
Usaha mereka akhirnya membuahkan hasil. Mama Agnes sudah dibawa keluar kota oleh Leo dan Sultan atas permintaan papa Agnes. Dokter Hasan sengaja menyuntikkan obat tidur untuk mama Agnes agar terkesan mama Agnes tidak merespon apapun. Mereka memang membaw ambulance rumah sakit, beruntung tak ada satupun anak buah Agnes mengikuti mereka. Itu membuat mereka mudah memindahkan mama Agnes kedalam mobil Dzaky dan membawa ke luar kota.
Kakak Agnes berada di lokasi yang berbeda. Saat Kalandra berbincang dengan papa Agnes menggunakan kode, itu membahas kakak Agnes. Kakak Agnes dibawa ke rumah sakit jiwa oleh Agnes. Seolah kakaknya yang mengalami gangguan jiwa. Damar dan Dzaky mengunjungi rumah sakit tersebut untuk mencaritahu mengenai kakak Agnes.
Livia, kakak Agnes nampak begitu mengenaskan. Dia harus terukurung dalam tempat yang membuat bukan untuknya. Bahkan harus mengkonsumsi obat-obatan yang bukan untuknya. Berkali-kali dia berusaha mengatakan yang sesungguhnya, namun tidak dipercayai.
"Sepertinya kita harus mencari cara lain Jek. Kalau cuma bilang salah pasien, sudah pasti kita yang dikira gila". Damar dan Dzaky sudah bertemu dengan dokter yang menangani Livia. Mereka bisa menyimpulkan jika dokter itu lebih percaya kepada Agnes.
"Iya. Gimana kalau kita minta bantuan papanya Agnes saja. Mungkin dari keluarga bisa dipercaya". Damar berfikir sejenak. Ada benarnya pendapat Dzaky.
"Kita atur waktu yang tepat. Yang jelas Kalandra kembali jadi tumbal". Damar tertawa kencang mengingat Kalandra yang harus menjadi tumbal untuk menyelesaikan masalah ini.
"Jujur gue masih penasaran. Apa yang Kalandra lakukan sampai kenal cewek psikopat kayak gitu. Kemarin kalian cerita gak lengkap". Dzaky hanya mendengarkan cerita versi damar mengenai Agnes dan Kalandra. Dan penyakit apa yang Agnes derita.
"Gue juga gak tau. Kata papanya, Agnes ditolong sama Kalandra. Dari situ Agnes merasa Kalandra seorang yang sangat bisa melindungi dia. Orang yang memiliki rasa sama dia. Padahal itu hanya halusinasi". Dzaky hanya mengangguk mendengar jawaban Damar.
"Eh lupa. Gue udah dapat data nama orang yang dikirim Kalandra waktu itu. Dan anak buah papa gue udah ngasih tau dimana dia tinggal. Apa kita kesana sekarang saja. Biar cepat beres". Damar mengacungkan jempolnya dan segera menuju ke alamat yang Dzaky tunjukkan.
Disaat teman-temannya sedang fokus dengan tugas masing-masing, Kalandra sedang mencari cara agar Agnes tidak ikut ke rumahnya. Hari ini Kalandra memang akan pulang kerumah karena ingin mengambil beberapa pakaian ganti untuk mamanya. Dan juga menjenguk Chaca. Jika Agnes ikut, Chaca akan bahaya. Namun jika Kalandra menolak Agnes akan curiga.
__ADS_1
"Kamu mau ikut saya. Nanti kamu gak nyaman dirumah orangtu saya". Kalandra berusaha mencari cara agar Agnes tidak ikut.
"Aku sudah beberapa kali kerumah kamu dulu. Dan aku nyaman. Kenapa sekarang kamu melarang aku. Apa kamu menyembunyikan sesuatu disana". Mata tajam Agnes sedikit mengintimidasi Kalandra. Beruntung Kalandra sudah terbiasa menghadapi sikap Agnes.
"Huh, selalu berprasangka buruk. Saya cuma tidak mau kamu merasa tidak nyaman saja. Disana juga tidak ada siapa-siapa kecuali asisten rumah mama. Aku juga gak lama kok. Langsung balik lagi ke rumah sakit". Wajah Agnes nampak tak senang dengan penjelasan Kalandra.
"Bisa tidak kamu satu hari tidak usah ke rumah sakit. Aku juga butuh perhatian kamu. Mama kamu sudah dijaga perawat disana. Gak perlu kamu capek-capek kesana. Besok kan bisa". Kalandra sudah akan meledak jika tidak ingat wanita didepannya itu bukan wanita normal.
"Maaf, aku akan tetap menjaga mama. Kita bisa menghabiskan waktu bersama lebih leluasa setelah mama sembuh". Sebisa mungkin Kalandra menahan emosi. Rasanya ingin sekali Kalandra melemparkan Agnes kedalam lautan luas.
