terimakasih sudah menjadi menantu terbaik kami, menyayangi dan mencintai Chaca dengan tulus" Kalandra melepaskan pelukan mereka. Dan mereka saling senyum.

__ADS_1


"Bagiamana dengan cucu papa dan Chaca Alan?" Papa Rasyid sangat penasaran dengan Kondisi putri dan cucunya. Bahkan saat ini kondisi papa Rasyid sangat sehat. Sudah tidak menggunakan kursi roda seperti sebelumnya.


"Mereka sehat pah. Selamat kalian sudah menjadi kakek dan nenek" Kalandra terkikik. Mereka juga ikut terkikik mendengar candaan Kalandra untuk mereka.


"Cowok apa cewek Alan cucu papa?" Selama masa hamil, baik Chaca dan Kalandra sengaja merahasiakan jenis kelamin anak mereka.


"Lelaki pah" Senyum Kalandra memancarkan kebahagiaan.


"Penerus perusahaan papa ini" Papa Gerald mengklaim hak waris untuk anak Kalandra.


"Ingat dia juga seorang Rasyid tuan Gerald" Kedua mama Kalandra beserta Kalandra tertawa melihat perdebatan kedua kakeknya.


"Kalian lupa jika cucu kalian itu memiliki papa yang juga mendirikan perusahaan sendiri. Jadi secara otomatis dia penerus perusahaan Alan" Dengan bangganya Kalandra membanggakan dirinya sendiri.


"Tidak. Cucu pertama itu milik papa" Belum sempat papa Rasyid membantah pernyataan papa Gerald, perawat keluar dari ruang bersalin dengan mendorong kursi roda. Chaca sudah siap dipindah ke ruang rawat begitupun dengan bayi mereka.


"Permisi" Kalandra segera menoleh dan mengambil alih kursi roda Chaca.


"Terimakasih sus. Saya akan mengantarkan istri saya ke ruang rawat" Perawat itu tersenyum dan mengikuti Kalandra. Kedua pasang orangtua mereka juga mengikuti langkah Kalandra.


"Terimakasih mas" Ucap Chaca lembut. Kalandra mengecup kening Chaca sekilas dan segera memindahkan kursi roda.


Perawat kembali memastikan keadaan Chaca sebelum meninggalkan ruangan Chaca. Beberapa menit kemudian, bayi mereka juga sudah dibawa masuk kedalam ruang rawat Chaca.


"Cucu papa" Teriak papa Chaca dan papa Kalandra bersamaan ketika melihat cucu tampan mereka sudah dihadapan.


Para nene juga sangat antusias berebut ingin menggendongnya. Kalandra duduk ditepi ranjang menemani dan menyuapi Chaca. Seperti pesan perawat sebelum pergi, Chaca segera memulihkan tenaganya dan persiapan untuk memberikan ASI kepada putranya itu.


"Sayang. Lihatlah mereka. Begitu antusias dengan kehadiran junior" Chaca pun ikut tersenyum melihat kebahagiaan didepan mereka.


"Benar mas. Bahkan papa semangat untuk sembuh. Junior adalah anugerah terindah yang hadir ditengah keluarga besar kita mas" Kalandra memeluk tubuh Chaca dari samping.


"Lan, siapa nama cucu kami ini?" Kalandra menoleh terlebih dahulu kearah Chaca sebelum menjawab pertanyaan mama Adina. Chaca pun mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


"Abrisam Putra Aditya" Jawab Kalandra. Kedua kakek mereka kurang setuju dan segera mengungkapkan keberatan mereka.


"Kenapa tidak ada unsur nama keluarga kita Alan. Setidaknya kamu memberikan nama Rasyid dan Gerald untuk cucu kami ini" Chaca tertawa sedangkan Kalandra berdecak pelan.


"Ck. Pah, ini anak Alan dan Chaca. Jika papa mau menggunakan nama Gerald, bikin saja lagi" Papa Gerald melemparkan bantal sofa kerah Kalandra.


"Mulutnya. Anak kamu itu cucu kita. Jadi tidak ada salahnya ada unsur nama keluarga besar" Papa Rasyid tidak peduli dan asyik dengan cucunya itu.


"Tidak. Alan tidak ingin anak Alan terbebani dengan nama keluarga besar kita pah. Biarkan dia berkembang menjadi dirinya tanpa embel-embel nama keluarga besar. Alan hanya menyematkan nama Aditya sebagai nama belakang keluarga" Penjelasan Kalandra diiringi senyuman Chaca. Mereka memang sudah sepakat untuk tidak memakai nama besar kedua orangtua mereka.


"Akh baiklah papa mengerti. Setidaknya saat tasyakuran nanti, pastikan semua orang harus tau Abrisam berdarah Rasyid dan Gerald" Pernyataan papanya membuat Kalandra menghela nafas panjang. Chaca tertawa dengan reaksi suaminya itu.


"Iya iya. Mengalah dengan orangtua tidak ada salahnya" Jawaban Kalandra membuat papa Gerald kembali kesal.


"Dasar anak bandel" Papa Gerald hanya tertawa melihat perdebatan anak mantu dan besannya itu. Dia hanya fokus kepada baby Abrisam.


_______


Tak terasa waktu cepat berlalu. Usia Abi sudah memasuki waktu sekolah dini. Chaca tetap menjadi wanita karir namun tetap merawat Abi tanpa bantuan perawat. Abi selalu ikut mamanya ke kantor. Terkadang Kalandra juga melakukan hal yang sama.


Chaca hanya akan bekerja setengah hari saja. Agar bisa menjaga Abi dengan baik. Paras tampan Abi menjadi pusat perhatian para karyawan. Abi menuruni sifat dingin sang papa. Jika tidak nyaman dengan orang disekitarnya, Abi akan memasang wajah dinginnya.


Perusahaan Chaca dan Kalandra semakin maju. Bahkan Rudi saat ini fokus membantu Chaca. Kalandra memutuskan untuk menutup usahanya yang berada di negara kelahirannya. Dan memilih menetap di negara saat ini dia tinggal.


Dzaky dan istrinya selalu mengunjungi sang keponakan setiap dua bulan sekali. Istri Dzaky juga masih program hamil. Keluarga mereka sangat bahagia dengan kehadiran Abi. Papa Rasyid sudah bisa kembali beraktivitas di perusahaan. Kakek nenek Abi mengunjungi setiap Minggu secara bergantian.


Terimakasih sudah hadir dalam kehidupanku. Hadirmu mengubah segala hal dalam diriku. Maaf kan aku yang tidak sempurna ini. Tetaplah disampingku, mengiringi langkahku, membimbingku jika tersesat. Jangan bosan mengingatkan jika aku tersesat. Love you to the moon and back Marrisa Al Rasyid...... Kalandra


Aku mungkin bukan wanita sempurna. Tapi hadirmu menyempurnakan hidupku. Kesabaranmu mendewasakanku. Tulusnya cintamu menghidupkan hariku. Terimakasih sudah menjadi pria terhebat. Sudah mencintaiku dengan tulus. Kamu adalah suami dan papa terbaik yang kirimkan Tuhan untukku dan Abi. Kalandra Geraldine Aditya.... you are my destiny


...END...


________

__ADS_1


TERIMAKASIH SUDAH SELALU MENDUKUNG AUTHOR RECEHAN INI. MAAF JIKA SELALU MENGECEWAKAN. SAMPAI JUMPA LAGI YA DI NEXT CERITA ...BYE BYE.. LOVE YOU ALL..


__ADS_2