
Apa yang ditakutkan oleh Kalandra benar adanya. Satu bulan setelah Kalandra mengatakan permasalahan yang dialaminya. Mela datang dan mengatakan jika dirinya mengandung anak Kalandra. Mela menunjukkan bukti pemeriksaan kehamilannya dan foto dirinya yang tidur bersama dirinya.
Mela sengaja menemui Chaca. Mela mencari tahu dimana Chaca bekerja. Chaca memang terkejut. Chaca berusaha untuk terlihat emosi. Setelah kedatangan Mela, Chaca sempat mendiami Kalandra. Chaca mengingat perkataan Kalandra untuk mempercayai dirinya. Chaca pun menceritakan kedatangan Mela kepada Kalandra.
Kalandra berjanji akan segera mencari bukti jika dia tidak pernah sejauh itu kepada Mela. Chaca tetap mempercayai apa yang suaminya katakan. Dan mereka tampak baik-baik saja. Itu membuat Mela semakin kesal. Untuk mempermudah Kalandra mencari bukti, Kalandra dan Chaca sepakat untuk bermain sandiwara. Dan Chaca harus bersabar menahan semua emosinya.
Hari ini, seperti biasanya Mela datang kekantor Kalandra. Setelah menemui Chaca satu bulan lalu, Mela semakin berani mendatangi Kalandra. Dengan mengatas namakan bayi didalam kandungannya.
"Sayang, anak kita ingin makan pizza. Maukan Daddy membelikannya" Demi sebuah bukti, Kalandra bersikap baik.
"Baiklah. Akan saya pesankan" Kalandra sudah meminta bantuan Rudi untuk membuktikan jika anak yang ada didalam kandungan Mela, bukanlah anaknya.
"Ck. Aku maunya kita langsung makan disana sayang" Mela sengaja menggelayuti lengan Kalandra.
"Maaf, saya akan ada meeting. Bagaimana, masih mau makan pizza?" Meskipun cemberut karena kecewa, Mela pun tetap mengangguk.
Kalandra segera memesan pizza yang diinginkan Mela. Kalandra juga memesankan makan siang untuk Chaca. Kalandra berusaha untuk melindungi Chaca dari sifat Mela yang nekad.
"Nanti pesanan pizza akan diantar office boy. Saya akan keruangan meeting" Kalandra beranjak meninggalkan kursi dan berjalan menuju pintu keluar.
"Apa kamu tega meninggalkanku sendiri disini. Anakmu juga butuh perhatian dari daddy-nya" Rengek Mela. Kalandra menoleh tapi tidak mendekati Mela.
"Saya juga harus bekerja. Bagaimana bisa saya menafkahi dia jika saya tidak bekerja" Diluar ekspektasi Mela. Mela membayangkan jika Kalandra akan datang memeluknya dan membatalkan meeting.
Namun nyatanya, Kalandra tetap pergi keruangan meeting bersama asistennya. Sebenarnya meeting ini bisa saja Kalandra undur, tapi jika itu Chaca yang merengek. Kalandra meminta asistennya untuk membelikan makanan dikantin. Dan meminta asisten itu menemaninya makan.
"Apa kamu sudah mencari bukti tentang malam itu" Asisten Kalandra mengangguk.
"Ada bos. Saya sudah kirim ke email bapak" Kalandra mengangguk. Asistennya pun merasa bersalah dengan Chaca.
"Saya benar-benar minta maaf pak. Karena keteledoran saya malam itu, bapak menjadi bermasalah seperti ini. Say juga merasa bersalah dengan ibu pak" Berkali-kali asisten Kalandra meminta maaf. Karena dia pergi meninggalkan Kalandra seorang diri didalam kafe. Asisten Kalandra membeli oleh-oleh untuk tunangannya. Saat dia kembali Kalandra sudah tidak ada dikafe.
"Tidak apa-apa. Ini bukan salah kamu. Istri saya juga tidak marah" Jelas Kalandra. Meeting segera dimulai setelah makan siang usai. Kalandra sengaja mengulur waktu lebih lama, berharap Mela sudah pergi.
__ADS_1
Kalandra tidak segera kembali keruangannya. Dia menyempatkan diri untuk menghubungi Chaca. Setelah lima belas menit sebelumnya , Kalandra mengirim pesan kepada Chaca. Rutinitas setiap hari yang dilakukan Kalandra.
"Mas" Sambut Chaca dengan senyuman.
"Sepertinya sedang tidak dikantor istriku ini" Kalandra memperhatikan jika Chaca sedang berada ditempat yang ramai.
"Iya. Habis cek lokasi. Ini mau balik kantor" Jelas Chaca sambil mengalihkan kamera agar Kalandra bisa melihat apa yang ada didekat Chaca.