"Tapi mama kamu dari dulu gak suka sama aku. Dia selalu membenciku. Dia tidak suka aku dekat dengan kamu". Kalandra berfikir mungkin inj saatnya dia tahu apa yang terjadi dengan mamanya sebelum koma dulu.
"Kenapa kamu bisa mengatakan mama tidak menyukaimu. Bahkan dia menganggap kamu anaknya". Menekan emosi itu tidaklah mudah. Tangan Kalandra harus mengepal kuat disebalik tubuhnya menahan amarah.
"Kamu mengenal Delina". Kalandra penasaran pa yang diperbuat Agnes pada gadis itu.
"Tidak, tapi aku tau. Gadis sok lembut. Aku gak suka. Bahkan dia sangat lemah dan manja. Aku cuma mendorongnya sedikit, eh dia malah masuk jurang. Kan lemah. Padahal cuma aku dorong pake telunjuk loh. Lebay banget". Kalandra seketika melotot. Dia ingat Delina ditemukan tewas didasar jurang. Kalandra mengenal Delina karena mama mereka dekat. Tapi Kalandra tidak pernah tahu jika mama Adina akan menjodohkan Delina kepada dirinya.
"Lalu untuk apa kamu dorong dia. Apa tidak berlebihan". Dalam hati Kalandra emosi sudah bergejolak, dia harus bisa menahannya. Apalagi saat ini Agnes tiba-tiba memegang pisau buah. Dia mengupas buah apel, tapi bagi Kalandra itu menakutkan.
__ADS_1
"Habis dia bandel. Aku bilang ke dia, Kalandra itu suami aku. Jangan jadi pelakor, bukan setuju malah dia minta bukti kalau kamu suami aku. Kan kesel jadinya". Agnes tidak menyadari salah satu tangan Kalandra saat ini sudah meremas kuat banyak sofa dibelakangnya.
Kalandra diam tak bisa berkata apa-apa. Pikirannya sudah bercampur. Sesekali matanya melihat pisau tajam yang dipegang oleh Agnes. Salah langkah sedikit saja, nyawanya melayang.
"Aku juga ingat, waktu itu aku main kerumah kamu. Terus aku lihat ada gaun bagus banget disofa. Aku ambil terus aku coba. Mama Adina lihat langsung ngasih pujian ke aku. Aku pikir itu buat aku, tapi ternyata buat Delina. Mama minta aku lepas gaun itu. Aku kesal habis aku lepas aku gunting-gunting biar keren. Eh mama Adina malah marah ke aku. Mama Adina gak suka aku kasih motif digaun itu. Mama minta aku untuk gantiin. Aku gak mau, aku kan gak salah. Ya udah aku pulang aja, tapi mama Adina malah berdiri didepan aku. Aku geser kekanan dikit biar aku lewat. Dia malah gelinding kebawah Ndra. Terus darahnya keluar banyak banget. Aku bangunin gak bangun. Ya udah aku pulang". Agnes menceritakan itu dengan ringannya bahkan ekspresi Agnes membuat Kalandra semakin emosi. Tak ada sedikitpun rasa penyesalan.
"Akhhhh. Aku pengen cekik kamu saat ini juga. Setega itu kamu sama mama. Cewek ini benar-benar gila. Tuhan tolong aku. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi Tuhan". Kalandra bermonolog dalam hatinya.
"Heh malah ngelamun. Makan nih apel". Yang membuat Kalandra terbelalak karena Agnes mengacungkan pisau itu kearah wajahnya.
"Hem. Terimakasih". Kalandra mengambil apel itu perlahan agar tidak terkena pisau.
Agnes menghentikan gerakan mengupas apelnya. Matanya tajam menatap Kalandra. Kalandra sudah sedikit was-was.
"Kamu bukan ingin membalas dendam kan. Karena aku pindah keluar negeri setelah itu". Pisau itu sudah tepat didepan mata Kalandra.
"Ti...ti...tidak. Saya sudah melupakan hal itu". Pisau itu masih ditempat yang sama.
"Benarkah. Baguslah. Aku lakukan itu tanpa sengaja". Pisau itu sudah kembali ke piring. Kalandra harus mencari cara agar benda itu menyingkir.
__ADS_1
"Aku ingin kita menikah segera Ndra. Kamu milikku. Tak ada yang bisa memiliki kamu selain aku". Saat ini bukan lagi pisau yang ditangan Agnes, melainkan belati kecil entah dari mana. Agnes berbicara sambil menelusuri wajah dan lengan Kalandra dengan belati. Walaupun tidak menggores, itu cukup menakutkan.
"Kamu maukan menikah denganku".