Kalandra melihat pintu ruangan meeting. Asisten Kalandra sudah lebih dulu meninggalkan ruangan setelah makan siang.
"Sayang mas tutup dulu ya. Sampai ketemu dirumah" Chaca melambaikan tangannya dan menutup panggilan Kalandra.
"Ada apa. Bukannya kamu saya suruh melihat Mela pulang atau belum" Kalandra membereskan bekas bungkus makanan miliknya.
"Nona Mela sudah tidak ada bos. Tapi ada yang menunggu bos diruangan" Kalandra yang baru saja berjalan mendekati tong sampah segera menoleh.
"Siapa. Bukannya saya sudah tidak ada jadwal lagi" Kalandra berjalan meninggalkan ruangan meeting diikuti asistennya.
"Saya tidak mengenalnya pak. Beliau sangat ingin bertemu dengan bapak" Kalandra semakin penasaran. Kalandra bergegaslah masuk keruangannya.
"Selamat siang. Apakah bapak Kalandra Aditya" Tamu Kalandra mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"Ya saya sendiri. Maaf dengan bapak siapa?" Tanya Kalandra sambil berjabat tangan.
"Kenalkan saya Kevin" Tampak usia Kevin masih muda. Kalandra berfikir Kevin seusia Chaca.
"Silahkan duduk. Maaf ada keperluan apa dengan saya. Karena saya fikir kita baru pertamakali bertemu" Kevin segera duduk dan Kalandra duduk didepannya.
"Memang kita baru pertamakali bertemu. Saya menemui bapak selain ingin berkenalan juga ingin mengatakan hal penting mengenai Mela" Mendengar nama Mela. Kalandra menatap serius wajah Kevin.
"Anda mengenal Mela?" Kevin mengangguk dan mulai menceritakan semua kepada Kalandra. Kalandra benar-benar emosi setelah mendengar penjelasan Kevin. Bahkan asisten Kalandra pun ikut terkejut.
"Baiklah saya akan coba bantu" Kalandra memberikan sedikit harapan kepada Kevin. Dan berpamitan kepada Kalandra. Mereka kembali berjabat tangan.
__ADS_1
Sore menjelang, Kalandra segera menyusul Chaca ke kantor. Kalandra sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Kalandra sengaja membawa supir agar bisa membawa mobil Chaca.
Tiba dikantor Chaca, Kalandra bergegas menuju ruangan Chaca. Sekretaris Chaca meminta Kalandra menunggu diruangan Chaca. Chaca sedang memberikan pengarahan kepada para karyawannya. Kalandra merebahkan tubuhnya disofa ruangan Chaca.
"Maaf Bu. Ada bapak didalam. Sudah menunggu ibu sejak satu jam lalu" Cacha terkejut mendengar Kalandra ada didalam ruangannya.
"Terimakasih" Chaca segera masuk ruangan. Dan benar saja suaminya itu sedang tidur. Chaca segera mendekati Kalandra dan duduk dilantai samping sofa.
"Mas" Chaca mengusap lembut pipi Kalandra untuk membangunkannya.
"Bangun mas" Chaca kembali memanggil Kalandra. Berusaha membangunkannya lagi.
"Eummm" Suara lenguhan Kalandra. Perlahan matanya terbuka. Wajah ayu dan senyuman yang selalu dia rindukan, kini tepat berada dihadapannya.
"Macha" Kalandra memeluk tubuh Chaca dan mengecup seluruh wajahnya.
"Capek ya" Kalandra mengangguk dalam pelukan Chaca. Chaca terus mengusap lembut tengkuk Kalandra.
"Tadi, sekarang sudah hilang" Chaca melepaskan pelukan Kalandra. Mereka saling tatap.
"Ada apa. Mengapa menatap Chaca seperti itu" Tatapan Kalandra begitu dalam. Tangannya terus mengusap surai Chaca.
"Sayang. Terimakasih sudah bertahan hingga sekarang. Mas bahagia bisa memiliki kamu sayang" Lagi-lagi Kalandra memeluk tubuh Chaca.
"Ada apa mas" Chaca paham seperti apa Kalandra. Chaca yakin ada sesuatu yang sedang Kalandra sembunyikan.
"Malam ini kita menginap dihotel sayang. Mas sedang tidak ingin pulang kerumah" Cacha tersenyum. Tanpa ada rencana Kalandra mengajaknya untuk menginap dihotel.
"Tumben. Mas ada acara dihotel?" Kalandra menggeleng. Dan menggenggam tangan Chaca.
"Mas pengen honeymoon lagi. Mas pengen punya baby gemoy" Chaca tertawa terbahak mendengar ucapan Kalandra.
"Oke baiklah" Mereka saling tertawa dan bercanda. Kalandra benar-benar sudah memesan kamar hotel selama beberapa hari untuk mereka menginap.
__ADS_1
----++